
Saat itu Ben hanya diam dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari bersandar pada dinding.
Traver melihat pistolnya yang mengeluarkan asap, dan memasukkannya lagi ke dalam jas, lalu dengan santai Traver mengambil ponsel nya, ia menghubungi para pengawal.
"Aku berikan alamatnya, bereskan mayat Marry Anne, dan hapus semua jejak digital dan identitas kependudukannya. Biarkan Marry Anne menjadi wanita yang tak pernah di kenal oleh semua orang." Kata Traver.
Ben kemudian berjalan keluar dari rumah Marry Anne, dan masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Maaf Rafael, tapi aku juga punya keluarga yang harus ku jaga." Kata Ben dalam hati.
Di sisi lain, di pulau Maladewi yang indah penuh dengan bintang yang bertebaran, saat itu sudah tengah malam, tepatnya pukul 12 malam.
Mena mengetuk pintu kamar Daisy dengan pelan, karena semua keluarga Daisy sudah tidur, ia tidak ingin siapapun mengetahui kedatangannya.
Daisy membuka pintu kamarnya dengan pelan.
"Ada yang harus saya laporkan Nyonya Daisy." Kata Mena dengan pelan.
Daisy membenarkan mantel tipisnya, dan berjalan ke ruangan keluarga.
Dengan lampu remang-remang, Daisy duduk di kursi besarnya yang berwarna merah hati.
"Apa kau berhasil?" Tanya Daisy.
"Sebelum saya datang, sudah ada yang membunuh Marry Anne lebih dulu."
"Siapa?" Tanya Daisy.
"Saya tidak tahu Nyonya, tapi saya rasa, dari bentuk tubuhnya, dia seorang wanita." Kata Mena.
"Jadi, Marry Anne mati?"
"Saya segera meninggalkannya, dia pasti sudah mati karena saya menyuntikkan obat gagal organ untuk tubuhnya."
"Jadi, sebelum memastikan dia mati atau tidak, kau meninggalkan? Aku merasa kau seolah tak yakin dia sudah mati."
Mena menahan nafas, apakah ia harus jujur atau tidak, jika dia jujur pasti akan terjadi perang besar-besaran antara nyonya nya dan tuannya.
"Saya..."
"Apa yang kau takutkan. Apakah kau bertemu dengan Ben di rumah Marry Anne." Kata Daisy santai dan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.
Mena diam, wajah Mena tertegun dan syock, jantungnya berdetak tak karuan.
"Jadi itu benar." Kata Daisy malas dan kesal.
"Tidak Nyonya, saya tidak bertemu dengan Tuan Ben, saya tidak memastikannya karena saat itu ada seseorang yang datang, tapi itu bukan Tuan Ben."
"Kau yakin bukan Ben yang datang?"
__ADS_1
"Saya sangat yakin Nona." Kata Mena mantap.
Daisy mengangguk pelan, dan kemudian berdiri.
"Kalau begitu kau boleh pergi, kembalilah ke mansion. Jika Ben tahu kau tidak terlihat di Mansion seharian dan semalaman, kau pasti akan terkena masalah lagi, karena aku." Kata Daisy.
"Baik Nyonya." Kata Mena pergi.
Namun saat Mena pergi, ia melihat ada Derreck berdiri di luar ruangan.
Derreck menekan bibirnya sendiri dengan telunjuknya.
"Ssst..." Kata Derrect.
Mena mengangguk tanda mengerti, dan pergi setelah menunduk memberi salam.
Daisy berdiri dan menyedekapkan tangan, ia melihat pemandangan pantai yang remang-remang karena lampu orange yang bersinar di sepanjang pantai.
Derreck kemudian masuk, dan melihat adiknya hanya diam berdiri dengan melihat laut.
Derreck kemudian mengelus lengan Daisy dan memeluknya dari samping, membuat Daisy tersentak kaget.
"Kau terbangun..." Kata Derreck tersenyum sembari masih memeluk Daisy dari samping.
Daisy tersenyum malas.
"Ya... Aku tidak bisa tidur." Kata Daisy.
"Daisy... Kau masih memiliki aku." Kata Derreck.
"Ya...!" Daisy terkejut matanya memancarkan sorot ketakutan.
"Ha...Hahah...Haha....!!! Maksudku, sebagai kakakmu, aku menyayangimu bahkan lebih dari ketika dulu saat aku belum tahu kau adalah adikku, aku tak ingin kau terluka ataupun bersedih, jadi jangan sungkan untuk meminta tolong padaku." Kata Derreck.
"Ya... Aku mengerti." Kata Daisy.
"Masalah kau dan Ben, aku tidak akan ikut campur, kecuali jika kau memintaku untuk maju."
