Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 83


__ADS_3

Daisy berada di rumah atas, dan ia memilih untuk mandi lalu membersihkan diri, setelah mandi karena bosan Daisy bermain dengan ponselnya ia mencari-cari berita yang sedang hangat.


Ponsel lama nya di sita oleh Derreck, dan ponsel yang sekarang adalah pemberian Ben, Daisy tahu, apapun yang Daisy lakukan dengan ponsel itu Ben dapat mengetahuinya.


Daisy kemudian melihat berita dan pesta pertunangannya dengan Derreck Waldorf masih menjadi sensasi teratas.


Karena penasaran, Daisy juga mencari tahu tentang Mark Waldorf di pencarian, saat itu Daisy hanya bertemu sekali saat pesta pertunangannya dengan Derreck.


"Aku hanya bertemu sekali dengannya, dan bahkan tidak mengobrol. Aku penasaran orang sepeeti apa dia sebenarnya."


Saat, Daisy melihat beberapa berita, ada satu berita tentang dirinya ketika peluncuran perhiasan Benz Grup, itu adalah foto dirinya yang memesona.


"Tidak ada berita saat aku terjatuh, semua beritanya bagus tentang aku, apa Ben yang mengendalikan beritanya?" Kata Daisy.


"Aku penasaran dengan para artis yang dulu menjegal ku saat peluncuran perhiasan itu." Kata Daisy.


Daisy melihat ponsel sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, tangan sebelahnya bermain-main dengan rambut basahnya.


"Rambutmu masih basah, kau akan masuk angin." Kata Ben yang tiba-tiba masuk dan mencium bibir Daisy ketika Daisy mendongak.


Ciuman yang dalam dan mesra, dan sedikit lama, namun Daisy engap dan mendorong Ben.


"Aku akan mengeringkan rambutmu." Kata Ben.


Kemudian Ben melepaskan jas dan menggulung lengan kemejanya, pria itu mengambil handuk kecil dan duduk di sebelah Daisy.


Ben mulai menggosok pelan rambut Daisy menggunakan handuk kecil berwarna putih itu.


Daisy hanya diam saja.


"Kau marah padaku?" Tanya Ben.


Daisy masih diam.


"Aku minta maaf sayang?"


"Kenapa kau minta maaf, memang nya kau salah apa?" Kata Daisy ketus.


"Aku tahu kau tidak suka orang lain menyentuh kepala dan rambutku."


"Kau bahkan dengan percaya diri malam itu akan memotong tangan orang lain yang berani menyentuh mu." Kata Daisy.


"Aku akan memotong tangannya." Kata Ben dingin.


"Tetap saja dia sudah menyentuhmu!" Daisy berdiri dan menyedekapkan tangannya.


Ben menghela nafasnya.


"Kau tahu, aku juga sedang tidak dalam suasana hati yang baik, aku melihat mu bersama Gavriel." Kata Ben.


Daisy mengerutkan keningnya.


"Kau cemburu dengan Gavriel?!!" Kata Daisy tak percaya.


"Kau juga cemburu pada Lucy."


"Bagaimana kau bisa membandingkan Gavriel dan wanita itu!!!" Kata Daisy.


"Apa bedanya?" Kata Ben.


"Jelas berbeda, aku mengenal Gavriel, dia juga orang kepercayaanmu, tidak mungkin aku dan Gavriel, sedangkan wanita itu aku tidak mengenalnya!!!" Teriak Daisy.


"Aku sudah lama ingin menangkap Lucy, tapi aku tidak memiliki cukup banyak bukti. Aku juga tidak tahan dengan sikapnya, tapi aku juga tidak dapat langsung membunuhnya begitu saja, dan kali ini adalah kesempatan bagus."


Daisy mengerutkan alisnya, ia tak mengerti.


"Duduklah bersamaku. Aku akan jelaskan." Kata Ben duduk dan menepuk sofa di sampingnya.

__ADS_1


Kemudian Daisy pun duduk masih dengan wajah kesal.


"Traver telah menemukan siapa tersangka atas peretasan di perusahaan, dan itu adalah Lucy."


Daisy membulatkan matanya.


"Tapi dia..."


