Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 162


__ADS_3

Malam telah larut Zac dan Daisy baru saja pulang berbelanja di mall, mereka makan malam bersama dan menikmati kebersamaan dengan sangat bahagia. Tentu saja seperti yang Zac inginkan semua memandang ke arah mereka, semua iri dan begitu terpesona, Daisy yang bahkan masih sangat terlihat muda membuat semua orang mengira bahwa dirinya adalah pacar Zac.


Ibu dan anak itu hendak masuk ke dalam Mansion setelah para pelayan membawa barang belanjaan dan masuk ke dalam Mansion, Zac menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mansion.


Daisy kemudian berpaling dan melihat anaknya yang hanya tersenyum di ambang pintu besar Mansion.


"Kau tak masuk?" Tanya Daisy.


"Ibu... Aku tidur di apartmen ku." Kata Zac.


"Kenapa kau tidak tidur di sini?"


"Aku sudah katakan pada ibu, jika kau tak ada di sini, aku bahkan tak mau menginjakkan kaki ku di sini." Kata Zac.


"Tapi..." Daisy mulai menangis lagi.


"Aku mohon ibu... Aku tidak bisa." Kata Zac.


Daisy menggigit bibir bawahnya hingga bergetar, ia menahan tangisanya, dan lehernya yang begitu sakit tercekat.


"Baiklah..." Kata Daisy dengan suata bergetar dan menitikkan air matanya.


Kemudian Daisy memeluk Zac, tubuh besar Zac yang juga tinggi mengingatkan Daisy pada suaminya, Ben.


"Kau tumbuh begitu tinggi hingga ibumu ini terlihat pendek sekali."


"Ibu jangan berkata begitu, bahkan aku akan berlutut demi ibu." Zac kemudian hendak berlutur.


Namun, Daisy menahannya.


"Pulanglah dan istirahat." Kata Daisy kemudian mencium pipi anaknya dan berbalik pergi masuk ke dalam mansion.


Setelah Daisy pergi dan menghilang di tangga besar, Zac pun hendak pulang, Traver sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Zac... Malam ini tidurlah di mansion, ibu mu pasti masih sangat merindukanmu." Tiba-tiba suara Ben terdengar dari ujung.


Zac melihat ayahnya.


"Aku tidak bisa."


"Jika kau tidak bisa karena ada aku, tenang saja aku akan keluar malam ini." Ben kemudian melangkah hendak pergi dan membunyikan mobilnya menggunakan remot kunci.


"Ayah..." Panggil Zac.


Panggilan "ayah" dari mulut Zac seketika membuat jantung Ben panas dan berdesir, seperti sebuah sengatan yang begitu membahagiakan.

__ADS_1


"Aku akan tidur di sini, tapi hanya untuk malam ini, kau tak perlu pergi." Kata Zac.


Ben masih membelakangi Zac, hingga akhirnya Zac masuk ke dalam mansion.


Ben menelan ludahnya ada setitik air di kelopak matanya, ia tak pernah mendengar Zac memanggilnya ayah lagi semenjak Zac melihat ibunya selalu menangis.


"Traver kau juga harus beristirahat."


Traver mengangguk hormat.


Ben pun masuk dan menuju kamar istrinya, di sana Daisy sedang mengganti pakaian, Ben masuk tanpa mengetuk lebih dulu, saat itu Daisy menggunakan pakaian dalam yang begitu tipis, tubuh itu masih mulus dan segar, masih sangat menggairahkan dan sensual.


Daisy terbilang masih begitu muda ketika melahirkan Zac serta Zay, jadi saat ini tubuhnya masih begitu segar.


Tentu saja Ben menelan ludahnya, 25 tahun Ben tak pernah menyentuh Daisy, dan 25 tahun lamanya mereka pisah ranjang.


Daisy yang begitu sakit hati telah di pisahkan dengan anak-anaknya, membuat jarak yang begitu jauh, belum lagi rasa marahnya pada Ben ketika Daisy selalu mendapati anak-anaknya memiliki banyak memar di dalam tubuh mereka.


Di lain sisi Ben mulai mengkhayalkan masa-masa indah dan masa-masa erotissnya dulu yang selalu ia lakukan bersama Daisy sepanjang hari, bahkan ia tak pernah melupakan rasanya membenamkan diri di dalam Daisy.


"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk." Kata Daisy meraih mantel tipisnya dan memakainya.


"Aku sudah membujuk Zac, dia akan tidur di sini."


"Ya, temuilah dia. Jika kau ingin mengucapkan selamat malam." Kata Ben.


