
Tak berapa lama pesan kembali masuk dan itu adalah rekaman video dari Gia.
"Tuan Zac, ada pesan video."
"Putar kan." Perintah Zac.
Kemudian Yaron menyambungkan tabletnya dengan tv, video Gia pun di putar.
"Halo Zac. Senang Gencatan Senjata telah di cabut, dan sekarang tiba saatnya pemimpin mafia yang baru akan menduduki kekuasaan. Seperti yang kau tahu, aku memiliki rekaman Video tentang adikmu, dalam 3 hari kau harus mengambil keputusanmu. Pertama, bujuk ayahmu untuk menyerahkan Kekuasaan sebagai Mafia terkuat pada keluarga Vince, lalu melepaskan kepemimpinannya sebagai Ketua Serikat Mafia pada Aaron Vince. Kedua, bujuk ayahmu untuk datang menemui ku di Pulau Kematian, pulau tempatnya para mafia bertarung dan beradu kekuatan, jika tidak, video akan tersebar. Ketiga yang paling ku inginkan adalah, kepala mu. Dan terakhir, sesuatu yang telah di rebut oleh ibumu, yaitu Benjove. Dia harus kembali padaku, atau ku sebar video asusilla Zay."
Kemudian Video itu berhenti.
Saat itu Gavriel meremass genggaman tangannya, ia merasa marah dan emosi, sedangkan Zac, masih diam dan berfikir.
"Tuan Zac, Charles memberikan informasi, jika Keluarga Vince sudah membawa para ketua mafia pelosok level rendah untuk bergabung, dan berkumpul di kediaman Nyonya Gia."
Zac membuang nafas beratnya.
"Waktunya 3 hari, akan ku pikirkan baik-baik." Kata Zac bangkit dan pergi.
Gavriel kemudian berdiri dan mengejar Zac.
"Zac... Video itu tak boleh tersebar, Zay pasti akan terkejut, kemungkinan paling parah, dia bisa melakukan percobaan bunuh diri." Kata Gavriel.
"Aku tahu paman, akan ku pikirkan baik-baik." Kata Zac.
"Tuan Zac... Sepertinya video itu juga di kirimkan pada Tuan Ben, karena Tuan Ben menghubungi anda." Kata Yaroon memberikan ponselnya.
Zac pun menerimanya.
"Ya." Jawab Zac.
"Kau memblokir nomorku?" Tanya Ben.
"Tentu saja, untuk apa menyimpan nomor anda Tuan Benjove." Kata Zac.
"Kau boleh melepaskan marga Haghwer, tapi aku tetap ayahmu."
"Baiklah, ada apa ayah menghubungiku."
"Gia mengirimkan pesan Video, aku tahu kau juga mendapatkannya, jangan sampai Ibumu tahu masalah ini." Kata Ben.
"Aku tahu."
"Mmm.."
"Jadi, apa keputusannya." Kata Zac.
"Melawan." Kata Ben.
"Lalu Videonya?"
"Aku akan pikirkan, tapi keluarga Haghwer tidak akan tunduk dan menyerah pada siapapun. Ini adalah penghinaan." Kata Ben.
"Dia menginginkanmu ayah." Kata Zac.
"Aku tahu, dia gila."
"Jadi, kita akan tetap berperang?" Tanya Zac.
"Benar."
__ADS_1
"Baiklah."
"Sampai jumpa di peperangan, bawa semua pasukanmu, kabarnya Aaron Vince membawa pasukan mafia kelas rendah dengan jumlah sangat banyak."
"Aku tahu."
"Kalau begitu aku tutup."
"Ayah! Tunggu." Kata Zac.
"Kenapa?"
"Ku dengar paman Derreck pergi menyusul kakek dan nenek." Kata Zac melihat ke arah Gavriel.
"Dia butuh mencari ketenangan beberapa saat, jangan khawatir. Lagi pula kesehatan kakek dan nenekmu semakin memburuk, setelah peperangan ini kita harus menjenguk mereka." Kata Ben.
"Aku mengerti." Kata Zac.
Kemudian panggilan pun terputus.
******
Pagi dini hari di Pulau Tanpa Nama. Saat itu, Mena sedang bersiap untuk memakai pakaiannya, ia keluar dari kamar mandi, namun saat Mena membuka almari, ia melihat ke arah kaca, ada bayangan seorang pria.
Mena langsung terkejut dan melihat ke belakang, itu adalah Heiden.
Untungnya Mena sudah memakai topeng wajahnya lebih dulu saat di kamar mandi.
Jantung Mena berdegup sangat kencang, dan kakinya terasa lemas.
"Ke... Kenapa... Anda..." Kata Mena.
Heiden pun mendekat dan memeluk pinggang Mena, tanpa banyak berkata Heiden pun mencium dan melumaat bibir Mena dengan dalam dan kuat.
"Mena... Sepertinya kau sudah menangkap hatiku." Kata Heiden.