"Ya, aku sengaja menyuruhnya datang dengan alasan agar dia dapat melacak siapa peretas itu."


"Aku masih bingung apa sebenarnya rencanamu."


"Sebenarnya, Lucy adalah adik tiri dari Rudolf. Aku sudah lama tidak menyukai sikapnya, dia selalu seperti tadi. Aku membenci itu. Sudah lama aku ingin menghabisinya namun tidak memiliki sesuatu yang cukup untuk membunuhnya sekali lagi karena dia adalah saudara Rudolf. Kali ini, entah Lucy bekerja untuk siapa namun, sudah sejak awal Traver yang ahli dalam peretasan sudah tahu jika itu adalah ulahnya."


"Lalu kenapa tidak langsung di tangkap."


"Dia akan melemparkannya pada bawahannya dan beralibi, dia akan sembunyi di balik bawahannya, meski dia yang melakukannya,dia pasti akan menjadikan bawahannya sebagai tumbal. Saat Lucy di sini aku harus melihatnya bekerja memperbaiki semua virus yang telah dia masukkan ke dalam komputer perusahaan, saat dia melakukan itu, dengan cara yang sama juga kita akan menemukan bukti bahwa dialah yang memasukkan virus itu, lagi pula dia belum mendapatkan apa yang ia cari, saat ini dia pasti akan mencuri data kami, dan terang-terangan kami akan menangkapnya. Dia masih mencari sesuatu, dan kami belum tahu apa itu, dan siapa yang menyuruhnya, apakah itu adalah Rudolf."


"Rudolf? Itu tidak mungkin! Kalian seperti saudara." Kata Daisy.


"Entahlah." Kata Ben.


"Tok... Tok... Tok... !!!" Pintu di ketuk.


Ben berdiri dan membukanya.


"Tuan Ben... Lucy..." Kata Traver.


Ben mengangguk tanda mengerti.


"Hubungi Rudolf." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


Kemudian Ben melihat Daisy dan mengecup bibir Daisy.


"Aku pergi dulu." Kata Ben.


Daisy mengangguk.


Ben pergi, ia menuju tempat dimana para pengawal nya telah menyergap Lucy.


Sedangkan Traver telah menghubungi Rudolf.


Lucy di tangkap saat berada di ruangan khusus, Lucy memanamkan chip micro di bagian sistem, ruangan itu memiliki banyak mesin pengontrol dan mesin-mesin berlayar canggih milik Perusahaan Benz Grup.


Ben masuk dan melihat Lucy telah di ikat di ruangan itu.


"Kau... Akhirnya bertindak juga, aku benar-benar sudah bersabar agar kau masuk perangkap mu sendiri." Kata Ben.


"Ba... Bagaimana kau bisa mengetahuinya." Kata Lucy.


"Sejujurnya Traver sudah mengetahuinya sejak awal, bahwa kau lah peretas itu, bahkan kurang dari satu menit." Kata Ben tersenyum dingin.


"Lalu... Untuk apa kau seolah-olah tidak tahu, dan pura-pura tidak dapat menanganinya!!!"


"Aku ingin membuatnya nyata, tepatnya tangkap tangan, saat kau melakukannya, aku tahu kau memiliki sifat perfeksionis, ketika pekerjaanmu belum sempurna kau akan terus melakukan berbagai cara agar perkerjaanmu sesuai harapan, jadi aku memberikanmu panggung agar kau bisa menyempurnakan pekerjaanmu, dan aku perlu melakukannya karena kau adalah adik Rudolf, meskipun Tiri, tapi tetap saja aku harus menangkapmu ketika kau benar-benar beraksi, atau kau akan melemparkannya pada anak buahmu." Kata Ben.


"Tuan Ben, semua datanya sedang di kirimkan pada seseorang." Kata Traver memberikan tablet milik Lucy.


Ben menerimanya, dan menekan pembatalan.


"Sebagian telah terkirim, pada orang itu, coba kita lihat siapa orangnya." Kata Ben mengecek nya.


Setelah beberapa detik, sudut bibir Ben berkedut, alisnya naik dan rahangnya menekan keras.


"Mark Waldorf." Kata Ben.

