
Pesawat telah mendarat di bandara AS. Gaby pun juga telah sampai di Apartmen milik Zac. Saat itu Casey yang menjaga apartmen.
Ketika Gaby hendak masuk lift, Casey menahan Gaby.
"Nona, anda tidak dapat naik." Kata Casey.
"Kenapa? Saya bekerja dengan Tuan Muda Zac, saya sekretaris pribadinya."
"Saya tahu, dan saya juga mengetahui jika anda adalah anak dari Tuan Douglas dan..." Casey tak melanjutkan kalimatnya, Casey masih tidak bisa menyebutkan Gia dengan panggilan Nyonya.
"Kenapa tidak melanjutkannya, anda pasti tahu kan nama ibu saya."
Casey terdiam.
"Saya akan masuk, Tuan Zac ada di dalam kan." Kata Gaby.
"Tidak Nona Gaby, saya tidak akan membiarkan anda masuk."
Tak berapa lama pintu lift terbuka dan Zac berdiri di dalam nya, mata mereka akhirnya saling bertemu dan memandang. Namun Zac segera mengalihkan matanya melihat ke arah lain.
Zac tak memasang wajah apapun, dia melihat Gaby tanpa ekspresi, dan melewati Gaby tanpa kesan ramah.
"Tuan Muda... Saya kembali." Kata Gaby.
Zac keluar dari lift dengan tenang, kedua tangannya ada di dalam saku celana.
"Ikut denganku." Kata Zac.
"Tuan Zac... Jangan lupa dengan janji anda pada Nyonya Daisy!" Teriak Casey.
"Aku tidak lupa, dan jangan pernah mendikteku." Kata Zac melihat dengan tatapan dingin pada Casey.
Tanpa ragu dan tanpa rasa penasaran sedikitpun atau sekalipun curiga, Gaby mengikuti Zac. Gaby berpikir itu pasti tentang pekerjaannya sebagai sekretaris ataupun tentang pembicaraan Zac malam itu yang terpotong.
Gaby terlalu percaya bahwa Zac masih Zac yang dulu.
Zac duduk di dekat taman, dan diikuti Gaby yang masih berdiri.
"Duduk." Perintah Zac mengisyaratkan dengan matanya agar Gaby duduk di hadapannya.
Gaby kemudian duduk sesuai perintah, mereka pun hanya tersekat oleh meja bundar yang kecil.
"Kau kembali?" Tanya Zac datar tanpa ekspresi dan tanpa melihat Gaby, Zac memilih membuang matanya ke arah lain.
"Ya Tuan, saya kembali, saya akan mengabdikan diri saya untuk anda." Kata Gaby.
"Apa keluargamu tak melarangmu." Kata Zac masih tak memandang Gaby.
Gaby menundukkan kepalanya, dan hanya diam.
__ADS_1
"Ternyata keluargamu melarangmu." Kata Zac.
"Tapi saya sudah bertekad Tuan Muda, saya juga telah menegaskan pada ayah saya jika saya ingin tetap bekerja dengan anda, lalu saya... Saya... Juga mungkin..." Gaby hendak mengakui perasaannya.
"Tuan Muda... Saya mengagumi anda...Saya..."
"Pulanglah. Aku sudah tak tertarik." Zac mengatakan penolakannya dengan sedingin es sembari berdiri.
Gaby termenung, kedua matanya membulat penuh, jantungnya berdegup tak karuan, ada rasa menyayat di dalam dadanya, sebuah kalimat yang begitu menyakitkan yang mudah di ucapkan oleh Zac sedang dirinya sudah berjuang untuk datang.
Zac kemudian hendak pergi.
"Jadi anda tidak ingin melihat saya lagi?" Tanya Gaby kemudian.
Zac berhenti.
"Bisa kah anda menatap saya dan katakan pada saya jika anda tidak ingin melihat saya lagi." Kata Gaby.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main." Zac kembali melangkahkan kakinya.
Namun, Gaby seketika berdiri dan mengejar Zac, kemudian Gaby berdiri di hadapan Zac lalu mencegat Zac.
Dengan mendongakkan kepalanya melihat ke wajah Zac, Gaby pun mencengkram kedua lengan jas milik Zac.
"Lihat mata saya, dan katakan bahwa anda tak ingin melihat saya lagi, dari pertama saya datang, anda bahkan berbicara tanpa melihat saya."
Dengan tangan kekarnya dan masih tak melihat Gaby, pandangan mata nya masih tertuju ke arah depan Zac melepaskan cengkraman kedua tangan Gaby.
