
Waktu telah menunjukkan pukul 3 pagi, Ben baru saja selesai mandi, ia baru pulang menyelesaikan masalah kerusuhan di acara amal. Para mafia baru yang belum lama bergabung dengan serikat mafia gelap membuat kerusuhan.
Ben duduk dan menyesap whiskey nya perlahan, dengan rambut yang masih sedikit basah dan memakai handuk kimono.
"Tuan, saya sudah mengirimkan surel pada mereka terkait hukuman untuk para mafia yang membuat keributan." Kata Traver.
Ben menghela nafas ringan.
"Apa mereka belum tahu peraturannya ketika bergabung dengan serikat mafia gelap jika ada saat-saat dan waktu tertentu para mafia harus gencatan senjata?" Kata Ben.
"Sepertinya Tuan Carlos De Hugo telah memberitahu mereka saat mereka memutuskan bergabung Tuan, tapi mereka semua masih seperti ikan kecil di lautan, jadi saya rasa mereka ingin berlagak, dan membutakan diri bahwa ada ikan yang lebih besar dari mereka." Kata Traver.
Ben diam dan menyesap alkoholnya.
"Lalu tentang Sunny, apa yang kau dapat."
"Nona Sunny di besarkan oleh keluarganya di Negara Jerman, tapi pada usia 17 tahun dia dan keluarganya menetap di Kanada, karena induk perusahaan di pindahkan ke Kanada." Traver menyerahkan tabletnya yang berisi beberapa foto-foto ketika Sunny berada di Inggris.
Ben menggeser tiap foto Sunny yang berpose sendiri, beberapa bersama orang tuanya, dan beberapa bersama teman-temannya.
"Bagaimana sekolahnya?" Tanya Ben masih melihat foto Sunny yang berpose tersenyum.
"Nona Sunny bersekolah jalur akselerasi dan hanya beberapa tahun ketika Menengah Atas, dalam satu kelas berisi kurang dari 10 orang. Sisanya, dari umur 7 tahun menjalani Homeschooling."
Ben tersenyum kecut, sudut bibirnya terangkat klise, kemudian memberikan tabletnya kembali pada Traver dengan malas.
"Selidiki teman-temannya yang berada di sekolah akselerasi." Kata Ben.
"Baik Tuan." Kata Traver kemudian undur diri.
"Mari kita lihat permainan apa yang akan kau buat... Sunny." Kata Ben menyesap Whiskeynya.
Ben teringat lagi kenangan ketika Daisy menjatuhkan dirinya ke tebing, dan tenggelam di laut.
"Seharusnya bukan ponselnya yang ku beri pelacak, tapi kalungnya, dia bahkan sudah terbiasa tidak memakai ponsel." Kata Ben memegang erat gelasnya.
"Aaa... Tunggu dulu... Apakah aku melupakan sesuatu..." Kata Ben tersenyum kecil bagai iblis yang menemukan celah.
Kemudian Ben menghubungi Traver.
"Traver bagaimana rumah lama Daisy." Tanya Ben.
"Pembangunan sudah selesai Tuan, dan perabotan sudah masuk, hanya saja Nona Daisy sudah tiada, kita apakan rumah itu Tuan."
"Iklan kan rumah itu untuk di jual." Kata Ben.
"Apa anda serius Tuan?" Kata Traver terkejut.
__ADS_1
"Kita perlu memancing Traver." Kata Ben.
"Baik Tuan, saya mengerti."
Kemudian telfon terputus.
Ben menyesap whiskeynya lagi dan memandang hamparan lampu-lampu yang terpancar dari gedung-gedung bertingkat.
Jalanan yang padat membuat seolah cahaya lampu menjadi gabungan garis lurus yang berwarna orange.
*****
Siang hari di ruangan rapat perusahaan Benz grup, Benjove Haghwer tengah memimpin rapat dengan suhu ruangan yang dingin.
Rapat telah berlangsung setengah hari dengan ketegangan maksimal dan tekanan beruntun yang tak terputus, bahkan makian santai sering terlontar dari mulut Ben, kadang makian kasar ataupun pandangan iblisnya pun juga seperti serangan kilat yang menakutkan.
Ben duduk menyandarkan punggungnya dan memandangi para petinggi karyawan yang ada di hadapannya, dengan mata iblis yang santai namun membunuh.
"Apa aku menggaji kalian hanya agar kalian bisa makan dengan enak." Suara Ben dingin dan ketus.
Semua petinggi karyawan menunduk dan ketakutan.
"Waktu kalian 1 jam untuk memperbaiki kebocoran data, atau kalian semua di pecat. Apa kalian merasa telah berdiri di atas awan hanya karena jabatan kalian? Lihatlah di depan sana bertumpuk surat lamaran kerja meminta posisi kalian semua!!! Dasar tidak berguna!!!" Teriakan Ben menggelegar.
"Baik Tuan..." Semua serempak.
"Kau..." Tunjuk Ben asal, kepada seseorang.
"Ya... Ya Tuan..." Kata Karyawan itu ketakutan.
"Jangan biarkan satu orang pun keluar dari ruangan ini sebelum urusan kebocoran data ini beres. Paham!!!"
