Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 284


__ADS_3

Zay mencari Gavriel kemana perginya, namun sudah seharian ia tak menemukannya.


Di lain tempat, saat itu Gege sudah kembali ke perusahaan, ia ada di kantor dan seorang pengawal menghubunginya.


"Tuan Gege, saya menemukan Dokter Gavriel." Kata pengawal tersebut.


"Dimana?" Tanya Gege.


"Di Swiss, tepatnya di rumah Ansella."


Gege terdiam sejenak. Gege bukanlah pria yang suka bermain kotor, namun melihat Gavriel berada di rumah Ansella dan bukannya berbicara dengan Zay secara baik-baik, seketika meradanglah Gege.


"Dimana Zay sekarang." Tanya Gege.


"Masih berputar-putar di Negara K Tuan. Saya merasa kasihan pada Nona Zay."


Gege menelan ludah dan meremass ponselnya, cukup lama Gege berfikir tentang masalah itu. Selain ia tak mau Zay kembali terluka dan sakit hati, Gege juga tak mau berurusan dengan Gavriel. Pertarungan memperebutkan cinta segita bagi Gege hanyalah seperti permainan murahan dan seperti anak kecil.


"Tuan... Apa perintah selanjutnya?" Tanya Pengawal tersebut.


Pengawal tersebut membuat Gege terbangun dari pikirannya.


"Biarkan saja dulu." Kata Gege.


"Baik Tuan."


Kemudian Gege menutup ponselnya, Gege mencoba kembali fokus pada berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Hingga hari semakin siang, matahari bersinar sangat terik dan panas, Gege pun masih tidak tenang, ia kemudian menghubungi pengawalnya lagi.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Gege.


"Tuan, sepertinya kita harus memberitahu Nona Zay, saya kasihan melihat Nona Zay yang terus mencari, bahkan dia mengerahkan beberapa pengawal milik Tuan Ben."


Gege menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang.


"Baiklah, katakan padanya dimana Gavriel, dan terus awasi dia, jangan sampai terjadi apapun padanya, jika perlu siapkan pesawat untuk mengantarnya pergi ke Swiss." Kata Gege kemudian mematikan ponselnya.


"BRAAKKK!!!" Gege melemparkan ponselnya di atas meja, Gege sedikit kesal, ia tak mau Zay menyiksa dirinya dengan mencari-cari Gavriel, padahal Gavriel tak berada di Negara K. Tapi Gege juga tak ingin di cap sebagai pria yang suka bermain kotor dengan mengadu pada Zay.

__ADS_1


Sebenarnya Gege juga tidak suka dengan ia memberitahu pada Zay dimana keberadaan Gavriel, Gege tak mau menjadi bara api di dalam hubungan mereka, yang Gege mau adalah, Zay menyerahkan dirinya dengan sadar dan tulus padanya, bukan merebut Zay dari Gavriel.


Di sebuah Rumah Sakit besar yang mewah Zay menunggu kabar dari para pengawalnya yang menggeledah seluruh rumah sakit milik Murder.


Setidaknya Rumah Sakit milik keluarga Murder ada lebih dari 100 cabang di Negara K, belum yang ada di luar negeri.


Saat itu Zay berdiri di dekat jendela dengan perasaan tak tenang, seluruh tubuhnya terasa begitu nyeri dan sangat sakit, seolah ia akan merasakan kembali rasa patah hati yang pernah menggerogoti tubuh dan hatinya, seolah di tusuk-tusuk jarum yang tak terlihat.


"Nona Zay..." Sapa seseorang.


Zay kemudian menoleh.


"Ya... Siapa kau..." Tanya Zay.


"Saya tahu dimana Dokter Gavriel berada."


Zay mengerutkan keningnya.


"Siapa kau!" Kata Zay lagi dengan kesal.


"Saya adalah utusan dari Tuan Gege Vamos, saat ini Tuan Gege sangat khawatir pada anda, dan membantu anda dalam mencari Dokter Gavriel."


Kemudian Pengawal tersebut menyerahkan tabletnya dan terlihatlah foto Gavriel bersama seorang wanita, tepatnya di sebuah rumah yang cukup bagus.


Tangan Zay bergetar, tak hanya itu, ia gemetaran, tabletnya hampir jatuh, Zay tahu siapa wanita itu. Kaki nya mendadak lemas tak mampu menopang.


"Bawa aku ke sana." Kata Zay menahan air mata.


"Baik Nona Zay." Pengawal tersebut membungkuk dan mempersilahkan dengan tangannya agar Zay berjalan lebih dulu.


