
"Anda melakukannya sendiri, maka selesaikanlah sendiri."
"Jika bukan karena kau memergokiku, aku sudah menyelesaikannya sendiri, tapi itupun hanya juga mungkin aku bisa." Bantah Zac.
Gaby semakin kebingungan, bekerja adalah satu-satunya hal yang membuatnya terbebas dari perjodohan yang ia benci, jika ia menyerah jika ia di pecat, sulit untuk mendapatkan pekerjaan lagi di jaman sekarang.
Gaby tak bisa berfikir rasional, ia tak punya alasan lagi untuk mengelak dari Zac, karena pria di hadapannya ini memang pintar berbisnis, meski Zac tampan namun Gaby tak ingin tertipu berbeda dengan orang luar yang baru bertemu dengan Zac, siapa saja yang akan bertemu dengan Zac pasti akan terpesona karena dia begitu tampan bahkan artis terkenal akan kalah dengan ketampanannya, namun ketampanannya hanyalah sekedar cangkang.
Jika saja mereka semua tahu, bahwa sosok Zac yang sebenarnya sangat menyebalkan, pasti mereka semua tidak akan pernah mau dekat-dekat, amarah Gaby pun menjadi mendidih.
Zac adalah pria yang begitu Gaby benci, karena sifatnya yang buruk, belum lagi kepribadiannya yang aneh, dia membuat Gaby kebingungan dengan segala sikap dan perilakunya.
Gaby kembali ingat juga saat siang tadi, melihat seorang wanita yang keluar dari apartmen tanpa pakaian hanya terbungkus dengan selimut.
"Kenapa anda tidak meminta bantuan wanita yang tadi siang bersama anda."
"Gloria?" Tanya Zac.
"Entahlah siapa, saya tidak tahu."
"Dia pemilik perusahaan yang sudah ku akuisisi, bukankah kau kelelahan saat tiba di sini, jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri, tentang wanita itu aku tidak berselera dengannya, lagipula dia tidak bisa membuat milikku berdiri, sebelum aku dan dia melanjutkan tahap selanjutnya, ayahku dan ibuku memergoki kami, kau tidak lihat wajahnya penuh dengan jus jeruk? Karena di siram oleh ibuku?" Kata Zac.
Gaby yang mendengar itu, sebuah senyuman terulas di bibinya.
"Kau terlihat senang?"
"Apa? Tidak, saya tersenyum karena itu lucu." Bantah Gaby, tentu saja ia berbohong, ia senang Wanita centil yang menjijikkan itu terkena semburan jus jeruk.
"Apanya yang lucu? Tentang milikku yang tidak bisa berdiri?" Tanya Zac.
"Bukan, tentang wanita itu yang di siram jus oleh Nyonya." Kata Gaby tertawa kecil.
"Apa kau berniat untuk mengalihkan fokus pembicaraan kita, "Dia" tidak bisa menunggu lebih lama." Kata Zac memberikan kode pada benda miliknya.
Gaby menarik diri mundur untuk menjaga jarak.
"Ta... Tapi..."
"Baiklah, jika kau tidak setuju, kau bisa membuat surat pengunduran diri, tapi jangan harap kau akan bebas dan aman di luar sana, aku bisa melenyapkan orang dengan sekali perintah, bahkan tanpa di ketahui oleh hukum dan negara."
Zac mengatakannya dengan santai dan berbalik pergi.
__ADS_1
Gaby terperangah mendengar kalimat Zac, dan tanpa berpikir panjang Gaby pun menyetujuinya.
"Ba... Baik saya setuju." Jawab Gaby dengan cepat, ia tak ingin kehilangan pekerjaan dan harus pulang untuk menjalani perjodohan yang tidak ia inginkan dengan pria pilihan ibunya.
Saat itu Zac masih memunggungi Gaby, senyuman pun terulas tipis di bibirnya kemudian Zac berbalik dan melihat ke arah Gaby yang ketakutan.
"Apa?" Tanya Zac lagi pura-pura tidak mendengar.
"Sa... Saya setuju untuk menuruti apa yang anda minta, ta.. Tapi.. Saya tidak tahu harus melakukan apa..." Kata Gaby gagap.
Zac dengan cepat menarik tangan Gaby dan itu membuat Gaby terkejut, Zac pun memeluk Gaby dari belakang, Gaby menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya di atas meja.
"Kau memang sangat wangi." Kata Zac mencium tengkuk leher Gaby.
"Mmhh..." Gaby menahan suaranya dan menggigit bibirnya.
"Tidak apa-apa untuk mengeluarkan suaramu, aku lebih suka, suara mu membuatku semakin bersemangat." Bisik Zac di telinga Gaby, kemudian Zac mengulum telinga Gaby dengan lembut.
"Tu... Tuann... Ini aneh..."
"Memang aneh, karena di bawah sini, milikmu pasti mulai berkedut." Bisik Zac lagi sembari menyentuh bagian sensitif milik Gaby.
