
Pagi itu udara sejuk dan sedikit dingin karena awan dan kabut, Daisy sudah kembali ke mansion sejak semalam, dan hari ini ia duduk di taman belakang dengan di temani teh hangat pagi.
Melihat bagaimana matahari tidak muncul, sepertinya sepanjang hari matahari akan tertutup awan.
Tiba-tiba, Daisy yang tak mendengar suara langkah kaki, ia terkejut kedua matanya di tutup oleh tangan besar.
Daisy hampir panik dan sangat takut, ia menyentuh tangan besar yang menutup kedua matanya.
"Si... Siapa?" Tanya Daisy takut.
Namun Daisy kemudian menyentuh lagi dengan ujung-ujung jarinya, hingga naik sampai ke pergelangan tangan itu.
Tonjolan otot, dan serta tangan besar yang sedikit kasar, lalu yang paling Daisy rindukan adalah wangi kulit tangan serta wangi tubuh yang tak pernah asing di hidung Daisy.
"B... Be...Ben....? Kau kah itu? Kau kembali?" Tanya Daisy dengan menangis.
Kemudian tangan itu turun, Daisy melihat sosok tubuh besar dan tampan di belakangnya.
Sontak Daisy langsung loncat dan memeluk tubuh Ben sembari menangis serta merangkul leher besar Ben.
Ben memeluk balik Daisy, hingga tubuh Daisy melayang di udara di tubuh Ben yang besar.
"Sepertinya kau sangat merindukanku." Kata Ben.
"Aku hampir mati karena merindukanmu." Kata Daisy.
"Benarkah?" Kata Ben menurunkan Daisy.
"Ayo masuk, udaranya dingin." Ajak Ben.
Daisy kemudian mengangguk.
Mena dan juga Traver pun pergi ke tempat lain.
"Jadi apa yang kau lakukan selama aku tidak ada di mansion?" Tanya Ben.
"Merindukanmu, memikirkanmu." Kata Daisy.
"Kau merayuku ya." Kata Ben mengangkat tubuh Daisy dan menggendongnya.
"Aaakkk!!! Ben!!!" Pekik Daisy.
Ben membawa Daisy ke kamar dan membaringkannya, lalu Ben mencium bibir Daisy dengan lembut, tubuh besar Ben sedikit menindih Daisy.
"Maaf sayang... Aku terjebak di hutan yang tidak ada sinyal, di sana ada sesuatu yang membuat sinyal terputus, dan aku sedang melakukan pengejaran pada serangga pengganggu, kau tahu setiap serangga harus di musnahkan, jika di beri ampun, suatu hari mereka akan membentuk kekuatan dan merepotkan lagi." Kata Ben.
Daisy mengangguk.
"Tapi jangan pergi lagi... Aku takut, ku pikir kau membuangku." Kata Daisy menangis.
"Sss... Sayang jangan menangis. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Mana mungkin aku membuangmu..." Ben menjilat air mata Daisy.
Sedang Daisy masih menangis tersedu-sedu.
"Apa perasaanmu sedang sensitif sayang?" Tanya Ben.
"Ke... Kenapa?" Tanya Daisy.
"Kau menangis begitu dalam, aku sudah kembali, dan tidak akan meninggalkanmu..." Kata Ben sedih.
Kemudian Daisy merangkul leher Ben.
"Ini karena aku sangat takut kehilanganmu. Tapi, di sana kau tidak bersama wanita kan?" Tanya Daisy.
__ADS_1
"Ha... Ha... Ha..." Ben tertawa.
"Kenapa malah tertawa?"
"Aku di dalam hutan sayang, banyak hewan-hewan berbisa dan sangat berbahaya, tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang akan membuat mu sedih, kau tahu kan, aku bahkan tidak suka orang lain menyentuh tubuhku, aku tidak akan mengkhianatimu." Kata Ben.
Daisy akhirnya mengangguk tanda mengerti.
"Jadi... Kau tahu betapa aku kelaparan?" Kata Ben.
Wajah Daisy pun menegang.
"Jadi aku akan makan dan jangan berfikir ini akan berakhir hanya dengan satu hari satu malam."
"A... Apa?" Wajah Daisy menegang.
Sebelum bisa mengatakan apapun, Ben sudah mencium bibir Daisy.
Rasa haus dan kering di dalam dada Ben akhirnya tersirami.
Ciuman yang intens saling berpagut, semakin membuat Ben menikmatinya, lidah nya masuk dan menjelahi setiap mulut Daisy.
Hisapan Ben membuat Daisy juga memanas, hingga ciuman mereka menimbulkan bunyi-bunyi khas yang keras.
Ben kelaparan dan pasti juga menjadi lebih kuat dan memiliki tenaga lebih ingin melakukannya dengan Daisy.
Saat Ben mulai menggerayangi Daisy, dan Daisy mwrasakan tubuhnya mulai panas, dengan cepat Daisy sadar jika ia tidak boleh melakukannya, belum saatnya, karena Ben pasti akan melakukannya dengan kasar, tanpa henti, dan penuh tenaga, Daosy tahu itu tidak akan berakhir begitu saja, bahkam bisa saja berhari-hari Ben hanya akan membuat Daisy berada di tempat tidur, pikiran Daisy menjadi takut dan kemudian mendorong Ben.
