
Zay termenung kaku, tubuhnya tak bisa bergerak, matanya terus melihat ke arah kepala tanpa tubuh di kakinya.
"SRAAANGGG!!!" Zac memasukkan samurainya ke dalam sarung pedang.
Sedangkan Traver maju memberikan sapu tangan pada Zac.
Saat Zac mengelap wajahnya yang penuh cipratan darah, matanya tertuju pada wajah tegang sang adik.
"Traver, bungkus kepalanya." Perintah Zac.
"Ada apa? Untuk apa?" Tanya Zay gemetar.
"Ayah menginginkan kepala Carlos." Jawab Zac santai.
Traver pun membungkus kepala itu dengan sebuah kantung.
Casey tiba-tiba masuk dengan beberapa pengawal.
"Tuan Zac... Semua sudah di lumpuhkan, tapi..." Kata Casey tertahan.
Traver melihat Casey, begitu juga Zac dan Zay.
"Tuan Ben terancam akan di lengserkan dari jabatannya sebagai, Ketua Perserikatan Mafia." Kata Casey.
"Ini daerah terpencil seharusnya tidak ada yang tahu Tuan Zac melakukan penyerangan." Kata Traver.
"Salah satu pengawal Carlos sebelum tewas menghubungi Keamanan Perserikatan Mafia, dan beberapa dari mereka sedang menuju AS, meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi. Kenapa Tuan Zac melakukan penyerangan di wilayah gencatan senjata." Kata Casey.
"Siapa yang akan datang." Kata Traver.
"Belum di pastikan siapa yang akan datang, tapi Tuan Yamaguchi ikut serta." Kata Casey.
"Aku mengerti, kita kembali ke Rumah Sakit dulu." Perintah Zac.
Saat itu Zac masih memperhatikan adiknya, ada yang salah dengan tingkah Zay saat itu.
Dalam perjalanan pulang Zay duduk di belakang bersama Zac, mobil iring-iringan mengawal dengan penjagaan yang ketat.
"Kau bersedih? Kekasihmu mati." Tanya Zac.
"Apa?" Zay terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
"Raut wajahmu mengatakan semuanya." Kata Zac.
"Entahlah, aku bahkan tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini."
"Kenapa kau tidak menggunakan beladirimu atau kekuatanmu untuk melarikan diri dari Carlos, aku yakin kau mampu ketika ada kesempatan." Kata Zac masih menatap ke arah depan.
"Entahlah, aku hanya masih syock dengan semua kejadian beruntun, ku pikir mati atau di siksa di tangan Carlos adalah hal yang pantas untuk ku dapatkan setelah aku melukai ayah, ibu, dan paman Derreck, karena aku yang begitu naif, aku pikir aku sudah menemukan seseorang yang benar-benar menyayangiku dan mengerti dengan apa yang aku mau. Ayah, bukan lah sosok yang hangat, dia dingin, kaku, dan kejam, sedangkan Ibu tidak pernah berani bersuara dan membela kita saat pendidikan seperti militer itu di berikan, saat Carlos ada, dialah yang seakan mengisi semua yang tidak pernah ayah dan ibu berikan. Bahkan kakakku sendiri. Apakah kita akrab? Apakah kita dekat? Bahkan ayah selalu membuat kita bertarung, bahkan kita juga sudah terpisah sejak menginjak usia remaja untuk menjalankan obsesi ayah. Namun, ketika ayah rela tertembak demi kita, saat itu aku sadar, bahwa sedingin apapun sikap ayah, dia tetap menganggap kita anaknya yang harus di lindungi, meskipun kita sudah dewasa, aku masih tidak bisa memaafkan diriku karena telah menyebabkan semua kekacauan ini." Kata Zay.
Zac diam sejenak.
"Zay, akhir-akhir ini aku berfikir, kenapa ayah begitu keras mendidik kita. Ketika kau di culik, aku dengan insting yang tanpa ku sadari dapat bergerak cepat mengambil keputusan. Jika ayah tidak mendidik kita dengan keras, aku yakin tidak dapat menyelamatkanmu." Kata Zac.
"Tapi... Apakah ayah akan memaafkanku... Aku juga malu dan takut bertemu ibu." Zay menunduk sedih.
Zac kemudian membelai rambut adiknya.
__ADS_1
"Maaf, aku belum benar-benar menjadi kakak yang baik untukmu... Ke depannya, aku akan menjagamu lebih baik. Ayah dan ibu sangat berharap kita kembali." Kata Zac.
"Tapi... Sesaat tadi, aku benar-benar takut denganmu. Kau seperti monster berdarah dingin." Kata Zay.
"Aku hanya sudah muak dengan Carlos, dalam perjalanan menyelamatkanmu, Traver menceritakan semuanya tentang Carlos, bagaimana dia berkhianat pada ayah dan bagaimana dia mencintai ibu. Mungkin, aku hanya ingin cepat menyelesaikan permasalahan para orang dewasa yang sampai sekarang belum tuntas."
Tak berapa lama iring-iringan mobil memasuki Rumah Sakit dan berhenti.
Zac turun dan di susul Zay, Rudolf dan Derreck serta Mena sudah menyambut.
