
"TOK... TOK... TOK....!!!"
Pintu di ketuk dengan suara yang cukup keras.
"Tuan Gavriel!" Pekik pelayan tersebut.
Gavriel tak menggubris panggilan sang pelayan.
"Tuan Gavriel ada Tuan Besar di sini!" Kata pelayan tersebut lagi dengan suara yang cukup keras.
Saat itu Gavriel baru akan menaruh bibirnya di bagian sensitif milik Zay, dan berhenti setelah mendengar kalimat itu.
"Zay, pakai baju mu, dan jangan pernah keluar dari kamar ini." Kata Gavriel membelai lembut pipi Zay.
Saat itu Zay benar-benar merasakan kasih sayang dan perhatian selembut sutra dari seorang Gavriel Murder.
Gavriel turun dan berjalan menuju Walk in Closet lalu memakai pakaian.
Setelah keluar, Gavriel mendatangi Zay lagi dan mencium kening Zay.
"Kau tidur dulu Zay. Ingat, jangan keluar dari kamar, kau paham... Dan hubungi Zac." Kata Gavriel lembut.
"Tapi kenapa aku harus menghubungi Zac. Aku masih marah padanya." Kata Zay mengerutkan alisnya.
"Ya sudah, biar aku yang menghubungi dia sendiri." Jawab Gavriel tersenyum.
Zay mengangguk pelan, ia takjub pada pembawaan sikap Gavriel yang tenang, dewasa dan sangat penyayang, bahkan sabar dengan segala tingkah Zay yang selalu merajuk.
"Luar biasa, pria itu lebih dari sekedar ekspetasiku selama ini, ku kira dia dokter yang dingin karena tidak pernah bicara padaku." Kata Zay dalam hati berguling-guling dengan selimut yang menutupinya dan tersenyum.
Gavriel yang sudah di luar dan menutup pintunya, ia menghubungi Zac untuk segera datang ke mansion.
Teleponnya tersambung dan Zac mengangkatnya.
"Zac ayahku ada di sini, kau kemarilah." Kata Gavriel.
"Ya paman."
Setelah telepon terputus, Gavriel menuruni tangga besar dan melihat pandangan singa yang marah tertuju padanya.
Saat itu Moran Murder dengan wajah marah hendak memukul anaknya.
"Kau tidak penasaran dengan anak pertamamu." Kata Gavriel memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan santai.
Nafas Moran Murder tambah berderu.
"Bagaimana kau bisa memakai pasukan Murder untuk berperang dengan kakakmu sendiri."
"Dia bukan lagi kakakku, dia mengganti nama marganya."
"Apa...!!" Moran Murder terkejut.
"Namanya berubah menjadi Marga Scoot. Kau pasti tahu." Mata Gavriel.
__ADS_1
"Tidak mungkin." Kata Moran.
"Bukankah kau punya banyak telinga, kenapa tak kau suruh orangmu mengeceknya sendiri." Kata Gavriel.
"Kau... Sejak kapan kau membangkang seperti ini, terserah jika kau tak ingin menikah dan menolak semua perjodohan yang ku atur, tapi kau tidak boleh memakai pasukan Murder untuk melawan kakakkmu!!" Kata Moran berteriak.
Teriakan Moran sangat keras dan menggelegar hingga membuat Zay yang tertidur pun terbangun, ia menjadi penasaran keributan apa yang terjadi di bawah sana.
Moran kemudian duduk di kursi, menyandarkan punggungnya, tubuhnya memang cukup lelah, karena menempuh penerbangan, belum lagi dia syock dengan anaknya yang sudah mengganti Marga menjadi Scoot.
Setengah jam berlalu, Moran hanya termenung, memikirkan anak pertamanya yang menyimpan luka pada kisah masa lalunya namun Douglas juga anak yang paling ia sayangi, setelah berpuluh-puluh tahun tak mendengar nama nya, dan kini justru ia mendengar namanya berganti marga, apalagi berseteru dengan adiknya sendiri.
Sedangkan saat itu, Zac sudah sampai di mansion, ia bersama Charles.
Mobil nya terparkir di halaman, dan Zac keluar dengan menggunakan pakaian santai, celana panjang, sweater knit yang naik hingga lehernya, dan memakai jaket kulit berwarna brown.
Zac masuk, dan Moran pun terkejut, siapa yang telah mengijinkan orang luar masuk.
"Dia Zac anak Benjove Haghwer." Kata Gavriel.
Mereka pun duduk berhadapan.
Moran sedikit menetralkan emosinya, ia tahu sedang berhadapan dengan siapa, Zac adalah anak muda yang tidak bisa di pandang enteng begitu saja. Meski ia tahu Zac dan Gavriel berteman, namun dunia mafia itu terlalu tak bisa di tebak.
"Jadi, kenapa menggunakan pasukan Murder yang sudah lama tidur." Kata Moran.
"Dari dulu, aku tidak pernah setuju kau keluar dan pensiun dari organisasi mafia." Kata Gavriel.
"Sepertinya anda harus menyerahkan pasukan Murder jika anda tak memakainya." Kata Zac.
"Untuk menyerang Douglas anakku? Kau kira aku bodoh." Kata Moran.
"Sayangnya Douglas tak menganggap dirimu ayahnya, dia mengganti marga nya." Sahut Zac.
"Ku dengar, kau pun keluar dari Marga Haghwer." Kata Moran.
"Ya, aku keluar dari Marga Haghwer, karena seorang gadis dan gadis itu adalah cucu mu. Dia adalah anak dati Douglas." Kata Zac dengan wajah dingin.
Moran seketika mendelik, ia terkejut, dengan kalimat Zac bahwa ia memiliki cucu.
"Douglas menyiksa cucu mu secara mental dan fisik, aku ingin menyelamatkannya, sayangnya aku tersandung restu keluargaku, jadi aku harus bergerak sendiri."
"Ada apa sebenarnya." Kata Moran.
"Gia, wanita yang di nikahi Douglas adalah wanita yang pernah menyelamatkan hidup Ben, dan dia meminta imbalan untuk memiliki Ben, sampai saat ini, dua keluarga itu perang dingin, tak ada yang mengangkat senjata lebih dulu, namun mereka juga tak bisa akur, sedikit saja bersenggolan perang akan pecah, di satu sisi, Zac anak mereka justru mencintai anak dari Douglas, dia adalah cucu mu. Jadi, Keluarga Haghwer dan Keluarga Waldorf mengambil sikap bahwa Zac harus memilih. Jadi, sekarang kau tahu pilihan Zac." Kata Gavriel.
"Apa kau membawanya?" Tanya Moran berharap ia bisa melihat cucunya, seperti apa.
"Tidak, tapi dia aman." Sahut Zac.
"Aku ingin bertemu dengannya." Kata Moran.
"Bisa saja, tapi kau harus memutuskan, berikan pasukan Murder padaku, dan aku akan membuat mereka menjadi lebih besar." Kata Zac.
__ADS_1
Moran meremas kedua tangan keriputnya, dan menggerakkan bibir nya yang sudah keriput juga.
"Tapi jangan membunuh Douglas." Kata Moran.
"Aku tak akan membunuhnya hanya akan melenyapkan semua pasukan Douglas, Gaby juga tak ingin ayahnya mati."
"Jadi, cucu ku bernama Gaby?" Tanya Moran.
"Ya." Jawab Zac.
"Ternyata aku memiliki cucu." Kata Moran dengan wajah berkaca.
"Jadi apa keputusanmu." Tanya Zac.
Moran terdiam sejenak.
"Kau bisa membangkitkan kekuatan Murder dan lara pasukannya lagi yang sudah lama tertidur. tapi, kau harus janji 2 hal. Pertama jangan bunuh Douglas, kedua aku ingin bertemu cucuku." Kata Moran
"Deal." Jawab Zac cepat.
"Jadi, kapan kau akan menikah, aku sudah mengatur perjodohan mu dengan seorang dokter wanita yang cantik." Kata Moran lagi mencerca Gavriel dengan mata tajam.
"Kau tadi bilang tak masalah aku tak menikah." Sergap Gavriel.
"Aku lupa, kapan aku pernah mengatakan itu! Cepat menikah dan buat anak sebanyak mungkin! Aku butuh penerus!! Jangan sampai cucu ku satu-satunya justru menjadi penerus keluarga Scoot!" Kata Moran geram.
Gavriel memijit pelipisnya, karena kepalanya pusing, ayahnya setiap hari membahas perjodohan dan kapan dirinya menikah, namun, kedua mata Gavriel tertuju pada Charles yang pandangannya melihat ke lantai atas tanpa berkedip.
Segara Gavriel melihat ke arah atas memutar tubuhnya, ia tahu ada sesuatu, dan benar saja terlihat Zay sedang mengamati, Zay pun juga mendengar bahwa ayah Gavriel mengatur perjodohan tentang pernikahan nya.
"Lalu siapa gadis yang di atas sana." Moran pun akhirnya bersuara lagi.
Gavriel menoleh ke arah ayahnya, yang melihat Zay dengan wajah tertegun.
Zay kemudian turun, dengan memakai kemeja milik Gavriel.
"Zay..." Kata Zac terkejut.
"Kau tinggal di sini?" Sambung Zac lagi lalu melihat ke arah Gavriel.
"Tidak lagi, katanya dia akan menikah." Kata Zay.
Jantung Gavriel berdesir panas mendengar kalimat Zay yang menyakitkan hatinya.
"Bukan... Aku menolak nya, selalu menolaknya Zay..." Kata Gavriel menjelaskan.
"Tunggu kenapa kau harus menjelaskannya padanya, memangnya dia butuh penjelasan itu? Bukankah itu urusanmu jika kau mau menikah atau tidak." Kata Charles.
Gavriel menekan tengkuk lehernya.
"Zay, aku dan Zay resmi menjadi kekasih." Kata Gavriel.
"APA!!!" Charles terkejut, bahkan Moran pun juga ternga-nga melihat anaknya yang sudah lama membujang tahu-tahu sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Sedangkan Zac hanya melihat ke arah Gavriel dan adiknya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Bersambung~