"Tidak, aku baik-baik saja sekarang, aku akan kembali ke kamar." Kata Daisy.
Derreck mengangguk pelan, dan Daisy pun pergi meninggalkan ruangan keluarga.
Derreck kemudian merogoh ponselnya yang dari tadi sudah bergetar berulang kali.
"Ya."
"Tuan Derreck..."
"Bagaimana, kau yang membunuh Marry Anne?"
__ADS_1
"Maaf Tuan bukan saya, saat sampai dan saya sedang mengawasi, saya sudah melihat 2 orang berpakaian hitam dan salah satu keluar, namun, saat saya hendak pergi, Traver dan Tuan Ben datang, saya memutuskan untuk kembali mengawasi, tak berapa lama, orang berpakaian hitam satunya keluar juga, dan kemudian saya mendengar suara tembakan." Kata Casey dari panggilan ponsel.
"Kau tahu siapa mereka yang menyusup dan siapa yang menembak?"
"Untuk 2 orang yang berpakaian hitam saya tidak tahu Tuan, tapi untuk suara tembakan, saya pastikan itu adalah Traver."
"Aku yakin salah satunya adalah Mena, lalu siapa yang satunya lagi?" Tanya Derreck.
"Saya mencoba mencari petunjuk Tuan, tapi saya tidak menemukan apapun."
"Baiklah, kembali ke Maladewi secepatnya." Perintah Derreck.
"Baik tuan Derreck."
******
Di dalam ruangan kerjanya, Ben duduk diam dan menerka-nerka, pikirannya melayang jauh siapa yang telah membunuh Marry Anne.
Sesaat kemudian ia melihat ponselnya yang menyala, dan terlihatlah foto istri bersama anak-anaknya, Ben merasa Mansion sangat sunyi dan sepi, ia sangat merindukan istri dan anak-anaknya.
Tak berapa lama Traver masuk ke dalam ruangan kerja Ben, dan berjalan mendekati meja Ben, lalu menyerahkan tabletnya di atas meja tepat di hadapan Ben.
"Tuan, saya mengunduh rekaman Cctv, dan semua rumah sudah bersih, mayatnya sudah di buang ke laut, lalu rumah itu akan di robohkan dalam waktu dekat, untuk menghilangkan semua bukti dan jejak."
Ben melihat serangkaian Video Cctv yang di ambil Traver dari rumah Marry Anne, meski gelap, namun semuanya terlihat bahwa tidak hanya ada 1 yang mengincar nyawa Marry Anne, namun juga 2, dan 3 termasuk Traver.
"Siapa orang yang lebih dulu membunuh Marry Anne, dan siapa orang ke dua yang melakukan suntikan pada Marry Anne, sepertinya itu bukan obat, namun seperti suntikan obat gagal organ tubuh, yang ke 3 jelas itu adalah kau Traver." Kata Ben.
Traver hanya diam, namun ia sedang menduga bahwa orang berpakaian hitam yang berkelahi dengan Traver adalah orang yang ia kenal, namun Traver tidak mengatakan apapun.
"Saya akan mencoba mencari tahu Tuan." Kata Traver.
Ben menganggukkan kepalanya pelan, dan menggosok dagunya pelan menggunakan telunjukknya, seolah ia sedang berfikir.
"Traver, siapkan pesawat kita jemput Daisy dan anak-anak." Perintah Ben.
"Ini sudah jam 3 Dini hari Tuan, anda belum istrirahat dan belum tidur.
"Aku akan tidur di pesawat." Kata Ben menyambar mantelnya dan berjalan cepat.
"Baik Tuan." Kata Traver sigap dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi para pengawal agar menyiapkan pesawat.
Ben kemudian masuk ke dalam mobil di susul dengan Traver, sedang kan saat itu Traver pun juga sibuk mencari tahu dimana Mena, karena Mena tak terlihat dalam sehari semalam ini, padahal para pengawal mengonfirmasi bahwa Mena tidak ikut ke pulau Maladewi.
Namun, saat pikiran Traver sibuk memikirkan Mena, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel pribadi Traver. Traver pun melihatnya secara diam-diam.
"Tuan Traver, Nona Mena malam ini memakai pesawat pribadi milik Tuan Traver untuk mendarat di dekat pulau Maladewi, dan kemudian melakukan perjalanan dari pulau itu ke pulau Maladewi menggunakan Jets Ski. Laporan ini akurat, dan saya akan mengirimkan rekaman video nya yang diambil dari satelit baru kita."
Traver menelan ludahnya, ia ingat belum mengatakan pada Mena jika Traver telah meluncurkan satelit lagi setelah peledakan di Kota S itu.
__ADS_1
Bersambung