Pesawat pribadi kemudian lepas landas membawa Zay menuju Swiss, meski berada di luar negeri, namun Negara K dan Swiss tidak terlalu jauh, hanya butuh beberapa jam saja untuk sampai dan mendarat di landasan Swiss.


Saat itu, pesawat akhir ya tiba di landasan pribadi milik keluarga Vamos yang ada di Swiss, dan kemudian dengan terburu-buru Zay berjalan menuju mobil lalu mobil pun melaju ke rumah dimana Gavriel dan Ansella berada.


Di lain pihak, saat itu Gavriel sudah mabuk parah, ini pertama kalinya Gavriel minum dengan sangat banyak dan membuatnya mabuk.


Baru kali ini juga Gavriel benar-benar menyentuh alkohol, biasanya ia hanya minum seteguk atau 2 kali teguk itu pun sangat jarang, karena ia adalah seorang dokter yang harus bersiap 24 jam.


"Anda benar-benar terlihat kacau dokter..." Kata Ansella.

__ADS_1


"Ya... Aku tahu..." Kata Gavriel hendak meminum alkohol lagi.


"Ini masih siang dan anda minum sangat banyak. Memang sangat berbahaya, ketika pria baik seperti anda mengalami patah hati, saya sudah katakan sebelumnya, hanya dengan melihat Zay, saya sudah tahu sifat apa yang ada di diri Zay." Kata Ansella.


Gavriel hanya diam dan meminum alkoholnya lagi.


"Dokter Gavriel cukup minum-minumnya, anda tidak sepatutnya seperti ini, anda adalah pria berkelas yang baik dan sopan." Kata Ansella merebut gelas milik Gavriel.


"Entahlah, aku benar-benar kehilangan tujuanku, aku kehilangan arah, hatiku sudah ku berikan seluruhnya padanya." Kata Gavriel memijit pelipisnya yang terasa nyeri.


"Saya akan membuat anda lebih baik dengan cara lain." Kata Ansella.


"Apa maksudmu..." Tanya Gavriel.


Ansella kemudian membelai paha dan bagian milik Gavriel.


"Anda pasti tahu, bahkan Tuan Ben selalu meminta saya untuk membuatnya merasa puas, hanya dengan mulut saya. Jadi ijinkan saya, saya janji tidak akan melakukan hal lain. Seperti yang saya lakukan pada Tuan Ben, saya hanya akan menggunakan mulut saya, saya ingin membalas kebaikan anda pada saya ketika anda menyelamatkan saya dari kematian." Kata Ansella membuka kancing dan gasper milik Gavriel.


Gavriel menelan ludahnya, ia melihat Ansella sudah merangkak di bawah dan di tengah kedua kakinya, Gavriel yang duduk di sofa hanya pasrah dan melihat apa yang akan Ansella lakukan.


Saat itu jemari lentik Ansella yang panjang dengan kuku-kuku panjangnya berwarna merah sudah berhasil mengeluarkan benda keras milik Gavriel. Benda keras dan besar.


Dengan perlahan Ansella melihat ke arah Gavriel, ia kemudian memasukkan benda besar yang sudah mengeras itu masuk ke dalam mulutnya dan lidahnya mulai bermain-main, Ansella terus memasukkannya lebih dalam dan bergerak naik turun.


Gavriel menutup matanya, otot-otot lehernya menjadi tegang, dan tubuhnya juga semakin menegang hingga seluruh urat nya terlihat.


"Ugghhh...." Gavriel mulai melenguh dan merasakan sensasinya kian nikmat.


Namun, ketika itu Gavriel tak tahu jika sebenarnya sudah ada seseorang yang mengawasinya, pengawal Gege sudah membobol pintu rumah milik Ansella dan mengendap-endap masuk untuk menyergap Gavriel.


Namun, sebelum itu Zay masih memperhatikan sembari menutup mulutnya, ia tak percaya pada akhirnya hubungannya akan berakhir hanya karena kesalahpahaman belaka, ia tak tahu harus bagaimana, tapi yang jelas dia tidak mau memaafkan apa yang sudah Gavriel lakukan di belakangnya.


Zay ingat, bahwa mereka sudah saling berjanji setia.


"Gavriel...." Kata Zay dengan leher tercekat dan berurai air mata.


Saat itu pintu kamar Ansella terbuka sedikit, dan Zay sudah melihat apa yang Ansella lakukan pada Gavriel.


Semakin lama, gerakan kepala Ansella semakin cepat, dan Gavriel terlihat semakin menikmatinya, suara demi suara saling sahut menyahut antara suara mulut Ansella dan lenguhan Gavriel serta deru nafas Gavriel yang cepat.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2