Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 188


__ADS_3

"Tapi... Apakah ibu mencintai ayah?" Tanya Gaby.


"Cinta ya... ?" Gia kemudian mengingat-ingat lagi.


Gia terdiam dalam pikiran dan ingatannya, otaknya kembali ke masa lalu.


Keputusan pernikahan itu, awalnya di dasari oleh amarah, dan kebencian, serta kekecewaannya yang melihat istri dari Benjove. Gia merasa sangat terhina dan merasa menjadi wanita rendahan karena begitu udik, buluk, dan sangat kotor, dalam hatinya, ia juga ingin tampil cantik dan juga memiliki pakaian yang bagus.


Gia memang memiliki niat yang tidak tulus ketika meminta menjadi istri dari Douglas.


"Ibu mencintainya karena ada kamu..." Kata Gia tersenyum sendu.


"Jadi... Apakah ibu tidak mencintai ayah? Lalu apakah ayah mencintai ibu?"


"Tentang itu... Ibu tidak bisa memastikan, apakah ibu benar-benar mencintainya, dan apakah ayahmu mencintai ibu, tapi yang pasti ada nya dirimu adalah hal yang paling indah di hidup ibu." Kata Gia membelai kepala anaknya.


"Jadi Gaby... Ibu mohon, turutilah ayahmu, ibu tidak ingin terjadi sesuatu padamu, hanya kau lah dunia ibu, jika tidak ada dirimu, lebih baik ibu mati."


"Ibu!!!" Teriak Gaby dan memeluk ibunya.


"Jangan katakan hal mengerikan itu lagi..." Pinta Gaby pada ibunya.


Gia memeluk anaknya dan kemudian mencium kening sang anak.


"Aku akan lakukan semua kemauan ayah, asal ibu tidak mengatakan hal mengerikan seperti tadi..."


Gaby tak bisa lagi menolak, ia tidak ingin ibunya melakukan hal nekat, ini adalah pertama kalinya Gaby melanggar perintah sang ayah, dan ia tahu kemarahan ayahnya pada sang ibu.


"Kalau begitu tidur dan beristirahatlah. Besok akan menjadi hari yang panjang untuk kita."


Gaby mengangguk sedangkan Gia pun keluar dari kamar Gaby.


Ketika Gia menutup pintu kamar Gaby, dan hendak pergi suara rendah yang paling Gia kenal membuatnya terkejut.


"Jadi, siapa laki-laki itu..."


Gia perlahan menoleh, itu adalah suaminya. Tatapan mata itu, begitu dalam dan tajam, menusuk hingga menyakitkan hatinya, luka codet si wajahnya menambah ngeri pandangan suaminya.


"Jadi, kau menjadikan ku pelampiasan, dan kau menikah dengan ku hanya untuk harta? Selama ini kau menyembunyikannya dengan baik." Lanjut Douglas lagi.


Gia masih tertegun, ia akhirnya sadar, suaminya mendengarkan dari awal hingga akhir, dan Gia juga sadar ia tak bisa lagi mencari alasan.


"Kau tidak mau menjawabnya." Kata Douglas.


Tubuh Gia mulai gemetar. Melihat itu, Douglas teetsenyum sinis.


"Jadi, selama ini kau takut dengan wajahku dan jijik melihat diriku." Lanjut Douglas menatap nanar pada Gia.

__ADS_1


"Tidaakk... Kau salah paham, kau hanya mendengar setengah dari kisah hidupku..."


"Apalagi yang masih belum ku dengar? Bahwa selama kau menikah denganku kau tidak pernah bahagia?" Kata Douglas.


"Bukan begitu...."


"Jadi Gia... Sekarang aku akan perlihatkan padamu Gia, apa itu ketakutan, dan kau akan merasakan kehidupan yang mengerikan."


Douglas pun menarik tangan Gia dengan erat, membuat Gia tersentak.


Langkah kaki Douglas panjang, membuat Gia kwalahan.


Sesampainya di dalam kamar, Douglas melemparkan Gia hingga terjerembab di atas ranjang.


"Jadi selama ini kau tidak pernah melihatku Gia... Aku penasaran mengapa kau menutup mata setiap kita berhubungan, ternyata permasalahannya adalah luka ini... Luka di wajah ini.... Benarkan, menjijikkan bukan?!!!" Douglas menunjuk pada lukanya sembari berteriak di depan Gia.


Gia menggelengkan kepala, air matanya mengalir melihat suaminya merajam kalimat-kalimat yang kasar dan bentakan keras.


Douglas kemudian maju dan berada di atas Gia.


"Katakan padaku siapa pria itu!" Geram Douglas sembari mencengkram dagu Gia.


Gia masih terdiam, mulutnya tertutup rapat.


Douglas kemudian mendekat di wajah Gia, seolah ingin memperlihatkan wajahnya yang mengerikan.


Gia menangis sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau akan tetap membisu?" Tanya Douglas dengan penekanan.


