
Satu sisi, Zac sebenarnya menyukai Charles, karena gerakan Charles terampil, dia akan menjadi pasangan duet yang bisa mengimbangi kecepatannya saat di medan perang.
Namun, di sisi lain, Zac juga tak punya pilihan lain, ia akan langsung membunuh Charles jika ternyata Charles kembali pada Gia.
Tak berapa lama, telpon pun berdering.
Zac berdiri dan memencet tombol telefon yang ada di atas meja kerjanya.
"Tuan Zac, Nyonya Gia ada di dalam sambungan telefon." Kata Yaron.
"Sambungkan." Jawab Zac.
Zac melihat ke arah Charles, seolah memberitahu pada Charles jika prediksinya benar.
Charles pun juga mendengarnya dan ia terkejut bagaimana Zac begitu pintar.
"Halo Zac, ku dengar dari orang mu, kau sudah mengganti namamu." Kata Gia dari ujung sambungan telefon.
"Kabar menyebar dengan baik dan secepat virus." Kata Zac kemudian duduk di kursi kulitnya dan memutar-mutar kecil.
"Tapi, apakah pasukan barumu akan benar-benar setia padamu? Aku kasihan padamu." Kata Gia.
"Jika mereka tidak setia, aku sendiri yang akan memenggal kepala mereka." Kata Zac melihat ke arah Charles yang sudah mendekat dan ikut mendengar.
"Serahkan anakku, maka aku akan menyerahkan Moran dan mata-mata milikmu."
"Kakek Moran sudah berkhianat, bukankah dia sekarang ada di pihakmu." Kata Zac.
"Sayang sekali, nyatanya tidak, aku tahu kau tahu." Kata Gia.
Zac tersenyum sinis.
"Aku tidak tahu apa yang kau maskud." Kata Zac berbohong.
"Kita lakukan barter, di pulau Netral, tanpa senjata, tanpa ledakan, hanya tangan kosong." Kata Gia.
"Aku menolak."
"Kau tidak akan menyelamatkan Moran? Kalau begitu aku akan menghubungi anaknya. Aku tahu Gavriel akan bertindak jika ia tahu ayahnya di tahan. Akan menjadi masalah yang menarik untuk kalian jika ternyata Gavriel membawa anakku Gaby untuk melakukan Barter hahahah...."
"Pamanku tidak akan mengikuti perintahmu, dia sudah melepaskan diri dari Mafia." Kata Zac.
"Jadi kau tetap tak ingin kita bertukar? Kalau begitu aku benar-benar akan menyiksa Moran."
Zac masih diam dan berfikir.
"Baiklah kau tak akan goyah bukan? Bagaimana jika kau memdengar ini."
Gia kemudian mendekatkan ponselnya pada Moran.
"AAAARRGGGG TIDAAKKK!!! BRENGSEEKKK KALIAN SEMUAAA!!!! ZAAACC JANGAN TERPENGARUH!!! JANGAN SERAHKAN CUCUKU PADANYAA.... AKU HANYA PERCAYA PADAMU!!!! JAGA CUCU KU!!!" Teriak Moran.
Zac menggenggam erat tangannya, ia mengepalkan tangannya dan berfikir cukup keras.
"Tusuk lagi dengar besi panas." Perintah Gia.
"AAAARRGHHH!!! SIALAANNN!!!" Teriak Moran.
__ADS_1
Zac tak bergeming.
"Kau masih tak mau Zac?" Tanya Gia.
Zac diam.
"Kalau begitu aku akan mengaktifkan chip yang ada di lengan Gaby, kau tak tahu kan? Sejak Gaby kecil aku sudah menanamkan chip pada lengannya, aku akan menyiksa nya agar dia kesakitan. Kau tahu Zac, bahwa sebenarnya, aku selalu mengawasi anak itu, chip itu berguna sebagai gps, dan juga berguna menjadi alat penyiksa serta peledak."
Zac membulatkan matanya, dan segera ia berlari dengan membawa telfonnya ke kamar, Charles ikut berlari di belakang Zac.
Zac membuka pintu perlahan, dan terlihat Gaby masih tertidur, Zac berjalan pelan duduk di tepi ranjang, secara perlahan ia menyingkap sedikit selimut dari lengan Gaby lalu memeriksa lengan Gaby, memang terdapat jahitan kecil dan Zac sedikit membelainya.
Charles tak percaya Gia begitu kejam dan sangat tega pada anaknya sendiri, meski Charles tahu, bahwa Gia merencanakan penyingkiran Douglas, itu hal yang masih bisa di tolerir oleh Charles karena Douglas kejam, namun bagaimana dengan Gaby? Gaby adalah gadis yang tak tahu apapun.
"Sial! Brengsek!" Geram Charles kemudian menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar dan membenturkan kepala belakangnya.
"Gaby sudah ku anggap adikku sendiri." Kata Charles.
"Kau pasti sudah memeriksanya aku tidak pernah bohong." Kata Gia kemudian.
Zac tersadar dan kembali ke ruangannya bersama Charles.
