
Di suatu tempat di Negara K, dan di kota Z perbatasan terpencil. Seorang wanita berjalan dengan menyeret tubuhnya, karena kesakitan.
Wanita itu kemudian melepaskan penutup wajahnya, dan rambut panjang menggerai lembut.
Wanita cantik itu memegangi perutnya, ada darah yang mengalir. Dia adalah Ansella.
"Sepertinya luka ku terbuka lagi..." Kata Ansella meringis kesakitan.
Dengan tangan penuh darah, ia melepaskan tali sarung belati. Ansella meletakkannya di bawah meja, belati yang masih bersimbah darah itu tersimpan di dalam sarung berwarna hitam.
Tangan Ansella gemetar ia kemudian melepaskan sarung tangan hitamnya, lalu mengambil ponsel dari dalam saku celana. Lalu menghubungi seseorang.
"Dokter Gavriel, tolong..." Kata Ansella tak bisa lagi menahan kesakitannya.
"Ada apa? Kau keluar rumah sakit sebelum luka mu benar-benar sembuh." Kata Gavriel.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, aku butuh bantuanmu..." Kata Ansella terengah menahan sakit.
"Kirim alamatmu sekarang." Kata Gavriel berdiri dan menyambar tas nya.
Ansella pun menutup panggilannya dan mengirimkan alamat rumahnya.
Cukup lama Ansella menunggu, tubuhnya mulai kedinginan karena menahan sakit yang kian tak tertahan.
Tubuhnya bergetar, ia lemas, dan jatuh dari sandaran sofa, kemudian pingsan di atas lantai.
Saking tak kuatnya menunggu membuat Ansella pingsan, dan 30 menit kemudian Gavriel pun sampai di depan rumah Ansella.
Gavriel berlari dan pintu tak di tutup, membuat Gavriel mendecakkan lidahnya, karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Gavriel langsung melihat Ansella yang tergeletak di atas lantai karena pingsan.
Dengan sigap Gavriel menggendong Ansella ke kamar dan menyiapkan segala keperluannya untuk merawat luka Ansella yang terbuka lagi.
Gavriel untungnya memiliki insting yang tajam, ia membawa beberapa kantong darah dan infus di dalam mobilnya.
Saat utu Gavriel sibuk melepaskan baju Ansella, dan menjahit kembali luka tembak yang ada di perut Ansella.
Beberapa jam berlalu, dan Gavriel berkeringat cukup banyak karena ia bekerja sendirian.
Kemudian setelah selesai Gavriel bernafas lega, untungnya ia datang tepat waktu, saat ini tinggal menunggu Ansella sadar kembali.
Gavriel pun keluar dari kamar, ia duduk di sofa dan melihat sesuatu yang nampak mencuri perhatian matanya.
Perlahan Gavriel mengambilnya dengan sapu tangan, dan mencium, ada bau darah.
"Apa yang sudah dia lakukan." Kata Gavriel.
Tak berapa lama ponselnya pun berdering, itu adalah sebuah pesan dari Ben.
"Aku pergi ke Maladewi, untuk rencana tentang Marry Anne, aku membatalkannya, sudah ada yang membunuh Marry Anne lebih dulu, jadi kau tidak perlu bergerak."
Gavriel kemudian mengingat kembali ingatan ketika Ben meminta tolong padanya, itu adalah ketika pernikahan Ben dan Daisy di ambang kehancuran ketika Daisy berfikir ingin berselingkuh dari Ben.
FLASHBACK ON
__ADS_1
Siang itu, setelah malam panasnya dengan Daisy, dan pertengkarannya dengan Daisy, Ben lebih dulu datang ke Rumah Sakit Gavriel sebelum ia pergi ke Kantor.
Ben duduk di hadapan Gavriel, saat itu adalah dimana Ben mengintimidasi Gavriel dengan tatapan kematian yang tak bisa lagi Gavriel mampu menghalaunya.
"Aku tahu kalian hampir berciuman." Kata Ben.
Saat itu Ben cukup menahan amarahnya, ia mendatangi Gavriel setelah pertengkaran hebatnya dengan Daisy, dimana Daisy memiliki hasratt pada Gavriel, dan Gavriel juga hampir memyambutnya.
"Aku akan memaafkanmu, tapi lakukan sesuatu untukku." Kata Ben.
"Apa itu?"
"Aku tahu Marry Anne, adalah pasien mu, aku ingin kau menyuntik mati dia, untuk mayat nya aku yang akan mengurusnya, sebelum Marry Anne bertemu dengan Daisy."
"Apa Marry Anne berniat ingin bertemu dengan Daisy?"
"Berulang kali dia ingin." Kata Ben.
