Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 174


__ADS_3

Nafas Zac memanas, begitu pula nafas segar Gaby yang wangi sedikit demi sedikit menghangat.


Tubuh mereka sama-sama saling bereaksi, Zac sadar kali ini miliknya terasa menegang, dan mengeras, dalam hati dan pikirannya baru kali ini, kenapa? Bagaimana bisa? Justru mengeras 2 kali saat bersama gadis yang Zac anggap biasa saja, namun pada kenyataannya Zac selalu mengagumi wangi tubuh gadis itu.


"Shampoo apa yang kau pakai..." Tanya Zac mengambil ujung rambut Gaby dan menghirupnya.


"Shampo biasa Tuan..."


Sikap dan perlakuan Zac tentu saja membuat Gaby terkejut, Gaby kemudian hendak bangkit namun Zac menahan lengan langsing Gaby.


"Tunggu dulu aku ingin memastikan sesuatu..." Kata Zac.


"Me... Memastikan apa..." Tanya Gaby.


Zac ingin memastikan, apakah miliknya berdiri karena Gaby, dan apakah itu benar-benar berdiri dan akan bertahan.


Perlahan Zac kemudian mencium bibir Gaby, ciuman yang lembut dan melumattnya dengan penuh hati-hati serta memainkan lidahnya di dalam mulut Gaby.


Gaby hendak menghentikan Zac, namun apalah daya, ia tak bisa berhenti juga, semakin Zac menciumnya semakin tubuhnya menggeliat panas.


Zac masih melumatt pelan dan mencium bibir Gaby, Zac merasakan bibir Gaby begitu halus, lembut dan kenyal, beberapa kali Zac menyedot bibir Gaby masuk ke dalam mulutnya membuat Gaby menutup mata dan sedikit merasakan kenikmatan mulai menjalar di setiap sel syarafnya.


Tiba-tiba Zac berpindah mencium leher Gaby, ia terus turun dan turun hingga di dada Gaby.


Dengan masih memegangi erat lengan Gaby, Zac memutar tubuh Gaby, saat ini Gaby ada di bawahnya.


"Tu... Tuan... " Kata Gaby dengan mata sayu.


Wajah itu, wajah Gaby yang seolah berharap ingin di sentuh dan di lanjutkan lagi, membuat Zac menjadi lebih panas, miliknya akhirnya mengeras dengan sempurna dan menekan paha Gaby.


Gaby takut, karena ia merasakan sesuatu yang keras menekan pahanya.


"Tuannn..." Kata Gaby, namun pikirannya melayang, apakah semua ini benar, apakan semua ini sering di lakukan oleh para sekretaris pribadi.


"Kau sangat wangi..." Puji Zac pada Gaby.


Kemudian Zac menciumi leher Gaby, perlahan dan perlahan, bibir dan lidah Zac turun hingga dada milik Gaby.


Tangan Zac maju, ia menekan dan meremas payud*rra milik Gaby sebelah kiri, yang masih di balut dengan handuk berwarna putih.


Gaby memalingkan wajahnya ke sisi kanan, ia malu, namun ia merasakan kenikmatan.


Zac perlahan masih meremasnya dan memutarnya lembut, kemudian dengan telunjuknya yang panjang Zac menarik handuk mini itu yang ada di dada Gaby.

__ADS_1


"Tuuuaannn.. Jangannn...." Kata Gaby.


Zac sudah di lingkupi kegilaannya, baru kali ini Zac merasakan sesuatu yang tak bisa ia kontrol, biasanya miliknya tak bisa "berdiri" meski secantik apapun para wanita yang ia pesan, yang ada milik Zac justru lemas dan tak bereaksi.


"Aku merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan." Kata Zac menarik handuk Gaby dan terbukalah handuk itu sebatas payudaraa Gaby.


Zac melihat payudaraa yang membulat penuh, sintal, kenyal dan terlihat sangat menggoda karena begitu berisi.


Dengan pelan Zac merasakan kekenyalan dan kelembutan payudraa milikn Gaby, ia meremasnya pelan dengan tangan besarnya dan jemari panjangnya meraupnya


Zac meremas dan memutarnya pelan.


"Ngghhh... Tuannn... Apa... Ini bagian dari pekerjaan saya jugaa..." Kata Gaby menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya sebelah kanan.


"Ini sangat lembut dan kenyal Gaby..." Bisik Zac di telinga Gaby dan mengulum telinga Gaby.


Tangan-tangan Zac kemudian maju semua di kedua payudaraa milik Gaby dan secara berbarengan meremas dan memelintirnya.


