
FLASHBACK ON
Saat itu sudah hampir pagi. Karena Ben takut dan mencemaskan Daisy, kemudian Ben membawa obat-obatan itu untuk di teliti.
Ben takut karena Daisy selalu terlihat lelah dan pucat.
Tak berapa lama Traver datang ke ruangan kerja Ben, kemudian ia menunduk.
"Tuan Ben." Kata Traver.
Ben menyodorkan obat-obatan yang ada di atas mejanya.
"Periksa secepat mungkin." Kata Ben.
"Ya Tuan."
"Aku menemukannya di dalam laci Daisy. Jika sudah selesai di periksa langsung kabari aku di sini." Kata Ben.
"Baik Tuan." Kemudian Traver pun pergi.
Dan tak butuh waktu lama, Traver pun kembali ke ruangan Ben.
Saat itu wajah Traver terlihat sangat ragu dan menyerahkan kembali obat-obatan yang ia pegang ke atas meja Ben.
Traver menelan ludahnya, entah bagaimana perasaannya tidak enak, apakah bencana besar akan timbul di kehidupan Ben. Baru kali ini Traver merasakan kegugupan yang luar biasa, bahkan Traver lebih memilih di kepung ratusan pengawal dan siap membantai mereka daripada mengabarkan sesuatu yang akan menjadi petaka.
"Tuan..." Kata Traver.
"Apa Daisy sakit? Wajahnya selalu pucat." Kata Ben khawatir.
Traver masih diam.
"Aku sudah memikirkannya sejak tadi." Kata Ben.
Traver melihat ke arah wajah cemas Ben.
"Aku akan menghubungi semua dokter ahli, dan aku akan membawa Daisy pergi ke luar negeri dimana ada Rumah Sakit terbaik. Aku akan menyembuhkannya dengan cara apapun, uang seberapapun tak masalah." Kata Ben panik.
"Tuan... Nona Daisy tidak mengidap penyakit tertentu. Melainkan itu adalah obat-obatan untuk wanita yang sedang mengandung."
Ben diam.
"Apa?" Kata Ben lagi.
"Nona Daisy hamil Tuan. Jika obat-obatan ini di konsumsi oleh Nona Daisy, kesimpulannya adalah...."
"Cukup! Periksa lagi kau pasti salah." Kata Ben menyerahkan obat itu lagi.
"Tuan Ben, sebelum anda memberikan perintah ini, saya pun telah memeriksanya berkali-kali dengan ahli obat tersebut." Kata Traver.
Ben meremas kepalanya dan membuang nafas, ia menutup mata, kemudian Ben meremass tengkuk lehernya yang terasa kencang dan kaku.
Tubuhnya mendadak lemas tanpa tulang, Ben terluka, daging di tubuhnya seolah sedang di makan perlahan oleh para bakteri yang busuk.
__ADS_1
FLASHBAC OFF
Ben masih berdiri kaku dan merasa sangat hancur.
"Mana keputusan yang akan kau ambil Daisy. Gugurkan bayi itu, dan aku melepaskan Gavriel, atau kau pertahankan bayi itu, namun ku bunuh Gavriel." Kata Ben dengan suara datar, ekspresi Ben benar-benar bagaikan iblis yang bangkit dari neraka.
Daisy menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetaran.
"Aku... Tidak bisa melakukannya Ben... Jangan ada pilihan Ben, mereka semua tidak bersalah, aku tidak bisa."
"Kau tidak bisa serakah Daisy, aku sudah sangat menahan diri, aku hanya menginginkanmu, namun kau menginginkan 2 sesuatu yang ku benci."
Ben kemudian pergi meninggalkan Daisy yang masih menangis di atas lantai.
Mena masuk bersama para pelayan untuk membersihkan kekacauan di kamar Daisy.
"Nona ayo duduk di sofa." Kata Mena dengan sedih.
Mena sudah tahu kebenarannya, ia mendapatkan informasi dari Traver.
Daisy yang masih di landa kepanikan, buru-buru mencari ponselnya dan tak memperhatikan sekitarnya, yang Daisy pikirkan hanyalah keselamatan bayinya.
Dengan tangan gemetar Daisy menghubungi seseorang.
Mena melihat itu dan menjadi kasihan.
"Halo Gavriel...!"
Mena takut membayangkannya, yang jelas dokter Gavriel adalah orang kepercayaan Ben, dan Mena benar-benar panik bagaimana Tuan Ben akan menyelesaikan masalah ini.
"Gavriel... " Daisy menangis dan hanya menangis.
"Ada apa Daisy, tenang lah ada apa? Aku sedang menyetir dan dalam perjalanan ke mansion."