Gavriel kemudian mengangguk pelan.
"Kalau aku tidak bisa melakukannya?"
"Kau yang akan ku penggal."
Gavriel mengangguk lagi.
"Aku tahu itu."
"Jadi keputusanmu?"
Ben menarik nafas pelan dan membuangnya.
"Kalau begitu kau sudah memutuskannya." Kata Ben berdiri.
Gavriel diam dan merenung.
"Traver akan datang, sebaiknya kau pilih tempat yang kau inginkan untuk mati." Kata Ben.
Kemudian Ben hendak memegang gagang pintu dan pergi namun Gavriel berdiri dan melangkah dengan cepat lalu menahannya.
"Aku akan lakukan." Kata Gavriel.
Ben kemudian mengangguk pelan.
"Pastikan dia segera menemuimu, ajak dia ke klinik kita yang ada di perbatasan, untuk masalah mayatnya akan di urus Traver." Kata Ben.
Gavriel mengangguk pelan.
Ben kemudian pergi ke kantor, namun sesampainya di kantor, Daisy menghubungi Ben jika ia harus ke Rumah sakit menjenguk Ansella yang sudah sadar.
Dari sanalah Malapetaka itu terjadi, Rencana Ben telah kalah cepat dari kaki Marry Anne yang melangkah menuju perusahaan Ben.
Ben sangat marah pada Traver dan sekali lagi, Traver kecolongan.
Saat rencananya belum di laksanakan dengan Gavriel, Marry Anne telah menunggu mereka di dalam kantor Ben, dan bertemu dengan Daisy.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
Gavriel kemudian tersadar dari ingatannya saat itu, dan mengambil sample darah yabg ada di belati tersebut, lalu ia akan memeriksanya, karena Gavriel masih memiliki semua rekam medis milik Marry Anne di dokumen rahasia yang ia sembunyikan dari siapapun.
Hingga akhirnya Gavriel menunggu Ansella, hingga Gavriel tanpa sadar tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Sedangkan Ansella sendiri masih menutup mata, dengan selang infus dan selang darah untuk mengganti darah yang telah hilang dari tubuhnya.
Waktu berjalan cepat, saat itu pagi pun telah datang.
Matahari semakin condong naik ke atas, Gavriel yang awalnya tidur dengan posisi duduk, kini ia pun terbangun dengan posisi berbaring di atas sofa.
Gavriel duduk dan membuka matanya lebar-lebar, ia juga menguap pelan, dan ia berdiri dengan sedikit gontai.
Gavriel ingat saat ini ia sedang berada di rumah Ansella.
Gavriel dengan cepat memeriksa kondisi Ansella, demamnya sudah turun.
Saat Gavriel menatik telapak tangannya dari dahi Ansella, saat itulah Ansella membuka matanya dengan perlahan.
"Kau sadar." Kata Gavriel.
Ansella hanya diam.
"Aku akan pesankan makanan halus dan jus halus." Kata Gavriel.
"Terimakasih..." Kata Ansella lemas.
"Sudah tugasku menjadi dokter."
"Tapi, kau bisa menolak untuk mengobatiku, karena aku adalah wanita penuh dosa." Kata Ansella.
"Entah penuh dosa, entah miskin, entah kaya, entah kau tidak sempurna, aku adalah dokter yang seharusnya membantu."
"Tapi, tidak semua dokter bisa sepertimu, kenapa kau mau membantuku, jika aku menghubungi dokter lain pasti mereka alan segera menolak, tapi kenapa kau datang." Kata Ansella.
"Lalu kenapa kau menghubungiku? Bisa saja aku tidak datang dan tidak menolongmu."
Ansella diam sejenak.
Gavriel menunggu jawaban.
"Karena aku sedang mempertaruhkan seluruh nya, aku sedang berjudi mempertaruhkan seluruh hidupku."
"Lalu apa kau berhasil mempertaruhkan semuanya?"
"Aku hanya tidak ingin menyesal karena telah membuat seseorang menderita karena aku, dan aku sedang membalas budi, meski dengan mempertaruhkan segalanya, jika kau tak datang aku tidak akan menyesal untuk mati."
Gavriel diam.
Namun, beberapa menit kemudian dia sedikit yakin dengan perkiraan hipotesisnya.
"Jadi kenapa kau membunuhnya." Tanya Gavriel.
Ansella menatap Gavriel dengan mata membulat dan terkejut, tubuhnya mendadak gemetar hebat, namun ia harus siap jika Gavriel akan melaporkannya pada polisi, karena jalan itulah yang ia ambil, dan resiko itu sudah ia pikirkan.
__ADS_1
Bersambung