"Nona Zay, senang melihat anda." Kata Mena.
Zay tersenyum canggung.
Sedangkan Derreck yang awalnya memasang wajah dingin, membuat Zay merasa sangat memyesal, dan menundukkan kepalanya malu.
"Kemarilah keponakanku...." Kata Derreck merentangkan kedua tangannya.
"Pamannn... Maafkan aku... Maaf..." Kata Zay.
Derreck memeluk Zay dengan hangat.
"Syukurlah kau baik-baik saja dan selamat."
"Paman... Maafkan akuuu..." Zay menangis di pelukan Derreck.
"Sudah... Sudah... " Kata Derreck mengelus kepala Zay.
"Maaf untuk setiap kalimat dan kata-kata kasar yang pernah ku ucapkan paman... " Kata Zay.
"Paman benar, paman pasti jauh lebih tahu tentang apa itu cinta... Dan aku sungguh bodoh... Paman pasti lebih tahu bagaimana itu cinta pertama... Aku malah justru menyebut paman tak mau menikah karena tak mengerti cinta ." Kata Zay.
"ERRrrr..." Derreck berpikir sejenak, ia teringat bahwa cinta pertamanya adalah adiknya sendiri.
Rudolf pun menelan ludahnya dan terbatuk.
"Semoga Ben tidak mendengar kalimat tentang cinta pertama Derreck..." Kata Rudolf pelan.
"Anuu... Zay.... Kita temui Ayah dan Ibumu..." Ajak Derreck ingin selamat dengan tersenyum canggung.
Zay mengangguk pelan.
"Mari Nona..." Ajak Mena juga.
Kemudian Rudolf mendekat pada Zac.
"Ada beberapa pengkhianat yang ternyata memasukkan Carlos dan beberapa pengawal Carlos, dia pegawai Rumah Sakit yang memiliki hubungan dengan salah satu pengawal Carlos, dan aku sudah menggorok leher mereka semua." Kata Rudolf.
Zac mengangguk pelan.
"Kau istirahat dulu, dan mandilah." Kata Rudolf menepuk punggung Zac pelan.
"Nanti saja Paman, aku punya hadiah untuk ayah." Kata Zac.
"Hadiah?"
"Traver, kau membawanya?" Tanya Zac.
__ADS_1
"Sudah Tuan."
"Tunjukkan." Kata Zac.
Kemudian Traver membuka sedikit kantong itu, dan di tunjukkan pada Rudolf. Itu adalah potongan kepala milik Carlos.
"Astaga...!!!" Rudolf mundur dengan sangat cepat dan sedikit mual.
"Siapa yang melakukan itu...?" Rudolf melihat ke arah Traver karena biasanya Traver lah yang paling maniak dan kejam.
"Kali ini bukan saya." Kata Traver.
"Tidak.... Tidak mungkinn...!" Kata Rudolf melihat ke arah Zac, kemudian melihat Traver lagi.
Traver pun mengangguk bahwa pikiran Rudolf benar, yang melakukan itu adalah Zac.
"Tuan Zac yang memenggal kepala Carlos." Traver menegaskan lagi.
"Oh astaga.... Kau memang anak Ben, aku tidak ragu lagi, kau benar-benar bibit nya. Luar biasa...!" Puji Rudolf sembari menuding-nudingkan jarinya.
"Jangan berlebihan." Ucap Zac pergi masuk ke dalam Rumah sakit.
Zac pun pergi untuk menemui ayahnya di temani Traver.
Namun, ponsel milik Zac terus saja bergetar, itu adalah panggilan tanpa nama.
"Traver tunggu sebentar."
"Baik Tuan."
Zac pun pergi mengangkat ponselnya, karena sudah beberapa kali menghubunginya.
"Siapa." Tanya Zac.
"Aku. Charles. Ingin mengabarkan bahwa, beberapa pengawal Douglass berada di depan mansion milikmu, sepertinya akan semakin banyak."
Zac mengeratkan genggaman ponselnya, satu masalah selesai, satu masalah lainnya masih menggantung dan menunggu kapan akan meledak.
"Dimana Gaby." Tanya Zac.
"Dia sudah tidur, aku memberikannya obat penenang, karena dia gelisah sepanjang hari, ketakutan akan di bawa kembali kerumah ayahnya." Kata Charles.
"Aku akan segera pulang jika urusan di sini selesai, terus kabari aku." Kata Zac.
"Baik."
Kemudian telepon pun di tutup, ketika Zac memasukkan ponselnya dan berputar, ia terkejut Traver sudah berada di belakangnya.
"Kenapa kau di sini." Kata Zac.
"Maaf tuan, tapi saya mendapatkan laporan dari para pengawal jika pengawal dari Douglas memberikan ultimatum pada kita, untuk menyerahkan Gaby, apakah anda menyembunyikan Nona Gaby tanpa sepengetahuan kami semua Tuan." Tanya Traver.
Zac terdiam dan mengeratkan rahangnya.
"Tuan, jika anda memilih jalan yang berseberangan, anda tidak dapat menggunakan pasukan Haghwer." Traver memberikan peringatan pada Zac.
Bersambung~
__ADS_1