Kemudian Douglas menggigit bahu Gia, sebuah gigitan lembut, membuat Gia menutup mulutnya karena itu membuatnya sedikit membangkitkan gairahhnya.


Namun, di luar dugaan, tiba-tiba gigitan yang keras itu berubah menjadi gigitan yang keras membuat Gia tersentak matanya yang awalnya menutup seketika terbuka lebar dan membuat gigi Gia menggeretak karena menahan sakit dan ngilu.


"Lihat wajahku Gia." Kata Douglas berhenti menggigit dan menatap tajam Gia.


"Katakan siapa pria itu...." Suara geram dan rendah membuat Douglas terlihat seperti harimau yang sedang marah.


"Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya, aku akan membuatmu mengatakannya sendiri. Kita lihat apakah kau mampu menahannya dengan semua amarahku padamu."


Douglas kemudian merobek pakaian istrinya, pria itu melucuti pakaian Gia dengan sangat kasar dan membuangnya, kemudian Douglas memutar tubuh Gia dan menjambak rambut panjang Gia, sehingga kepala Gia menengadah ke atas. Gia menangis dan merasa di lecehkaan.


"Katakan atau siksaanmu akan terus belanjut." Bisik Douglas.


"Itu sudah sangat lama... Bisakah kita tinggalkan masa lalu..."


"Aku tidak mengijinkannya, karena masa lalu itu juga berkaitan denganku, karena dia lah kau memilihku menjadi pelampiasanmu."

__ADS_1


Douglas kemudian melepaskan jambakannya, dan membuka pakaiannya dengan kasar, membuangnya dengan amarah luka-luka di tubuh Douglas terlihat mengerikan, begitu banyak keloid yang timbul dan luka berantakan seperti tercacah oleh senjata tajam.


"Kau juga pasti takut melihat tubuhku yang di penuhi luka bukan.... Kau pasti jijika padaku!!!" Kata Douglas.


Kini Douglas menarik kaki Gia dengan kasar, memegang leher Gia yang kecil, hanya dengan satu telapak tangan saja leher Gia sudah masuk dalam cengkraman tangan Douglas.


Dengan kasar dan memaksa, Douglas membuka lebar paha Gia, dengan kasar pula Douglas memasukkan miliknya, sembari masih terus mencekik leher Gia.


Wajah Gia semakin memerah karena terus menerus menangis.


Hantaman demi hantaman kasar dan sentakan kasar membuat Gia kesakitan, rasa panas dan perih menjalar di bagian sensitifnya, namun juga merasakan sedikit getaran aneh dalam tubuhnya, itu adalah setruman-setruman kenikmatan yang sedikit demi sedikit menjalar.


"Kau masih membisu..." Kata Douglas memutar tubuh Gia, agar Gia menungging.


"PLLAAKKK!!!" Douglas memukul bagian pantaat Gia dengan kasar.


"PLAAKKK!!!"


"PLAAAKKK!!!"


Berulang kali hingga bagian pantaat Gia memerah, Douglas dengan kasar memasukkan lagi dan langsung mendorong dengan hentakan yang kasar, sembari menjambak dan mencekik Gia dari belakang.


"Katakan Gia... Mmmmhh... Katakaann... Nghhh..." Kata Douglas mulai merasakan kenikmatan yang membara di sekujur tubuhnya. Peluh keringat mulai membasahai tubuhnya yang telanjangg.


Melihat Gia masih teguh pada pendiriannya, Douglas kemudian menggigit bahu Gia dari belakang dan meremass payudaarraa Gia dengan sangat kasaar kuat.


"Saakiitt..." Kata Gia menangis.


Beberapa jam berlalu, dan belum juga Douglas selesai menyiksa Gia. Tak sampai di situ Douglas menyiksa Gia terus menerus, hingga tubuh Gia lemas dan tak berdaya dengan kekuatan Douglas.


Namun, akhirnya Gia tak bisa lagi bertahan. Seluruh tubuhnya sakit, bagian sensitifnya juga terasa perih dan panas.


Amarah Douglas kian memuncak tatkala sebuah nama akhirnya keluar dari mulut Gia. Ketika tubuh Gia penuh peluh keringat dan tanda gigitan serta bekas cupaangg milik Douglas.


Saat itu Douglas sedang pada posisi di atas Gia. Kedua kaki Gia berada di atas bahunya.


Tubuh Gia sudah tak kuat lagi menahannya. Sebuah nama pun lolos.


"Benn...." Kata Gia lirih.


Kedua alis Douglas mengerut.


"Katakan lagi..." Perintah Douglas.


"Bennn... Benjovee... Haghwer...." Kata Gia dengan lemas, matanya tak bisa lagi terbuka, tubuhnya tak kuat lagi menerima siksaan dari Douglas.


Wajah Douglas seketika merah, urat-urat wajahnya menonjol, hingga wajahnya yang penuh codet terlihat sangat mengerikan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2