Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 89


__ADS_3

Tiba-tiba Traver berlari dan menghampiri Ben.


"Tuan Ben..." Kata Traver membenarkan jas nya dan menunduk.


"Terjadi sesuatu." Kata Ben.


"Margareth sedang mengatur penerbangan ke Negara K." Kata Traver.


"Apa dia sedang mengantarkan nyawanya sendiri." Kata Ben.


"Saya rasa dia akan mengacau di sini Tuan, melihat anda memiliki pengaruh besar di Negara K."


"Tidak akan ku biarkan, dia mengobrak abrik Negara ku, kita datangi dia sebelum penerbangannya." Kata Ben.


"Drrtt... Drrtt...." Ponsel Traver bergetar.


Kemudian Traver mengangkatnya.


"Serahkan potongan tubuh anakku, atau kalian akan menyesal." Kata Margareth kemudian panggilan terputus.


"Margareth meminta untuk menyerahkan potongan-potongan tubuh Lucy Tuan, tapi kepala Lucy sudah kita berikan kepada Mark Waldorf sebagai hadiah." Kata Traver.


Daisy yang mendengar itu merasa mual.


Ben dengan cepat melihat ke arah Daisy, ia berbalik ke belakang, saat itu wajah Daisy sudah pucat pasi.


Ben mendelik dengan wajah gelap pada Traver.


"Maaf Tuan, saya tidak peka, saya lupa Nona Daisy masih di sini." Traver kemudian pergi.


Ben segera membawa Daisy kembali ke dalam kamarnya.


"Aku akan kembali ke kamarku." Pinta Daisy.


"Jangan banyak mengeluh. Duduk." Perintah Ben.


Kemudian Daisy duduk di tepi ranjang, Ben sendiri menuangkan air minum dan memberikan pada Daisy.


Setelah Daisy meminumnya, Ben menarik kursi dan duduk menghadap Daisy sembari memegang kedua tangan Daisy.


"Jadi... Kau benar-benar memotong tangannya, karena dia menyentuhmu?" Tanya Daisy.


"Mhmm... " Jawab Ben, Ben tidak dapat memberitahi Daisy, jika semua itu adalah ulah Mark Waldorf.


"Maaf... Untuk tindakanku tadi siang." Lanjut Ben.


"Apa kita sudah berbaikan?" Tanya Daisy.


Ben memeluk Daisy.


"Aku takut kau meninggalkanku."


"Aku tidak ingin kita bertengkar." Pinta Daisy.


"Mungkin aku sedang banyak pikiran, perusahaan juga sedang terjadi masalah, aku juga harus menghadapi pasar gelap dan para mafia yang mengganggu."


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji, dan aku akan tetap di sini." Kata Daisy.


Ben mengecup kening Daisy.


"Beberapa hari ke depan aku akan sibuk mengurus ini dan itu."


Daisy mengangguk.


"Tidurlah, aku harus pergi sekarang." Kata Ben.


Daisy membaringkan tubuhnya, dan tak berapa lama Mena pun datang.


"Tok... Tok... Tok..."

__ADS_1


Ben kembali mencium kening dan bibir Daisy, setelah itu Ben membuka pintu.


"Tuan Ben... Maaf saya baru tiba." Kata Mena membungkuk.


"Jaga Daisy, aku akan pergi, jika aku luang aku akan pulang." Kata Ben.


"Baik Tuan Ben."


Setelah kepergian Ben, Mena masuk, ia melihat Daisy sudah terlelap, mungkin karena kelelahan dan pikirannya sudah tenang karena Ben dan dirinya sudah berbaikan, membuatnya dapat tidur dengan tenang.


******


Beberapa hari kemudian~


Hari berikutnya Ben masih belum juga pulang, dan berhari-hari Daisy menunggu, apakah Ben sesibuk itu, namun Daisy masih tetap pada janjinya bahwa ia tidak akan pergi kemana-mana. Daisy merasa kesal karena Ben sama sekali tidak memberi kabar.


Pada hari ke 7 Ben juga belum kembali, pria itu bahkan tidak memghubungi Daisy, bagaimana kabarnya, bagaimana keadaannya, dan pada hari inilah Daisy melanggar janjinya, bahwa ia tidak akan pergi kemanapun.


"Mena..."


"Ya Nona."


"Apa ada kabar dari Traver?" Tanya Daisy.


"Belum ada Nona."


"Apa ada kabar dari Ben?"


Mena menggeleng.


"Belum ada juga, Nona."


"Sebenarnya apa yang terjadi, ini sudah seminggu, tapi aku tidak mendapatkan kabar apapun." Kata Daisy meremas kedua tangannya.


"Mereka tidak akan kenapa-kenapa nona."


"Tapi aku sangat khawatir, atau jangan-jangan...." Daisy mendelik takut.