Mena tak menjawab dan hanya tersenyum canggung.
"Mena... Aku ingin lagi. Pikiranku penuh tentang dirimu." Bisik Heiden.
"Tuan Heiden... Saya tidak keberatan tapi, bolehkan saya meminta sesuatu?" Tanya Mena.
"Apa itu?"
"Sebenarnya saya memiliki rencana ingin pergi ke suatu tempat, apakah saya diijinkan?" Tanya Mena.
"Kapan?"
"Besok ini." Kata Mena.
"Berapa hari?"
"Hanya satu hari." Kata Mena tersenyum.
"Aku akan mengantarmu." Kata Heiden.
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin kehilanganmu." Kata Heiden.
Mena kemudian tersenyum lalu merangkulkan tangannya pada leher Heiden, mereka saling berciuman dan saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
Ciuman yang mereka lakukan semakin panas dan membara, Heiden menggendong Mena ke atas tempat tidur, dan menciumi leher Mena lalu bagian dada Mena.
Mena pun mennyambutnya, memeluk kepala Heiden dan membisikkan kalimat-kalimat rayuan.
"Tuan Heiden, anda tampan sekali, saya sangat menyukai anda." Kata Mena.
Ketika mereka sedang menikmati panasnya bercumbuu, ponsel Heiden berbunyi dan itu dari Gia.
"Ya Nyonya." Tanya Heiden dengan suara serak.
"Dimana kau!" Tanya Gia.
"Saya ada di luar." Kata Heiden.
"Cepat kembali, kau harus berikan belati pada Gaby. Dia setuju untuk kembali pada laki-laki itu, aku sudah menyiapkan ramuan racunnya." Kata Gia.
"Baik Nyonya." Kata Heiden.
Rencana itu pun di ketahui Mena, karena Heiden mengangkat ponselnya di dekat Mena.
"Aku harus pergi." Kata Heiden.
Mena mengangguk pelan, namun ketika Heiden hendak bangkit, Mena menahan lengan kekar Heiden.
"Anda berjanji untuk mengantar saya ke tempat yang akan saya kunjungi, anda akan menenpati janji kan?" Tanya Mena.
"Aku janji akan mengantarmu." Kata Heiden.
Mena pun tersenyum, dan melihat Heiden pergi dari kamarnya.
"Nanti malam aku harus menghubungi Traver, tapi aku harus bisa menyelinap lagi ke taman belakang, bagaimana caranya..." Kata Mena.
Sedangkan Heiden sudah merapikan pakaiannya dan hendak masuk ke ruangan Gia, ia melihat Charles ada di luar dan tidak di ijinkan masuk bergabung.
Setelah Heiden masuk, terlihatlah di sana, Aaron Vince, Gaby serta Gia yang duduk menyedekapkan tangan.
Heiden melihat beberapa botol kecil bunga-bunga kering, dan beberapa ada seperti berbentuk bubuk.
Heiden kemudian menyerahkan sebuah belati berwarna perak ke atas meja.
"Nona Gaby, berhati-hatilah menggunakannya." Kata Heiden.
"Kau bisa?" Tanya Aaron memegang tangan Gaby.
Gaby pun mengangguk.
"Gaby, rencananya adalah, dalam 3 hari ini, Ben dan Zac akan memberikan keputusan mereka, jika mereka tidak menyerahkan diri dan menyetujui persyaratan yang ku beri, berarti mereka memilih perang, dalam 3 hari ini kau harus bisa membunuh Zac." Kata Gia.
Gaby hanya diam, ia terfokus pada belati perak yang ingin ia gunakan untuk menusuk Zac.
Kemudian Aaron menggenggam tangan Gaby.
"Aku berharap padamu sayang, jangan sampai lengah dan jatuh cinta pada Zac." Kata Aaron.
"Tidak akan, kebencianku sudah mendarah daging." Kata Gaby.
"Gaby, kau tahu pasukan sebanyak apapun belum tentu bisa mengalahkan Ben dan Zac, jadi aku berharap padamu, dalam 3 hari ini kau bisa membunuh Zac." Kata Gia.
Gaby mengangguk pelan.
"Lihat lah Daisy, kematian Zac pasti akan membuatmu terpukul, dan gila, jadi, aku bisa dengan mudah merebut Ben, tanpa harus berperang, namun jika itu masih kurang, kau akan langsung gila dengan senjataku yang lain, yaitu menyebarkan video anak perempuan tersayangmu. Ben tak akan mau dengan wanita gila. Dan aku yakin jika rekaman itu tersebar, bukan hanya Daisy yang gila, Ben pasti juga akan terpukul, itu akan menjadi kelemahannya, semua ini berkat pengawal Carlos yang melarikan diri dari penyerangan itu, meminta perlindungan pada Keluarga Scoot, sehingga rekaman video ini bisa kami dapatkan sebagai imbalan." Kata Gia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung~