Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 97


__ADS_3

"Masih belum waktunya, bertahan sedikit lagi Daisy, hanya sampai besok pagi saja. Aku akan mengatakannya padamu Ben, maafkan aku. Aku tidak ingin mengambil resiko saat kau sedang marah dan membahayakan bayi ini." Kata Daisy dalam hatinya.


"Kenapa kau diam Daisy? Sangkal lah semua ucapanku." Kata Ben mendekati Daisy dan berlutut di depan Daisy yang masih duduk.


Ben mencium lutut Daisy dan menggenggam kedua tangan Daisy.


"Kau tidak akan menyangkalnya?" Kata Ben.


"Katakan sesuatu Daisy, kau tidak memiliki perasaan apapun pada Gavriel."


"Tidak Ben. Aku hanya mencintaimu." Kata Daisy.


"Kalau begitu mari kita buktikan jika kau benar mencintaiku." Kata Ben menggendong Daisy ke atas ranjang.


Daisy lelah dan muak dengan sikap Ben kenapa selalu saja hanya urusan ranjang dan ranjang, nafssu dan nafssu.


"Apakah hanya dengan cara ini kau dapat percaya? Apakah kau tidak bisa... Percaya pada kalimatku saja Ben? Apa mulutku ini tidak cukup meyakinkanmu? Kenapa harus berakhir di atas ranjang?" Kata Daisy.


Saat itu Ben sudah membuka pakaian Daisy, dan Daisy menangis dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Tentu saja kalimat Daisy membuat Ben tak bisa berkutik lagi, itu adalah penolakan kesekian kali baginya, itu seperti luka yang terus di berikan lalu di beri air cuka, begitu perih di dalam dada Ben.


Ben sendiri juga tidak tahu mengapa kepalanya hanya di penuhi ingin berhubungan dengan Daisy, karena Daisy berpikir begitu membuat Ben pun merasa bahwa dirinya adalah binatang.


"Maaf Daisy, aku memang binatang." Kata Ben dengan sedih dan lemah.


"Tapi aku benar-benar tidak tahu, hanya kau Daisy yang bisa membuatku seperti ini, aku selalu mual jika itu wanita lain."


"Tapi aku lihat kau menikmatinya tadi? Saat di Club, mereka membuatmu senang kan." Kata Daisy dingin dengan mata basah.


"Daisy... " Kepala Ben buntu, ia tak bisa dan tak tahu harus menjelaskan apa lagi pada Daisy, Ben sendiri bingung dengan dirinya yang begitu rumit. Yang jelas Ben sangat tersiksa dengan keadaannya sekarang, Ben sangat tersiksa mengapa hubungannya dengan Daisy menjadi seperti ini.


Namun, yang jelas Ben hanya menginginkan Daisy, Ben hanya mengijinkan Daisy yang boleh menyentuhnya, bahkan menyentuh kepalanya dan meremassnya dengan kuat. Ben tak pernah peduli kan itu.


"Istirahatlah sayang, kau pasti lelah." Kata Ben mencium kening Daisy.


Kemudian perlahan Ben turun dari ranjang dengan wajah sedih dan menyalahkan dirinya sendiri Ben akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan Daisy, ia membuka pintu, melihat Traver serta Mena masih berjaga.


"Kalian istirahatlah." Kata Ben lemah.


Traver dan juga Mena menunduk hormat.


Ben kembali ke ruangan kerjanya tak ingin pergi tidur, sedangkan Daisy mengambil obat-obatan yang ada di laci dan meminumnya satu persatu di tambah obat dari Gavriel yang baru saja di berikan.


Daisy kemudian mengelus perutnya.


"Sebentar lagi, bertahanlah sebentar lagi." Kata Daisy yang akhirnya tertidur dengan mata bengkak karena menangis sepanjang hari.


Tengah malam Ben keluar dari ruangan kerjanya, seperti biasa, ia tak bisa tidur jika tidak bersama Daisy. Daisy seperti obat tidur bagi Ben.


Ben kemudian mendatangi kamar Daisy dan membuka pintu sepelan mungkin.

__ADS_1


Ben melihat Daisy tidur tanpa memakai selimut, dan kemudian ia memberikan selimut pada Daisy, lalu mengecup kening serta bibir Daisy.


"Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku Daisy, aku memiliki sifat binatang yang rendah, selalu memikirkan dan memaksamu melakukan hubungan badan terus menerus. Kau pasti tertekan. Aku akan percaya padamu." Kata Ben tersenyum.


Kemudian Ben hendak pergi, namun pandangan matanya tertuju pada sesuatu yang menyeruak dari balik laci.


Itu adalah strip obat yang belum sepenuhnya di masukkan, dan mencuat keluar.


Ben kemudian membuka laci meja itu, dan terkejut melihat banyak obat-obatan di sana.


"Apa dia meminum obat-obatan sebanyak ini?" Kata Ben dengan perasaan yang campur aduk, antara cemas dan takut.


******


Pagi itu setelah Daisy sarapan, ia kebingungan dan panik ketika mencari sesuatu yang tidak ada pada tempatnya.


"Aku yakin semalam ku taruh di sini." Kata Daisy kebingungan.


Daisy panik dan membuka semua laci meja dimanapun.


Tanpa di sadari Daisy, Ben telah masuk ke dalam kamarnya.


"Kau mencari ini." Kata Ben melemparkan obat-obatan itu di atas ranjang.


Daisy melihat ke arah Ben, dan apa yang Ben lempar di atas ranjang.


Seketika tubuh Daisy lemas dan terduduk di lantai. Wajah Daisy pun pucat pasi. Melihat obat-obatan itu ada di tangan Ben dan kini melemparnya di atas ranjang.


"Jadi... Anak siapa." Tanya Ben dengan wajah datar. Itu adalah wajah tanpa ekspresi yang mengerikan.


Daisy kemudian berdiri dan memegang kedua tangan Ben.


"Ben... Percayalah padaku, sebentar lagi Gavriel akan datang."


Wajah Ben semakin gelap dan amarahnya meninggi hingga Ben ingin sekali menebas kepala Gavriel.


Ben menepis tangan Daisy.


"Jadi dia anak pria itu." Kata Ben.


"Ben... Percayalah padaku... Ini mungkin menjadi terdengar aneh, tapi ini adalah.... Ini adalah anakmu." Kata Daisy dengan menangis dan ketakutan.


Ben tersenyum getir, wajahnya kaku dan begitu tak senang.


"Jadi itu anakku? Selama satu bulan ini aku tidak pernah menyentuhmu, aku pergi ke Afrika dan baru kembali, apa kau hilang ingatan? Lalu bagaimana kau akan menjelaskan tentang akhir-akhir ini kau menolakku, dan muntah karena jijik denganku? Bagaimana bisa tanpa ku sentuh kau bisa hamil?" Kata Ben dengan wajah dingin dan gelap.


Daisy sangat panik dan tertekan, Daisy tidak dapat memikirkan apapun, ia tak bisa membuat alasan apapun, bahkan ia tak mengingat apapun saat itu.


"Ben... Ku mohon percayalah ini adalah anak mu, anak kita." Kata Daisy menangis dan memegangi lengan besar Ben.


Ben melepaskan tangan Daisy kembali dan kemudian berjalan ke nakas tempat pajangan vas.

__ADS_1


"PYARRRR!!!" Ben melemparkan Vas itu ke lantai.


"Daisy, kau lihat vas itu. Setelah pecah apakah bisa kau memperbaikinya?" Kata Ben.


Daisy hanya diam dan menangis dengan tubuh gemetar.


"Aku terus menahannya Daisy, aku terus menahan semua emosiku demi dirimu. Aku mencoba percaya padamu Daisy meski aku tahu kau sedang berbohong padaku dan menutupi sesuatu. Aku memberikan mu kesempatan untuk mengatakannya padaku langsung. Semalam aku percaya pada ucapanmu, aku mengutuk ki diriku sendiri yang seperti binatang. Tapi... Ketika aku memeriksa obatmu, ternyata aku yang seperti orang bodoh." Kata Ben.


"Ben... Maafkan aku..." Kata Daisy menangis.


"Gavriel mengatakan kau memiliki trauma dan aku juga tahu kau memiliki trauma masa lalu... Aku... Ingin memberitahumu tapi aku takut." Lanjut Daisy.


"Jadi, diam-diam kalian membicarakanku? Kalian pasti sangat senang bukan saat membicarakan diriku di belakang? Coba ku bayangkan ekspresi apa yang Gavriel tunjukkan saat dia berbicara denganmu tentang aku."


"Ben!!! Berfikirlah waras!!!! Aku dan Gavriel tidak pernah seperti itu padamu!!!"


"Gavriel!!! Gavriel!!! Gavriel!!! Aku benar-benar muak!!! Ya!!! Kalian pasti telah menganggapku gila kan!!! Aku binatang yang gila!!! Begitu bukan!!!" Kata Ben penuh amarah.


"Ben ini anakmu.... Ku mohon percayalah."


Ben semakin marah.


"BUGG!!! BUGG!!! BUGGG!!!" Ben memukuli dinding hingga tangannya berdarah.


"Ben!!! Jangan lakukan itu, kau menyakiti dirimu sendiri Ben!!!" Daisy memeluk Ben dari belakang dengan erat.


"Karena aku tidak bisa menyakitimu Daisy!!!" Saat itu suara Ben bergetar, ia menangis.


"BUGGGG!!! BUUGGGG!!! BUGGG!!!" Ben masih memukuli dinding, hingga dinding itu terlihat ada retakan-retakan kecil dan dinding berubah warna menjadi merah karena darah.


Kepala Ben seperti berdenyut-denyut ingin pecah dan wajah Ben telah memerah, urat-urat kepala dan wajahnya menonjol dan seperti akan meledak.


"Ben kumohon hentikan!!!" Kata Daisy menangis dan masih memeluk Ben dari belakang.


Ben akhirnya berhenti dan masih menaruh kepalan tangannya yang penuh darah di dinding.


"Baiklah... Anggap saja itu adalah anakku. Anggap aku lah yang menghamilimu..." Kata Ben.


Daisy mendongak menatap Ben dari belakang.


Kemudian Ben melepaskan tangan Daisy yang memeluknya, darah menetes dari tangannya di atas lantai.


"Jadi... Gugurkan anak itu." Kata Ben dengan wajah dingin yang gelap. Mata Ben merah dan basah, ia menangis, dan menahan sakit di dadanya serta ulu hatinya.


Ben benar-benar sedang menahan amarah agar ia tak kalap untuk membunuh seseorang.


Jantung Daisy seolah benar-benar meledak setelah mendengar Ben yang menginginkan bayi itu di gugurkan.


Seketika kaki Daisy lemas dan terduduk di atas lantai, Daisy menangis sejadinya.


Tangisan yang pilu, rasa sedih yang kian dalam, dan Ben yang tak percaya padanya akibat kecemburuan besarnya dan trauma masa lalu nya, semuanya bercampur menjadi sangat rumit.

__ADS_1


Belum lagi, krisis kepercayaan Ben timbul karena Daisy berulang kali menutupi kebohongan dengan kebohongan baru. Ben adalah pria yang benci dengan kebohongan.


Bersambung


__ADS_2