Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 149


__ADS_3

Gia masih termenung melihat penampakan dan pemandangan di hadaoannya, penuh mobil-mobil mewah dan para pria tampan yang menggunakan jas-jas hitam serta memakai kaca mata hitam di malam hari.


"Apakah mereka semua alien?" Tanya Gia sembari melongo.


"Cepat!" Kata Carlos memberikan peringatan.


"Ba... Baik." Gia berlari dengan tergopoh di belakang Carlos.


"Tapi, bagaimana dengan sepeda saya?" Tanya Gia.


Carlos kemudian menunjuk salah satu pengawal, lalu pengawal itupun maju.


"Bawa sepeda wanita itu." Kata Carlos.


"Baik Tuan."


Sang pengawal pergi dan mengangkat sepeda milik Gia lalu, menaruhnya di atas mobil.


"Waaa.... Kau seperti raja..." Kata Gia memuji Carlos.


"Raja yang sebenarnya adalah orang yang kau selamatkan." Kata Carlos.


Para pengawal yang ada di dekat mobil Carlos buru-buru membuka pintu, dan Carlos pun masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Gia di arahkan masuk melalui pintu yang ada di sebelah yang sudah di buka juga oleh salah satu pengawal.


Gia duduk dengan tenang dan kaku di dalam mobil, apalagi dengan Aura Carlos yang seperti harimau, diam namun tiba-tiba pasti akan menerkamnya, entah membunuh ataupun melakukan kejahatan lain, Gia tak ingin memprovokasinya.


"Seberapa parah lukanya." Tanya Carlos tanpa menoleh ke arah Gia.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang tidak rata dan banyak lubang.


"Menurutku dia sangat parah, aku mengoperasinya dan mengeluarkan peluru lalu menjahit lukanya, aku membawakan kantong-kantong darah dan cairan infus dari klinik yang sudah tutup."


"Pfftt...!" Carlos menahan tawanya.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak khawatir?" Tanya Gia.


"Pertama, perbaiki penyampaianmu, jangan memanggil ku kau dan aku, panggil aku dengan hormat, aku bukan temanmu, dan sekarang aku akan menjadi atasanmu. Kedua, kau menghubungi orang yang salah, seharusnya bukan aku tapi ini kejutan yang hebat, aku tertawa karena bagaimana bisa dengan operasi nekat itu dia masih tetap bisa bertahan hidup." Kata Carlos.


"Sa... Saya minta maaf, tapi Tuan Ben berkata, jika seseorang yang saya hubungi harus membawa Tuan Gavriel, katanya itu penting, apakah anda membawanya?"


"Tidak." Kata Carlos santai dan tersenyum sinis.


Gia kembali menelan ludahnya yang kering dan menundukkan pandangannya karena ia sangat takut dan tertekan apa yang akan pria itu lakukan apakah akan membunuh nya juga ataukah hanya akan membunuh Ben.


"Apakah masih lama?" Tanya Gia.

__ADS_1


Gia kemudian melihat le arah depan, ia terkejut kenapa bisa secepat ini jika menggunakan mobil, ia bahkan tak sadar jika sebentar lagi sudah akan sampai di desanya tepi pantai.


"Belok kiri dan kita sampai di penginapan Ben." Kata Gia.


"Pffftt..." Carlos tertawa lagi.


"Ada apa?"


"Tidak..." Kata Carlos.


Dalam hati dan pikiran Carlos kembali memiliki ide licik yang muncul untuk menyempurnakan rencananya.


"Bagaimana jika Daisy tahu, ada wanita lain yang memanggil Ben dengan namanya." Kata Carlos dalam hatinya.


"Berhenti, berhenti di sini saja." Kata Gia.


Carlos kemudian melihat pemandangan itu, matanya berkeliling, desa yang sangat terbelakang di pinggir pantai.


"Dengan desa yang terisolir ini, bagaimana ada minimarket dan klinik itu?" Tanya Carlos keluar dari mobil di susul Gia.


"Katanya dulu sang pemilik Pulau selalu menyendiri di sini, dan kemudian mendirikan 2 bangunan itu, klinik dan minirmarket, dia juga mengisinya sendiri, tapi tiba-tiba dia pergi dan meninggalkan semua nya di sini." Kata Gia.


"Apakah Klinik ini juga yang menyediakan peralatan untuk Ben?"


"Benar, warga desa tak banyak yang terluka, jika terluka pun tak terlalu berbahaya atau parah, jadi Klinik itu tutup." Kata Gia.


