
"Lanjutkan penyelidikan." Kata Ben pada Traver.
Kemudian Ben melihat Dokter Wen di belakang Traver.
"Aku tidak perlu di periksa aku baik-baik saja." Kata Ben.
"Tapi... Tuan Ben, saya hanya akan melihatnya. Apakah lukanya sudah menutup dengan sempurna." Kata Wen.
"Tidak perlu, apalagi melihat tubuhku." Kata Ben bersikeras.
"Been... Hanya di pastikan saja, Dokter Wen tidak akan menyentuhmu." Kata Daisy melotot.
"Kau mengerikan jika menatapku seperti itu sayang." Kata Ben pasrah dan melepaskan jas perlahan.
Daisy kemudian membantu melepaskan jas milik Ben, dan Traver menerimanya.
Dokter Wen pun maju dan melihat Ben mulai membuka kemeja.
Setelah kemeja di lepas, Dokter Wen melihat luka yang ada di punggung Ben.
"Iya, memang hanya tertarik sedikit, semuanya baik-baik saja, tapi anda harus meminum obatnya secara teratur Tuan Ben." Kata Dokter Wen.
"Aku tahu, sekarang pulanglah." Perintah Ben dingin dan hendak memakai kemejanya lagi.
Dokter Wen pun undur diri.
"Traver perintahkan Mena untuk mengemasi barang-barangnya, dia ada misi."
"Ya Tuan?" Tanya Traver.
"Misi? Misi apa?" Tanya Daisy juga.
"Mengawasi Gia, Mena harus masuk ke dalam mansion milik Gia, dan menyamar menjadi pelayan. Berikan topeng kulit dengan wajah penyamaran." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Lanjut Traver dan undur diri.
"Tapi... Apakah tidak berbahaya?" Tanya Daisy.
"Mena pintar dalam menyamar, dia juga tangguh, Keluarga Scoot sedang terpuruk dan tidak memiliki cukup kekuatan, Mena bisa mengatasinya." Lanjut Ben.
Daisy mengangguk pelan.
Ben melihat Daisy yang sudah duduk di mejanya, dengan tatapan dalam.
"Kenapa?" Tanya Daisy.
Ben kemudian membuang kemeja putihnya ke lantai tidak jadi memakainya dan memegangi kedua paha Daisy.
"Sudah lama sekali. Bagaimana jika kau yang memimpin?" Tanya Ben membelai kedua paha Daisy dengan lembut.
"Apanya?" Tanya Daisy.
Perlahan tangan kekar dan berotot Ben menyingkap rok Daisy dan masuk lebih dalam, jempol nya memijit pelan bagian area sensitif milik Daisy.
Daisy berpegang pada bahu berotot Ben.
Perlahan demi perlahan, Ben memutari area sensitif Daisy dengan jempolnya, tangan yang lainnya meremas pantatt Daisy.
Daisy mencengkram bahu kekar milik Ben, dan menggigit bibir bawahnya.
Kemudian, Ben mencium bibir Daisy, menciumnya dengan dalam dan menghisapnya, hingga berbunyi kecupan yang sensual.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Daisy.
__ADS_1
Ben tersenyum kecil.
"Apanya yang tidak apa-apa?" Kata Ben kemudian membuka gesper dan risletingnya.
"Luka mu, aku takut lukamu akan terbuka."
"Aku lebih takut, benda besar ini tak bisa puas." Kata Ben sudah mengeluarkannya dari dalam celananya.
"Duduk di atasku." Perintah Ben dengan suara rendah dan serak.
Daisy menurut, dan turun dari meja, kemudian ia duduk di atas Ben.
"Jangan masukkan dulu, kau belum pemanasan, itu akan sakit." Kata Ben.
Kemudian Ben membuka pakain Daiay, dan merosotkan tali braa milik Daisy, lalu menyembullah kedua gunung kembar yang mulus dan putih milik Daisy, begitu naik dan menantang, berisi dan sintal.
Ben meraupnya dan meremaasnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, menghisap pelan dan kadang sedikit kasar.
"Ssshh... Nghhh...." Daisy meremas rambut dan kepala Ben.
Ben kemudian menarik underware milik Daisy kebawah, dan terlepaslah seluruh pakaian Daisy.
"Goyangkan dan gesekkan pelan..." Bisik Ben di telinga Daisy.
Bisikan Ben yang rendah dan sensual membuat gairahh dan dada Daisy berdesir, Ben masih selalu mendominasinya, selalu membuat Daisy tak berkutik di buatnya.
Ben terus menyesap dan menghisap payudara Daisy kedua tangannya pun berpindah di pinggul dan pantaat Daisy, meremas dan kadang memukul pelan.
"PLAAKKK!!!" Pukulan pelan pada panttat Daisy membuat Daisy semakin bersemangat.
"Beenn... Mhhgghh..."
"Masukkan sekarang pelan-pelan." Kata Ben memandu.
Butuh perjuangan karena ukuran Ben yang di luar normal, sedikit demi sedikit, dari ujung kepala dan akhirnya masuk setengah.
