Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 47


__ADS_3

Malam itu beberapa petinggi Mafia sudah berdatangan, mobil-mobil mewah komplit dengan para penjaga dan pengawal masing-masing telah berderet di halaman mansion.


Di dalam ruangan besar, meja panjang yang berukuran besar telah berisi orang-orang yang memiliki kekuasan, semua sudah duduk saling berhadapan.


Ben duduk di kursi besar paling ujung, matanya menatap satu persatu yang ada di sana. Diantaranya Carlos, Rudolf, Yamaguchi, dan beberapa petinggi Mafia lainnya.


"Jadi... Rei Brandon berada di pihak El Joa?" Kata Ben.


Semua ketua mafia hanya saling pandang.


"Aku kehilangan 2 pengawal terbaik, Pete dan Blaze, mereka mengkhianatiku, dan pada akhirnya yang telah menjual namaku adalah El Joa, meskipun di dalam pengasingan, diam-diam dia telah membentuk pasukan dan mengumpulkan barang."


"Ya, setelah ku periksa ternyata bawahanku banyak yang telah berkhianat, beberapa telah kabur, dan beberapa langsung ku tembak mati, sepertinya El Joa membuat pasukan yang tidak main-main dia mengambil para pengawal milik Ketua Mafia lain, dan yang di ambil pun pengawal terbaik." Kata Yamaguchi.


"Jadi jelas, El Joa mengambil semua barang milik para mafia dengan menjual nama-nama mafia lain, dan sekarang El Joa melarikan diri, jadi kita harus bagaimana." Kata Carlos.


Tak berapa lama pintu pun terbuka.


"Tuan, Rei Brandon datang." Kata Traver berbisik di telinga Ben.


Ben melihat pria itu masuk.


Rei Brandon adalah salah satu pemimpin mafia yang memiliki kekuatan hampir setara dengan Ben, pria itu berumur 28 tahun. Selain tampan, tubuhnya juga atletis.


"Maaf aku terlambat." Kata Brandon.


Ben mengisyaratkan agar Brandon duduk dengan ujung jarinyanya.


"Jadi... Kemanan Mafia Gelap tidak dapat menghentkkan El Joa, apakah kita akan menyerang?" Tanya Rudolf.


"Lebih baik menyerang sebelum dia membentuk pasukan yang lebih kuat lagi." Kata Ben.


"Aku setuju." Jawab Carlos.


"Aku ikut." Kata Yamaguchi.


"Ya... Kami juga setuju, El Joa telah membuat pasar perdagangan gelap di dunia mafia kacau, kami akan mengerahkan seluruh kekuatan kami." Kata para petinggi Mafia.


"Aku akan ikut." Kata Brandon kemudian.


Rapat berjalan serius untuk waktu yang cukup lama, mereka membahas tentang kekuatan apa yang akan mereka gunakan, dan mengumpulkan senjata mereka, lalu tak lupa membagi tugas siapa yang akan menyerang, dan mafia mana yang akan menyiapkan pengawal kesehatan serta bala bantuan.


Ketika mereka semua sedang mengobrol serius, Brandon sekilas melihat seorang perempuan cantik berambut panjang lewat, pintu ruangan mereka terbuka lebar dan Brandon melirik dengan wajah yang sangat berbinar.


Baru kali ini Brandon melihat wajah perempuan bak malaikat, sempurna dan tanpa cacat. Peremluan dengan kulit bening bercahaya dan memakai dress berbahan satin yang halus.


"Aku ke kamar mandi sebentar." Kata Brandon.


Ben hanya melihat sekilas dan melanjutkan rencana yang sedang mereka bahas.


Brandon pun pergi dari ruangan dan menaiki tangga besar dimana perempuan tadi naik.

__ADS_1


"Apa dia adalah adik Benjove, jika melihat wajahnya yang masih sangat muda aku yakin dia bukan wanitanya Ben. Jika benar dia masih berumur 20an tahun. Mana mungkin pria tua itu memiliki selera dengan gadis belia."


Brandon berjalan menelusuri koridor, dan akhirnya melihat Daisy sedang berjalan pelan sembari memegangi sesuatu.


Brandon tersenyum nakal, pria itu kemudian bersembunyi di persimpangan jalan koridor.


Daisy berjalan dengan pelan dan tanpa melihat ke arah depan.


Di rasa Daisy hampir sampai, Brandon langsung maju dan mereka bertabrakan.


BRUUGGG!!!


"Astaga....!!!" Daisy terkejut dan menumpahkan susu cokelat panas di tubuh Brandon.


"Tu... Tu... Tu....Tuan... Maaf... Maafkan saya, saya tidak sengaja." Kata Daisy.


"Aaahhrrg... Panas..." Kata Brandon berlagak dan menutup matanya, pria itu bersandar pada dinding lorong yang memiliki cat berwarna putih terang.


Lampu yang menyorot terang di setiap lorong koridor membuat wajah panik Daisy semakin terlihat jelas.


