Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 290


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah matahari yang terbit hari ini di ufuk timur, saat itu para pelayan Haghwer tengah sibuk menyiapkan beberapa alat dan kebutuhan untuk Keluarga Haghwer yang ingin berlibur.


Tak berapa lama, terlihat mobil masuk ke dalam Mansion dan parkir rapi, Zac keluar dari mobil di ikuti Gaby, mereka terlihat semakin lengket, dan semakin bahagia.


Zac menyapa kedua orang tuanya begitu pula Gaby.


"Bagaimana lenganmu?" Tanya Daisy dengan lembut.


"Terimakasih Nyonya, sudah lebih baik, dan tidak sakit." Kata Gaby.


"Sekarang panggil aku ibu." Pinta Daisy tersenyum.


Zac juga tersenyum, ia merasa lega melihat ibunya sudah mulai menerima Gaby sebagai keluarga baru Haghwer.


"Dimana Zay?" Tanya Zac.


"Ayah sudah berusaha, tapi sepertinya dia tidak akan ikut." Kata Ben.


Zac mengangguk faham.


Namun ketika mereka semua hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Zay berlari dan menyusul, ia menggunakan celana pendek sepaha dengan pakaian casual dan memakai tas selempang kecil.


Zay begitu cantik dan wajahnya terlihat menggemaskan.


Kemudian Zay mendekat dan menyapa Zac.


"Halo." Kata Zay malu-malu.


Tiba-tiba Zac tersenyum dan menyentuh kepala adiknya.


"Sapa kakak iparmu juga." Bisik Zac.


"Halo... Kau pasti Gaby, aku Zay, musuh bebuyutan Zac." Kata Zay.


Gaby tertawa.


"Halo... Senang bertemu denganmu, semoga kita bisa akrab yaa... Zay..." Kata Gaby dengan lembut dan hangat. Senyuman Gaby secerah sinar pagi.


Zay menjadi tersipu melihat betapa cantik dan dewasa nya sang kakak ipar, ia merasa benar-benar memiliki kakak wanita.


Kemudian Gaby dan Zay saling berpelukan, setelah itu mereka semua masuk ke dalam mobil besar yang muat untuk satu keluarga, mobil mewah yang di dalamnya begitu komplit dengan beberapa hidangan dan wine serta sampanye.


Mobil mewah yang canggih dan elite itu pun membawa mereka menuju tempat yang akan mereka kunjungi.


"Ayah kita akan kemana?" Tanya Zac.


"Kita akan ke pegunungan, camping, dan memancing, menikmati udara yang segar tanpa polusi, dan menikmati pemandangan alam yang masih ssgar dan alami." Kata Ben.


"Daaannn... Tanpa elektronik apapun, jadi, ayo kumpulkan ponsel kalian masing-masing." Kata Daisy mengeluarkan keranjang untuk mengumpulkan ponsel.


Satu persatu, dan semua mengumpulkannya, lalu yang terakhir adalah Ben.


"Pengecualian, banyak sekali pekerjaan di kantor, sayang...." Pinta Ben.


"Ayolaahh... Ada Traver yang mengurusnya." Kata Daisy.

__ADS_1


"Baiklah... Kau boss nya." Kata Ben memberikan ponselnya pada Daisy dengan pasrah.


Perjalanan menuju pegunungan cukup lama, namun pada akhirnya pemandangan yang di suguhkan tidak mengecewakan.


Sesampainya di atas, mereka masih harus berjalan kaki dan mendaki lagi, saat itulah semua menjadi lebih akrab.


Cukup lama mereka mendaki dan Zay mulai kelelahan karena ia belum sempat sarapan, apalagi ia memaki sepatu yang salah.


"Ayah... Berapa lama lagi? Kaki ku sudah kram." Kata Zay.


"Naik kepunggung ayah, akan ayah gendong." Kata Ben.


"Apa ayah yakin? Ayah kuat? Aku tidak mau jatuh ke jurang!" Kata Zay.


"Kau ini... Ayo naik... Percaya pada ayah." Kata Ben kemudian berjongkok di depan Zay.


"Naiklah ke punggung ayahmu." Kata Daisy tersenyum.


Kemudian, dengan ragu Zay naik di punggung ayahnya, mereka pun melanjutkan perjalanan naik lagi ke atas puncak.


Zay memeluk ayahnya, dan ia baru tahu rasanya di gendong oleh sosok ayah, bahu ayahnya terasa lebar, punggung ayahnya pun hangat dan kuat, leher ayahnya yang ia peluk juga terasa kencang dan kuat, lalu nafas ayahnya yang sedikit ngos-ngos an, membuat hati kecil Zay merasa bersalah dan tiba-tiba Zay meneteskan air mata.


Zay kemudian memeluk ayahnya dengan erat, hal itu membuat Ben tersenyum, Daisy pun juga merasa lega.


Sedangkan Zac dan Gaby melihat Zay yang mulai sedikit demi sedikit melunak juga merasa bersyukur.


"Ayah? Apakah masih jauh? Apa kau lelah? Tubuh ku berat bukan?" Tanya Zay.


