Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 111


__ADS_3

PENGUMUMAN :


Halo semua. Aku ingin menyapa kalian, bagaimana dengan kabar kalian? Semoga selalu sehat dan bahagia.


Aku juga ada kabar. Setelah pernikahan Ben dan Daisy Aku ingin melanjutkan "Tahanan Ranjang Sang Mafia" ke Seasond berikutnya di Seasond 2, cerita berikutnya mengenai kehidupan rumah tangga Daisy dan Ben serta anak mereka, serta beberapa konflik di sekitar mereka. Tetap di Novel ini ya.


Terimakasih pada semua pembaca yang sudah setia 🙏🏻


Tolong terus dukung novel ini ya dengan cara vote, like, dan komen, jangan lupa untuk follow penulisnya juga.


******


Malam itu, Daisy sedang sibuk mencoba beberapa stel gaun pernikahan, dan beberapa diantaranya agak sesak, ternyata berat badan Daisy bertambah dengan cukup cepat.


"Gaun ini bagus aku suka, tapi di bagian dada agak sesak."


Gaun yang di pakai Daisy memiliki desain modern dan berwarna putih seperti angsa yang cantik


"Akan kami ubah Nona." Kata Alexa desain fashion Benz Grup.


Tak berapa lama ketika Daisy sedang membenarkan rambutnya seseorang masuk ke dalam ruangannya.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu tak bisa lagi mengedipkan matanya.


Daisy melihat dari balik kaca, dan kemudian berbalik.


"Ibu..." Kata Daisy.


"Kau sangat cantik." Kata Beatrice menitikkan air matanya.


Daisy kemudian berjalan mendekat dan memeluk Beatrice.


"Ibu kenapa memangis?'"


"Aku bahagia... Aku bahkan tidak dapat mengatakan sesuatu dan hanya bisa menangis. Kau sangat cantik seperti malaikat."


"Aku pasti mewarisinya dari mu ibu..." Kata Daisy menghapus air mata ibunya dengan ujung jarinya.


"Aku berencana ingin mengunjungimu, tapi katanya aku tidak boleh menaiki pesawat." Kata Daisy.


"Aku pun sebenarnya juga ingin mengejutkanmu, karena aku mendengar dari Mena, kau sangat ingin pergi menemuiku, tapi ternyata aku yang di buat terpana sampai menahan nafas. Putri kecilmu sudah menjadi gadis yang sangat cantik dan menawan." Kata Beatrice membelai rambut Daisy.


Daisy tersenyum dan memeluk ibunya lagi.


"Aku sangat gugup." Kata Daisy sembari menaruh dagunya di bahu ibunya.


Beatrice tersenyum dan melepaskan pelukannya kemudian memandangi wajah anaknya.


"Apa kau mau dengar cerita?"


"Cerita apa?"


Beatrice pun duduk dan Daisy mulai mengganti pakaian.


"Dahulu aku juga merasa sangat gugup, bahkan kakekmu berulang kali menggosok punggung dan tangan ku yang dingin...."


"Lalu...?" Tanya Daisy mendengar dengan antusias dan sembari memakai dress casual nya.


"Lalu... Saat aku berjalan menuju altar, Mark memandangiku dengan sangat dalam, pria itu pasti juga gugup, karena matanya pun berkaca-kaca ingin menangis. Saat itu Mark adalah pria yang masih sangat polos dan lugu, dia anak petani yang memiliki banyak lahan, namun, sikapnya berubah ketika..." Beatrice terdiam.


Daisy yang sudah selesai mengganti pakaian pun duduk di sebelah ibunya, sedangankan para pelayan serta Alexa pun pergi setelah berpamitan dengan sopan.


"Ketika apa ibu..." Tanya Daisy memegang tangan Beatrice dengan lembut.