Dan semua itu justru membuat hati Brandon tergelitik untuk semakin ingin mempermainkan Daisy.


"Tu... Tuan..." Daisy panik melihat baju kemeja putih milik Brandon tersiram susu cokelat panas.


"Panas sekali nona." Kata Brandon mengibas-ngibasi perutnya.


"Aduhhh... Bagaimana ini..." Kata Daisy panik.


"Astagaa... Aduuhh... Aku tidak tahan lagi dengan panasnya." Kata Brandon merajuk, wajahnya kesakitan, namun dalam hatinya ia ingin tertawa terbahak-bahak.


"Ikut saya... Tuan." Kata Daisy menarik tangan Brandon ke sebuah ruangan.


Setelah mereka masuk Daisy membuka kran wastafel mewah yang ada di ruangan tersebut.


"Buka pakaian anda." Kata Daisy.


Perintah Daisy tentu saja membuat Brandon terkejut, apalagi wajah Daisy yang panik membuatnya semakin terpesona.


"Ayo... Saya akan mengompresnya dengan air dingin, pasti perut anda terluka parah. Lalu saya harus mengoleskannya dengan salep bakar." Kata Daisy.


"Tolong bantu aku melepaskan kancingnya, aku tidak kuat, ini terlalu panas." Kata Brandon.


Kemudian tanpa berpikir panjang, dengan jemari lentik Daisy yang lembut akhirnya membantu melepaskan kancing kemeja Brandon.


"Siapa namamu?" Tanya Brandon menatap lekat di wajah Daisy tanpa berkedip.


"Daisy..." Kata Daisy masih sibuk membuka kancing kemeja.


Kemudia Daisy mengambil air dingin dari kram dan menaruh telapak tangannya di perut Brandon.


"Oohh... Kau membangkitkannya." Kata Brandon menutup matanya.

__ADS_1


Sesuatu yang keras di bawah saya pun seolah ingin memberontak keluar dari celananya. Baru kali ini Brandon merasakan nalurinya sangat panas dan bergejolak hebat, biasanya ia tidak akan seganas ini dengan wanita yang menggodanya.


"Apa kah sakiitt?" Buru-buru Daisy menarik tangannya.


"Tidak... Lakukan lagii... Sepertinya efektif, perutku agak dingin." Pinta Brandon.


Kemudian Daisy membasahi tangannya lagi dengan air dingin dan menempelkannya di perut Brandon lagi.


"Apa kau adik Benjove?" Tanya Brandon


Daisy seketika menatap wajah Brandon dengan terkejut mendengar pertanyaan itu.


Wajah dan tatapan mereka saling mengunci, tangan Brandon seketika terulur maju dan menyentuh pipi Daisy.


Dengan cepat Daisy menarik tangannya.


"Tidak perlu takut." Brandon segera memegang tangan Daisy dan meremasnya lembut.


"Sepertinya anda sudah sembuh, saya minta maaf, saya harus kembali." Kata Daisy.


Daisy mencoba melepaskan diri, dan menarik tangannya, namun Brandon tidak ingin melepaskannya.


Daisy melihat Brandon dengan wajah panik.


"Entah kenapa wajah panikmu itu... Aku menyukainya, kau terlihat sangat cantik. Apa kau adik Benjove? Tapi bukankah dia sebatang kara?" Kata Brandon.


Nafas Daisy naik turun, ia mulai resah.


"Sa... Saya bukan adiknya." Kata Daisy.


"Lalu?" Brandon mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Daisy dengan masih memegang erat pergelangan tangan Daisy yang mungil.


"Sa... Saya..."


"Hmm?" Brandon semakin dekat dan hendak mencium telinga Daisy.


"Sa... Saya... Adalah budaknya." Kata Daisy menutup matanya dan seolah merasakan hujaman pasak runcing menusuk dadanya.


Mungkin dia bisa bangga mengatakan bahwa ia pelacurr milik Ben yang selalu di sentih saat berhubungan badan di hadapan Ansella yang selalu merendahkannya karena Ansella tak pernah di sentuh Ben, namun kali ini dengan mulutnya sendiri ia mengatakannya pada pria lain bahwa ia adalah pelacurr dan budak milik Ben membuat harga dirinya jatuh terinjak dan hatinya sakit.


Cengkraman Brandon mengendur dan menatap Daisy dengan rasa tidak percaya, wajahnya sangat terkejut.


Kemudian Daisy melepaskan diri dari Brandon yang masih terpaku karena syock, Daisy keluar dari pintu ruangan itu dan terkejut ketika di luar Ben sudah berdiri.


"Tu... Tuan.. Ben... Apakah sudah dari tadi anda berdiri di situ?" Tanya Daisy dengan gugup.


Ben masih diam.


Tak berapa lama Brandon keluar dari ruangan dengan kemeja yang masih terbuka, dan melihat Ben serta Daisy berada di depan pintu di lorong koridor.


Brandon tersenyum pada Ben, namun Ben semakin kalap menatap Brandon dengan wajah gelap.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2