Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 101


__ADS_3

Mobil melaju dengan cepat, Traver mengemudi dengan cakap dan lihai.


Mena duduk di depan dengan wajah penuh was-was, bahkan Ben berulang kali meminta maaf dan mencium i Daisy sembari memeluk dengan erat.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang bodoh ini." Kata Ben berulang kali tak pernah berhenti meminta maaf pada Daisy.


"Tuan Ben... Sedang ada pawai, semua jalan macet."


"Pawai? Pawai apa? Dasar sialan! Hubungi kementrian perhubungan dan berikan teguran berat karena sudah membuatku kesal!" Kata Ben pada Mena.


"Baik Tuan."


Ben sangat cemas.


"Helikopter, hubungi pengawal kirim, helikopter."


"Tidak ada tempat untuk mendarat Tuan." Kata Traver.


"Sialan! Ini tidak akan bekerja." Kata Ben.


Mena melihat Ben merapatkan mantel Daisy.


"Aku akan berlari, usahakan kalian bisa menembus kemacetan, kerahkan segala sesuatu yang memungkin kan bisa menjemputku." Kata Ben.


"Tuan! Rumah sakitnya masih sangat jauh!" Kata Traver.


"Ikuti saja arahanku. Daisy harus segera ke rumah sakit!" Kata Ben bersikeras.


Kemudian Ben keluar sembari menggendong Daisy.


Ben berlari dengan kekuatan penuh, peluh keringat Ben telah mengalir di kepala dan tubuhnya yang kian panas.


Kemacetan parah terjadi di sepanjang jalan, karena pawai memperingati hari jadi kota Z.


"Sialan, mereka semua menghalangi jalan!!!" Geram Ben.


Daisy memeluk leher Ben dengan erat.


"BUGGGG!!!" Tubuh kekar Ben terkena maskot dari pawai membuat Ben terjatuh, lututnya membentur mistar, membuat celananya sobek dan lutut Ben berdarah cukup serius.


"Sialan! Akan ku bunuh semua pejabat negara ini, lihat saja!" Geram Ben.


Daisy menangis melihat perjuangan Ben, Daisy bahkan bertanya-tanya dan pikirannya penuh dengan sikap Ben yang memusingkan.


"Bukankah Ben menginginkan anak ini tidak lahir, bukan kah Ben bahkan sedang memaksa Gavriel untuk melakukan aborsi padaku, bukankah Ben membenci bayi di dalam perutku? Bahkan Ben sendiri yang mengatakan jika aku harus memilih antara Gavriel atau bayi ini?"


"Namun, sikap apa ini? Ben seolah tak mau kehilangan bayi yang ada di dalam perutku, Ben berlari di bawah teriknya matahari, menerobos padatnya jalan, dan kemacetan. Ini bukan lagi sebatas keramaian namun juga seperti lautan manusia. Kau sampai terjatuh dan merendahkan dirimu di hadapan para manusia agar dapat di beri jalan."


"Ben ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kau ingin mempertahankan bayi ini? Kenapa seolah kau tidak ingin kehilangan bayi ini? Ataukah kau hanya khawatir pada diriku?" Daisy terus mengatakan sesuatu pikirannya dalam hatinya.


Ben tetap berlari dan memaki semua yang ada di trotoar, Ben terus berteriak agar mereka semua menepi dan memberikan jalan untuk Ben.


Kemudian dari dalam jendela mobil yang juga terjebak kemacetan, seseorang yang kenal betul sosok Ben terkejut.

__ADS_1


Pria itu pun keluar dari mobil. Itu adalah Derreck, dengan wajah cemas dan berlari menghampiri Ben, pria itu sampai harus mendorong para manusia yang menghalangi jalannya.


"Ben? Apa yang terjadi? Ada apa dengan Daisy?" Derreck melihat Daisy yang lemah dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Ben.


"Tidak sempat menjelaskan! Aku sibuk, Daisy harus segera di bawa ke rumah sakit."


Derreck menelan ludahnya.


"Ayo aku yang akan carikan jalan." Kata Derreck.


Kemudian Derreck mencari jalan dan Ben menggendong Daisy, lututnya mulai terasa sedikit mengganggu karena terasa nyeri.


Tak berapa lama, Traver serta Mena berlari menyusul dengan para pengawal, mereka membuat jalan agar Ben bisa lewat dan bergegas.


Hingga akhirnya mereka dapat lepas dari pawai dan melewatinya, Ben masih terus berlari, nafasnya sudah ngos-ngosan.


Ben adalah pria yang aktif dalam olahraga, namun kali ini jaraknnya memang tak main-main sembari ia menggendong Daisy.


"Tuan Helikopter datang, kita masuk ke hotel itu dan anda bisa menaiki helikopter." Kata Traver.


"Sudah sedikit lagi, rumah sakit sudah terlihat." Kata Ben dengan nafas yang ngos ngosan.


"Baiklah, mari berlari sedikit lagi." Kata Derreck.


"Mena hubungi para pejabat dan beri mereka pelajaran, aku sangat marah dan kesal, ingin ku lampiaskan pada mereka semua." Kata Ben sembari berlari.


