
Ben masih tidak bisa masuk ke dalam kamar Daisy, pria itu bahkan hanya diam dan merenung i setiap perkataan serta perbuatan yang telah ia lakukan pada Daisy selama ini.
"Kalau begitu aku masuk dulu." Kata Derreck.
"Mm..." Kata Ben.
Derreck pun masuk dan melihat Daisy sudah setengah duduk dengan menyandarkan punggungnya.
Saat itu Daisy hanya diam dan tak mengatakan apapun.
"Ben... Dia ada di luar." Kata Derreck.
Daisy hanya diam dan mengambil nafas panjang.
"Ku dengar kau hamil." Kata Derreck lagi.
"Ya... Tapi, sepertinya justru membuat keadaan dan situasinya menjadi rumit." Kata Daisy.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi menurutku Ben pasti tidak bermaksud untuk berbuat gila." Kata Derreck.
Daisy diam dan bermain dengan kuku-kuku nya.
"Kau pernah bilang, jika hubungan kami tidak akan berhasil, kau juga pernah bilang bahwa Ben selalu memiliki sifat dan watak selalu ingin melakukan hal sesuai kemauannya." Kata Daisy.
Derreck kemudian duduk di kursi dekat ranjang pasien, ia ingin mendengarkan apa yang akan Daisy katakan.
"Sepertinya, kau memang benar." Kata Daisy menangis dan menutup wajahnya.
Derreck kemudian membelai kepala Daisy dengan lembut.
"Saat itu aku mengatakannya karena cemburu dan takut kau akan meninggalkanku." Kata Derreck.
"Apa sekarang pandanganmu terhadap Ben telah berubah?" Tanya Daisy.
Derreck kemudian mengangguk.
"Saat aku melihat Ben tak memperdulikan lukanya dan hanya terus memikirkanmu." Kata Derreck.
"Tapi... Aku masih bingung... Apa yang sebenarnya Ben inginkan pada bayi ini."
"Kalian harus membicarakannya, tapi aku melihat kesungguhan Ben, sepertinya dia memiliki sesuatu yang ingin ia sampaikan padamu. Kau harus melihat pada dua sisi, tentang kebaikan dan masa depan yang akan Ben berikan."
Kemudian Derreck meraih tangan Daisy dan menggenggamnya.
"Daisy... Beberapa hari setelah kepergian mu aku berfikir, untung itu adalah Ben, untung Ben adalah pria hebat, sebelum perasaanku yang salah ini padamu untung Ben telah membuka semua nya bahwa kau adalah adikku, aku pasti akan sangat menyesal dan mengutukki diri ku sendiri jika aku tidak bisa menahan diri dan berbuat sesuatu padamu. Aku juga ingin jujur padamu Daisy, sejujurnya di keluarga Waldorf pun aku sangat berjuang sebagai anak pertama hingga kebebasanku sendiri pun hilang, mungkin ini terdengar seperti alasan, tapi aku bersumpah jika dulu aku tahu dan memiliki waktu, aku pasti akan menyelematkanmu, tapi bahkan kelahiran dan keberadaanmu di mansion semua di tutupi dengan sangat rapat." Kata Derreck.
"Aku akan memikirkan lebih lanjut." Kata Daisy.
"Lalu... Aku sebenarnya ingin mempertemukanmu pada Beatrice. Ibu mu. Ibu kita. Tapi, aku ingin mencari waktu yang pas." Kata Derreck.
"Aku masih bingung, meskipun dia yang menyelamatkan hidupku, tapi hampir 20 tahun lebih aku menganggap ibu ku adalah orang lain."
"Aku mengerti, aku akan menunggu kapan kau siap. Kalau begitu aku akan pergi karena ada perjalanan bisnis." Derreck berdiri dan hendak pergi.
"Tunggu..." Cegah Daisy.
"Apakah... Aku... Boleh menganggapmu sebagai kakakku yang sebenarnya?" Tanya Daisy.
Derreck tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku akan senang jika kau sudah mau membuka hatimu dan menganggapku sebagai kakakmu."
Derreck memeluk Daisy dengan lembut.
"Aku akan keluar, bicaralah dengan Ben."
Daisy mengangguk.
Derreck kemudian keluar dan menemui Ben yang masih berdiri.
Traver dan Mena telah pergi ke tempat lain, agar Ben tidak merasa canggung. Mereka mengerti perasaan Ben.
"Kau harus masuk dan berbicara dengan Daisy." Kata Derreck.
Ben hanya diam.
"Aku ada perjalanan bisnis, jaga Daisy."
"Mmm..."
Derreck pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan Ben perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar perawatan.
Mata Ben benar-benar tak sanggup menatap Daisy, pria itu hanya berdiri di dekat pintu.
"Kau berniat akan di sana selamanya?" Tanya Daisy.
Ben kemudian berjalan perlahan dan berdiri di samping ranjang Daisy.
Tiba-tiba Ben berlutut dan memegang tangan Daisy lalu menciumnya berulang kali.
"Aku yang salah. Maafkan aku. Maaf lagi-lagi aku kembali melakukan kesalahan. Kau boleh menghukumku apa saja, tapi aku mohon jangan pergi." Kata Ben menggenggam tangan Daisy.
