Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 263


__ADS_3

Pulau Kematian~


Perang terus berkobar, satu sama lainnya tak ada yang mengaku kalah, mereka masih berjuang meski darah sudah mengering.


Benjove Haghwer, mendengar, orang terdekatnya Gavriel, telah sekarat, dengan cepat, ia maju ke medan perang.


Adu kekuatan di sini tidak ada yang di perbolehkan memakai Bom, atau penembak jitu, mereka hanya benar-benar berperang secara langsung, bahkan senjata saja hanya di batasi dan tidak boleh membawa lebih banyak peluru.


Mereka akan adu kekuatan dengan memakai cara lama, cara-cara jaman dahulu, yaitu pedang, belati, pisau, panah, dan senjata api jarak dekat.


Para pasukan dan prajurit Benjove Haghwer sudah bersiap, sebuah tiupan dari terompet besar yang memiliki suara mengerikan dan dalam berbunyi dengan sangat keras.


"BLAAARRRR DUUAARRR!!!" Boom besar pertanda pasukan baru akan maju dan masuk dalam medan perang.


Zac dan yang lainnya melihat ke arah dimana asap mengepul, samar-samar pria-pria besar berjalan di antara asap-asap yang mengepul dan terbang di langit, mereka adalah Ben, Rudolf, dan Traver.


Namun, hal yang tak terduga lagi, mereka akan ikut berperang melawan siapa?


Zac menelan ludahnya, ia berfikir, akan ada di pihak siapakah Benjove.


Apakah akan di pihak Gia, atau ada di pihaknya, atau bahkan tidak berpihak pada siapapun dan membantai semuanya.


Namun ternyata para pasukan Ben dan para prajurit terlatih milik Ben mengeluarkan panah mereka dan memanah para pasukan Mafia kelas rendah, dengan gerakan tangan yang sangat cepat, dan tepat sasaran, setelah anak panah mereka habis, mereka pun mengeluarkan pedang dan sejata api mereka.


"Tuan Zac...!!" Teriak Yaron memberikan peringatan.


Zac kemudian memalingkan pandangannya ia melihat Aaron yang sudah mengarahkan pedang pada lehernya.


Zac dengan cepat menghindarinya dengan menunduk lalu berguling di atas tanah.


Dengan cepat Aroon kemudian mengarahkan pedangnya pada Zac yang terbaring di atas tanah.


"KRRAAANGGG!!!" Pedang milik Aaron dan milik Zac saling berbenturan dan saling menahan.


"Sialan... Tidak ada waktu lagi dan kau harus segera mati...!" Geram Aaron sembari menekan terus dan terus pedangnya menggunakan tenaganya.


"Siapa kau! Beraninya membuat keputusan!" Kata Zac geram dan mendorong kan samurainya dengan kuat.


"SRIIINGGG!!!" Ben menarik pedangnya dan mulai melihat situasinya.


"Sangat kacau." Kata Ben.


"Tuan Ben, dokter Wen sudah datang." Kata Traver.


Ben datang pada Gavriel, dan saat itu juga Gege Vamos sudah sampai.


Helikopter milik Gege Vamos mendarat, dan Gege pun langsung melompat turun dengan langkah cepat ia mendekat pada Ben yang memegangi pergelangan tangan Gavriel.


"Tuan Ben, akan saya urus dia." Kata Gege Vamos.


"Dokter Wen sudah datang pastikan Gavriel selamat." Kata Ben.


"Baik Tuan Ben." Kata Gege Vamos lalu di bantu para pengawal mereka membawa Gavriel.


Sedangkan pengawal lainnya juga membawa Charles.


"Tuan Ben saya akan menghadapi yang itu." Kata Traver menunjuk pada Heiden.

__ADS_1


Ben mengangguk pelan.


"Baiklah mari kita bantai para ikan teri ini." Rudolf pun maju dan dengan bersemangat itu mangacungkan pedangnya.


Ben berjalan pelan mendekati Zac.


"Kau butuh bantuan Nak?" Tanya Ben tenang.


"Tidak." Kata Zac masih saling bergulat dengan Aaron.


Ben mengangguk.


"Jika kau kalah, aku tidak akan menganggapmu anak lagi, selesaikan secepatnya jangan bermain-main lagi." Kata Ben.


"Kau pikir aku sedang apa!" Kata Zac marah.


"Pakai otakmu, jangan hanya otot mu, dasar bodoh, gunakan kakimu untuk menendangnya, atau menjegalnya!" Kata Ben santai.


"Sialaannn!!!" Teriak Zac lalu menendang dan menjegal Aaron.


"GEDEBUUGGG!!!"


Aaron pun terjatuh.


"Selesaikan dengan cepat tak perlu mengambil nafas, langsung iris urat kakinya agar dia tak bisa bergerak lagi. Kau harus gunakan otakmu." Perintah Ben.