"Bhahahaahaha...!!!" Carlos tertawa.


Gia melihat gelagat Carlos yang semakin menyebalkan, dia terlihat sangat jahat dan tak bisa di ajak berkompromi, kenapa juga Ben memberikan nomor pria ini, jika pria ini hanya akan berbuat kejahatan di sini dan membahayakan nyawanya. Gia tenggelam dalam pikiran kesalnya pada Carlos.


"Gia...." Kata Carlos.


Gia pun menoleh.


Carlos mengeluarkan sebuah plastik ziplock, dan di dalamnya tersedia suntikan beserta vial ampulnya.


"Kau harus membuat pilihan." Kata Carlos mengangkat plastik itu ke atas tepat di depan wajah Gia.


"Aa... Ap... Apaa maksud anda Tuan..." Kata Gia mundur.


"Kau buat pilihan, kau memilih selamat dengan membunuh Ben, atau kau melindungi Ben dan aku akan membunuh kalian berdua." Kata Carlos dengan mata tajamnya.


"Ap... Apa...." Tubuh Gia gemetaran, wajahnya takut, dan perasaannya kalut.


"Tak perlu terburu-buru. Kau hanya perlu memikirkannya dengan baik." Kata Carlos meraih tangan Gia dan menaruh plastik Ziplock berisi suntikan dan vial ampul itu pada tangan Gia.


Carlos kemudian menghirup udara malam itu dalam-dalam.

__ADS_1


"Segarnyaa..!!!" Kata Carlos merentangkan kedua tangannya.


"Tuan... Apakah anda bukan teman nya Ben?" Tanya Gia.


Carlos yang tersenyum menghirup udara malam di pantai, tiba-tiba memudarkan senyumannya dan menarik tangannya lalu melihat ke arah Gia.


"Aku temannya." Kata Carlos.


"Lalu kenapa anda menyuruh saya membuat pilihan antara nyawa saya atau nyawa Ben." Kata Gia.


Carlos memanyunkan sedikit bibirnya.


"Karena... Istrinya sangat cantik, aku gila." Kata Carlos.


"Apa maksud anda?" Wajah Gia menegang, nafasnya cepat dan berat.


Carlos pun juga merasa mendapatkan suprise baru dari wajah Gia.


"Astagaa... Astagaa... Apakah Ben tak memberitahumu Gia? Bahwa dia sudah memiliki istri yang sangat cantik dan memiliki anak kembar yang sangat lucu?" Goda Carlos.


Gia terdiam dan tertunduk lesu.


"Ya Tuhaann....!" Carlos kemudian mendekat pada Gia.


Gia sedikit menarik diri, namun Carlos akhirnya berbisik.


"Wajar jika kau jatuh cinta pada Ben, namun bagaimana ini, Ben tergila-gila dengan istrinya... Jadi, aku punya ide yang lebih bagus." Bisik Carlos.


Gia melirik pada Carlos.


"Sepertinya kau tertarik." Kata Carlos dan mundur beberapa langkah.


Kemudian Carlos mengambil sesuatu lagi dari dalam mobilnya, itu bungkus plastik Ziplock juga dengan suntikan dan Vial ampoulnya.


Carlos mengangkatnya dan memperlihatkan pada Gia.


"Aku ada penawaran satu lagi, karena ku pikir kau ingin memiliki Ben, wajahmu sangat mudah di baca." Kata Carlos tersenyum.


"Apa?" Tanya Gia


"Buat dia kehilangan ingatannya." Carlos tersenyum lebar dengan wajah mengerikan.


Gia mundur beberapa langkah, namun Carlos mengejar dan menaruh plastik itu pada tangan Gia.


Kini tangan kanan dan kiri Gia penuh dengan pilihannya masing-masing yang akan menguntungkan siapa.


"Jika kau menyuntikkan yang ada di tangan kirimu ini, kau akan mendapatkan Ben, kau bisa memilikinya sepuasnya, karena ia akan kehilangan ingatan selamanya tapi aku tak janji apakah nyawa kalian berdua akan selamat dariku, karena tentunya kalian akan tetap menjadi batu sandungan bagiku, jika kau menyuntikkan yang kanan, dia akan mati dan kau akan selamat. Semudah itu." Kata Carlos.

__ADS_1


"Mudah dengkulmu!!!" Kata Gia memaki Carlos dalam hatinya yang kalut dan ketakutan. Matanya melotot marah dan benci.


Bersambung


__ADS_2