"Kau seringan kapas, kenapa kau tidak makan banyak? Apa karena kau melarikan diri dari rumah sehingga kau kelaparan? Jika kau kelaparan pulanglah, banyak makanan di mansion." Kata Ben.


Daisy yang memegangi tubuh Zay dari belakang kemudian menyahut.


"Karena ibumu juga langsing dan cantik, jadi Gen ibu menurun padamu."


"Ya... Sifatnya juga." Imbuh Ben tertawa.


"Sifat yang mana?" Tanya Daisy.


"Ya semuanya... Tapi, itu baik daripada meniru sifat ayah." Kata Ben tak ingin istrinya menjadi naik darah.


"Tahu takut...." Kata Daisy.


Semua pun tertawa mendengar perdebatan sang ayah dan ibu mereka, yang notabene Ben adalah pria yang di takuti semua orang, namun bisa langsung kalahbtelak sebelum bertarung dengan ibu mereka.


Tanjakan semakin terjal, dan gunung yang di daki pun semakin tinggi. Kaki kuat Ben yang memang sudah siap memakai sepatu besar guna mendaki, menginjak bebatuan sembari menggendong Zay yang sudah dewasa.


"Ayah? Aku turun saja." Kata Zay khawatir.


"Tidak Zay, tenang saja, ayah masih kuat, bahkan jika di tambah ibu mu di atas mu." Kata Ben.


"Apakah yang lain masih sanggup?" Tanya Ben melihat ke belakang.


Daisy mengacungkan jempol nya, ia membawa stick panjang dan Gaby juga tersenyum mengacungkan sticknya, Zac pun juga bersemangat.


"Kau lihat, mereka semua senang." Kata Ben.

__ADS_1


Kemudian Ben kembali mendaki dengan menggendong Zay.


"Peluk ayah yang erat, jalanan semakin curam." Kata Ben.


Zay pun memeluk leher ayahnya dengan sangat erat, hingga kepalanya menyentuh leher sang ayah.


"Ayah... Kurasa, pesona ayah semakin bertambah. Sepertinya aku mencintai ayah." Kata Zay.


"Hahahaha... Apakah sama rasanya saat kau mencintai Gavriel." Tanya Ben.


"Eemmm... Mungkin iya tapi mungkin juga tidak, tapi mirip sedikit terasa sama, rasanya seperti ada seseorang yang melindungiku, dan memperhatikan ku. Menyayangiku dengan aksi dan sikap. Lalu, aku merasa tenang dan hangat saat ayah memperlakukanku dengan baik. Aku malu mengatakan ini... Tapi Ayah? Bisakah, ayah seperti ini terus?" Tanya Zay.


Ben membenarkan gendongannya, hingga tubuh Zay lebih naik ke atas punggungnya.


"Ayah mengerti, ayah akan berusaha lebih baik lagi. Tapi, untuk sekarang lupakan semua masalah yang ada dan mari bersenang-senang. Okey?"


"Iya, okey..." Kata Zay tersenyum.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah perkemahan yang sudah di siapkan.


Zay melihat Traver sudah ada di sana, begitu pula ada beberapa pelayan yang sudah menyiapkan makanan barbeque.


"Kita sampai..." Kata Ben menurunkan Zay.


"Astaga... Apakah Traver terbang, kenapa sampai di sini lebih dulu? Lalu kenapa sudah banyak pelayan dan juga koki-koki di sini? Semuanya, tenda, alat-alat ini... Bagaimana bisa?!!Tanya Zay terkejut.


Traver pun menunjuk helikopter-helikopter yang berjejer berwarna hitam, memiliki logo Keluarga Haghwer.


Seketika Zay melongo, dan membuka mulutnya lebar.


"Jadiii... Kenapa kita harus bersusahhh payaaahhh.... Jika bisa memakai itu.... Dan ada pendaratan untuk helikopter di sini....!!' Kata Zay lemas dan terduduk di atas bebatuan.


Zac tertawa dan menggelengkan kepalanya lalu mengusap kepala adiknya.


"Jika kau tidak mendaki kau tidak tahu kan bagaimana rasanya di gendong ayah?" Kata Zac.


Kemudian Zay tersenyum malu.


"Ayo makan anak-anak!" Teriak Daisy.


Hidangan sudah di siapkan oleh para koki ternama, saat itu semua membaur dan menikmati pemandangan yang di suguhkan alam sembari mereka memakan banyak hidangan mewah.


Udara dingin mulai menerpa, melihat Zay yang memyendiri duduk di dekat tebing dan menggenggam mug hangat nya sembari menikmati pemandangan yang segar dan indah, Ben datang memberikan selimut di bahu Zay.


Kemudian Ben duduk di sebelah Zay, sedangkan yang lainnya masih asik menikmati barbeque dan atraksi para koki-koki handal.


"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Ben.


Zay tersenyum.


"Terimakasih ayah, aku benar-benar menikmatinya. Ternyata liburan ini tidak buruk." Kata Zay.


"Besok kita akan memancing, di dekat sini ada sebuah danau. Kau pasti suka, jika kau kuat dingin, kau boleh mandi." Kata Ben.


"Tali Ayah... Tolong ceritakan lagi kisah tentang ayah." Pinta Zay kemudian.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2