
"Ck..." Ben mendecak.
Ben kemudian memutar pistolnya dengan jarinya, lalu mengarahkan kepada para penyerang menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kananya menutup mata Daisy.
"Jangan lihat." Kata Ben.
Traver yang tahu Ben telah berubah menjadi binatang buas, akhirnya juga mulai menggunakan seluruh tenaganya, dan tersenyum bengis.
DODDOODOODOORRR....!!!
DODDODDOODOORRR...!!!
DOORRR...!!
DOOORRR!!
DOR!!
Tembakan demi tembakan di lakukan Ben dan Traver dengan kecepatan tangan yang orang akan merasa itu hal mustahil jika tidak melihatnya sendiri, apalagi semua tepat sasaran mengenai kepala mereka.
Traver dan Ben seolah sedang berduet dan bermain dengan asyik, mereka seperti sedang menikmati hiburan itu, bahkan seperti hanya sekedar bermain game.
Satu-persatu para penyerang berjatuhan, Ben selalu membidik sasaran di kepala mereka, otak dan dagingnya meledak berceceran.
Tidak kalah dengan Traver, pria itu bahkan lebih kejam, setelah lawannya mati dia merobek tubuh lawannya menggunakan pisau yang ada di ujung senapannya.
"Astaga... Traver, dia sudah mati... Jangan terlalu kejam padanya." Kata Ben.
"Saya haus dan lapar Tuan Ben." Jawab Traver.
sembari melanjutkan menembakki mereka semua dengan 2 senapan.
DEDDDEDDEEDET....!!!"
DEDEEDDEEDEEETTT....!!!
Senapan laras panjang bergerak dengan cepat, sisa peluru berterbangan dan jatuh di kaki Traver.
Ben berhenti menembak, ia mengisi pelurunya, gerakannya agak terganggu karena ia juga harus memastikan Daisy aman di dekatnya, namun tiba-tiba seorang penyerang memukulnya menggunakan balok kayu, tepat di kepala belakangnya.
BUUGGG!!!"
"Hasshh...!!!" Ben menggeram menggertakkan giginya dan berbalik siapa yang telah memukulnya.
"Tetap tutup matamu." Perintah Ben pada Daisy.
Namun Daisy terlanjur melihat darah kental telah mengalir di kepala Ben, belum sembuh trauma dan syock melihat darah di lengan Ben, kini di tambah dengan darah keluar dari kepala.
Tubuhnya mendadak lemas dan ingin pingsan tatkala matanya melihat begitu banyak mayat berjatuhan di bawah kakinya, bahkan samapi di dalam loby hotel, dimana-mana terdapat darah, daging berceceran serta runtuhan-runtuhan bangunan, dan di dekat kakinya sendiri terdapat otak serta daging manusia berceceran.
"Aku akan pingsan." Kata Daisy, pandangannya semakin gelap.
Ben saat itu langsung mencekik leher si penyerang, dan meremukkannya hanya dengan satu tangannya. Si penyerang yang memukul kepalanya pun langsung mati terjatuh di bawah kaki Ben.
__ADS_1
Saat itu para penyerang hanya tinggal beberapa saja, mereka syock dan ketakutan bagaimana bisa kawan-kawannya tewas hanya dengan pistol yang di tembakan dengan satu tangan saja, bahkan memiliki jeda untuk mengisi peluru, semua terjadi dengan cepat, tangannya cepat, bidikannya tepat, bahkan tanpa rasa ragu sekalipun, tidak ada peluru yang terbuang sia-sia.
Lalu dengan tiba-tiba seorang penyerang langsung membekap Daisy.
"Berhenti atau ku...."
DOORRRR!!! Belum selesai berbicara peluru langsung menembus dahi pria penyerang yang menyandra Daisy.
"Beraninya kau menyentuhnya dengan tanganmu." Kata Ben.
Kemudian Ben menginjak tubuh pria yang telah mati tadi, dan menarik tangannya hingga terputus.
KRETEKKK!!!
"Sampah." Umpat Ben dengan nada rendah yang mengerikan.
Sontak melihat Ben yang mematahkan tangan serta menembak si penyerang di dahinya, membuat tubuh Daisy gemetar dan membuatnya mual. Kemudian Ben menyobek lengan bajunya dan mengambil seutas kain yang cukup untuk menutup mata Daisy.
"Aku sudah katakan tutup matamu." Kata Ben sembari menutup mata Daisy dengan kain, lalu mengikat kain itu dengan lembut.
Traver masih menembaki para penyerang untuk melindungi Ben dan Daisy, kemudian Ben kembali beraksi, pria itu mengambil senapan milik para penyerang dan memutarnya lalu menodongkannya balik.
DODDODOODDODRR...!!
DODDDOODDDOODDOORRR!!!!
DEDEDDEDEEEDDERRRTTT....!!!
Senapan dan pistol saling sahut menyahut. Sedangkan Daisy hanya berdiri dan tubuhnya selalu tersentak mendegar suara tembakan dan suara teriakan, kadang kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, karena siara-suara yang mengerikan seolah berada di dekatnya.