Zac kemudian menurunkan underware milik Gaby, lalu memutar tubuh Gaby, dengan cepat, Zac merobek kemeja Gaby dan membuat kedua payudarannya menyembul sempurna di hadapan Zac.
"Astaga... Tuan... Pelan-pelan...!!!" Teriak Gaby.
"Kau yang membuatku tak sabaran." Kata Zac.
Kemudian Zac menidurkan Gaby di atas mejanya, saat itu kemejanya telah rusak, Zac pun menaikkan rok milik Gaby yang sepanjang lutut sampai pada paha mulus Gaby.
"Di luar dugaanku, kau ternyata sangat cantik." Kata Zac.
Gaby tidak menggubris ucapan Zac yang memujinya cantik, karena ia memejamkan matanya, pikirannya sibuk dengan semua belaian Zac di bagian tubuhnya.
Kedua tangan kekar Zac kini telah mencengkram kedua payudaraa milik Gaby, meremas dan memelintirnya, semua itu terasa kenyal dan membuat Zac semakin ingin lebih.
Kini, Zac pun mulai menyesapnya membuat bekas dan mengulummnya dalam-salam hingga membuat Gaby melenguhh tak terkendali.
Dada Gaby mulai bergumuruh, darah mulai mendidih. Pikirannya mulai kosong, perutnya mulai bergejolak, ada yang aneh padanya, ia bahkan sangat tidak percaya pada dirinya sendiri, bukannya membenci nya namun kenapa justru menikmatinya dan merasa ingin merasakan lebih.
Tanpa sadar Gaby melenguh berkali-kali, merintih dan membuat suara-suara yang indah serta nyaring membuat Zac justru semakin gila.
__ADS_1
"Hhmmhhh... Oohh... Aahh... Eeemmhhh..."
Zac yang mendengar suara desahaan Gaby, semakin menelusuri setiap inch tubuh Gaby, semakin kebawah dan kebawah, Zac pun menaikkan kedua paha Gaby di bahunya.
Seketika Gaby terkejut dengan itu.
"Tu... Tuan apa yang sedang anda... AAAHHHH ... OOHHHHH....!!!!"
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Gaby sudah tersentak hebat sesuatu mempermainkan area sensitifnya.
Sebuah lidah yang lunak menjilatinya dengan terampil, sebuah mulut juga dengan lembut menyesapi miliknya.
"Haaaaahhh.... OOUUUHHHH....Aaaahhh....!!!!"
Gaby hampir kwalahan, Zac begitu sangat obsesi, dia menyesap dengan kuat, kadang juga memasukkan lidahnya ke dalam, lalu menjilat dan mempermainkan bagian paling sensitif milik Gaby.
Tanpa sadar, kedua tangan Gaby pun maju dan meremas kepala Zac, kedua mata Gaby melirik ke bawah, kedua kaki nya berada di atas bahu Zac.
Gaby tak habis pikir, apakah dia benar-benar atasanya, apakah yang ada di bawah sana adalah pria yang dingin selama ini?
Tapi sekali lagi, Gaby tersentak kaget, merasakan kenikmatan luar biasa tatkala lidah serta mulut Zac bergantian secara cepat menyesap dan menjilat dengan cepat.
"AAAHHH... oohh... Hmmm.... Mmhhh..."
Tubuh Gaby melengkung ke atas, perutnya membusung, kedua tangannya meremas dengan kuat dan erat rambut Zac, tanpa sadar, Gaby mendorong masuk wajah Zac ke bagian sensitifnya, ia merasakan getaran hebat pada setiap syarafnya, seolah itu adalah sengatan listrik yang menyetrumnya hingga tubuhnya bergetar.
"Tu... Buh... Saa... Yaa..." Gaby bahkan tak bisa menjelaskannya.
Matanya mendelik naik, sesekali memejam dan mulutnya terbuka, kepalanya naik dan menengadah, itu adalah kenikmatan luar biasa yang berlangsung beberapa menit, hingga sesuatu cairan meluncur keluar dari bagian milikya
Zac dengan rakus menyesap dan meminumnya, tanpa merasakan jijik, justru itu membuatnya semakin bersemangat.
Tawa kecil Zac mengembang, ketika ia melihat Gaby mencengkram kepalanya dengan kuat.
Sedangkan Gaby pun tak sadar, ketika beberapa menit telah berakhir masa orgasmee nya ia melihat ke arah Zac dengan mata sayu dan merasa canggung serta malu, Gaby menarik tangannya kembali ke atas dadanya.
Sedangkan Zac, ia tak bisa lagi menahan dirinya, ia ingin tahu bagaimana rasanya *******, Zac benar-benar ingin tahu bagaimana jika miliknya masuk ke dalam sana.
Namun, yang membuatnya terdiam sejenak adalah, ia berfikir apakah itu akan muat untuknya.
Bersambung
__ADS_1