Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 171


__ADS_3

Pagi hari yang sibuk di apartmen Zac, saat itu Zac membangunkan Gaby yang masih belum keluar dari kamarnya, dengan menendangi pintu kamar Gaby.


"BRAAKKK!!!"


"BRAAAKK!!!"


"BRAAKKK!!!"


Tendangan Zac begitu keras di pintu kamar Gaby, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan dengan wajah datar, Zac terus menendang.


"Astaga... Siapa yang membuat kebisingan dan keributan pagi-pagi begini...!!"


"BRAAKK!!!"


"GEDUBRAKK!!!"


"Astaga... Bibi... Siapa yang membuat keributan, tolong suruh per....." Gaby seketika membuka matanya dan tersadar bahwa ia sekarang tidak lagi tinggal di rumahnya melainkan di apartmen milik atasannya, presdir diktator sekaligus presdir gila psychopath.


Gaby langsung membuka mata dan membenarkan rambutnya yang acak-acakan, setelah itu Gaby berdiri dan membuka pintu.


Terlihatlah sosok pria tinggi yang bersinar terang, meski masih memakai celana jogger panjang dan kaos berwarna putih polos, dengan menyedekapkan tangan.


Tentu saja tatapan itu tak bersahabat, mata yang sudah menyampaikan segalanya.


"Ma.. Maafkan saya Tuan Muda." Kata Gaby.


"Sayaa... Kesiangan ya..." Gaby mengerutkan kedua bahunya takut.


"Siapkan air, aku mau mandi, jangan lupa pakaian ku juga, sebentar lagi kita berangkat." Kata Zac.


"Ba... Baik Tuan Muda..." Gaby berjalan dengan menempelkan punggungnya di dinding pintu, karena Zac tak menggeser tubuhnya di tempatnya berdiri di depan pintu kamar Gaby dengan wajah dingin dan angkuh.


Dengan bergegas, Gaby pun naik ke atas dan menyiapkan air di bathup agar Zac dapat mandi.


"Astaga... Pagi-pagi begini apakah dia mau berendam..." Keluh Gaby.


"Dia punya tangan kenapa tak menyiapkan sendiri, kakinya juga sempurna kenapa hanya untuk menendangi pintu... Huh!!!"


"Kau sudah selesai mengumpatiku." Tiba-tiba suara Zac ada di belakang Gaby.


Mata Gaby melotot, dan kemudian ia berdiri membungkukkan punggungnya.


"Maafkan saya Tuan Muda, kadang mulut saya ini memang tidak tahu aturan." Kata Gaby.


Zac berjalan melewatinya, dan menyentuh air yang ada di bathup.


"Terlalu panas." Kata Zac.


"Benarkah?" Tanya Gaby menyentuhnya, dan kemudian menambah air.


"Silahkan Tuan Muda."


Zac kembali menyentuh dan mengukur suhu air.


"Ini terlalu dingin."


"Eee...Ehh...??!" Gaby meringis.


Setelah itu Gaby, membuang sedikit air dan menambah air panasnya lagi.


"Silahkan Tuan Muda, apakah sudah sesuai?" Tanya Gaby


"Aku jadi tak bersemangat berendam, suasana hatiku memburuk. Pergilah aku mau mandi memakai shower."

__ADS_1


Mulut Gaby langsung melongo besar, ia seperti tertimpa batu yang sangat besar di kepalanya, apalagi emosinya mendadak tinggi membuat kepulan asap seperti keluar dari ubun-ubunnya.


"Silahkan Tuan Muda..." Kata Gaby tersenyum dengan tidak tulus dan hanya memperlihatkan giginya.


"Jangan lupa siapkan pakaianku." Perintah Zac.


"Baik Tuan Muda...." Kata Gaby masih memperlihatkan giginya.


Setelah Gaby keluar dari kamar mandi, Zac tersenyum sinis.


"Asyik juga punya mainan baru... Siapa suruh membohongiku, acara keluarga? Dasar bodoh!" Kata Zac menghidupkan shower.


Setelah beberapa menit Zac mandi, ia pun keluar dengan hanya memakai handuk kimono.


"Mana pakaianku." Tanya Zac.


"Ini Tuan..."


"Aku tidak suka dasinya, cari yang warna gelap." Kata Zac.


"Tapi Tuan pakaian anda sudah gelap, mungkin akan lebih cocok dengan dasi berwarna terang." Kata Gaby.


Zac melihat ke arah Gaby dengan tatapan angkuh dan sinis.


"Ba... Baik Tuan... Anda suka warna gelap." Kata Gaby.


Setelah mencari, akhirnya Gaby menemukan dasinya.


"Yang ini Tuan?" Tanya Gaby.


"Mmm.. Berbalik." Perintah Zac.


"Apa?"