"Enyah." Kata Zac dingin dan akhirnya kedua matanya melihat pada Gaby dengan tatapan kejam.
Rahang Zac menekan dan saling bergerak, Zac berjalan meninggalkan Gaby, dengan kasar kemudian Zac menendang tong sampah yang terbuat dari stainlees steil.
"BRAAAKKK!!!"
Gaby yang masih termangu dan mematung, tubuhnya terkejut, karena suara yang mengagetkan nya. Kedua bahu Gaby terangkat naik.
Air mata Gaby mengalir tak terbendung, hatinya sakit, lututnya terasa lemas, dan kemudian Gaby ambruk di atas lantai tak berdaya.
Mata Gaby kemudian tertuju pada jendela besar yang memanjang, memperlihatkan iring-iringan mobil berjalan membawa Zac pergi.
Tak berapa lama seorang pengawal apartmen mendatangi Gaby.
"Nona lantainya kotor, kenapa anda menangis di sini, apakah ada yang bisa saya bantu." Kata pengawal itu.
Gaby kemudian menghapus air matanya.
"Apakah anda tahu dimana Tuan Ben di rawat?" Tanya Gaby.
"Tuan Ben ada di Rumah sakit keluarga, rumah sakit Haghwer, tidak jauh dari sini, tapi anda harus menaiki bis... Karena jika berjalan kaki, itu akan membuat anda lelah." Kata Pengawal tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih banyak." Kata Gaby.
"Apa anda akan naik bis Nona? Akan saya pesankan atau kami bisa mengantar anda."
"Tidak apa-apa, tidak perlu, saya akan jalan kaki." Kata Gaby sembari berdiri.
"Tapi Nona, jika anda berjalan kaki, itu akan membuat anda lelah, hari ini cuaca sangat panas."
"Jangan khawatir, terimakasih untuk informasinya." Gaby tersenyum dan kemudian pergi.
Pengawal itu adalah pengawal yang sudah sering melihat Gaby sebagai sekretaris pribadi Zac, namun pengawal tersebut tak mengetahui tentang pertengkaran antara Zac serta Gaby.
Gaby akhirnya memilih berjalan, karena uang yang ia bawa tak banyak, setidaknya Gaby juga harus mencari tempat tinggal karena ternyata Zac sudah memilih keputusan yang tak terduga, Gaby tak pernah bisa membaca apa yang akan Zac lakukan.
Sudah lebih dari 30 menit, Gaby pun sampai di depan Rumah sakit Haghwer, nafas Gaby seakan akan mau putus, keringat mengucur banyak, kakinya kram, dan perutnya juga lapar. Siang itu matahari yang panas dan begitu terik sangat membakar dan menyengat.
Namun, Gaby bertekad ingin menemui Benjove.
Hingga tertatih Gaby hendak masuk ke dalam Rumah sakit dan bertanya pada resepsionis, namun Gaby tertahan oleh para pengawal yang berjaga.
"Ada keperluan apa?" Tanya seorang pengawal yang berbaju serba hitam sangay garang.
"Saya ingin menjenguk Tuan Ben." Kata Gaby.
"Anda siapa."
"Sa... Saya Adalah Gaby, saya sekretaris pribadi Tuan Muda Zac."
"Tidak lagi!" Sebuah suara datang dari dalam dengan begitu lantang.
Gaby kemudian memutar tubuhnya dan melihat itu adalah seseorang yang ia kenal, Daisy ibu dari Zac.
Daisy berjalan perlahan, raut wajah Daisy begitu pucat, lingkaran hitam ada di kedua matanya, serta kantung mata Daisy sedikit membengkak karena terlalu banyak menangis.
Dengan membenarkan syal besarnya, Daisy kini sudah berhadapan dengan Gaby.
"Untuk apa kau di sini." Kata Daisy.
"Sa... Saya ingin menjenguk Tuan Ben... Saya merasa sangat kasihan pada Tuan Ben."
"Aku tidak perlu rasa kasihanmu!" Kata Daisy.
"Jika kau benar-benar kasihan pada suamiku, bisa kah kau menghidupkannya lagi! Membuatnya sehat lagi!!!" Kata Daisy emosi.
"Maafkan saya, saya tidak tahu jika Jhonder...."
"Ayahmu lah yang menyuruhnya untuk menembak suamiku, jadi kenapa kau tidak pergi saja dari sini!!"
Bersambung
__ADS_1