Daisy tersenyum membayangkan Zac akan tidur di mansion, ini sudah sangat lama, ia merasakan anaknya tidur di dalam satu atap dengannya. Ada rasa ketenangan dan kebahagaian di dalam perasaan seorang ibu.


Daisy kemudian hendak pergi, namun Ben menahan pergelangan tangan Daisy.


Mata Ben melihat pada belahan dada Daisy yang sepertinya terlihat semakin kenyal, padat, kencang, dan begitu menggoda.


"Pakai baju yang lebih tebal, kau tidak kedinginan?" Kata Ben.


"Tidak, aku kepanasan." Kata Daisy menanggalkan tangan Ben dan pergi keluar.


"Wwuuhhh....." Ben membuang nafasnya pelan, sesuatu di bawah sana sudah mengeras sejak tadi.


Daisy yang sangat senang, ia berlari menuju kamar dimana Zac berada, ia membuka pintu dan melihat Zac sedang bertelanjang dada, saat itu Zac hendak berganti pakaian.


"Ibu..."


Namun, mata Daisy seketika berair melihat banyak bekas luka di punggung dan di bagian tubuh Zac.


Perlahan Daisy maju dan memegang bekas-bekas luka itu di sekujur tubuh Zac.

__ADS_1


"Apakah masih sakit?" Tanya Daisy menangis.


"Apakah ayahmu yang melakukan ini semua padamu? Kenapa kau tak pernah memberitahu ibu..." Kata Daisy menangis lagi.


Zac kemudian memakai kemeja putihnya lagi dan mengancingkannya.


Dengan memeluk Daisy dan meneluk bahu Daisy yang berguncang karena menangis, Zac berharap ibunya bisa tenang.


"Ibu akan pingsan nanti jika aku memberitahumu. Lagi pula kata Dokter Gavriel luka ini bisa hilang, tapi aku memilih untuk tetap membiarkannya, Dokter Gavriel mengatakan jika dulu ayah juga memiliki banyak luka, namun dengan pengobatan yang dokter Gavriel lakukan luka-luka di tubuh ayah menghilang."


"Lalu kenapa kau tak mau melakukan perawatan itu dan menghilangkan lukanya, bagaimana jika besok istrimu takut dan membencimu karena kau memiliki banyak luka seperti ini, bagaimana jika istrimu meninggalkanmu?" Kata Daisy menangis.


Zac tertawa.


"Ibu aku bahkan tidak memikirkan masalah istri, jika pun aku harus menikah aku akan menikah dengan pilihan ibu, dan mengenai luka ini, setiap luka yang membekas memiliki ceritanya masing-masing, dari aku masih kecil sampai remaja, setiap luka ini memiliki kisahnya, aku tidak ingin menghapusnya." Kata Zac menenangkan ibunya.


"Tapi untuk masalah istri, kau harus memilih sendiri kenapa harus ibu."


"Karena aku percaya pada ibu, ibuku adalah wanita hebat, cantik dan luar biasa, aku tidak akan pernah meragukan pilihan ibu."


"Ngomong-ngomong, apakah aku boleh menerima kecupan selamat malam?" Tanya Zac manja.


Daisy tertawa.


"Meskipun sekarang tubuhmu lebih besar dari ibu tapi kau tetap lah anak ibu yang manja dan lucu." Kata Daisy mencium kening Zac dengan berjinjit, dan Zac pun membungkuk.


"Aku bersyukur. Terimakasih ibu, karena aku terlahir sebagai anakmu, aku bahagia memiliki dirimu sebagai ibuku, aku selalu mengingat setiap malam perjuanganmu memberiku makan biskuit gosong dan menyuapiku." Kata Zac.


Daisy kemudian menyubit Zac.


"Karena saat itu kalian harus puasa dan tidak ada yang boleh memberikan makanan daging dan makanan enak, ayahmu begitu kejam membuat kalian menderita ibu kebingungan, apakah kau juga tersiksa dengan memakan biskuit gosong itu?" Tanya Daisy.


"Aku menyukainya, walaupun pahit, tapi dari sana aku lebih suka kopi yang sangat pahit dari pada alkohol." Kata Zac memeluk ibunya.


"Baiklah, kau harus istirahat, sejak kau kembali ke Negara K, kau belum beristirahat." Kata Daisy.


Zac tersenyum.


"Selamat malam my litle boy."


"Ibuuu.... Apakah aku masih pantas dengan julukan itu, tubuhku sudah melar seperti ini."


"Hahahah...." Daisy tertawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2