Mental Daisy benar-benar di uji, kakinya terasa semakin lemas, ia pasrah, ia benar-benar ketakutan dan lemah, membayangkan seandainya ada peluru yang menembus kepala atau jantungnya.
Daisy juga merasa bahwa kakinya sudah tidak baik-baik saja, terasa sangat lengket, ia tahu itu adalah darah yang kental.
Air mata Daisy tak terbendung.
Dan pada akhirnya suara tembakan pun berhenti, di ganti dengan suara-suara bising mobil-mobil yang kian mendekat.
Selama tembak menembak, Ben dan juga Traver telah berhasil memukul mundur para penyerang hingga mereka dapat keluar dati loby hotel. Pada akhirnya para penyerang yang berjumlah banyak pun habis, mayat mereka hancur berserakan di tanah.
Daisy mendengar mobil berhenti.
"Kalian lamban." Kata Ben.
"Karena aku tahu kau bisa mengatasinya." Sahut Rudolf melihat tumpukan mayat.
"Astaga... Kalian benar-benar tak bermoral, mereka sampai seperti daging cincang. Ck... Ck... Ck..." Kata Rudolf menggelengkan kepala.
"Tapi kali ini berbeda, aku tidak bisa bergerak leluasa, sedikit jauh darinya bisa bahaya." Kata Ben dan membuka ikatan mata Daisy.
Traver membuang senapannya.
Setelah Ben melepaskan ikatan kainnya, Daisy hendak menengok ke belakang, namun dengan cepat Ben memutar kepala Daisy untuk melihatnya.
__ADS_1
"Lihat aku saja." Kata Ben dan mencium bibir Daisy.
Lumaataan yang cukup dalam dan intens.
"Apa dengan berciuman luka di kepalamu bisa sembuh? Ku pikir darahnya terlalu banyak, apa lukanya dalam?" Kata Rudolf.
"CK!" Ben mendecakkan lidahnya.
"Siapa dalangnya." Kata Ben.
Rudolf dan Ben saling menatap.
"Kali ini terserah mau kau akan apakan dia." Kata Rudolf.
"Tuan Ben, Blaze telah memasukkan virus ke dalam komputer keamanan kita, dan meledakkan satelit, dia juga yang memberikan informasi jika Zaya hanyalah boneka untuk tameng dan memancing. Informasi tentang Nona Daisy di dapatkan Blaze dari Ansella."
"Aaa.. Jadi untuk alasan itu, Blaze meminta layanan dengan ****** itu. Periksa Ansella apa dia juga akhirnya bergabung atau karena di tekan oleh Blaze." Kata Ben.
Ben melihat Daisy yang semakin resah, kemudian menyuruh Daisy untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Saat itu Rudolf sudah membuka pintu mobilnya.
"Kau tunggu di dalam." Kata Ben dengan lembut Pada Daisy.
Daisya hanya bisa menurut, ia pun masuk, karena kakinya sudah lemah, ia perlu menyandarkan kepalanya dan Ben menutup pintunya.
Daisy tidak dapat lagi mendengar percakapan mereka.
"Jadi Blaze bekerja untuk siapa." Kata Ben.
"El Joa Tuan. Dia melarikan diri dari pengasingan, para Keamanan Mafia Gelap sedang melakukan pencarian." Kata Traver.
Ben tersenyum sinis.
"Bodoh. Kalau begitu atur pertemuan dengan Carlos dan Yamaguchi, aku akan kembali ke Kota Z bersama Rudolf, kau urus dulu semua yang di sini, dan perintahkan Mena untuk berbicara dengan para Pemerintahan atas kekacauan yang ada di wilayah Barat, tepatnya rumah Daisy yang terkena boom. Mereka memang sengaja menargetkan Daisy, apalagi mungkin mereka mendapatkan kabar jika aku ada di sana. Yang jelas, Berapapun uangnya berikan saja untuk tutup mulut mereka. Untuk korban jiwanya berikan santunan sebanyak yang mereka minta."
"Jika kau seperti itu, mereka akan memerasmu." Kata Rudolf.
"Biarkan saja, tak masalah, hanya beberapa receh untuk lalat-lalat, rumah utu dan tetangga-tetangga di sana sangat berarti bagi Daisy bagaiamana pun harus kembali di bangun, dia akan sedih jika tak bisa pulang lagi ke rumah itu. Meskipun aku lebih suka mengirim mereka semua ke alam baka, tapi aku lebih suka melihat Daisy tersenyum daripada ketakutan dan kecewa."
"Kurasa cinta merubah seseorang yang buas menjadi pujangga dan penyair." Kata Rudolf.
Ben menggelengkan kepala.
"Aku hanya ingin memperlakukan tahanan ku selayaknya manusia, bukan memenjarakanya seperti binatang."
"Terserah lah, apa yang akan kau katakan, tapi aku sudah melihatnya, jantungmu seperti akan meledak. Degub Degub Degub Degub... Hahaha!!!" Rudolf memegangi dada nya dengan tangan dan dada yang seirama bergerak-gerak.
Traver menahan tersenyum membuat wajahnya terlihat sangat kaku.
Ben segera menendang kaki Rudolf.
bersambung
__ADS_1