Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 105


__ADS_3

"Ben... " Daisy mengelus punggung Ben dengan lembut.


"Aku akan memasakkan untukmu. Mau di coba dulu?" Kata Daisy.


Ben mengangguk.


"Baiklah, kau tunggu di kamar, biar aku masakkan untukmu." Kata Daisy.


Kemudian Ben pergi kembali ke kamarnya.


"Nona Daisy... Bagaimana dengan kami? Tuan sudah memecat kami." Kata para Koki.


"Tidak, kalian tetap bekerja, aku tahu kalian sudah di sini bahkan sebelum aku datang." Kata Daisy.


"Terimakasih Nona."


Traver yang masih di dapur pun merasa lega Daisy meng handle nya dengan baik, kemudian Traver pergi.


Daisy pun mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masaknya, di bantu dengan para pelayan dan koki.


"Sebenarnya aku lemah di bidang masak memasak." Kata Daisy.


"Aku tidak yakin rasanya akan enak, kenapa juga aku mengajukan diri? Bagaimana jika Ben semakin mengamuk?" kata Daisy.


Mena yang menunggu Daisy pun menenangkannya.


"Nona Daisy, tak perlu khawatir jika Tuan Ben marah anda cukup memasang wajah dingin." Kata Mena.


Daisy tersenyum.


"Kau memang pintar Mena. Bukankah sekarang perlahan aku bisa mengendalikan Ben?" Kata Daisy tersenyum dengan puas.


Daisy pun mulai memasak, pertama-tama telur yang dia goreng gosong, percobaan kedua telur yang dia goreng terlalu asin, dan percobaan-percobaan itu membuat Daisy semakin frustasi karena rasanya tak ada yang baik.


Akhirnya Daisy pun nekat membuat nasi goreng.


Setelah berkutat lama di dapur, hingga membuat dapur seperti kapal pecah dengan asap-asap mengepul yang membuat semua orang batuk-batuk. Daisy akhirnya memindahkan nasi goreng dan telur ceploknya ke atas piring saji.


Dengan membuang nafasnya, para koki pun mencicipi nasi goreng yang tersisa dan telur ceplok yang tersisa.


Semua koki bergiliran mencicipi, namun mereka tidak bisa menelannya, rasanya sangat kacau dan bermacam-macam.


"Bagaimana?" Tanya Daisy.


"Eee... Eenaaakk Nona Daisy." Kata para koki dan asissten koki dengan sekuat tenaga menelannya.


Kemudian para koki itu membawa masakan Daisy menuju ke kamar Ben.


"Tapi itu terlihat gosong, apakah benar-benar enak?" Tanya Daisy dalam hati ketika berjalan menuju kamar Ben di dampingi para koki.


Saat itu Ben duduk dengan laptop yang ada di pangkuannya, dan pria itu memakai masker.


Melihat Ben yang memakai masker seperti orang yang sedang terkena Flu, Daisy menahan tawanya. Mena pun juga menyembunyikan tawanya karena Traver mendelik padanya agar tak menyinggung singa yang sedang memiliki suasana hati buruk.

__ADS_1


"Tuan Ben, nasi goreng masakan Nona Daisy sudah siap." Kata Koki tersebut.


Kemudian sang koki membuka tudung sajinya dan... Buuuulll.... Asap mengepul tebal keluar dan mengambang di udara. Apalagi tampilan nasi goreng itu sudah sangat membuat orang lain tak selera.


Traver mendadak ingin tertawa, ini pertama kalinya dalam hidup nya merasa sangat ingin tertawa, Pada saat itu ia dengan cepat menutup mulutnya dengan menggunakan punggung tangannya.


Mena mendelik pada Traver dan mencubit pinggang Traver, agar pria itu tak tertawa.


"Jangan tertawa atau Nona Daisy akan membunuhmu, wanita hamil sangat sensitif, apalagi jika terkait dengan masakannya." Bisik Mena sepelan mungkin.


Traver hanya membatin, bukankah itu makanan sampah sesungguhnya, dan ia juga penasaran bagaimana rasanya jika bentuk dan tampilannya saja seperti itu.


Para koki ketakutan, karena mereka sudah tahu rasanya seperti apa, bahkan mereka tak bisa menelannya.


"Ayo cobalah..." Kata Daisy ragu, dengan senyum canggung dan kaku.


Ben kemudian membuka maskernya dan mengambil sendok. Saat itu Ben mencium asap aroma nasi gorengnya.