"Jangan kemari! Ku mohon jangan kemari, Ben akan membunuhmu jika kau kemari, Ben sudah tahu aku hamil, dan dia berniat akan membunuhmu."
Mena sontak terkejut dengan penuturan Daisy, tak langsung kalimat itu menjadi ambigu dan menjadi sangat riskan untuk di artikan.
Para pelayan pun yang membersihkan kamar menjadi saling berbisik.
"Semuanya keluar!" Perintah Mena.
Kemudian semua pelayan keluar dengan membawa pecahan-pecahan kaca.
"Tenang Daisy, tenang, Ben tidak akan membunuhku."
"Gavriel ku mohon, kali ini Ben benar-benar marah. Dia akan membunuhmu. Kau ada di mana! Berhenti di situ dan aku akan pergi menemuimu, ku mohon!!!" Kata Daisy.
"Baiklah aku akan menunggumu di cafe dekat sini, kemarilah aku kirimkan alamatnya, tapi jangan terburu-buru dan tetap tenang. Okey." Kata Gavriel.
Kemudian Daisy pergi mengganti pakaian, Mena pun menjadi panik.
"Nona sepertinya menemui Tuan Gavriel bukan ide yang tepat."
__ADS_1
"Lalu aku harus berdiam diri di sini dan menunggu salah satu dari kami akan mati? Entah itu bayi nya atau Gavriel mereka tidak berdosa dan tidak bersalah." Kata Daisy.
Mena menggaruk leher nya karena ia bingung, jika Ben tahu setelah pertengkaran mereka yang besar akibat status bayi itu, dan prasangka Ben akan hubungan Gavriel dan Daisy, sekarang Daisy justru ingin menemui Gavriel pasti akan ada pertumpahan darah. Mena bahkan sangat ngeri membayangkan kemurkaan apa yang Ben akan berikan.
"Nona Daisy pertimbangkan lagi. Saya mohon."
Mena berlari menahan Daisy, mereka kini sudah berada di depan halaman Mansion.
"Aku akan mematikan ponselku, Ben tidak bisa melacakku."
"Tapi Nona meski anda mematikan pelacak, telinga dan mata Tuan Ben ada di mana-mana!" Teriak Mena.
"Mena, aku tahu, kau takut jika Ben akan mengamuk, jadi kali ini kau harus tutup mata, kau tidak harus melindungiku, aku tidak ingin kau mendapatkan masalah lagi, aku tahu Ben akan menghukummu kali ini jika kau terlibat, katakan saja kau sudah menahanku tapi kau tidak berhasil." Kata Daisy pada Mena.
"Tapi Nona..."
Daisy tak menggubris dan tetap masuk ke dalam mobil, Mena mengejar mobil dan memukul-mukul jendela mobil.
"Nona Daisy saya mohon... Jangan lakukan ini." Kata Mena.
"Tetap pergi." Perintah Daisy pada sang sopir.
Sang sopir pun menjadi dilema, namun ia tak punya pilihan lain selain mengantar Daisy pergi.
Ben melihat kepergian Daisy melalui jendela ruangan kerjanya, saat itu Traver telah memperban dan mengobati tangan Ben.
"Tuan Ben... Apa saya perlu mengikuti Nona Daisy?" Tanya Traver.
"Tidak perlu, aku sudah tahu kemana di akan pergi." Kata Ben.
Kemudian Ben mengeluarkan ponselnya dan melihat alat pelacak nya bekerja.
"Sebenarnya kalung yang pernah ku berikan pada Daisy, sudah ku pasang pelacak. Aku hanya berjaga-jaga jika para pengawalku tidak dapat menemukannya setidaknya dia masih memakai kalungnya. Aku belajar dari kejadian 2 tahun yang lalu saat Daisy pergi meninggalkanku." Kata Ben pada Traver.
"Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang Tuan?" Tanya Traver.
"Apa lagi?" Kata Ben pergi mengambil senapan emasnya.
Ben mengecek peluru dan memutar pistolnya.
"Tuan, saya mohon pertimbangkanlah lagi. Gavriel... Dia..." Traver tak dapat melanjutkannya lagi.
"Daisy harus memilih... Bayinya atau pria itu." Kata Ben.
Ben kemudian mengambil mantelnya dan menyembunyikan pistolnya di dalam mantel.
"Kau tidak perlu ikut aku akan menyetir sendiri." Kata Ben keluar dari ruangannya.
"Ssshhhh!!!!" Traver kesal pada dirinya sendiri, yang tak bisa melakukan apapun.
"Gavriel... Semoga kau beruntung." Kata Traver.
Bersambung
__ADS_1