
Malam itu ketika Daisy sudah pergi dari kamar Zac, Daisy melewati koridor dan berjalan pelan, namun ketika ia melewati kamar yang tak asing baginya, kamar yang selalu ia tempati dengan penuh kenangan bahagia.
Kamar yangvselalu membuat tubuhnya remuk namun penuh kenikmatan tak berujung, itu adalah kamar Ben yang pada akhirnya ia tidur di sana, kamar mereka berdua, kamar yang di penuhi kenangan panas, manis dan begitu sensuall.
Tiba-tiba saja entah apa yang merasuki Daisy setelah 25 Tahun tak pernah berhubungan badan, dengan tanpa sadar Daisy membuka pintu kamar itu. Setelah 25 Tahun, Daisy memilih pisah ranjang dan tak pernah masuk lagi ke kamar itu, tiba-tiba saja ia ingin masuk dan penasaran. Mungkin karena sudah begitu lama, hati dan perasaan Daisy tergelitik ingin tahu seperti apa kondisinya saat ini.
Setelah pintu di buka Daisy tak menemukan siapapun di dalamnya.
"Seperti biasa, apakah dia tidur di ruang kerja lagi." Kata Daisy.
Perlahan Daisy masuk dengan langkah sepelan mungkin, ia penasaran apakah ada yang berubah dari ruangan itu, ternyata ranjang dan semua hiasan masih sama tak ada yang berubah sama sekali.
Daisy dengan seksama melihat setiap inc kamar itu, semua kenangan kembali terbersit di dalam otak, pikiran bahkan tubuhnya, sontak saja semua kenangan erotiss nya bersama Ben membuat tubuh Daisy bereaksi.
Tentu saja dengan bayangan-bayangan fulgar yang penuh dengan kenikmatan luar biasa tanpa bisa di nalar oleh kata-kata membuat tubuh Daisy merasakan sesuatu, sengatan yang tak asing, meski sudah lama tak ia rasakan.
Daisy melihat ranjang besar di hadapannya, matanya melihat gambaran dirinya dan juga gambaran tubuh berotot Ben yang mengungkungnya dalam kehebatan Ben dan keperkasaan Ben hingga seperti tak ada ujungnya.
Aktifitas itu masih terekam jelas di dalam mata dan ingatannya, di atas ranjang itu, Daisy melihat dirinya sendiri dan juga Ben bergumul dalam satu keringat panas dan saling berteriak mendesahh kan nafas panas yang seperti saling sahut dan menyahut.
Debaran jantung Daisy mendadak semakin cepat, tubuhnya kian memanas, hanya dengan melihat ranjang itu, semua ingatan dan perasaan tubuh Daisy menjadi tak bisa terkendali.
Tiba-tiba juga sesuatu telah basah di bagian sensitifnya, karena bayangan serta ingatan itu jelas terlihat di hamparan matanya tatkala pandangannya tertuju pada ranjang besar yang penuh kenangan panas.
Daisy menelan ludahnya dan menggigit bibirnya, tak sadar tangan Daisy sudah maju dan menyentuh dirinya sendiri.
"Daisyy.... Daisy...."
Daisy sontak terkejut, ia mendengar suara Ben memanggilnya.
Dengan cepat ia sadar bahwa tak seharusnya ia menyentuh dirinya sendiri, tentu saja ia akan malu jika ia terpergok oleh Ben.
"Daisyy... Haaaaahh.... Daisyy...."
Namun, suara itu masih ada, Ben masih memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
Daisy memutar tubuhnya dari mana asal suara itu berada.
"Oohh.... Daisyy... Uughh... Daisyyku..."
Daisy mengendap pelan dan sedikit membuka pintu walking closet, perlahan matanya melihat ke dalam, hanya selubang kecil pintu yang Daisy buka cukup untuk matanya melihat ke arah mana suara itu.
Saat itu Daisy terkejut, sosok Ben yang berantakan, pria itu duduk setengah merebahkan dirinya di sofa, dengan memegangi sesuatu yang sudah mengeras.
Lalu dengan vulgarrnya Ben memanggil dan menyebut namanya.
Mata Ben menutup rapat, keningnya mengerut, wajahnya terasa seperti sangat fokus dan berusaha keras, tangannya sibuk memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri pada benda yang mengeras dan semakin membesar.
Ben membayangkan setiap inc tubuh Daisy yang tak berbusana, dalam ingatannya yang masih jelas, Ben ingin sekali menyentuh seluruh tubuh Daisy, Ben masih sangat akrab dengan bau tubuh Daisy, Ben masih sangat familier dengan seluruh bentuk tubuh telanjjang Daisy.
