
"Aku tidak tahu!" Kata Zay ngambek dan memiringkan tubuhnya membelakangi Gavriel.
Gavriel masih duduk diam, sejenak kemudian ia mengangguk.
"Baiklah, istirahatlah, atau kau mau mandi juga tidak apa-apa, agar badanmu segar." Kata Gavriel membelai kepala Zay.
Gavriel kemudian pergi keluar, di luar ponselnya bergetar.
"Drttt...Drrrtt...!"
Gavriel mengangkatnya ternyata itu adalah Daisy.
"Ya..." Kata Gavriel.
"Bagaimana? Apakah Zay mau pulang?" Tanya Daisy.
"Dia... Belum mau pulang, sekarang ada di mansion ku." Kata Gavriel.
Di ujung sana, Daisy melihat ke arah Ben yang juga mendengarkan, lalu Ben mengangguk pelan.
"Jika Zay sudah lebih baik bawa dia ke mansion." Kata Daisy pada Gavriel.
"Tentu." Kata Gavriel santai.
Lalu panggilan pun terputus.
Gavriel pun duduk di sebuah kursi menatap pemandangan malam yang remang-remang.
"Tuan anda mau minum sesuatu atau makan sesuatu?" Tanya salah satu pelayan mendekat.
"Tidak." Kata Gavriel.
"Baik Tuan." Kemudian sang pelayan pergi.
Pikiran Gavriel menerawang, apakah ada hubungannya ketika Carlos menyusup di rumah sakit, kenapa Zac menembaki layar tv, dan apa sebenarnya yang terjadi ketika semua sibuk memgejar penyusup itu.
"Apakah Ben tahu sesuatu? Atau mungkin Zac tahu sesuatu. Kenapa mereka menyembunyikannya." Kata Gavriel.
"Mungkinkah, Ben dan Zac sengaja menyembunyikannya karena mereka tak ingin semua orang tahu?" Kata Gavriel lagi.
Sedangkan Zay yang masih di kamar posisi tidur miring, ia memainkan sprei dengan jari lentiknya, dengan sedikit melirik Zay akhirnya mau beranjak turun dari ranjang setelah memastikan kamar itu kosong.
Perlahan Zay mendekati kamar mandi, ia melihat kamar mandi yang di dominasi marmer berwarna Grey yang begitu mewah.
"Kamar mandi yang bersih. Tentu saja, Gavriel adalah dokter, dia pasti pria yang sangat mencintai kebersihan. Tapi, ada apa dengannya akhir-akhir ini, kenapa dia sangat baik denganku, jika... Dia tahu aku pernah di sentuh Carlos, apakah tetap akan baik? Atau dia justru jijik?" Kata Zay menyentuh kran air.
Kemudian Zay pun masuk ke dalam kotak kaca dan menghidupkan shower dengan masih memakai pakaiannya, ia berdiri di bawah siraman air shower hangat.
Dalam pikirannya jauh membayangkan bagaimana jika dia mengatakan yang sebenarnya pada Gavriel, sejujurnya, Zay tak ingin mengatakan pada siapapun terlepas apalah Carlos berhasil memutar rekaman video tersebut atau tidak namun, Zay benar-benar tak ingin membuka ingatan dan luka itu lagi.
__ADS_1
Sejujurnya, rasa cintanya pada Carlos masih belum bisa ia hilangkan, meski pengkhianatan Carlos sangat keji namun itu adalah cinta pertamanya, cinta yang mekar dan bersemi indah di dalam hatinya.
Zay menangis sesenggukkan.
"Gavriel benar... Aku sedang tidak baik-baik saja." Kata Zay mencengkram kran shower agar tubuhnya tak bergetar.
"Bagaimanapun Carlos sangat jahat, dia menancapkan luka ini begitu dalam ketika aku benar-benar sedang di atas puncak mencintainya, namun melihat pengkhianatannya yang keji, aku pun tak bisa menahan sakitnya, kau benar-benar membuatku buruk Carlos, aku tetap saja mencintaimu meski kau begitu lejam terhadapku dan keluargaku, aku menjadi monster karena dirimu, bahkan di saat terakhirmu aku masih saja ingin percaya padamu. Jika saja Zac tak memenggal kepalamu apakah kau benar-benar bisa membalas cintaku yang tulus ini?" Kata Zay dalam hatinya dan merosot di bawah siraman air, kakinya akhirnya tak kuat menahan tubuh yang kian bergetar karena sakit hatinya.
Zay berfikir dengan tidak mengingat kejadian mengerikan dan pelecehann itu, dia akan baik-baik saja, tapi ternyata Zay hanya mencoba untuk lari dari apa yang sebenarnya sedang Zay rasakan, itu trauma terberat yang melilit hati dan tubuh nya bahkan pikirannya menjadi sakit.
Dengan tertatih Zay keluar dan meraih handuk, ia melepaskan pakaian basahnya dan keluar dari kamar mandi menuju walk in closet, untuk mencari pakaian baru, Zay memutuskan mengambil kemeja milik Gavriel, itu adalah kemeja berwarna putih yang memiliki bau parfum khas tubuh Gavriel.