"Ya...Ya Tuan. Ba.. Baik..." Kata Karyawan itu tergagap.
Setelah kepergian Ben dari ruangan rapat, semua petinggi Karyawan bersandar pada kursi dan mengeluarkan nafas mereka yang tertahan di dada.
"Astaga... Apa suasana hatinya sangat buruk." Kata salah satu orang.
"Suasana hatinya tidak pernah baik." Sahut yang satunya.
"Astaga, aku sangat ketakutan, ku pikir aku memang bekerja dengan seorang iblis, tapi perusahaan Benz Grup sangat bergengsi dengan segala gaji dan tunjangannya sangat sulit sekali melepaskan pekerjaan ini. Aku harus bagaimana..." Kata salah satu karyawan perempuan sedih.
"Waktu kita 1 jam untuk membereskannya, apa dia monster... Sepertinya tidak ada kehangatan sedikitpun dalam dirinya." Kata karyawan lain.
"Ku pikir, dia semakin menjadi ganas setelah kehilangan seseorang, apakah benar mereka alhirnya putus?" Ucap yang lainnya.
"Siapa? Apakah Tuan Ben punya kekasih?" Tanya para karyawan lainnya.
__ADS_1
"Sepertinya dulu iya, pernah heboh, ada artikel yang mengatakan jika dia punya kekasih, ketika itu dia terkena lemparan telur, tapi entah kenapa artikel itu tiba-tiba menghilang, benar-benar lenyap."
"Aahh... Ya... Artikel itu, tapi aku lupa wajah kekasihnya, karena fotonya agak buram, dan itu malam hari."
"Apakah artikelnya benar-benar sudah lenyap?" Kata salah satu yang lainnya sembari memeriksa di internet.
"Hey... Hey... Apa kalian tidak mau pulang dan ingin tinggal di sini selamanya? Mari selesaikan tugas kita, jika beruntung kita hanya mendapatka makian jika kita sial, kita pasti akan di pecat, waktu kita hanya 1 jam." Kata salah seorang lainnya lagi.
"Ah... Benar juga... Ayo... Ayo...!!!" Teriak semuanya.
Di tempat lain dengan langkah panjang yang mantap, Ben hendak kembali ke kantornya, namun secara bersamaan ia melihat sekretarisnya sedang berdiri di depan ruangan membawa 2 gelas teh dengan cangkir keramik cantik di atas nampan.
"Tuan Ben... Saya sudah menghubungi Nona Sunny tadi pagi dan sekarang Nona Sunny ada di ruangan anda." Kata sang sekretaris.
Ben terdiam dan masuk setelah Traver membukakan pintu.
Saat itu Sunny duduk di sofa dengan anggun, dan melihat ke arah luar jendela yang membentang besar. Menurutnya itu adalah pemandangan yang luar biasa, Seolah Sunny memiliki cahaya yang bersibar dari kulitnya.
Ben melihat sosok Sunny yang masih saja ia menganggapnya adalah Daisy. Jantung nya seolah ingin loncat dan ingin sekali langsung berlari memeluk sosok di hadapannya.
Rambut panjang sedikit bergelombang yang di tata rapi, kecantikan yang alami dan di poles dengan sedikit lipstik merah jambu, benar-benar membuat Ben gila karena menahan perasaannya begitu keras.
"Clarissa, Siapkan dokumennya. Traver kau tunggu di luar.".
"Baik Tuan." Kata mereka secara bersamaan.
Sunny melihat ke arah pintu di mana Ben berdiri melihat dirinya, tubuh jangkung dengan bobot tubuh ideal dan kekar, apalagi wajah yang tampan dan tak menua, dengan segala sikap dan tempramennya yang suka mendominasi, membuat Sunny mengingat betapa angkuhnya seorang Ben yang telah memenjarakannya dulu dan bahkan sekarang tetap saja keangkuhannya masih saja di sombongkan.
Sunny tersadar dari lamunannya.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan kau akan tahu indahnya tidak di hargai, senangnya di permalukan, dan bahagianya di campakkan. Ben." Kata Sunny dalam hati.
"Aku sekarang bukanlah Daisy yang lemah dan tunduk padamu. Aku... Adalah Sunny, yang akan membuatmu bertekuk lutut, dan mematahkan hatimu, kau akan tenggelam dalam keterpurukan abadi."
Sunny berdiri dan sedikit menundukkan kepala, kemudian Clarrisa masuk dengan membawa dokumen.
"Letakkan di mejaku." Perintah Ben.
"Baik Tuan Ben." Setelah meletakkan dokumen Clarrisa pergi dan menutup pintu.
"Aku senang kau datang Nona Sunny. Silakan duduk." Kata Ben ikut duduk di sofa dan Sunny kembali duduk di tempatnya lagi.
Ben membuka kancing jasnya dan duduk menyilangkan kaki.
"Jadi Nona Sunny... Debutmu akan di mulai dengan perusahaan furniture milikku, dan perusahaan mobil yang sudah mendunia, JIMI Entertainment akan meneken kontrak dengan Benz Group, kenapa kau datang sendirian. Dimana Managermu." Kata Benz dingin.
Bersambung
__ADS_1