Tanpa ragu Ben mengambil sesuap nasi goreng, dan memakannya.


Semua orang diam dan membisu, seakan nasib mereka semua akan di pertaruhkan, akan kah terbang ke nirwana, ataukah akan di hujam ke nereka.


Ben masih mengunyahnya, pria itu kemudian mengambil garpu untuk merasakan telur ceplok buatan Daisy.


Kemudian Ben pun kembali mengunyahnya.


Ben makan tanpa suara, pria itu diam dan terus makan.


Hingga semua orang hampir kehabisan nafas karena menahan nafas selama Ben makan, dan akhirnya Ben menaruh sendoknya di atas piring yang sudah bersih.


"Kalian para koki harus belajar memasak dari istriku..." Kata Ben.


Seperti tersambar petir di pagi menuju siang, cuaca langit begitu cerah, membawa semua orang pun seperti di jatuhkan ke pusaran angin yang kencang.


"Kalian boleh pergi. Aku sibuk." Kata Ben.


Semua orang pun pergi, Traver menjadi penasaran dan begitu pula Daisy.


"Apakah seenak itu?" Tanya Daisy hendak keluar dari kamar.


"Mau kemana sayang?"


"Aku mau pergi sebentar..." Kata Daisy.


Ben mengangguk.


"Cepat kembali, dan temani aku." Kata Ben.


Daisy mengangguk. Saat itu Daisy pun bergegas menuju dapur.


Di sana ternyata sudah ada Traver dan juga Mena yang ingin mencoba nasi goreng buatan Daisy.


Mereka semua sedang mencicipi dan baru saja sampai di mulut.

__ADS_1


Daisy masuk dan mereka gelagapan karena rasanya tidak enak namun Traver dan Mena tak sampai hati jika memuntahkannya kembali di depan Daisy.


Dengan sendok, Daisy langsung mencicipi masakannya, dan belum sampai mengunyah Daisy langsung muntah.


"Aku tidak pernah percaya pada masakanku sendiri, ku pikir aku sudah meningkat, ternyata rasanya masih sama.... Hweeeekk.... !!!"


Sambil mengelus perut Daisy muntah-muntah.


"Maafkan mama sayang... Ini adalah racun." Kata Daisy.


Traver dan Mena pun perlahan mengambil tisu dan mengeluarkannya diam-diam.


"Ada apa dengan lidah Ben?" Tanya Daisy dengan wajah takut.


"Apa dia sakit?" Tanya Daisy lagi.


Semua koki dan pelayan hanya diam tak tahu.


Traver dan Mena juga hanya diam saja.


"Tulililit... Tulililit..." Ada panggilan masuk untuk koki kemudian salah satu koki mengangkatnya.


"Buang semuanya. Makanan ini tak layak di makan bahkan tidak bisa di makan, ini sampah." Perintah Daisy.


"Baik Nona." Kata salah satu koki.


"Tunggu dulu Nona, Tuan Ben baru saja memberitahu dan memberi perintah, katanya jika ada sisa nasi goreng yang baru saja di sajikan tadi, Tuan Ben memintanya agar di masukkan ke kotak bekal, Tuan Ben ingin menbawanya ke kantor." Kata Koki tersebut.


"Aaappaaa!!!" Daisy hampir pingsan.


Mena menahan tubuh Daisy.


"Traver, apa Ben sakit? Katakan sejujurnya."


Traver diam dan bingung.


"Mungkinkah Ben... Apakah otaknya sekarat? Membuat indra pengecapnya terbalik?" Tanya Daisy.


"Saya akan menghubungi Dokter Gavriel Nona Daisy." Kata Traver.


"Ya seperti itu saja, mari tanyakan pada Dokter Gavriel." Kata Daisy cemas dan pergi meninggalkan Ruangan dapur.


Setelah Daisy pergi dari dapur, Traver dan Mena kelabakan mencari air minum dan berkumur.


"Astagaaa... Aku sudah menahannya..." Kata Mena menangis.


"Maaf Nona Daisy.... Tapi makanannya benar-benar menakjubkan." Kata Mena menyesal.


Traver pun berkumur dan juga meminum air putih.


"Luar biasa." Kata Traver memuji masakan Daisy.


Para Koki menahan tawa, mereka semua menghormati Daisy, namun melihat tingkah Mena dan Traver mereka berpikir, pasti sangat sulit menjadi orang kepercayaan dan tangan kanan majikan, mereka di tuntut menjadi manusia yang sangat sempurna. Sempurna dalam segala hal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2