Zac pun langsung mengiris kedua urat kaki Aaron.


"CCRAASSHH!!"


"AAAARRGGHHHH!!!" Aaron berteriak sangat keras.


Gia berdiri di atas batu besar, ia kemudian meniup sumpit atau panah kecil terbuat dari bambu.


Sebuah jarum melesat jauh dan Ben melihat suatu kilauan itu, mata elang Ben memicing, lalu dengan menggeser sedikit tubuhnya, jarum runcing itu melesat melewati pipinya dan mengenai orang yang ada di belakangnya.


"Zzlipp!!!" Jarum menusuk masuk ke dalam leher pasukan Mafia kelas rendah di belakang Ben.


Ben pun melihatnya dan menaikkan alisnya, lalu tertawa kecil seolah itu ejekan.


"Kau menggunakan obat perangsang?" Kata Ben tertawa.


Pria yang terkena tusukan jarum itu mulai bereaksi dan mulai melepaskan bajunya.


Traver yang sedang berkelahi dengan Heiden pun melihatnya, lalu mendorong pedang yang sedang saling bergesekan dengan pedang Heiden.


"Katakan pada Majikanmu, jika obat perangsang tak akan mempan pada Tuan Ben, bahkan jika itu dengan dosis tinggi." Kata Traver.


"Kenapa bisa?" Tanya Heiden dengan suara berat karena mendorong pedang.


"Itu rahasia." Kata Traver mendorong dan menendang Heiden.


Dengan cepat Traver memukul Heiden dengan gagang pedang dan membuat perut Heiden seolah di aduk.


"UGGHHH.... Memang seperti rumornya, kau sangat cepat, kau tangguh." Kata Heiden.


Kemudian Heiden bangkit dan menghunuskan pedangnya.

__ADS_1


"KRRAAANGGGG!!!"


Traver memotong pedang milik Heiden, membuat pedang Heiden pun tak bisa di gunakan lagi.


"Bagaiaman... Bisa kau melakukannya..." Kata Heiden.


"Butuh waktu kama dan kau harus menjadi orang miskin serta menjadi gelandangan agar kau bisa menjadi kuat." Kata Traver.


Traver pun mengarahkan pedangnya pada leher Heiden, menusukkannya sedikit demi sedikit hingga darah telah mengalir turun.


"Sstoppp!!!" Sebuah teriakan melengking.


Traver melihat ke arah lain, dan Mena berlari memakai pakaian pasien.


Traver mengira Mena datang karena dirinya, namun Traver terkejut ketika Mena berada di dekat Heiden lalu memegang dan menahan pedang itu dengan tangannya, hingga tangannya berdarah.


"Apa yang sedang kau lakukan." Kata Traver dingin tak bergerak, meski tangan Mena telah berdarah cukup banyak.


"Ma... Maaf Traver... " Kata Mena.


"Kenapa kau meminta maaf." Tanya Traver dingin.


"Aku mohon... Jangan bunuh dia." Pinta Mena.


Traver mengernyitkan alisnya sekilas.


"Dia... Dia pria paling berarti untuk hidupku." Kata Mena menangis dan tak berani menatap mata sang kakak.


Saat Mena mengatakan itu, Heiden pun tak percaya dan ia tak tahu harus bahagia atau sedih, karena melihat tangan Mena yang sudah basah dengan darah.


Heiden pun menggenggam tangan Mena, meminta agar Mena melepaskan tangannya.


"Lepaskan tanganmu Mena." Kata Heiden dengan serak karena lehernya terasa nyeri.


"Tidak!! Jika ku lepaskan Traver akan membunuhmu!" Kata Mena masih menahan pedang itu.


"Apa kau sudah gila, apa kau mau mati di tangan Tuan Ben!" Kata Traver.


"Maaf Traver, seperti dirimu, kau menjalin hubungan dengan Casey, dan aku dengan Heiden, kau tak boleh egois!" Kata Mena.


"Kau...!" Traver tak bisa berkata-kata.


Cukup lama Traver menutup matanya, ia memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.


"Jika kau membunuhnya, bunuh aku juga." Pinta Mena.


Traver membuang nafasnya dan melemahkan pedangnya, ia menarik mundur pedangnya dan melihat pada Heiden dengan pandangan tidak suka dan marah.


"Kau beruntung. Tapi jika kau membuat adikku menangis, aku tidak segan-segan memotong lehermu. Kau pasti sudah dengar bagaimana gila nya aku, jika menyiksa orang." Kata Traver.


"Aku tak akan bermain-main dengan dirimu, bahkan dengan adikmu." Kata Heiden.


"Jika kau memilih adikku, pergi dari sini." Kata Traver melihat ke arah Ben.


Mena tahu, jika sampai Ben tahu, bahkan Traver pun tak akan selamat.


Mena pun memapah Heiden dan membawanya pergi.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2