"Aaahh... Haaa.... Uughh.... Daisy.... Kau sangat cantik..."
Daisy sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia melihat Ben yang begitu kacau, sosok Ben yang kejam, dingin dan selalu angkuh, bahkan dia adalah sosok paling sempurna di mata orang lain, ternyata memiliki sisi yang seperti itu.
"Bukankah biasanya dia memakai jasa mulut para pelacuurr untuk membantunya melampiaskan hasrattnya." Batin Daisy.
Setelah melihat Ben mencapai *******, Daisy ingin keluar namun kakinya tersandung oleh kakinya sendiri.
GEDEBUG!!!"
Daisy terjatuh dan pintu pun terbuka lebar selebar-lebarnya.
Saat itu Ben membuka mata dan melihat Daisy memandanginya, dengan posisi Ben masih memegang benda besar miliknya yang berdiri.
Wajah Ben seketika merah, begitu pula Daisy yang merasa sangat canggung, apalagi Daisy merasa sangat malu, ia merasa sedang mengintip sesuatu yang cabull dan mesumm.
"Aku... Aku sedang mencari sesuatu..."
Ben pun berdiri, namun benda miliknya masih tegak tak melemah sedikitpun sembari ia mendatangi Daisy, dan mengangkat tubuh Daisy.
"Kau sendiri yang menghampiriku Daisy. Kita sudah memiliki kesepatakan siapa yang menghampiri siapa, maka ia akan melakukan apapun yang orang itu suruh."
__ADS_1
"Kapan aku berbicara seperti itu." Kata Daisy suaranya bergetar.
"Kau yang membuat perjanjian itu, jika kau masuk ke kamarku, aku berhak berbuat apa saja padamu, dan jika aku masuk ke kamarmu, kau berhak melakukan apapun padaku."
"Tapi, kau tadi juga masuk ke kamarku, aku tak melakukan apapun padamu, karena aku telah lupa pada perjanjian itu, jadi sekarang kau harus melepaskan aku." Kata Daisy.
"Kepalang tanggung, aku sudah melihatmu, dan bagaimana ini, dia semakin memberontak, kau sendiri yang membuat perjanjian pisah ranjang itu."
"Aku tidak pernah membuatnya, aku tak mengingatnya, dan aku lupa, maka perjanjian nya batal."
"Tapi aku mengingatnya, itu adalah saat malam terakhir kau ada di kamar ini, setelah kepergian Zac ke luar negri, kau marah begitu kalap karena aku menyuruh Zac membangun karirnya di luar negeri tanpa bantuanku sedikitpun, kau memakiku, dan meminta perjanjian pisah ranjang."
"Aku lupa."
"Aku tahu kau lupa karena saking bahagianya melihat Zac, maka aku masuk ke dalam kamarmu. Saat itu kau mengajukan perjanjian jika aku masuk ke dalam kamarmu, kau akan pergi meninggalkan mansion ini, dan jika kau masuk ke dalam kamarku, maka kau harus menghapus perjanjian itu dan kembali tidur dengan satu ranjang di kamar ini kita berdua seperti dulu."
"Jadi, aku juga berhak memberlakukannya, aku akan pergi dari mansion ini karena kau masuk ke dalam kamarku."
"Sayangnya Daisy, perjanjian itu memiliki batas waktu, ini sudah lewat beberapa jam dari aku masuk ke dalam kamar mu dan kau tidak mengatakan apapun, sekarang giliranku, kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu, maka perjanjian pisah ranjang batal."
"Kau licik Ben, kau tahu aku melupakan itu, dan mengambil kesempatan kotor untuk memanipulasiku!!"
"Itu lah yang di namakan bisnis."
"Tapi, kita tidak sedang berbisnis!!"
"Semua perjanjian di anggap bisnis." Ben menaikkan kedua bahunya dan menyeringai.
Dengan cepat Ben menggendong Daisy ke atas pundaknya.
"Kyaaa Bennn!!! Aku akan jatuh!!!" Teriak Daisy.
Kemudian Ben membaringkan Daisy ke atas tempat tidur, Daisy menelan ludahnya ia melihat lagi sesuatu yang begitu besar yang pastinya ia akan kesulitan menenangkannya, apalagi sudah 25 tahun, apakah dia akan mati karena Ben pasti akan sangat brutal meremukkannya.
"Mari kita bicarakan ini baik-baik Ben..." Pinta Daisy.
__ADS_1
Saat itu Ben sudah berada di atas Daisy dengan menyangga tubuh berototnya dengan kaki dan tangan kuatnya di samping kepala Daisy, sembari memandangi dengan mata penuh kerinduan.
Bersambung