Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 243


__ADS_3

Gavriel kemudian tertawa kecil.


"Apa yang kau bicarakan. Zay ada di sini karena dia sangat marah pada Zac, dia masih tidak mau pulang, sudah berulang kali ku bujuk. Katanya dia marah, kenapa Zac harus melepaskan marga Haghwer." Kata Gavriel.


"Apapun alasannya... Gavriel... Cepatlah menikah dan cari pasangan." Pinta Daisy menatap tajam pada Gavriel.


Gavriel tersenyum kecut dan canggung.


"Apa maksud ucapanmu." Mata Gavriel.


"Jujur saja, ikatan batin seorang ibu itu sangat kuat, aku hanya risih kau ada di sekitar Zay. Melihat watak anakku yang menyukai pria lebih tua, aku merasa cemas." Kata Daisy membidik Gavriel dengan tatapannya yang tajam.


"Ibu... Ada apa." Tanya Zay yang sudah datang.


Saat itu Zay sudah menggunakan alas bedak untuk menutupi bekas cupaang yang di buat oleh Gavriel.


"Ayo pulang Zay, kau harus pulang, karena akan ada pertemuan nanti malam."


"Dengan siapa?" Tanya Zay.


"Teman ayahmu katanya akan datang." Kata Daisy.


"Lalu bagaimana Zac, apa dia akan ikut?"


"Kali ini jangan banyak bertanya tentang Zac, kau juga harus ingat apa yang sudah terjadi semua nya, kau harus menjadi penurut agar semua tak terulang kembali, jika kau merasa bersalah dan menyesal jangan membangkang dan turuti ayah serta ibumu. Ayahmu masih terluka karena insiden waktu itu, jadi berubahlah menjadi dewasa Zay." Kata Daisy.


"Ohya, untuk Gavriel, kau juga harus menginap di mansion, Ben tak mau di periksa siapapun." Kata Daisy.


Gavriel mengangguk.


"Cepat kemasi barang-barangmu, kita pergi sekarang." Ajak Daisy dengan tegas.


"Iya." Jawab Zay yang merasa aneh dan sedih, ia tahu ia salah, ia tahu ia telah membuat kekacauan tentang kisah percintaannya dengan Carlos lalu membuat ayahnya terluka, namun Zay menjadi murung, mengapa ibunya tiba-tiba terlihat sangat tegas dan sinis dan memiliki kalimat tajam padanya, bahkan ibunya menunjukkan sikap ketidak sukaannya pada Gavriel.


Setelah Zay dan Gavriel bersiap, mereka bertiga pun menuju mansion milik Haghwer, namun Gavriel tak tahu, jika makan malam yang akan di laksanakan adalah satu awal rintangan yang menghadang untuk hubungannya dengan Zay.


******


Pulau Tanpa Nama~


Siang hari yang sangat terik, di sebuah mansion dekat pantai yang indah.


Mena sudah sampai di Pulau Tanpa Nama, dengan menggunakan wajah penyamaran, Mena berpakaian sederhana, dan membawa koper model jaman dulu, kemudian Mena mengetuk pintu gerbang dan seorang pengawal pun membuka sedikit kotak pembuka gerbang.


"Ada apa." Tanya Pengawal itu.


"Saya adalah pelayan baru yang akan bertugas di sini, saya di tugaskan dari agen yang di hubungi oleh Nyonya Gia." Kata Mena.


"Aku akan tanyakan dulu pada Nyonya Gia." Jawab pengawal tersebut.


Beberapa menit kemudian sang pengawal pun membuka gerbang itu, suara derit gerbang yang terasa begitu berat dan memekakkan telinga membuat Mena cukup risih.


"Apa mereka tidak punya pelumas." Kata Mena pelan.


"Masuk, Tuan Heiden sudah menunggu, dia yang akan memberikanmu intruksi."Kata pengawal tersebut.


Mena pun masuk, lalu Mena di antar oleh pengawal menggunakan buggy car, dan setelah sampai Mena menunggu di ruang tamu yang besar.


Mena masih berdiri dan memegangi koper jadulnya, tak berapa lama suara rendah yang cukup seksi membuatnya terkejut.


"Siapa namamu." Kata Heiden sembari membawa beberapa berkas.


"Saya Mena."

__ADS_1


"Aku akan mencocokkannya pada berkas ini. Jawab semua pertanyaanku." Kata Heiden duduk di sofa sedang Mena masih berdiri memegang kopernya.


"Keluargamu meninggal? Kau hidup sendiri?"


"Ya Tuan."


"Kau punya kakak?"


"Ya, Tuan. Tapi kakak saya sudah lama menghilang, saya tidak tahu dimana kebaradaannya." Kata Mena.


"Laki-laki? Perempuan?"


"Laki-laki Tuan."


"Kau pasti sudah tahu bahwa aku menghubungi agen mu agar kau bisa menjadi pelayan di sini dengan catatan, kau tidak boleh mengatakan apapun tentang kondisi di mansion ini pada siapapun." Kata Heiden.


"Akan saya jaga dengan nyawa saya sendiri Tuan, saya butuh pekerjaan dan setidaknya makan serta tempat tinggal." Kata Mena


"Statusmu?"


"Saya masih single Tuan." Kata Mena.


Heiden menceklist semuanya, kemudian ia berdiri.


"Ikut aku, kau akan mendapatkan kamar di dekat Nyonya Gia, karena kau akan menjadi pelayan pribadi Nyonya Gia." Kata Heiden.


"Baik Tuan."


