
Siang itu Ben masih sibuk mempersiapkan segala sesuatu nya bersama Traver dan Matheo, pria itu benar-benar tak mengijinkan siapapun untuk berleha leha meskipun hanya sedetik.
Tak berapa lama Derreck dan Casey tiba di bandara Maladewi dan akan membahas segala sesuatunya tentang pernikahan dengan Ben.
Saat itu Ben mengarahkan tempat mana saja yang akan di gunakan dan para pegawai pun langsung merapikan dan membersihkannya.
Sedangkan Daisy di dalam kamarnya telah selesai berganti pakaian.
"Nona anda mau pergi?" Tanya Mena melihat Daisy yang berdandan cantik.
"Aku akan menemui ibuku kata Ben dia ada di dekat pulau maladewi."
"Ya??!!!" Mena terkejut.
"Ada apa?" Tanya Daisy.
"Tapi Nona, anda harus menaiki pesawat untuk sampai di pulau sebelah, karena kapal tidak bisa kesana, karangnya terlalu banyak dan jika pun bisa di tempuh dengan kapal anda harus berjalan sangat jauh dari dermaga, itu tidak bagus untuk kehamilan anda."
"Kalau begitu aku akan naik pesawat?" Tanya Daisy.
"Tidak boleh Nona, amda tidak boleh menaiki pesawat." Mena menjelaskan dengan sangat tegang.
"Kenapa? Aku tidak boleh menaiki pesawat?" Tanya Daisy.
"Karena kehamilan anda masih muda dan sangat rawan, menaiki pesawat membuat tekanan udara yang berbeda. Apalagi akan bahaya jika ada guncangan. Untuk itulah Tuan Ben membawa anda ke pulau Maladewi dengan menggunakan kapal, itu pun di tempuh dengan sepelan mungkin." Kata Mena.
Daisy kemudian duduk di tepi ranjang dengan sedih.
"Saya akan menghubungi Nyonya Beatrice, saya yakin beliau akan sangat senang, dan akan bergegas kemari saat pekerjaan nya selesai."
"Baiklah, padahal aku ingin mengejutkannya. Tapi, bagaimana lagi... Lakukan saja itu Mena." Kata Daisy sedih.
"Baik Nona Daisy. Lalu apakah ada sesuatu yang anda inginkan?" Tanya Mena.
"Tidak... Tidak ada."
"Ini aneh?" Tanya Mena.
"Kenapa aneh?"
"Seharusnya di usia kehamilan ini, anda mual dan ngidam, tapi bahka anda tak merasakan apapun."
"Apakah wanita hamil memang selalu begitu?" Tanya Daisy.
"Seharusnya begitu, tapi tidak juga selalu begitu, ada wanita yang bahkan tak merasakan apapun." Kata Mena.
Daisy mengangguk.
"Jadi ini tak apa-apa kan?" Daisy mengelus perutnya pelan.
Tiba-tiba pintu di buka dan itu adalah Ben.
"Tuan Ben..." Mena terkejut dan menundukkan kepala.
"Sayang... Aku akan pergi dengan Derreck. Kau mau ikut?" Tanya Ben mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Daisy.
"Derreck akan menangkap lopster, katanya dia bisa."
"Derreck ada di sini?" Tanya Daisy.
"Ya, aku tadi mengatakan padanya ingin makan Lopster yang di tangkap dengan tangan sendiri, dan ingin melihatnya langsung di masak di alam terbuka, dan Derreck tertarik untuk berburu lopster."
"Apa!!!" Daisy mengeryitkan dahi dan menyunggingkan bibir.
"Ayo..." Ajak Ben.
Daisy kemudian mengekor di belakang Ben, dan mereka sudah sampai di depan resort.
Derreck tersenyum melihat Daisy yang semakin cantik, sedangkan Casey juga berdiri di samping Traver, yang saling terlihat canggung.
Mena memperhatikan mereka semua.
"Apakah ada sesuatu yang aku tak tahu di antara Casey dan Traver?" Kata Mena dalam hati.
"Adikku bertambah cantik." Kata Derreck.
"Tidak perlu basa basi, Daisy memang selalu cantik, ayo cepat cari lopsternya." Kata Ben tak sabaran.
"Ku dengar seharusnya wanita hamil yang mengidam kenapa jadi kau." Kata Derreck terkekeh dan berjalan ke sisi pantai lain untuk berburu.
Mereka semua telah memakai pakaian casual, dan Derreck mulai masuk ke dalam air dimana karang-karang batu begitu banyak, Derreck melihat lopster yang besar dan menarik sulurnya.
"Waaaww!!! Hebat!!!" Teriak Daisy.
Derreck pun membawa lopters tersebut, ia cukup banyak menemukan Lopster di dalam bebatuan.
"Ayo kita masak!" Kata Ben.
"Kau yakin mau di masak di sini tanpa koki?" Tanya Derreck.
