Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 228


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang di penuhi dengan amarah yang membara bagi Douglas, setelah ia mendengar bahwa pasukannya yang tak menyerang kediaman Zac, malah di bantai dan di musnahkan oleh adiknya sendiri, yaitu Gavriel, dan tragisnya hanya di sisakan 1 komandan itu pun setelah menyampaikan pesan dari Gavriel langsung kehilangan kesadaran dan mati.


Douglas duduk di kursi besar di atas kapal mewahnya dengan memantau Mansion milik Zac menggunakan teleskopnya.


Kapal besar itu masih ada di jarak yang sangat jauh, dan Douglas tak akan maju di depan, karena ia hanya akan mengamati hingga ikut berperang jika situasinya mendukung.


"GLLUUUURRRR!!!" Sebuah kapal serang, milik Douglas yang sudah mendekati lautan dermaga wilayah Zac secara tiba-tiba langsung meledak.


"GLUUURRR!!! BLAAARRRR!!!"


Kapal-kapal itu langsung meledak dan terbakar hingga api membumbung tinggi, menjadikan malam itu bercahaya warna merah yang mengerikan.


Douglas melihat lagi dengan teleskopnya.


"Hmm... Ternyata banyak jebakan yang di pasang sebelum mendekati mansion, agar musuh tak bisa mendekat. Aku yakin semakin ke depan pasti akan ssmakin banyak jebakan-jebakan itu." Kata Douglas.


"Lalu bagaimana Tuan?" Tanya Heiden.


"Kita harus korbankan pasukan yang paling lemah untuk maju lebih dulu, ketika para pasukan yang paling lemah mati karena jebakan-jebakan itu, baru kita masukkan lagi para pasukan yang memiliki kekuatan rata-rata, setelah itu, yang ketiga lepaskan para bandit-bandit gila, mereka akan merusak dan menghancurkan semua yang ada di mansion." Kata Douglas.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan Nona Gaby?" Tanya Heiden.


"Itu adalah tugas mu sekarang, cari tahu dia ada di mana, dan bawa pulang ke Pulau Tanpa Nama." Perintah Douglas.


Heiden mengangguk tanda mengerti. Douglas begitu kejam, ia bahkan tetap maju meski di hadapan dan di depan sana nantinya akan ada banyak jebakan yang tak terhitung banyak.


Douglas tetap memilih mengorbankan ratusan pasukannya hanya untuk mati sia-sia.


"Heiden... Perintahkan sekarang juga untuk menyerang dan jadikan pasukan kita yang paling lemah menjadi tumbal jebakan-jebakan itu agar pasukan yang paling kuat dan para bandit gila bisa masuk ke wilayah mansion." Perintah Douglas.


"Baik Tuan." Kata Heiden.


Kemudian Heiden pun menghubungi para komandan pasukan, dan mengatakan bahwa rencana berubah.


Di rasa semua komandan tahu bahwa ini adalah perang bunuh diri dan perang membantai anggota sendiri, para komandan tetap tutup mulut dan tak memberitahukan pada pasukannya.


Seorang Komandan pun berseru.


"SSSEEERRRAANGGGG!!!!!" Teriak komandan-komandan yang memimpin begitu banyak pasukan.


Namun, setelah memberikan perintah para komandan pun memilih menaiki helikopter yang mendekati pada kapal-kapal serang mereka.


Komandan-komandan itu menaiki tali dan tangga yang menggantung ke bawah.


Sedangkan para pasukan yang ada di darat, para komansan memilih menyaksikan dari jauh.

__ADS_1


Lalu pasukan yang menyerang melalui udara, memutar kembali helikopternya agar para pasukannya yang maju.


"BLLAARRRR!!!"


"BLLAARRR!!!"


"DUUUAARRRR!!!"


"DUUUWAARRRR!!!"


Suara-suara ranjau yang membabi buta meledak pun saling bersahut-sahutan, lalu kapal-kapal perang yang sudah maju pun meledak hingga puing-puingnya menyebar dan terbang ke atas lalu berjatuhan ke atas samudra.


Belum lagi yang menyerang melalui udara, mereka semua kalang kabut karena helikopter mereka tiba-tiba tak berfungsi, lalu terjatuh ke atas tanah dan mengenai ladang ranjau.


"SIUUW.... SIUUUWWW...SSIIUWWW!!!"Sesuatu menyebar entah datang dari mana dan itu menyebar dengan cepat.


Ternyata semua yang menyebar dengan jumlah yang mungkin ada ribuan pun mencap di tubuh para pasuka Douglas. Itu adalah jarum-jarum kecil yang berisi dengan racun.


"AAARRGGHHHH!!!"


"AAARGHHHH!!!!"


"TOLOONGGGGG!!!"


