Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 73


__ADS_3

Setelah kepergian Derreck dan Daisy, Ben duduk di sofa dan Traver kemudian mengambil kotak obat. Traver menekan tangan Ben agar darah tidak terus keluar.


Tak berapa lama Gavriel pun datang.


"Apa yang terjadi." Kata Gavriel dengan cepat duduk dan langsung mengeluarkan tas serta peralatannya.


Gavriel mengeluarkan anestesi.


Ben kemudian menggelengkan kepala.


"Tidak akan mempan." Kata Ben meminum alkoholnya.


"Kurangilah minum alkohol, saat kau terluka di perutmu di masa lalu, aku perlu menyuntikkan banyak dosis anestesi karena sebelumnya kau meminum alkohol, semua obat bius ku tidak mempan." Kata Gavriel mulai mengomel.


"Ini hanya luka kecil."


" Bagimu mungkin ini luka kecil, tapi bagi orang lain yang tidak pernah menjadi mafia tentu berbeda. Kau selalu meremehkan luka kecil. Jangan pernah menyepelekan luka kecil, jika tidak diobati dengan benar, luka kecil juga bisa menjadi luka besar karena infeksi dan justru menjadi luka yang semakin berbahaya." Kata Gavriel mulai menyeka darahnya menggunakan cairan alkohol dan kapas serta penjepit.


Ben masih hanya diam mendengarkan omelan Gavriel.


"Katakan padaku. Apa kau sangat frustasi dengan keadaan ini? Apa aku harus membujuk Daisy." Tanya Gavriel serius.


Ben kemudian tertawa pelan.


Gavriel hanya memandangi Ben.


"Kau memang sepertinya depresi." Kata Gaviel sembari mengobati Ben.


Traver kemudian menceritakan semuanya pada Gavriel, bagaimana Ben terluka, dan cerita yang terjadi sejauh ini kemudian Traver sendiri ada pertanyaan yang membuat perasaannya mengganjal.


"Tapi kenapa kau melepaskan Daisy, ini sudah menjadi pencapaian terbesarmu mendapatkan Daisy kembali." Kata Gavriel.


Ternyata Gavriel memiliki pertanyaan yang sama dengan Traver, dan Traver sangat ingin mendengar penjelasan Ben.


"Aku tidak melepaskannya, tapi aku memberikan kesempatan bagi Derreck untuk berbicara pada Daisy. Aku yakin Daisy akan kembali padaku, karena aku yakin dan percaya aku tidak perlu mengurungnya. Daisy, mencintaiku, dan aku juga mencintainya." Kata Ben.


"Apa kau yakin Daisy akan kembali, kau yakin Derreck tidak akan menyakitinya?"


"Aku yakin Daisy akan kembali. Derreck juga tidak akan menyakitinya. Jika pun Daisy tak bisa kembali, itu pasti karena Derreck yang mencegahnya, jika itu terjadi aku masih punya satu senjata untuk melawannya." Kata Ben.


"Tuan apa maksud anda, anda akan..."


Ben mengangguk.


"Sampai saat ini Mark Waldorf dan Beatrice Waldorf belum mengetahui siapa Daisy sebenarnya. Jika mereka tahu, apa yang akan terjadi?"

__ADS_1


"Perang keluarga." Jawab Traver.


Ben tersenyum licik.


"Tapi Tuan, kita juga harus waspada, Mark Waldorf pasti akan menyakiti Nona Daisy." Kata Traver.


"Jika dia tahu, Daisy adalah kekasihku dan ada dalam perlindunganku, dia tidak akan berani menyentuh Daisy, maka Derreck tidak akan bisa memilih, dia pasti akan menyerahkan Daisy padaku, dia tahu dia tidak bisa menjaga Daisy dari ayahnya, dia tak pernah menang melawan ayahnya." Kata Ben.


"Jadi kapan hasil Tes DNA akan keluar dokter Gavriel?" Tanya Traver.


"Besok pagi hasilnya akan keluar." Kata Gavriel.


"Dan aku juga harus mengabarkan, setelah kunjungan Daisy, perkembangan Mena semakin baik, aku harap jika Daisy bisa rutin berkunjung mungkin akan membuat Mena semakin lebih baik."


"Aku akan memberitahunya nanti." Kata Ben.


"Mengenai Derreck tak mungkin menyakiti Daisy, apa kau yakin?" Tanya Gavriel.


Ben telah selesai di perban, kemudian dia melihat pada Gavriel.


"Maksudku, Derreck adalah pria, dia juga mencintai Daisy, dan kau tahu, bagaimana seorang pria yang putus asa? Bahkan ketika pria itu putus asa, dia rela jika hanya bisa mendapatkan tubuh wanita nya saja." Kata Gavriel.


Ben mendadak diam, dia kemudian sadar jika keputusannya melepaskan Daisy untuk berbicara pada Derreck tanpa menemaninya adalah sebuah keputusan boomerang baginya.