__ADS_1


"Ketika seluruh keluarganya di bunuh, bahkan adik perempuannya sampai gila karena melihat semua pembantaian itu di depan matanya, hingga adik perempuan Mark meninggal, sampai saat itu dia adalah saksi kunci dan tetap tak bisa mengatakan apapun selain hanya metakutan." Kata Beatrice.


"Pembantaian?"


Beatrice mengangguk.


"Pembantaian dan perampokan. Mulai dari sana lah sikap dan sifat Mark menjadi semakin seperti orang yang tidak lagi bisa ku kenal." Kata Beatrice.


"Jadi... Apakah kau benar-benar akan bercerai?" Tanya Daisy.


Beatrice hanya diam.


"Aku tahu, meskipun apapun yang telah terjadi, kau tetap mencintainya, aku berharap kau tidak memikirkan perasaanku, aku memiliki Ben, dan aku juga memilikimu Ibu..."


"Ini bukan hanya tentang memikirkanmu Daisy, aku sudah sangat lama tidak lagi mengenal Mark yang dulu." Kata Beatrice.


Tiba-tiba Mena masuk dan obrolan mereka pun terhenti.


"Nona Daisy, anda harus melakukan perawatan kulit, agar kulit anda sehat pada saat acara pernikahan anda." Kata Mena.


Daisy melihat ke arah ibunya.


Kemudian Beatrice mengangguk.


"Pergilah..." Jata Beatrice tersenyum.


"Tapi... Kau akan tetap di sini kan?"


"Tentu saja. Mana mungkin aku meninggalkan putriku ini." Beatrice mengelus rambut Daisy dengan lembut.


Daisy tersenyum dan kemudian setelah berpamitan pada ibunya, ia pergi bersama Mena.


Namun belum sampai setengah jalan Daisy berhenti.


"Bolehkah aku melakukan perawatan bersama ibuku?" Tanya Daisy.


"Aku ingin bersama dengan ibuku, dan mendengarnya bercerita, aku ingin melakukan semua perawatan dengan ibuku, apakah boleh?" Tanya Daisy.


"Kenapa anda bertanya pada saya? Andalah Nyonya di sini, anda yang memberikan kami perintah." Kata Mena menjelaskan.


Daisy tersenyum dan berlari menuju kamar kembali. Beatrice terkejut melihat Daisy kembali.


"Ibu... Ayo kita habiskan waktu bersama-sama." Kata Daisy dengan tersenyum bahagia.


Beatrice tersenyum dan menitikkan air mata bahagia melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang baik bahkan masih mau peduli dan menyayanginya meski semua yang telah terjadi padanya di masa lalu.


Betarice mengangguk pelan, dan Daisy menggandeng lengan Beatrice.


******


Beberapa hari kemudian~


Daisy berdiri di depan kaca dengan gaun putih yang pas di tubuhnya, wajah ayu nan cantik serta kulit putih bening yang bersinar bahkan hingga membuat mata silau, tentu saja menambah kecantikannya yang bak malaikat.


Derreck menghela nafasnya, saat itu ia duduk dan melihat Daisy yang mondar-mandir dengan cemas.


"Duduklah." Kata Derreck dengan lembut.


"Aku takut nanti gaunnya akan kusut." Kata Daisy.


"Kau punya Stylish Fashion terbaik di seluruh dunia di sini, jangan khawatir." Kata Derreck.


"Tapi aku takut tidak ada waktu membenahi gaun kusut, sudahlah aku berdiri saja." Kata Daisy.

__ADS_1


"Jika begitu jangan mondar-mandir ke sana kemari, aku takut kakimu ke sleo." Derreck berdiri dan mengelus kedua lengan Daisy.


"Aku takut." Kata Daisy kemudian.


Derreck tersenyum dan memeluk Daisy.


"Kau sangat cantik, jangan gugup."


Kemudian Beatrice yang sudah selesai berdandan pun masuk dan mendatangi Daisy.


"Kau seperti malaikat." Kata Beatrice melihat Daisy.