"Iya aku sedang bersemangat ingin menyatu dengan alam, seolah-olah sedang terdampar dan tak bisa berbuat apa-apa. Kau buatlah apinya." Perintah Ben.
Derreck tertawa.
"Benar-benar khayalan aneh. Lagipula kau mendadak seperti wanita, saat terlalu banyak mengoceh." Kata Derreck tertawa girang dan mencari sesuatu untuk membakar lopster itu.
"Kerjakan saja jangan terlalu banyak rewel, Traver bantu dia!" Kata Ben.
"Baik Tuan."
Kemudian setelah beberapa jam, lopster-lopster itu pun matang di panggang di alam terbuka dengan segala alat tradisional yang di buat oleh Derreck, sedangkan saat itu Ben hanya selalu ribut bertanya kapan lopsternya matang sembari mondar mandir memfoto ini dan itu.
"Ini dia..." Kata Derreck memberikannya pada Ben.
"Kenapa gosong!" Teriak Ben.
"Ya memang begitu, di luarnya nampak gosong, tapi di dalamnya tidak, coba belah, dagingnya pasti empuk karena ini lopster yang masih fresh." Perintah Derreck.
"Makan saja Ben, kau kan ingin tadi." Kata Daisy.
__ADS_1
"Melihat wujudnya aku jadi mual tak berselera, kalian saja yang makan. Hmmmbb....Hmmb...." Ben menutup mulut hendak muntah.
Ben pun pergi berlari, ia berlenggang meninggalkan mereka semua yang sudah susah payah dari awal mencari lopster hingga memanggangnya menggunakan kayu.
"Astaga... Apakah dia benar-benar yang yang sedang ngidam?" Kata Derreck tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau maksud?" Tanya Daisy.
"Keponakanku memang hebat, dia membuat ayahnya kalang kabut. Ha... Ha... Ha..."
"Aku masih tidak mengerti." Kata Daisy.
"Tenang saja, yang jelas Ben pasti akan menjadi ayah yang hebat." Kata Derreck menghapus air matanya karena tertawa terbahak-bahak hingga perutnya kesakitan.
"Lalu bagaimana dengan lopster-lopster ini?" Tanya Daisy.
"Panggil koki saja, dan suruh mereka memasak ulang, tapi apa keponakanku tidak ingin memakan masakan pamannya?" Tanya Derreck mengacungkan lopster yang sudah di tusuk dengan kayu.
"Mau... Sebenarnya aku mau... Aku sudah menunggu dari tadi, bau nya sangat enak."
"Baiklah, kau makan ini, sisanya biarkan di masak ulang oleh para koki." Kata Derreck.
Kemudian Traver memanggil para koki agar mereka membawa lopster-lopster tersebut dan memasaknya ulang.
Sedangkan Daisy, terlihat lahap memakan lopster panggang buatan Derrerck.
Saat itu hari berlalu dengan cepat, dan matahari akan tenggelam menimbulkan sunset yang luar biasa indah.
Daisy sudah masuk ke dalam bersama Derreck, sedangkan Mena yang juga aka masuk, namun ia melihat ke belakang, di sana masih ada Traver serta Casey yang masih terlihat canggung sejak seharian ini.
Tanpa mau menganggu kakaknya, Mena memutuskan untuk masuk lebih dulu.
Casey masih menatap matahari yang kian tenggelam dan langit menjadi berwarna orange, semakin lama akhirnya semakin gelap dalam keheningan di antara Traver dan Casey.
"Lupakan apa yang sudah terjadi saat kita ada di bassemant, anggap aku tak pernah menciummu, tidak... Anggap saja hari itu kau tidak berjumpa denganku."
Traver diam, dan justru terkejut dengan permintaan Casey.
"Kenapa?" Tanya Traver.
"Tak usah bertanya, lakukan saja." Kata Casey hendak pergi ke dalam.
Namun, Traver menahan tangan Casey dan membuat gadis itu tersentak kaget.
"Apa! Kenapa kau menahanku?"
"Seharusnya ini kulakukan sejak kemarin, ketika kau menciumku."
Traver menarik pergelangan tangan Casey, sontak gadis itu terkejut, dan tubuhnya maju ke pelukan Traver.
Dengan berani, di hadapan sunset yang kian meredup, dan pantai menjadi gelap, Traver mencium bibir Casey dengan lahap dan dalam, namun itu juga sebuah ciuman yang lembut.
Setelah beberapa menit, mereka berciuman, di pantai yang gelap, tiba-tiba lampu-lampu pantai yang remang-remang sudah menyala, Traver pun berhenti mencium Casey.
Mata Casey masih terbelalak tak percaya, ia terkejut dan sangat tak mengira Traver akan menciumnya.
__ADS_1
"Ini balasan ciuman mu kemarin. Sejujurnya aku selalu teringat dengan ciuman itu, bagaimana bisa kau menyuruhku untuk melupakannya, sedangkan aku selalu menginginkannya lagi." Kata Traver berbisik mesra di telinga Casey.
Bersambung