"Ti... Tidak... Tentu saja tidaak..." Kata Gaby langsung berbalik.


"Tapi Tuan... Saya bisa keluar dari sini."


"Tidak usah, terlalu lama, kau juga harus memakaikan dasinya." Perintah Zac dan memakai celana.


Suara-suara Zac ketika memakai baju terdengar jelas di telinga Gaby, ketika pria itu memasukkan kakinya ke dalam celana, ketika pria itu menaikkan risleting nya, lalu ketika pria itu memasukkan kemejanya ke dalam celana.


"Astaga pikiranku kemana-mana..." Kata Gaby dalam hati.


Begitupun Zac, entah mengapa ia sedikit berdebar ketika memakai baju di temani Gaby, meski gadis itu berbalik namun, ternyata membuat sedikit rangsangan pada bagian bawahnya.


Namun, itulah yang Zac inginkan, daripada ia memanggil banyak wanita untuk melatih miliknya berdiri, lebih baik memakai sekretarisnya sedikit demi sedikit.


"Ternyata obatnya cukup bekerja." Kata Zac.


"Ya Tuan?" Tanya Gaby.


"Sudah selesai pakaikan dasinya." Perintah Zac.


"Baik Tuan."


Gaby kemudian berbalik dengan menutup matanya.


"Kau mau debus? Kau bisa memasangkan dasi dengan menutup mata." Kata Zac.


"Ti... Tidak Tuan." Gaby menggelengkan kepala.


"Buka matamu!" Perintah Zac.

__ADS_1


Kemudian Gaby membuka mata, sebuah sinar terang seperti menyoroti matanya hingga seperti tak bisa melihat, itu adalah wajah yang sangat tampan dan bersinar, wajah yang begitu sempurna, membuat kedua tangan Gaby gemetar.


"Jangan jatuh cinta padaku, itu membosankan." Kata Zac dingin.


Gaby tersentak.


"Tidak! Saya tidak begitu."


Kemudian Zac menendang kursi kecil hingga kursi itu bergeser di depan Gaby.


"Naik." Perintah Zac.


"Ya?"


"Kau pendek, naik ke kursi itu dan pakaikan dasinya." Kata Zac membenarkan kancing lengannya.


"Ba.. Baik." Gaby menurut dan naik lalu mengalungkan dasinya pada leher Zac.


"Akui saja jika kau terpesona padaku, karena aku memang tampan, banyak wanita selalu ingin berada di posisi mu ini." Kata Zac.


"Tidak Tuan Muda... Saya tidak terpesona, sudah ada yang membuat saya terpesona di dunia ini." Kata Gaby.


"Siapa! Apa dia lebih tampan dariku." Tanya Zac dingin.


"Tentu saja."


"Tidak mungkin."


"Tampan itu kan relatif dari sudut mana wanita memandang dan menilai."


"Lalu siapa orang yang berani lebih tampan dariku." Tatapan Zac menusuk pada Gaby tak ingin tersaingi.


"Anu... Itu... Dia... Adalah... " Gaby kebingungan padahal dia awalnya hanya ingin mengalihkan perhatian Zac, agar pria itu tak menyadari jika dirinya memang terpesona.


Tapi, kali ini Gaby seolah sedang menggali kuburannya sendiri.


"Ayo katakan siapa yang lebih tampan dariku..." Kata Zac.


"Itu... Saya... Kira dia adalah Tuan Benjove Haghwer." Kata Gaby malu-malu.


"Ayahku?" Kata Zac heran.


"I... Iya..."


"Bhahahahahahha....Hahahhaha....!!!" Zac tertawa terbahak-bahak.


"Tuan saya harus memasangkan dasi tolong jangan bergerak."


"Apa kau Gerontofilia... Kau menyukai orang yang lebih tua, orang uzur? Pantas saja teman kencanmu tua, dia lebih seperti ayahmu !!!" Zac tertawa sinis.


"Saya pikir Tuan Ben belum pantas di sebut orang yang memiliki usia Tua. Dia terlihat masih muda. Saya mengaguminya sebagai sosok pria yang mapan dan sukses membangun karir dan perusahaan yang kokoh dan berdiri di atas dunia yang susah di takhlukkan."


Zac membuang nafasnya kasar.


"Pergilah! Aku akan menyelesaikan dasi ku sendiri." Kata Zac malas.


Gaby seketika terdiam, apakah ada kalimat yang salah dari dirinya, padahal ia hanya mengatakan sembarang saja, namun untuk Benjove Gaby memang mengagumi sosok itu, karena Benjove baginya adalah pria pekerja keras yang pantas di jadikan motivator.


Kemudian Gaby hendak pergi namun Zac mengatakan sesuatu.


"Jangan coba-coba merayunya, karena dia sudah beristri." Kata Zac.


Gaby mendelik tak percaya, Zac menilainya sejauh itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2