Derreck melepaskan pelukannya, dan Daisy memeluk ibunya.


"Aku benar-benar gugup, apakah aku akan melakukannya dengan baik?" Tanya Daisy.


"Kau bisa, kau akan melakukannya dengan baik. Pesta ini milikmu anakku." Kata Beatrice.


"Tapi..." Daisy masih sangat ragu, ia seperti sedang bermimpi dan tak percaya ia akhirnya menikah dengan Ben.


"Lihatlah ombak laut, dia akan menenangkanmu." Kata Derreck yang berdiri di depan jendela dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Daisy kemudian berjalan mendekat dan melihat ombak laut dengan kedua matanya, ombak laut itu tak terdengar suara deburan ombaknya namun melihatnya membuat mata Daisy dengan sekejab terkesima.


"Benar... Ini sedikit melegakan dan membuat tenang. Ombaknya terlihat sangat tenang dari sini." Kata Daisy.


Bayangan dan ingatan Daisy kembali pada pertemuan pertamanya dengan Ben, saat itu ia menyembunyikan tubuhnya di balik sprei tebal yang sudah usang milik mafia tua yang mesum, dia adalah Geraldo. Daisy melarikan diri dari sana di bantu oleh Brian.


Perjuangan nya melarikan diri dari Geraldo, dan justru masuk ke dalam singa yang jauh lebih kejam membuat Daisy tersenyum.


"Ternyata, itu tidak buruk." Kata Daisy.


"Apanya?" Tanya Derrreck.


"Pada akhirnya, aku bisa melewati semuanya, masa kecil yang penuh siksaan dari Samantha, masa remaja yang terus mendapatkan pukulan dari Samantha dan Ansella, kemudian di culik Geraldo, lalu masuk menjadi tahanan menyedihkan Ben, selalu berusaha memanipulasinya namun aku selalu gagal, belum lagi rencana balas dendam untuknya, dan ternyata aku menemukan kakak serta ibuku, ku pikir awalnya Tuhan membenciku, karena memberikan kehidupan yang tak pernah adil padaku namun... Semua itu kini menjadi bunga yang mekar sangat indah, kehidupan ku dari perjuangan ku sangat indah." Kata Daisy.


Beatrice memeluk Daisy dari samping dengan penuh kasih sayang, sedangkan Derreck mengelus punggung Daisy.


"Kau memang sangat hebat." Kata Derreck.


"Aku berhasil... Aku berhasil melewati semua itu." Kata Daisy.


"Untungnya kau adalah adikku." Kata Derreck.


"Kenapa?" Tanya Daisy.


"Karena aku akan terus dapat menyayangimu, dan melindungimu, datanglah padaku kapan saja jika Ben menyakitimu." Kata Derreck tersenyum


"Hey!!! Kau mulai lagi!!!" Pekik Daisy.


"Aku mengatakannya sebagai kakakmu. Kau tidak ingat terakhir kali, kau masuk rumah sakit?" Kata Derreck terkekeh.


"Itu karena salah paham, aku tahu... Dia tidak akan pernah menyakitiku." Kata Daisy tersenyum.


"Ya aku tahu itu, meski begitu tetap saja, datanglah padaku sebagai adikku, aku menyayangimu Daisy. Kau addikku, dan aku akan selalu ada untukmu." Derreck membelai lagi punggung Daisy dengan lembut.


"Dan masih ada ibu yang akan selalu ada juga untukmu."


Daisy tersenyum.


"Kau memang yang terbaik ibu."


"Jangan sampai Ben mendengarnya, dia akan cemburu. Ben selalu ingin menjadi yang terbaik. Dia tidak akan menyerahkan posisinya." Kata Derreck menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku.

__ADS_1


Betarice dan Daisy tertawa berbarengan, mereka bertiga bersama-sama memandangi laut yang berombak di depan jendela besar.


Bersambung


__ADS_2