"PANASSSS!!!"


Tidak hanya itu saja, daging-daging para pasukan yang terkena racun tersebut akan menjadi sangat lunak dan ketkka di garuk mereka hanya akan menggaruk daging mereka sendiri yang bercampur dengan darah, lalu mereka mati.


Semua pasukan Douglas yang di anggap lemah, di jadikan tumbal hingga jebakan-jebakan itu habis. Douglas adalah orang yang benar-benar keji.


Para komandan yang menyaksikan pasukan mereka seperti ikan teri yang terpanggang habis saling mendecakkan lidah dan tidak tega, namun jika mereka tak memiliki pilihan lain, jika tak menuruti kepala mereka pasti akan hilang.


"Tuan Douglas sepertinya belum cukup, kita harus memasukkan pasukan ke dua yang memiliki kekuatan rata-rata." Kata Heiden.


"Lakukan." Perintah Douglas.


"Baik Tuan." Heiden kemudian menghubungi lagi para komandan pasukan.


"Serang lagi." Perintah Heiden.


Lalu dang komandan di jarak yang lumayan jauh memerintahkan para pasukan kedua ikut masuk menyerang, untuk menghabiskan segala jebakan, pasukan ini pun masih tidak tahu apapun, jika sebenarnya mereka hanya akan mati konyol karena dengan sendirinya justru mendatangi kematian yang tragis.


"SEERRRAAANGGGG!!!" Teriak para komandan.


Para pasukan pun maju dengan membabi buta, pasukan ini adalah kelompok yang memiliki tubuh kuat .

__ADS_1


Banyak sekali jebakan-jebakan di hutang, jeratan, atau senjata-senjata tajam yang akan muncul setiap kali mereka salah menginjak tanah.


Benar saja ketika mereka semua menyerang banyak sekali senjata-senjata tajam yang bermunculan dan langsung membunuh mereka semua.


Tubuh mereka tercabik dan terpotong, kepala terpenggal dan kaki terputus.


Douglas masih menyaksikan perang-perang bunuh diri tersebut.


Lain halnya yang ada di dermaga, meski kapal-kapal tersebut kokoh dan kuat, puluhan kapal tersebut tetap tiba-tiba macet tak dapat bergerak, namun beberapa saat kemudian mesin-mesin kapal menjadi menyetrum, aliran listrik menjadi tegang dan membuat pasukan-pasukan yang ada di kapal ikut tersetrum dan gosong.


"AAAAARGGGHHHH!!!"


Semua pasukan Douglas mulai menyadari teman-teman mereka yang seolah mati sia-sia.


Mereka akhirnya sadar, bahwa mereka hanyalah di jadikan alat atau boneka.


******


Di lain tempat dan situasi, Zac masih santai meladeni setiap pasukan-pasukan yang datang ratusan, bahkan tak bisa di presdikai, seperti lautan manusia yang siap mati atau ingin mati.


"Tuan Zac, sepertinya Tuan Douglas ingin menumbalkan anak buahnya sendiri sebagai tameng menghilangkan semua jebakan lalu pasukan terkuat maju." Kata Yaron.


"Aku tahu, Douglas mengira kita bodoh." Kata Zac santai dan mengamati cctv dengan berdiri menyedekapkan tangannya.


"Charles, kapan pasukan Brandon datang?" Tanya Zac.


"Sebentar lagi." Kata Charles.


"Pasukan Murder juga sebentar lagi tiba." Sahut Gavriel.


Zac mengangguk pelan.


"Douglas, apakah dia benar-benar anakku, kenapa dia berubah menjadi monster." Kata Moran.


"Menurutmu, monster sesungguhnya adalah Ben dan Zac." Kata Gavriel.


"Pasukan Murder akan ada di belakang menjaga mansion, dan pasukan Brandon akan di depan bertarung bersamaku dan Charles, aku ingin meladeni Douglas, dia mengorbankan para pasukannya yang di anggap lemah seperti tanpa rasa sesal atau takut bahkan penyesalan. Biadab." Kata Zac.


Kemudian Gavriel menekan bahu Zac.


"Jangan khawatir Zac, ini adalah dunia mafia, dia telah mengambil jalannya sendiri dan memilih menyimpang atau bersimpangan dengan keluarga Murder, jadi ketika kau tanpa sengaja membunuhnya aku tidak akan mempermasalahkannya." Kata Gavriel.


Namun saat itu Moran tak setuju, dan langsung berhadapan dengan Gavriel serta Zac.


"Jangan pernah membunuh Douglas, aku harus bicara dengannya, ada sesuatu yang harus aku ketahui dari nya."

__ADS_1


Gavriel melihat ke arah ayahnya dengan mendecakkan lidahnya kesal.


Bersambung~


__ADS_2