Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 221


__ADS_3

Setelah mobil Gavriel masuk dan melaju pelan di jalanan beraspal yang selebar mobil menuju mansion, gerbang besar pun menutup.


Saat sampai di depan mansion, Gavriel turun, ia mendongakkan kepalanya melihat betapa megahnya mansion tersebut, kemudian berjalan masuk ke dalam.


Saat itu Gavriel sudah melihat Zac menyambutnya.


Ketika Zac hendak memeluk pamannya, justru Gavriel ingin menonjok Zac.


Zac tertawa dan mereka pun berpelukan.


"Aku senang kau bisa membangun mansion semegah ini." Kata Gavriel.


"Itu semua berkat tangan dingin ayah yang bisa mengubahku menjadi sekarang." Kata Zac.


"Yaa kau hebat... Zac." Kata Gavriel.


"Aku juga tak menyangka Paman Gavriel sangat keren dan hebat! Bukan hanya menjadi dokter, tapi menjadi mafia juga." Kata Zac


"Kau masih meragukanku." Kata Gavriel.


"Tidak... Aku tak pernah ragu, hanya saja, kau tahu kan paman, aku tak punya pasukan untuk mengusir para tikus yang ada di depan, jika aku bergerak sendiri aku sedang malaz menghadapi para tikus-tikus itu, jadi aku hanya memancingmu agar kau mau memgeluarkan dan membangkitkan pasukan Murder yang sudah lama tertidur." Kata Zac.


"Dasar licik." Kata Gavriel.


Kemudian mereka duduk bersama, sedangkan Gavriel pandangannya berkeliling kemana-mana.


"Zay masih tidur paman, dia ada di kamar, ku pikir kau pasti khawatir ketika Zay tidak ada. Ku dengar kau tinggal di Mansion ayah." Kata Zac.


"Ya, selama ayahmu belum benar-benar sembuh total aku tinggal di sana, aku datang kemari juga karena ingin membawa Zay kembali." Kata Gavriel.


"Paman, sebenarnya aku ingin menemui mu karena, aku ingin bertemu dengan Moran Murder, ayahmu."


"Aku tahu, apa yang kau maksud dan keinginanmu untuk bertemu dengan ayahku, kita akan menemuinya besok." Kata Gavriel.


Zac mengangguk pelan.


"Ku dengar, Douglas Scoot adalah kakakmu paman, apakah tidak masalah jika..."


"Aku juga ingin membuat perhitungan dengannya, kau pasti sudah dengar ceritanya, bahwa dia yang menyebabkan kekacauan Keluarga Murder, ibuku bunuh diri dan ayahku menarik diri dari organisasi mafia." Kata Gavriel.


"GLODAKKK!!!" Sebuah suara datang.


Zac dan Gavriel melihat ke arah suara itu.


Ternyata itu adalah Gaby yang terpeleset dan menjatuhkan patung kayu.


"Maa.. Maaf...!" Kata Gaby membenarkan patung yang jatuh.


"Dia..." Gavriel berdiri dan melihat ke arah Zac.


"Dia anak Douglas. Sejujurnya, dia yang membuat... Aku... Dan... Begitu... Kau tahu maksudnya, tentang tidak bisa bediri dan... ." Kata Zac malu.


Gavriel tertawa melihat tingkah Zac yang lucu.


"Jadi, dia obatnya." Kata Gavriel.


Zac mengangguk pelan.


"Jalan saja tidak bisa, tapi kau mau ada di antara para mafia. Jangan sampai merepotkan kakakku." Kata Zay dengan angkuh melewati Gaby.


Saat itu Zay masih memakai kemeja dan tidak memakai celana panjang.


Gavriel berdehem, tenggorokannya mendadak terasa serak, dan dadanya berdesir, Zay terlihat begitu seksi, paha mulusnya yang ramping terekspose.


"Astaga... Anak ini..." Kata Gavriel melepaskan jasnya, ia mendadak merasa gerah.


Ketika Zay menyindir Gaby, saat itu Gaby menundukkan kepala dan enggan bergabung, dia masih berdiri di dekat tangga.

__ADS_1


"Zay... Kau sudah bangun." Kata Zac.


"Yaaa...." Jawab Zay malas.


"Dasar nakal, sudah ku katakan kalau kau harus istirahat." Kata Gavriel mencubit pipi Zay lalu memasangkan jasnya di pinggang Zay dan mengikat kedua lengan jas di pinggul Zay.


"Aaauuww....!!! Salah siapa ada yang memutuskan keluar dari Marga Haghwer, memangnya semudah itu memutuskan hubungan keluarga, apakah setidak berartinya kami di hatinya!!" Kata Zay menyidir sambil melirik ke arah Gaby.


"Lalu ini untuk apa?" Tanya Zay melihat jas yang sudah terikat di pinggulnya.


"Untuk menutupi paha mu, banyak yang ingin memakannya, pahamu seperti daging segar." Kata Gavriel.


"Mana ada... Di sini cuma ada Zac dan kau." Kata Zay.


"Sstt... Menurut saja... Oke." Kata Gavriel makin pusing.


"Gaby... Kemarilah." Pinta Zac.


Kemudian Gaby pun datang dan berdiri di samping Zac.


"Kau harus lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu Zay." Perintah Zac.


"Tapi... Aku memang begini kok!" Kata Zay.