"Ben...!!!" Kata Daisy sembari mendorong Ben dengan kuat.
Wajah Ben terkejut, melihat reaksi Daisy.
"A... Akuu... Lapar, aku mau makan." Kata Daisy.
Wajah tegang Ben berubah tersenyum.
"Aku akan menghubungi pelayan, tapi berikan aku satu kali putaran saja. Aku benar-benar merindukanmu." Ben mendekat lagi dan hendak mencium bagian bawah Daisy.
"Benn...!!! Aku benar-benar lapar." Kata Daisy menarik diri ia mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.
Ben cukup terkejut dengan penolakan Daisy, kemudian mengangguk mengerti.
"Baiklah kita makan dulu. Aku akan memanggil pelayan." Kata Ben.
Setelah menunggu di kursi dan meja makan kamar Ben, semua pelayan sudah datang membawa berbagai jenis makanan dan di sajikan dengan rapi.
Daisy meremas kedua tangannya melihat aneka macam makanan yang begitu banyak. Semua makanan itu membuat perutnya teraduk.
"Kenapa banyak sekali." Kata Daisy.
"Agar kau bisa mengisi banyak tenaga." Kata Ben dan mengambilkan makanan untuk Daisy.
Ben menaruh piring Daisy yang sudah berisi penuh dengan makanan.
Daisy memalingkan wajahnya dan menutup mulut, wajahnya mendadak pucat.
Ben pun kemudian memakan salad untuk nya.
"Kau tidak jadi makan sayang?" Tanya Ben.
"Aah... Ya... Ya... Aku akan makan." Kata Daisy.
Dengan tangan gemetar, pikiran takut, dan rasa mual yang hampir tidak bisa lagi Daisy tahan, akhirnya keringat dingin mengucur dengan deras.
__ADS_1
Wajah Daisy berubah semakin pucat.
"Sayang... Apa kau sakit?" Tanya Ben menyentuh dahi Daisy.
Dengan cepat Daisy menggelengkan kepala.
"Kau keringat dingin dan wajahmu sangat pucat." Kata Ben.
"Ti... Tidak apa... Apa... " Kata Daisy.
Ben kemudian meraih sendok milik Daisy, dan hendak menyuapi.
"Biar aku suapi... Ayo aaa buka mulutmu...." Kata Ben.
Daisy membuka mulut dengan ragu.
Ben kemudian tersenyum ketika makanan yang ia suapkan masuk ke dalam mulut Daisy.
Namun, tak ada hitungan detik, akhirnya pertahanan diri Daisy jebol.
Perut Daisy dan mulut Daisy tidak mau menerimanya, Daisy menutup mulut nya karena mual yang sangat kuat.
"HMMMBBB....!!!"
Daisy berlari ke kamar mandi, dan di susul oleh Ben.
"Hweekk....Hweekk!!!" Daisy muntah.
Ben menepuk punggung Daisy pelan dan membenarkan rambut Daisy ke belakang, Ben dengan telaten menyingkap dan memegangi rambut Daisy sedang tangan satunya menepuk pelan punggung Daisy sesekali juga mengelusnya.
"Per...Gi... Ini menjijikkan..." Kata Daisy.
"Kau sakit sayang? Kita kerumah sakit, aku akan menghubungi dokter. Selain Gavriel aku tahu dokter wanita lebih kompeten." Kata Ben.
Ben terkejut, Daisy tahu, Daisy akhirnya sadar, Ben masih marah, ia masih menyimpan rasa amarah itu pada Gavriel.
Gavriel adalah dokter pribadi Ben selama ini, dan Ben tidak pernah menghubungi dokter lain selain Gavriel, karena Ben juga tak mau di periksa dokter lain, dan saat ini Ben mulai menghubungi dokter lain untuk Daisy, kemudian di dalam hati Daisy mengambil keputusan, ia akan merahasiakan ketika ia di rawat di rumah sakit milik Gavriel, bahkan Daisy akan tetap merahasiakan kehamilannya untuk sementara waktu, pikiran Daisy saat itu adalah harus segera menemui Mena agar Mena juga tutup mulut.
"Ti... Tidak... Aku hanya masuk angin karena kurang tidur." Kata Daisy.
"Tapi aku sangat khawatir." Kata Ben.
Daisy menyeka mulutnya dengan tisu dan tersenyum.
"Aku akan menemui Mena agar dia merawatku." kata Daisy.
Daisy hendak pergi dari kamar mandi.
"Tunggi Daisy." Kata Ben.
Daisy berhenti berjalan.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku." Kata Ben.
Daisy tahu, Ben bukan orang bodoh, Ben adalah pria paling peka, dan bahkan tidak dapat di bohongi, namun Daisy, akan tetap berbohong sampai akhir.
Daisy tidak akan mengatakan apapun.
"Tidak." Kata Daisy tanpa berbalik dan pergi.
Ben hanya berdiri, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada Daisy.
Bersambung
__ADS_1