Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 216


__ADS_3

Negara K


Rombongan Benjove Haghwer tiba di mansion, iring-iringan mobil bersenjata pun menepi dan mobil utama yang di naiki Ben berhenti.


Mansion yang berdiri di atas lahan berhektar-hektar sangat luas itu membuat Zay mendongakkan kepala.


Zay memandangi setiap bagian dan sisi Mansion yang tidak berubah. Ada banyak kenangan, namun kenangan yang menyedihkan.


Gavriel kemudian menepuk bahu Zay dan meremass lembut.


"Kenapa?" Tanya Gavriel mulai mendekati Zay dan mengakrabkan diri.


"Semuanya hanya ada air mata di sini, tak ada kenangan apapun yang menyenangkan." Kata Zay.


"Kau mau melihat kenangan yang menyenangkan?" Tanya Derreck, yang tiba-tiba menimbrung.


"Tidak ada yang seperti itu. Seingatku semua hanya kenangan buruk di sini, bahkan hanya banyak tangisan." Kata Zay mengingat dirinya di masa lalu.


"Kau masih sangat kecil, jadi kau tidak akan ingat dan tidak tahu. Ayo!" Ajak Derreck menarik pergelangan tangan Zay.


Zay pun meninggalkan Gavriel sendirian.


"Lebih aktif lagi Tuan Gavriel." Kata Traver sambil berjalan dan ikut masuk.


Gavriel tersenyum kecil dan merasa bodoh, Gavriel pun mengikuti Traver.


"Berapa lama aku membujang sampai tidak tahu bagaimana cara mendekati wanita." Gavriel menggelengkan kepala dan menertawai dirinya sendiri.


Gavriel tidak mau di hina begitu saja oleh Traver yang menurutnya adalah pria kaku yang sangat dingin.


"Kau pikir kau sendiri pintar mendekati wanita?" Balas Gavriel pada Traver yang sudah berdiri di dekat kamar Ben.


Traver kemudian memperlihatkan sebuah cincin hitam pekat yang melingkar di jari manisnya, lalu menunjuk ke arah Casey yang sedang sibuk memberikan instruksi pada para perawat dimana kamar-kamar mereka.


Gavriel melihat cincin hitam pekat pula di jari manis Casey.


"Sialan kau Traver. Ternyata pria diam kaku dan dingin jauh lebih mengejutkan." Kata Gavriel tak percaya dengan kecepatan Traver yang bahkan sudah memiliki kekasih.


"Sejak kapan?" Tanya Gavriel.


"Saya sudah mengenalnya sebelum bergabung dengan Tuan Ben, kami bertemu dengan dramatis, saya gelandangan cilik, dan dia anak dari orang kaya yang menjahili saya, kisah kami bagaikan air dan api, hingga di pertemukan lagi ketika remaja, dan kami sama-sama menjadi melunak, namun hubungan kami yang belum sempat berkembang, tidak dapat dilanjutkan karena saat itu Tuan Ben dan Tuan Derreck seperti kucing dan tikus, kami baru bisa melanjutkan hubungan kami sedikit demi sedikit ketika Tuan Ben dan Nyonya Daisy menikah."


Gavriel yang mendengar ternga-nga. Baru kali ini Traver yang tak banyak bicara begitu semangat menceritakan kisah hidupnya.


"Jadi, siapa saja yang tahu hubungan kalian." Tanya Gavriel.


"Hanya anda, dan saya berani bercerita pada anda karena anda adalah dokter, anggap saja saya pasien anda, dan anda sudah di sumpah untuk merahasiakan privasi pasien anda." Kata Traver dengan wajah datar.


Gavriel mengangguk pelan, otaknya mendadak kosong, dan merasa tertekan, bagaimana pria yang sedingin es bisa selangkah lebih maju dari dirinya, pria yang tak banyak bicara dan tahunya hanya memenggal kepala serta menyiksa orang ternyata malah lebih terampil berhubungan dengan wanita.


"Baiklah, aku akan merahasiakannya, tapi kau harus mendukungku." Kata Gavriel.

__ADS_1


"Tidak ada keuntungannya untuk saya."


"Rahasiamu ada di tanganku."


"Anda dokter dan saya pasien anda seharusnya menjaga privasi saya."


"Kau tidak sakit."


"Saya curhat pada anda."


Gavriel berhenti berdebat karena ia tahu tak akan menang.


"Baiklah." Kata Gavriel hendak pergi.


"Saya akan mendukung anda." Kata Traver tiba-tiba.


Gavriel pun tersenyum dan menonjok bahu Traver.


"Tuan... Gavriel..." Kata Traver memberikan kode mata pada Gavriel, bahwa ada seseorang di belakang Gavriel.


Kemudian Gavriel memutar tubuhnya dan melihat ke belakang.