Pria itu memijit pelan pelipisnya menggunakan jari tangan kirinya.


Ben merasa kembali pada masa lalu, ketika keegoisannya selalu mendahuluinya. Baru kali ini Ben merasakan mencintai wanita, segala keputusannya yang menyangkut Daisy ternyata tidak mudah.


Jika itu berhubungan dengan perang, mafia, perdagangan gelap, Ben sudah pasti bisa langsung menanganinya, kematian, itulah yang akan Ben berikan.


Namun, untuk permasalahan cinta, Ben selalu saja salah mengambil langkah. Ini adalah pengalaman cinta pertama Ben, dia terlalu terbiasa mengambil keputusan yang menuruti egonya karena itu lah keterbiaasaannya ketika mengambil keputusan sebagai mafia.


"Cinta memang tidak pernah mudah." Kata Ben menyesalinya keputusannya lagi.


*****


Di lain tempat Daisy duduk di sofa dengan rasa tidak enak, perasaan merasa telah melukai Derreck dengan sangat dalam.


Daisy berada di mansion milik Derreck. Setelah Daisy mengganti baju, Daisy siap untuk berbicara dengan Derreck, saat itu mereka berada di kamar Derreck, dan hanya ada Daisy serta Derreck, bahkan Casey di larang ikut masuk oleh Derreck.


Daisy hanya menundukkan kepala serta duduk diam, dan Derreck terus menatap Daisy yang duduk pula di hadapannya.


"Aku... Minta maaf... Mungkin ini semua terlihat lucu bagimu, dan mungkin kau juga akan mengolok-olok diri ku atas tindakanku yang labil. Tapi, aku tidak berniat untuk mempermainkanmu... Aku tahu kau pasti sangat kecewa dan..."


"Daisy..." Derreck memotong kalimat Daisy.

__ADS_1


Daisy mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Derreck, pria yang ada di hadapannya itu selalu tampak tak asing baginya. Wajah Derreck seolah adalah wajah yang familiar baginya. Daisy kali ini sadar, jika ia seolah melihat wajahnya ada di dalam wajah Derreck, itulah mengapa dirinya selalu merasa sedang berbicara dengan dirinya sendiri, karena wajah itu, wajah Derreck begitu mirip dengannya.


"Aku hanya ingin mendengar bahwa kau tidak mencintainya. Benarkan?" Kata Derreck menekan Daisy.


Daisy hanya diam.


"Aku hanya ingin mendengar, bahwa semua itu hanyalah trik dan bagian dari rencanamu untuk membalas dendam pada Ben."


"Maafkan aku Derreck." Kata Daisy meneteskan air mata.


"Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri lagi. Aku yang bodoh telah mencintai pria..."


"PRAANGG!!!" Derreck melempar meja kaca di hadapannya. Membuat meja kecil itu terpental dan pecah menimbulkan suara yang keras.


Kemudian ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan menekan pelipisnya dengan kuat.


"Kau bahkan menjawabnya tanpa pikir panjang, kau bahkan tidak memikirkan pertanyaan ku lebih dulu." Kata Derreck.


"Aku tahu aku telah melakukan kesalahan... Tapi aku akan menebusnya."


"Dengan cara apa?" Tiba-tiba Derreck berdiri dengan cepat dan menekan tubuh Daisy hingga tubuh Daisy tersudut.


Saat Derreck membungkuk, wajah Derreck hampir menyentuh wajah Daisy, bibir Derreck hampir mencium Bibir Daisy.


"Apa kah kau mau menebusnya dengan tidur denganku?" Kata Derreck menatap Daisy dengan tajam.


Daisy sontak meremas bajunya, ia menunjukkan bahwa sedang menyembunyikan dadanya dari belahan baju itu. Wajah Daisy ketakutan, mata Daisy berubah menjadi merah, sebentar lagi Daisy pasti akan menangis.


Derreck jelas melihat penolakan itu.


"Pergilah ke kamarmu, kepalaku sakit." Kata Derreck mundur dan duduk kembali di sofanya.


"Aku akan pulang ke apartmenku."


"Pergi ke kamarmu Daisy!!!" Teriak Derreck.


Sikap Derreck yang tak pernah marah membuat Daisy terkejut. Derreck yang selalu mengalah dan lemah lembut padanya bagaikan seorang kakak yang menyayangi sang adik, sikap hangat yang selalu di tunjukkan Derreck membuat Daisy begitu nyaman seolah ia memiliki keluarga, dan kemarahan Derreck seketika membuat hati Daisy hancur.


Ini pertama kalinya Derreck membentaknya dengan suara yang keras dan kencang membuat Daisy berbalik dan menangis, lalu berlari keluar dari kamar Derreck.


Sedangkan Derreck masih menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, memijat kepalanya yang sakit.


"Brengsek..." Kata Derreck pelan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2