"Bawa Gaby dan kita akan melakukan barter, di pulau Netral, pada pukul 6 pagi. Jangan sekali-kali mengoperasi lengan Gaby untuk mengambil chip tersebut, karena aku akan tahu, dan aku akan meledakkannya dari sini, kekuatan ledakan itu bisa membunuh satu ruangan, kalian yang ada di dalam ruangan akan mati termasuk Gaby." Kata Gia dan menutup teleponnya.
Charles melihat ke arah Zac ia ingin tahu apa yang akan Zac lakukan.
"Benar-benar keji, bahkan anaknya pun di jadikan tumbal." Kata Charles.
"Apa yang akan kita lakukan." Tanya Charles.
"Pertama-tama, aku harus memastikanmu dulu, keputusan apa yang akan kau ambil."
"Aku akan bersumpah padamu, aku akan setia padamu, dalam setiap keadaan, bahkan perang habis-habisan aku akan mendukungmu." Sahut Charles.
"Taruhannya, jika kau bekhianat?" Kata Zac.
"Nyawaku. Aku juga menganggap Gaby adalah adikku sendiri." Kata Charles mantap.
Zac mengangguk pelan.
"Nanti malam persiapkan semuanya kita butuh rencana, dan kita akan ke Pulau Netral, pagi-pagi buta."
Charles mengangguk pelan.
Di kamar Gaby, perlahan mata Gaby bergerak-gerak, telinganya samar-samar mendengar kicau burung yang saling bersahutan.
Setelah beberapa saat, Gaby akhirnya membuka mata, ia melihat ke atas langit-langit, lalu kesadarannya pun sedikit demi sedikit terkumpul.
Gaby sedikit menggerakkan tubuhnya hendak bangun, namun punggung dan pinggulnya begitu sakit, bagian sensitifnya juga masih terasa perih.
"Astaga..." Kata Gaby mengambil nafasnya yang berat.
"Dia... Benar-benar monster." Gaby menyangga tubuhnya menggunakan sikunya dan kemudian ia mencoba duduk.
"AAAA... Aaakkkk... Aaakkk....!!!" Gaby berulang kali meringis dan tak sanggup hanya sekedar untuk duduk.
Tak berapa lama, Zac masuk dan melihat Gaby yang kesulitan untuk duduk.
__ADS_1
Zac melangkah dengan cepat dan menyangga tubuh Gaby.
Namun, dengan cepat Gaby menepis bantuan Zac, seketika Gaby ambruk lagi di atas ranjang.
"Aaaauuuww...."
Zac kemudian pergi ke kamar mandi, dia mengambil sebuah panci steinless steil yang ada di kamar mandi dan membawa handuk kecil.
Dengan perlahan Zac menaruh panci berisi air hangat itu di atas meja dan hendak mengelap tubuh Gaby.
Perlahan Zac pun mengelap bagian dada Gaby.
"Kau sangat kasar dan kejam." Kata Gaby memalingkan pandangannya dari Zac.
Zac masih terampil mengelap tubuh Gaby dengan air hangat dan hanya diam.
"Dasar pembunuh!" Kata Gaby.
Sontak Zac berhenti dan melihat ke arah Gaby.
"Siapa yang suka memprovokasi." Kata Zac.
"Tapi itu faktanya, kau pembunuh dan aku sangat membencimu."
"Kalau begitu lap sendiri tubuhmu." Zac menaruh washlap itu di panci.
"Siapa yang sudah membuatku seperti ini, aku tidak bisa bergerak, dan seluruh tubuhku sakit! Kau amnesia!" Bentak Gaby.
"Lalu siapa yang terus menerus memprovokasi kemarahanku." Kata Zac mendekatkan wajahnya pada Gaby.
"Kau pembunuh tapi tak ingin di cap pembunuh? Apa kau menganggap dirimu suci." Kata Gaby menantang.
Zac semakin mendekat dan meremass bagian buah dada Gaby, dengan lembut namun juga sedikit tekanan.
Gaby menggigit bibirnya dan matanya tertutup satu merasakan tekanan nafssuu, dengan cepat kedua tangan Gaby mencengkram tangan kuat Zac.
"Aku sedang bersabar untuk tidak memakanmu, karena kondisimu belum kembali sehat, tapi ku pastikan kau harus menerima hukumannmu nanti." Kata Zac menghisap payudaraaa Gaby.
"Sssshhhhh.... Be... Berhentii...." Pinta Gaby meremass rambut Zac.
Kemudian Zac pun berhenti.
"Besok pagi, akan ada barter, antara kau dan kakek Moran, bersikap baiklah."
Gaby menyipitkan kedua matanya.
"Apa... Maksud dari ucapanmu..." Tanya Gaby.
"Kau akan bertemu ibumu untuk beberapa menit. Jangan berharap lebih karena aku tak akan menyerahkanmu begitu saja." Kata Zac.
Gaby tertegun.
Kemudian Zac pun pergi dari kamar tersebut.
Dalam pikiran Gaby, ini adalah kesempatan paling bagus untuk melarikan diri dari Zac si pembunuh ayahnya.
Bersambung~
__ADS_1