__ADS_1


Traver terkejut, untuk apa Mark Waldorf menginginkan data perusahaan Benz Grup.


"Pasti, dia pikir kita menyekap Gustav karena kita akan menyerang bisnisnya." Kata Ben pada Traver.


Ben kemudian melemparkan tablet itu ke tubuh Lucy.


Tak berapa lama ponsel Traver berdering.


"Tuan, dari Tuan Rudolf." Kata Traver.


Lucy tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Kakakku tidak akan melupakanku, meski kami lahir dari ibu yang berbeda, tapi dia pasti akan melindungiku. Lagipula, aku juga mencintaimu Ben." Kata Lucy


"Karena itu lah aku sangat membencimu, benar-benar sangat membencimu, kau adik Rudolf, aku tidak bisa sembarangan membunuhmu, ketika kau bersikap seenaknya, aku sudah sangat lama ingin memotong tanganmu, ketika kau selalu melewati batas dan menyentuh ku, aku sudah peringatkan berkali-kali tapi kau tuli dan bodoh." Kata Ben.


Ben kemudian menerima ponsel Traver.


"Rudolf..." Kata Ben.


Ben kemudian me-loadspeaker ponsel itu agar Lucy juga bisa mendengarnya.


"Anggap aku tidak memiliki hubungan dengannya, aku benar-benar malu dan tidak enak padamu Ben, dia selalu menyebabkan kekacauan." Kata Rudolf.


Ben tersenyum dingin dan gelap.


"Apa!!! Bagaimana kau mengatakan itu dasar Bangsaatt!!! Rudolf apa kau sudah gila!!!" Teriak Lucy.


"Lucy, sudah lama aku juga sudah menyerah padamu, aku hanya tidak memiliki alasan kuat untuk membunuhmu, karena ibumu lah ayahku meninggalkan ibuku, ternyata aku bisa meminjam tangan Ben, lagi pula, kau sudah melewati batas, kau salah mencari masalah, kau merasa kau istimewa dan kau pikir kau bisa bersikap seenaknya. Aku tahu Ben kesusahaan karena kau memiliki hubungan denganku. Jadi, anggap saja kita bukan saudara." Kata Rudolf.


"Ha... Ha... Ha.. Ha... Dasar pengecut kau Rudolf, ibuku adalah mafia yang memimpin kelompok mafia bayangan!!!" Teriak Lucy.


Mafia bayangan adalah, mafia yang tidak menunjukkan siapa mereka. Kumpulan Mafia bayangan adalah mereka yang tidak terang-terangan terlihat, namun bersembunyi melaluo identitas palsu.


Ben menutup ponselnya.


"Jadi, apakah kau siap." Kata Ben.


Kemudian Traver memberikan samurai milik Ben.


Mata Lucy membelalak, wajah nya pucat, tubuhnya gemetaran, bahkan Lucy tidak bisa lagi memikirkan apapun.


Samurai itu di ayunkan, dengan tangan besar Ben.


"KRAASSSSSHHH!!!!"


Ben mengayunkan samurainya dan kedua tangan Lucy pun terpotong.


"AAAARRGGHHHH!!! Ben kau gilaaa!!! Sakiittt!!! Brengsek!!!" Teriak Lucy, dan tubuh Lucy terbaring di lantai tampa tangan.


"Ampuni aku Ben..." Lanjut Lucy menangis putus asa.


"Haahh... Kau tahu Lucy, aku benar-benar sudah sangat lama menahan ini, bahkan kau berani mengatai kekasihku, kau benar-benar merasa kau istimewa ya."


"KRAAASSHHHH!!!!" Kali ini Ben memotong tubuh Lucy.


Darah pun muncrat kemana-mana bahkan ke tubuh dan wajah Ben.


Pria itu melampiaskan semua kesabaran yang telah ia tahan, ketika Lucy selalu bertingkah seenaknya sendiri.


"Menjijikkan." Kata Ben.


Kemudian Ben menyerahkan samurainya pada Traver.


"Haaa.... Sial... Kita masih di perusahaan. Aku terlalu gegabah." Kata Ben melihat semua darah dan daging berserakan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2