"Wangi yang khas dengan Gavriel." Kata Zay.
Lalu Zay mengambil sebuah boxer yang sedikit lebih kecil itu masih dalam kotak dan tersegel.
"Mungkin ini cocok untukku." Kata Zay.
Zay pun memakainya.
"Sedikit kebesaran, apakah dia membeli saat masih berusia remaja dan belum sempat memakainya? Besok akan ku telepon Alexa untuk membawakan beberapa baju." Kata Zay.
Alexa adalah perancang khusus keluarga Haghwer.
Saat Zay hendak keluar, Gavriel sudah ada di dalam kamar dengan pandangan terkejut melihat Zay yang memakai kemeja nya.
Kulit Zay yang putih dan bening sangat segar dan masih muda membuatnya kembali mengingat bagaimana cantiknya Daisy, dan Zay adalah duplikat Daisy yang sempurna bahkan jauh lebih sempurna dari masa muda Daisy.
"Kau mau makan?" Tanya Gavriel.
Zay menggelengkan kepala.
"Ayo mulai terapi." Kata Zay pada akhirnya setuju.
"Kau mau?" Gavriel terkejut.
Zay mengangguk.
Kemudian Gavriel mendekat pada Zay dan mencengkram lembut kedua lengan Zay.
"Sesakit apapun jangan pernah menyerah dan mundur." Kata Gavriel.
Zay mengangguk pelan.
"Bagaimana pun kau harus percaya padaku." Pinta Gavriel.
"Aku percaya, tapi aku juga minta jangan katakan pada siapapun apapun yang akan aku katakan, bahkan pada ayah sekalipun. Apalagi ibuku." Kata Zay.
"Aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Kita harus ke ruangan ku." Ajak Gavriel.
__ADS_1
Zay mengekor di belakang Gavriel.
Saat itu mereka masuk ke dalam ruangan yang masih memiliki pintu penghubung dengan kamar milik Gavriel.
Zay melihat ke segala arah, yang ada di sana hanyalah warna hitam, benar-benar hanya warna hitam, seketika membuat Zay merasa ngeri dan takut. Tanpa sadar kakinya yang putih tanpa alas kaki seketika mendadak mundur.
"Tidak apa-apa..." Gavriel menggenggam tangan Zay.
"Kau tidurlah di atas ranjang itu." Tunjuk Gavriel.
Itu adalah ranjang yang berwarna hitam dan terbuat dari kulit asli kwalitas terbaik, ketika Zay duduk terasa sedikit dingin. Ruangan itu memang sangat dingim, bahkam seperti masuk ke kulkas freezer.
"Agak dingin." Kata Zay.
"Itu akan membantumu, nanti ketika kau ada di alam bawah sadar." Kata Gavriel.
Zay memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan dan bergetar.
Gavriel pun duduk di hadapan Zay, lalu memencet tombol dan ranjang itu sedikit menekuk menegakkan sandaran punggung Zay hingga setengah berbaring.
"Dengarkan aku Zay, saat kau ada di dalam bawah sadar, kau akan di bawa lagi ke masa itu, masa yang membuatmu trauma. Jadi, katakan semuanya dan ceritakan semuanya. Sehingga aku bisa menentukan terapi apa yang cocok ku lakukan padamu, dan obat apa yang cocok ku berikan." Kata Gavriel.
"Tapi, apakah aku bisa di sembuhkan."
"Sebelum terlambat, mari kita coba." Ajak Gavriel mengulurkan tangannya.
Zay pun memberikan tangannya, dan Gavriel menggengamnya dengan tangan kiri dan membelainya.
"Kau siap?" Tanya Gavriel.
Zay mengangguk pelan.
Kemudian Gavriel mengambil sebuah ampul dan sebuah suntikan, lalu mengambil obat cair itu ke dalam suntikan, kemudian menyentilnya dengan kedua ujung jari agar gelembungnya menghilang dan menyuntikkannya ke lengan Zay.
"Rilex..." Kata Gavriel.
Tak berapa lama mata Zay pun sedikit demi sedikit terpejam, kegelapan mulai menyelimutinya, saat itu Zay seperti di sebuah ruang yang sangat gelap tanpa cahaya.
Namun, sebuah lingkaran hitam seolah menyedotnya masuk ke dalam pusaran yang sangat kuat.
Zay berontak karena seperti di tarik dengan kuat, ia ingin berteriak namun suaranya seperti terkunci, dan dia pun kembali pada masa dimana hal yang paling menakutkan dalam dirinya, sesuatu yang ingin ia hapus dari ingatannya, dan kenangan yang ingin ia simpan dan ia pendam tanpa ingin mengingatnya.
"Carloss..." Suara Zay akhirnya keluar dengan lemah.
Gavriel melihat ke arah Zay, dan menggenggam tangan Zay.
"Kau melihatnya? Apa benar dia adalah Carlos?" Tanya Gavriel.
Kali ini Gavriel akan bertanya lebih dalam lagi.
__ADS_1
Bersambung~