"Apa kau tidak bisa mengutus seseorang Mena untuk melacak mereka ada di mana?" Tanya Daisy.


"Saya akan lakukan Nona, tapi jangan terlalu berharap Nona, karena Tuan Ben selalu susah untuk di lacak, itu adalah strategi para mafia."


Daisy mengangguk.


Hari semakin siang, akhir-akhir ini Daisy merasa mengantuk dan sering lapar, tubuh nya juga terasa lemas dan panas.


Saat itu Daisy tidur di sofa panjang.


"Mena..." Panggil Daisy saat itu ia terbangun dari tidur siangnya.


"Ya Nona..."


"Apa sudah ada kabar? Kau sudah mengirim orang untuk melacak mereka?" Tanya Daisy.


"Sudah Nona, tapi masih belum ada kabar, baru beberapa jam lalu pengawal mulai bergerak." Kata Mena.


Daisy pun kemudian duduk, namun kepalanya sangat pusing.


"Kepala ku pusing." Kata Daisy.


"Anda belum makan bagaimana jika makan dulu, saya akan suruh pelayan membawa nya ke kamar." Kata Mena.


Daisy mengangguk.


Setelah beberapa saat, para pelayan membawa troly yang berisi beberapa macam makanan, Daisy duduk di kursi nya, dan pelayan membuka setiap tutup saji makanan.


Entah mengapa, ketika tutup saji di buka dan asap mengepul lalu terhirup oleh hidungnya, Daisy justru merasa ingin muntah.


"Hmmmbbb....!!!" Daisy menahan muntahannya.

__ADS_1


Dengan bergegas Daisy lari ke arah wastafel dan muntah.


"Hweekk....!!! Huweeekk...!!!"


Mena menyusul dan menepuk pelan punggung Daisy.


"Nona apa anda sakit? Apakah saya perlu memanggil Dokter Gavriel?" Tanya Mena.


Daisy melambaikan tangannya pelan.


"Kita ke sana saja, mungkin ini juga karena aku hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun sepanjang seminggu ini, aku juga butuh suasana baru. Aku bosan hanya menunggu dan tidak melakukan apapun." Kata Daisy.


"Baik Nona saya akan siapkan mobil." Kata Mena pergi bergegas.


Akhirnya Daisy memutuskan untuk keluar mansion, ia memutuskan melanggar janjinya pada Ben. Setelah mobil siap Daisy masuk dan mobil melaju pelan meninggalkan Mansion.


Daisy merasa tubuhnya makin aneh, sangat aneh, bahkan Daisy hanya diam dan tak berkata apapun.


"Nona anda baik-baik saja?"


"Aku mual." Kata Daisy.


"Apakah anda mau makan perment mint?" Tanya Mena.


Daisy menggeleng.


"Tolong menepi sebentar..." Perintah Daisy.


Kemudian Mena mengatakan pada Sopir untuk berhenti, dan mobil-mobil pengawal lain juga berhenti dan menepi, semua pengawal keluar untuk berjaga.


Daisy keluar dan langsung terduduk di trotoar.


"Hweekk....!!! Huweeekk...!!!" Daisy muntah beberapa kali.


"Aku... Tidak bisa... Mobilnya bau." Kata Daisy.


"Apa?!!" Mena tercengang bingung.


"Mobil nya bau... Tolong bersihkan dulu." Perintah Mena pada pengawal masih tak mengerti.


Kemudian para pengawal menyemprot mobil dengan parfum dan membersihkannya.


"Nona sudah selesai... Mari masuk." Ajak Mena.


Namun belum juga Daisy masuk, aroma mobil keluar dengan pekat.


Bau itu langsung menusuk hidung Daisy, dan perut Daisy terasa seperti di aduk.


Daisy tidak kuat lagi, ia pun pingsan.


"Nona Daisy!!!" Teriak Mena.


Semua pengawal pun siaga.


Setelah Daisy di masukkan ke dalam mobil, iring-iringan mobil bergegas dengan kecepatan penuh menuju Rumah Sakit.


"Tuan Gavriel, Nona Daisy pingsan, sebelumnya dia muntah-muntah sangat parah." Kata Mena dalam panggilan seluler.


"Saya akan standby di depan, tenang dan jangan panik." Kata Gavriel.


Tak lama kemudian mobil pun akhirnya sampai di Rumah Sakit.


Semua perawat segera bergegas melakukan tindakan.


Mena panik, dan sekali lagi, ia bertambah takut, karena Ben masih belum bisa di hubungi, orang-orang yang melacaknya pun belum bisa menemukan Ben dan juga Traver.


"Sebenarnya dimana Tuan Ben..." Kata Mena khawatir.


Saat itu Mena sudah menunggu di depan ruangan IGD, dan dokter Gavriel serta para perawat sedang memeriksa Daisy.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2