Mena kebingungan, tragedi ini dan pawai nya tidak dapat di prediksi tapi, Tuan Ben sudah sangat marah.


Di depan rumah sakit, Gavriel telah menunggu dengan para perawat.


"Daisy berdarah!" Kata Ben.


"Kau berlari?!"


"Ada kemacetan parah di jalan." Kata Ben.


Ben langsung menempatkan Daisy di atas ranjang, dan Gavriel mendorong ranjang itu masuk dengan para perawat.


Ben pun mengikuti dari belakang.


Saat Gavriel hendak masuk ke dalam ruangan, Ben menahan lengan Gavriel.


Dengan mata sembab dan memerah, Ben mengatakan pada Gavriel.


"Maaf Gavriel aku salah paham padamu. Ku mohon, selamatkan keduanya."


Gavriel terkejut melihat Ben menangis, dokter itu hanya bisa mengangguk.


"Kau obati luka mu." Kata Gavriel melihat luka di kaki Ben.


Ben akhirnya hanya bisa pasrah bersandar pada dinding rumah sakit setelah perjuangan panjangnya melawan lautan manusia dan berlari jauh dengan di terpa matahari yang sangat terik.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Derreck.

__ADS_1


Ben melihat pada Derreck dengan wajah menyesal.


"Daisy hamil." Kata Ben.


Derreck mendadak seperti jantungnya akan meledak, namun kemudian ia mengerutkan alisnya.


"Bukankah itu bagus?"


Ben kemudian menceritakannya pada Derreck, dari awal sampai akhir, hingga Ben kini merasa bahwa kecurigaannya karena kesalahpahaman dan kecemburuannya yang berlebihan.


Derreck menepuk punggung Ben.


"Daisy pasti akan mengerti."


"Aku takut dia akan meninggalkanku karena kebodohanku."


"Daisy sudah melihat perjuanganmu, dia pasti akan memikirkannya kembali." Kata Derreck.


"Aku benar-benar takut kehilangan mereka berdua. Aku selalu bodoh jika menyangkut Daisy, aku selalu idiot jika itu tentang Daisy." Kata Ben meremas kepalanya.


Beberapa jam menunggu, kemudian Gavriel keluar dan melepaskan masker serta sarung tangannya.


Ben dan Derreck pun berdiri secara bersamaan, Traver serta Mena yang cemas juga langsung menegang menunggu kabar apa yang akan Gavriel katakan.


"Untungnya langsung di bawa kemari, mereka selamat, bayinya juga tak ada masalah, karena kehamilan Daisy masih muda sebenarnya sangat rawan keguguran jika Daisy mengalami stress, dan tentunya juga faktor dari luar juga, seperti hubungan badan yang terlalu sering dan terlalu memaksa dalam istilah lainnya sekss brutal. Semua akan menimbulkan segala kemungkinan keguguran." Kata Gavriel.


"Aku tidak tahu mengenai hal itu." Kata Ben menyesal wajahnya menjadi sangat sedih.


"Tapi sekarang kau tahu, maka ke depannya kau harus menjaga Daisy." Kata Gavriel menepuk bahu Ben.


"Daisy akan di pindahkan ke ruangan perawatan, dan dia akan di observasi lebih lanjut, selama kehamilannya masih rentan, dia harus berada di rumah sakit dulu, akan lebih mudah mengawasinya di sini daripada di mansion." Kata Gavriel.


Ben mengangguk tanda mengerti.


Saat para perawat memindahkan Daisy keruangan perawatan, Daisy sudah sadar dan melihat Ben, pria itu bahkan tidak peduli dengan luka di kakinya yang cukup parah, tubuhnya juga berantakan, dan tangannya pun terluka karena terjatuh.


Setelah Daisy masuk, Ben masih di luar tak berani masuk.


"Kau tidak masuk?" Tanya Derreck.


"Aku takut Daisy membenciku dan menolakku. Akulah yang membuatnya seperti ini, dia hampir kehilangan bayi nya. Aku tak sanggup menatap matanya." Kata Ben.


"Itu bukan hanya bayi milik Daisy, tapi itu juga bayi mu." Kata Derreck.


Ben melihat Derreck dengan wajah sedih, ia menangis dan tidak kuat untuk masuk ke dalam, setelah apa yang ia perbuat pada Daisy.


"Astaga, ku kira mafia seperti mu tak bisa menangis." Kata Derreck menyunggingkan sudut bibirnya.


"Adikku memang gadis penakhluk yang luar biasa." Lanjut Derreck lagi.


Ben di penuhi rasa penyesalan, sekali lagi, dia selalu bodoh dan idiot setiap kali menyangkut kisah cintanya dengamm Daisy, kecemburuan, kecurigaan, dan rasa panik luar biasa alan kehilangan Daisy adalah salah pemicunya.


Itu semua karena Ben memiliki trauma masa kecil, ia di buang dan di tinggalkan, ia di siksa dan di lecehkan.

__ADS_1


Bersama Daisy, Ben seperti memiliki kehidupan baru yang lebih baik dan lebih berkobar bagai api yang membara namun, sosok Daisy yang sangat berharga bagi Ben membuat Ben selalu menjadi pria yang tak pandai dalam hal percintaan.


Bersambung


__ADS_2