Tiba-tiba Ben menurunkan pinggul Daisy.
"ZLEEBB!!!" Daisy mendesis dan menengadahkan kepala.
"Sshhh.... Oohhhhh!!!" Desis Daisy.
"Ugh! Ini ketat sekali." Kata Ben meringis dan merasakan denyutan yang kuat pada benda miliknya.
"Sial..." Kata Ben memeluk tubuh ramping Daisy.
Ben benar-benar merasakan kenikmatan yang mencapai ubun-ubunnya ketika miliknya masuk dan terbenam dalam milik Daisy.
"Beeenn...." Panggil Daisy dengan suara mendesahh.
"Bergerak pelan." Perintah Ben, suaranya rendah dan seksi.
Kemudian Daisy mulai bergerak pelan.
"Oohhh.... Ngghhh.... Beennn..."
Keringat mulai membasahi tubuh mereka, rahang dan otot-otot Ben mulai muncul dan menonjol, sensasi kenikmatan yang terus menjalar di setiap bagian terkecil sel syaraf mereka.
"UGGHH..." Ben melenguh.
"Kau memakan dan menghisapnya dengan sangat baik sayang..." Kata Ben mencium bibir Daisy dengan rakus.
"Bergerak lebih cepat. Goyangkan pinggulmu sayang." Perintah Ben.
__ADS_1
Daisy kemudian bergerak lebih cepat, tubuhnya berguncang, payudarannya naik dan turun, Ben mencium bibir dan meremas serta menghisap secara bergantian.
"Bennn... Aahh... Benn.... Ooohh.... !!!" Daisy merasakan kejang di seluruh tubuhnya, kenikmatan yang menyetrum tubuhnya hingga ia memeluk kepala Ben dengan sangat erat dan mengapitkan miliknya lebih dalam lagi.
Tubuh Daisy tersentak-sentak berulang kali, Ben menciumi Daisy yang berkeringat.
Kemudian Ben menaruh Daisy di atas meja, Ben bergerak pelan, aktifitas dan gerakannya terbatas karena luka di punggungnya.
Namun, bagi Daisy gerakan Ben masih sangat liar, dorongan yang berulang ulang begitu keras dan cepat membuat Daisy kembali mengejang.
"Ohhhh!!!" Tubuh Daisy mengejang layaknya tersetrum.
Sedangkan Ben mendenguskan nafasnya seperti banteng yang memiliki amarah, keringatnya mengucur deras otot-ototnya bekerja.
Ben kemudian sampai pada puncak dan mendorongnya kuat untuk masuk, menyentak-nyentak bagian miliknya pada bagian milik Daisy.
"UGGHH!!!" Ben melenguh dan mencium kening sang istri lalu menghapus keringat yang membanjir di pelipis Daisy.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Daisy lemas.
Ben tersenyum kecil.
"Mau satu putaran lagi?" Suara Ben rendah.
Daisy seketika melotot dan menggelengkan kepala.
"Cukup untuk hari ini, aku sudah lelah." Kata Daisy.
Ben menggelengkan kepala dan melihat ke bawah menunjukkan bahwa miliknya masih berdiri sempurna.
"Ayo kita pindah ke kamar." Ajak Ben.
Daisy menutup wajahnya dengan telapak tangannya, dan ia tahu ini tidak akan berakhir dengan cepat.
******
Di mansion milik Gavriel, Zay sudah mondar-mandir tidak tenang bersama dokter-dokter yang sudah berjajar menunggu kepulangan Gavriel.
Tak berapa lama helikopter sampai di atas. Zay melihat dan mendengarkan baik-baik dengan cepat Zay berlari menuju atap.
Angin begitu besar akibat pusaran baling-baling helikopter, Gavriel melihat Zay yang sudah menunggunya tanpa memakai mantel, hanya memakai hotpant dan juga kemeja putih.
"Matikan mesin." Perintah Gavriel karena angin menyingkap pakaian Zay.
Kemudian Gavriel turun.
Melihat pelipis Gavriel di penuhi darah, bajunya yang berwarna putih juga seperti tersiram darah, kaki Zay oleng dan seakan lemas.
Segera Gavriel maju dan menangkap Zay untuk menenangkan Zay.
"Aku tidak akan mengijinkamu lagi untuk menjadi mafia, cukup menjadi dokter yang setiap hari menjaga kesehatanku." Pinta Zay.
Gavriel tersenyum.
Semua dokter sudah bergegas menyiapkan ruangan perawatan bagi Gavriel.
Kemudian Gavriel berjalan, diiringi Zay.
"Berjanjilah, kau akan fokus menjadi dokter, tidak boleh bergabung dengan mafia lagi." Pinta Zay lagi ketika mereka berjalan bersama
"Nanti kita bicarakan lagi. Kenapa kau keluar tanpa memakai pakaian tertutup." Kata Gavriel tersenyum dan membelai kepala Zay, lalu Gavriel melepaskan mantelnya dan memakaikan pada Zay.
Bersambung~
__ADS_1