"Aaaahhh... Oouuuuhh.... Tu... Tuaann...." Tubuh Gaby menggelinjang, nafasnya kian berat dan panas, jantung nya mulai di pompa cepat.


Zac merasakan dorongan seksuaal yang tinggi, ia bersemangat dan ingin lebih jauh melakukannya.


Dengan mulutnya, Zac kemudian maju dan mengulum payudaraa berisi milik Gaby, menyedot dan menghisap hingga kuat.


"Entah kenapa suara desahannmu membuat ku semakin bersemangat, aku sangat penasaran, aku ingin memastikannya, karena baru kali ini aku merasakan nya... Aku ingin lebih." Bisik Zac.


"Tuuann... Penerbangan kitaa..." Kata Gaby.


Zac tak menghiraukan kalimat Gaby, dan langsung melahap kedua payudaraa Gaby dengan kalap, Zac merasakan miliknya menegang, ia ingin lebih, ia ingin seseorang memegangnya atau sesuatu meremasnya.


"TING TONG!"


"TING TONG!"


Suara bel pintu berbunyi.


"Tuann Muda... Ada yang menekan bel..." Kata Gaby.


Zac masih sibuk menghisap payudaraa Gaby, dan menimbulkan banyak sekali bekas merah.


"TING TONG....!!!"


"Drrt... Drrtt...!!"

__ADS_1


Ponsel Zac pun juga bergetar.


Zac menarik nafas dan menyadarkan dirinya, ia menenangkan tubuhnya yang sedang memanas dan kemudian berdiri, dengan canggung karena melihat tubuh Gaby yang sedikit berantakan di atas ranjang, Zac melihatnya dengan wajah canggung, namun ia harus mengontrol keadaanya.


"Pakai baju mu dengan segera, kita sudah terlambat." Perintah Zac.


Gaby hanya diam dengan mata sayu, ia meraba tubuhnya yang begitu banyak di tinggalkan jejak merah oleh Zac.


"Pria itu... Benar-benar wangi... Dan dia menciumku..." Kata Gaby.


"Apakah bekerja memang harus seperti ini? Apakah menjadi sekretaris pribadi juga harus melayani para boss juga dalam urusan ranjang? Aku akan bertanya nanti pada seseorang." Kata Gaby polos dan lugu.


Zac kemudian dengan langkah cepat keluar dari kamar Gaby dengan benda miliknya masih mengeras sangat besar.


Ponselnya masih bergetar dan kemudian Zac merogoh sakunya.


Zac melihat itu adalah Traver.


"Ya."


"Tuan Muda... Anda harus segera terbang ke As, karena ada seseorang yang juga menginginkan perusahaan Giant." Kata Traver.


"Siapa dia?" Tanya Traver.


"Tuan Xuan Yuan." Kata Traver.


"Xuan Yuan? Siapa dia?" Tanya Zac.


"Anak orang kaya baru, saya sedang mencari informasi juga mengenai silsilah keluarganya."


"Mmm... Cari tahu semuanya." Perintah Zac.


Setelah Zac menutup ponselnya ia pun kembali ingat bahwa sudah 2 kali miliknya mengeras pada Gaby, bahkan tubuhnya juga bereaksi pada Gaby, ia ingin melanjutkannya lebih dalam, jika saja tak ada urusan, tak ada penganggu, dan Gaby tak sedang datang bulan, sepertinya Zac akan terus melanjutkannya sampai akhir.


"Aku penasaran apakah aku bisa klimaaks dan bisa merasakan ejakulasii dengan Gaby? Aku benar-benar penasaran apakah aku bisa, ataukah aku buat perjanjian hitam di atas putih dengannya nanti? Kira-kira dia mau atau menolaknya?" Tanya Zac pada dirinya sendiri.


"Tapi... Bagaimana jika ini hanya efek suntikan obat dari paman Gavriel, hmmm... " Zac jadi kebingungan apakah reaksi bendanya mengeras karena obat yang Gavriel suntikkan jadi bisa menambah secara otomatis untuk membangkitkan hormon yang sedang memanas.


Atau memang itu murni secara alami, karena Zac merasakan nikmat dan terus ingin melanjutkannya.


"Tapi, apakah aku benar-benar bisa klimakkas? Bagaimana jika perasaan dan kenikmatan itu seperti biasanya, tiba-tiba saja menghilang dan milikku dengan cepat mengempis."


"Haiishhh... Pusing!!!" Zac duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya pada kursi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2