"Zay..." Kata Gavriel.


"Aku mau ke ruangan ayah, tapi tiba-tiba paman Derreck ada urusan di kantor, katanya mendesak, kau mau menemaniku di sana? Kau juga Traver, aku masih canggung di mansion ini." Ajak Zay.


"Tidak Nona Zay, saya harus tetap berjaga di sini, Nyonya Daisy sedang sibuk di dalam mengurus Tuan Ben bersama para perawat Casey dan juga Mena, saya harus di sini untuk berjaga-jaga jika Tuan Ben dan Nyonya membutuhkan saya." Kata Traver.


Kemudian Gavriel dan Zay berjalan beriringan menuju ruang baca. Jalan koridor ke ruang baca cukup panjang dan lengang, mereka hanya berjalan tanpa mengatakan apapun.


Kemudian sampailah mereka di ruangan baca yang luas dan begitu banyak buku.


"Dimana tadi paman Derreck mengatakannya ya..." Kata Zay melihat-lihat.


"Aahh itu dia...!!" Pekik Zay.


Zay berjinjit ke atas meraih sebuah buku besar yang tersimpan rapi di deretan rak paling atas.


Namun, tangan Zay masih saja tak sampai menggapainya, Gavriel hanya diam memandangi dan memperhatikan, hingga akhirnya kaki Zay yang berjinjit pun terasa kram dan hendak jatuh.


Gavriel dengan cepat menangkap Zay dan memeluknya dari belakang.


"Kau baik-baik saja?"


Zay memandang ke wajah Gavriel dan kemudian Zay berdiri dengan tegak, ia melepaskan diri dari pelukan Gavriel.


"Mau ambil yang mana?" Tanya Gavriel.


"Itu... Warna putih. Kata paman Derreck itu album foto ketika aku masih bayi."


"Aaah..." Gavriel tersenyum, dan mengambilnya.

__ADS_1


Gavriel yang memiliki tubuh tinggi tak memiliki masalah, dan langsung menjumputnya dengan jari, lalu mengambil buku album yang tebal itu dengan tangan besarnya.


Zay melihat jari-jari panjang Gavriel yang berotot dan ramping.


"Ada beberapa album yang harus diambil." Kata Zay.


"Itu... Berderet semua, bisa kah sekalian?" Tanya Zay.


Kemudian Gavriel mengambil beberapa buku album yang berderet dan membawanya ke meja.


Gavriel dan Zay kemudian duduk di meja yang panjang, mereka duduk bersebelahan.


Zay tidak sabar ingin membuka foto album tersebut.


Kemudian salah satu buku album yang besar dan berat akhirnya di buka sampulnya oleh Zay.


Itu adalah foto-foto saat Ben dan Daisy menikah, banyak sekali kegembiraan terlukis dan terpancar hanya dengan melihat dari wajah-wajah di foto-foto itu.


"Ini kakek dan nenek..." Kata Zay membelai foto-foto mereka.


"Kau tidak ingin mengunjungi mereka?" Tanya Gavriel.


Zay menggelengkan kepala, ku dengar mereka sedang menikmati hidup tenang mereka di pulau Lotus milik Paman Derreck, jadi kami tidak ada yang berani menganggu mereka."


"Tapi, jika mereka kembali dan mengetahui kebenaran Ben tertembak, Zac keluar dari Marga Haghwer mereka pasti akan marah besar."


Zay menarik nafasnya dan membuangnya pelan.


"Yaaa... Begitulah, mereka pasti akan murka." Kata Zay.


Kemudian Zay berpindah melihat ke buku album satunya lagi yang begitu tebal, lebih tebal dari buku album yang lainnya.


Ketika itu, jemari lentik Zay yang memiliki kulit putih dengan kuku-kuku merah muda bening nan cantik mengkilap, membuka sampulnya yang tebal.


Foto paling depan adalah dua sosok malaikat kecil yang menggemaskan, itu adalah foto paling besar hampir satu lembar sampul.


Kemudian Zay membuka kembali, terlihat foto Daisy yang masih terbaring lemah menggendong salah satu bayi, di sampingnya adalah Ben yang menggendong bayi pula.


"Aku dan Zac yang mana?" Tanya Zay.


"Ibumu menggendong Zac, dan ayahmu menggendong dirimu." Kata Gavriel.


Kemudian Zay membuka lagi lembaran berikutnya, terpampang deretan para dokter dan perawat yang membantu kelahiran Daisy.


"Kenapa paman Gavriel tidak ada..." Kata Zay melihat ke arah Gavriel.


Sontak Gavriel terkejut dengan tatapan polos Zay, padanya.


"Jangan panggil paman..." Sahut Gavriel.


Wajah mereka cukup dekat, dan mata mereka saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2