Mereka menaiki tangga dan berjalan, Heiden memimpin, dan kemudian membuka pintu kamar.


Terlihat kamar yang cukup bagus dan memiliki single bed.


"Ini kamar mu." Kata Heiden.


"Kau tidak suka?" Tanya Heiden melihat raut wajah Mena.


"Oh... Tidak... Saya sangat suka, ini mewah, bagaimana anda bisa bertanya seperti itu tuan."


"Raut wajahmu terlihat dingin." Kata Heiden.


"Mungkin karena saya sudah melalui begitu banyak kehidupan pahit, sesuatu yang menyenangkan kadang terasa biasa." Kata Mena.


"Tidak apa-apa, aku suka, daripada pelayan yang banyak tingkah, pastikan ketika bekerja kau tak membuat kesalahan apapun, Temperamen Nyonya Gia naik turun." Kata Heiden.


"Baik Tuan, terimakasih." Kata Mena.


"Istirahat dulu, nanti aku kembali, dan akan mengajakmu mengelilingi mansion, sebagai perkenalan, aku ada urusan sebentar." Kata Heiden.


"Terimakasih tuan." Kata Mena.


Heiden pun pergi, sedangkan Mena menutup pintu, Mena cukup lega, karena Traver telah memalsukan semua dokumennya, lalu Mena mengunci kamar, dan Mena kemudian memeriksa setiap ruangan kamarnya, bahkan dinding-dinding kamarnya, ia ingin memastikan tak ada sesuatu yang menempel di kamarnya.


Di rasa bersih Mena pun melepaskan topeng kulit yang tipis itu yang sudah seharian menempel di wajahnya.


"Sekarang aku harus memeriksa apa yang sebenarnya sedang Gia rencanakan." Kata Mena.


******


Di lain tempat, di mansion milik Zac, sore itu Gaby akhirnya mencoba merangkak menuju kamar mandi, ia merasakan tubuhnya sudah sangat lengket dan ingin segera mandi, namun Gaby tak menerima satu pelayan pun untuk membantunya, sedangkan Zac masih sibuk membuat rencana di ruangan rapat bersama Yaron dan Charles.


Dengan tertatih, Gaby merambat, dan merangkak.


"Nona Gaby, biarkan kami membantu anda, kami takut Tuan Zac akan marah pada kami." Teriak salah satu pelayan.

__ADS_1


Namun Gaby tetap tak mau di bantu jika ada pelayan masuk gaby akan mengamuk dan membanting barang apapun yang ada di dekatnya.


Salah satu pelayan kemudian pergi melapor pada Zac yang masih melangsungkan rapat untuk rencana barter besok pagi.


Pelayan itu di cegat oleh pengawal tidak boleh masuk.


"Saya hanya ingin mengatakan pada Tuan Zac, jika Nona Gaby tidak mau di bantu dan membuang semua barang." Kata pelayan itu.


Sang pengawal kemudian masuk dan menemui Zac, dengan sepelan mungkin pengawal itu memberitahu Zac.


Zac membuang nafasnya pelan.


"Kita lanjutkan rapatnya nanti malam." Kata Zac kemudian berdiri dan keluar dari ruangan.


Dengan cepat Zac menuju kamar, namun ketika ia ingin membuka pintu, ternyata pintu terkunci dari dalam.


"JEGLEEKKK!!!"


"JEGLEEKK!!!"


"Gaby, buka pintunya." Kata Zac.


"PYAAARRR!!!"


"BRRUUKK!!!"


Sesuatu terdengar dari dalam kamar.


"Gaby!!! Buka pintunya!" Teriak Zac lagi.


"Ambil kunci yang lain." Perintah Zac.


Tak berapa lama sang pelayan yang mengambil kunci ganda kembali dan memberikannya pada Zac.


Dengan segera Zac pun membuka pintu dengan kasar, lalu menutupnya kembali.


Terlihat kamar sudah acak-acakan, banyak barang berjatuhan dan pecah.


Zac khawatir dan mencari dimana Gaby, ketika Zac membuka kamar mandi di saat itu lah ia melihat Gaby sedang mengesot menuju bathup.


Wajah Gaby terkejut melihat Zac sudah ada di dalam kamar melihatnya dengan keadaan yang menyedihkan.


Zac langsung datang dan menggendong.


"LEPASKAAN!!! AKU TIDAK BUTUH BANTUAN MU!!! DASAR PEMBUNUH!!!" Teriak Gaby memukuli Zac.


Zac langsung membawa Gaby ke bathup yang belum terisi air, ia menaruh Gaby dengan pelan.


Kemudian Zac menghidupkan kran air, Zac menggulung lengan kemejanya dan mengambil sabun.


"JAANGAN SENTUHH AKUU!!!" Teriak Gaby.


Zac diam sejenak, dan kemudian kembali ingin menyabuni Gaby.


"PERGI DASAR PSYCHO!!!" Bentak Gaby.


Dengan kasar Zac langsung mencengkram lengan tangan Gaby.


"Aku sibuk Gaby, mengurus rencana untuk barter besok pagi, jadi jangan memancing kemarahanku, kau tahu jika aku marah akan seperti apa jadinya, kau juga tahu apa yang akan ku lakukan padamu. Tentu saja bukan memukulmu. Kau tahu itu..." Kata Zac menatap tajam pada Gaby.


Gaby bernafas dengan cepat, jantungnya berdegup cepat, ia tak mau, ia tahu, bahwa Zac bisa saja menyetubuhiinya lagi jika ia terus menerus memancing amarah pria di hadapannya.


Gaby menelan ludahnya dan melemah.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2