"Berdiri Ben."
Ben masih tidak mau berdiri dan masih berlutut di samping ranjang Daisy sembari menggenggam tangan Daisy.
"Kaki mu terluka berdirilah." Kata Daisy.
"Jawab dulu, kau tidak akan meninggalkanku." Kata Ben memaksa.
Daisy mendesahhkan nafasnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Ben. Berdirilah, aku ingin menanyakan sesuatu."
Kemudian Ben berdiri perlahan dan Daisy melihat luka kaki serta lutut Ben cukup parah.
"Kenapa kau melakukan ini semua?" Tanya Daisy.
"Apa?"
"Kau menyelamatkan bayi nya." Kata Daisy.
"Ya seharusnya itu yang ku lakukan sejak aku mendengar kau hamil. Aku seharusnya menjaganya."
"Apa maksudmu? Bukankah kau menginginkan bayi ini mati?"
"Maafkan aku karena telah salah paham, aku menemukan obat yang seharusnya kau minum tapi itu masih utuh tersegel di laci. Kau hamil karena tidak meminum obatnya." Kata Ben.
__ADS_1
"Jadi karena itu kah kau berubah pikiran? Kau berfikir jika ini adalah anakmu karena aku tak meminum obatnya? Jadi kau ingin menyelamatkannya?"
"Ya, mungkin ini terlambat, tapi aku yakin dia anakku." Kata Ben sungguh-sungguh dan mantap.
"Meskipun aku tak meminum obatnya, bisa saja kan aku hamil karena Gavriel, bisa saja ini anak Gavriel. Gavriel juga sudah mengaku."
"Tidak. Aku yakin ini anakku, aku yakin kau setia pada ku Daisy. Maafkan aku. Maaf sebelumnya aku telah gelap mata. Aku berjanji ke depannya aku akan selalu mempercayaimu, ke depannya aku akan selalu mengutamakan kenyamananmu, aku tidak akan menyentuhmu atau memaksamu melakukan hubungan badan jika kau tak menginginkannya. Aku akan berubah demi kau Daisy, dan demi anak kita." Kata Ben bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" Ben menunggu.
"Aku ingin kita menikah." Kata Daisy.
Ben menekan pelipisnya.
"Kau tidak mau? Kau tidak setuju?"
"Maafkan aku Daisy..."
"Ya... Aku tahu kau pasti tidak akan mau." Daisy menghempas kan tangan Ben.
Kemudian Ben meraih kembali tangan Daisy dan menciumnya.
"Maafkan aku Daisy karena kau harus mengatakannya lebih dulu, seharusnya aku lah yang melamarmu, jadi biarkan aku melamarmu sekarang."
Daisy terkejut.
Ben berlutut dan menekuk sebelah kakinya.
"Daisy... Sayang... Kekasihku... Mau kah kau menikahiku? Aku sangat mencintaimu, aku akan menjadi suami yang hebat dan ayah yang baik untuk anak kita. Aku berjanji padamu. Aku berjanji hidup ku hanya ku persembahkan untukmu dan anak kita."
Daisy menggingit bibirnya, dan mengangguk.
Ben memeluk Daisy dengan lembut.
"Syukurlah... Aku bersyukur itu kau Daisy, aku bersyukur kau yang akan menjadi istriku." Kata Ben mencium kepala Daisy.
"Tapi apa aku boleh bertanya?" Tanya Daisy melepaskan pelukan Ben.
"Kenapa sebelumnya, kau tidak ingin memiliki anak dan tidak ingin menikah?"
Ben duduk di kursi dan diam sejenak.
"Sebenarnya aku takut..."
"Takut?"
"Ya, aku takut aku akan gagal dalam pernikahan, aku takut aku akan gagal menjadi ayah. Mengingat bagaimana masa kecilku, aku sangat takut jika anak itu akan mengalami hal yang sama seperti apa yang ku alami, dan dia tidak akan bisa bertahan. Aku telah merasakan dunia yang begitu busuk dan gelap, semua itu sudah mendarah daging, jadi aku takut, anakku akan merasakan apa yang aku alami, aku khawatir aku mewarisi darah orang tua ku dan menjadi seperti mereka lalu memperlakukan anakku seperti aku di perlakukan oleh orang tuaku."
Daisy menatap dengan sedih ketika Ben menceritakan perasaan dan ganjalan hatinya. Ternyata Ben adalah pria yang takut jika kelak ia mewarisi watak dan sifat kedua orang tuanya yang telah membuat Ben menanggung berat nya kehidupan.
Ben kecil yang selalu di siksa, mengemis, di jual secara ilegal, di lecehkan, dan di paksa melihat hubungan menjijikkan orang tuanya.
Ben takut, ia akan menjadi monster untuk anaknya seperti kedua orang tuanya.
Ben yang bercerita panjang lebar, membuat Daisy luluh, ia tahu semua itu bukanlah kesalahan Ben melainkan orang tua Ben yang telah menancapkan duri serta masa lalu kelam bagi Ben kecil. Membuat Ben selalu melihat hal bahagia menjadi hal yang menakutkan dan kelam.
Bersambung
__ADS_1