"Tentu. Tapi karena dia bersamaku, berarti dia adalah kakak iparmu."


"Kalian belum menikah!!" Kata Zay.


"Tapi aku sudah mengakuinya, jika dia kekasihku." Kata Zac lagi.


Zay marah, dan memasang wajah merah, hampir menangis.


Lain halnya dengan Gaby yang terkejut, bahwa Zac mengatakan bahwa dirinya kekasih Zac.


"Kau... Kau benar-benar jahat Zac..." Bibir Zay bergetar.


"Ikatan kita tetap saudara Zay, aku tidak akan begitu saja memutus hubungan."


"Ayo kita pergi Gavriel!!! Percuma aku kemari!!!" Kata Zay hendak pergi.


Namun saat itu Charles datang, dan dengan cepat meraih pergelangan tangan Zay.


Zay dan Gavriel langsung melihat ke arah tangan Charles.


"Kau melupakan sesuatu..." Kata Charles.


Gavriel memegang tangan Charles dengan keras agar Charles melepaskan tangan Zay.


"Apa?" Tanya Zay.


"Barang-barang dan perlengkapan menyusup mu ada di kamarku, atau kau mau aku membuangnya? Lalu, kemeja yang kau pakai, adalah kemeja kesayanganku." Kata Charles.


Tentu saja kalimat Charles memprovokasi Gravriel menjadi cemburu, namun Gavriel pria dewasa, ia pria matang yang tak begitu saja tersulut emosi seperti bocah remaja.


"Aku membawa beberapa baju, kau bisa mengganti baju dengan punyaku." Kata Gavriel pada Zay.


"Aku tidak meminta pakaianku kembali, aku hanya mengatakannya, jika itu kemeja kesayanganku." Kata Charles.


Zay semakin pusing dan bingung.


"Buang saja! Aku bisa dapatkan perlengkapan menyusup itu lagi dari kakek Rudolf." Kata Zay dan melenggang pergi.


Melihat Gavriel masih diam di tempat dan melihat ke arah Charles. Zay memanggil.


"Gavriel ayo, tak ada gunanya kita di sini!" Teriak Zay jalan lebih dulu.


"Zac, besok kita berangkat bersama." Kata Gavriel.

__ADS_1


"Baik paman." Kata Zac.


Kemudian Gavriel menyusul Zay yang sudah lebih dulu duduk di mobil milik Gavriel.


Saat itu, Zay sedikitpun tak memandang keluar bahkan hingga ia pergi meninggalkan mansion.


Sedangkan Gavriel yang menyetir juga hanya diam sepanjang perjalanan, Gavriel tahu Zay hanya akan tambah marah jika dia dalam suasana hati yang buruk tapi mendapatkan ceramah.


Di tengah perjalanan, Gavriel berhenti sejenak.


"Kenapa berhenti?" Tanya Zay.


Saat itu matahari telah menyingsir sore, sinar orange begitu indah di atas langit.


"Tunggu di sini sebentar." Kata Gavriel.


Zay mendenguskan nafasnya, ia menyedekapkan tangan.


Tak berapa lama Gavriel membawa beberapa paperbag ukuran besar di tangannya, dan ia pun masuk ke dalam mobil.


"Aku membelikan mu baju dan sepatu, ganti kemeja mu, bau parfum kemeja itu membuat pusing, daritadi tidak hilang di dalam mobil." Kata Gavriel.


"Okelah..." Zay kemudian melepaskan kacing bajunya.


"Hey!!! Hey!!! Heyy!!!" Teriak Gavriel.


"Apa?"


"Apa yang kau lakukan?"


"Seperti katamu, aku mau ganti baju." Kata Zay.


Gavriel memijit kepalanya sakit.


"Jangan di sini ada aku, kau tidak malu?"


"Tidak kau pamanku."


"Aku bukan pamanmu! Aku seorang pria!"


"Aku juga tahu, kau pria, tapi kau tidak mungkin akan berbuat jahat padaku." Kata Zay.


"Itu menurutmu saja, semua pria sama saja. Aku akan keluar kau ganti baju." Kata Gavriel.


"Baiklah... " Kata Zay.


Gavriel kemudian keluar dan menyandarkan punggungnya di mobil, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Setelah beberapa menit berlalu, Zay membuka kaca jendela bagian kemudi, membuat Gavriel membalikkan tubuhnya.


"Aku sudah selesai, kau bisa masuk."


Gavriel pun masuk dan melihat Zay, gadis muda yang masih sangat segar dan cantik.


"Paman..."


Gavriel melihat dengan tatapan dingin, pikirannya yang tadi sedang senang karena melihat Zay yang cantik, mendadak badmood.


"Maaf, Gavriel... Aku belum terbiasa... " Kata Zay mengernyitkan alisnya dan tersenyum canggung.


"Anuu... Bisakah, aku tidak pulang dulu, ajak aku berkeliling dulu..." Pinta Zay.


"Kau mau kita berkeliling kemana?" Tanya Gavriel menekan gas dan mobil pun melaju.


"Kemana saja, aku tidak tahu ada hiburan apa, aku hanya selalu berlatih." Kata Zay memandangi langit orange melalui jendela.


"Baiklah mari kita bersenang-senang." Ajak Gavriel.

__ADS_1


Mobil pun melaju menuju sebuah tempat yang mungkin akan di sukai Zay.


Bersambung~


__ADS_2