
"Mengagumkan sekali gadis kecil yang polos tiba-tiba menjadi berani seperti kucing liar yang mencakar orang yang telah memberikannya makanan." Kata Zac dengan senyuman sinis.
Gaby menelan ludahnya, pikirannya cukup terintimidasi karena ia takut akan di pecat.
"Ta... Tapi ini semua karena anda yang tidak mendengarkan saya, saya tidak tahu anda sedang mengeluarkan benda atau batang anda dari dalam celana anda!" Pekik Gaby dengan suara lucu.
"Apa kau lupa ini kamarku? Kau memgaturku apa yang seharusnya ku lakukan di kamar? Kau menyelonong masuk dan melihatku sedang menyenangkan diri, tapi sekarang kau justru membuat aku lah yang bersalah? Aku melakukannya di kamarku, ini adalah hak." Kata Zac.
"Ja... Jadi... Sebenarnya apa yang anda mau dari saya? Jika anda takut saya akan menyebarkan tindakan tak senonoh anda, tenang saja saya tidak akan, saya memiliki kunci mulut yang tebal dan aman." Kata Gaby.
Zac kembali tertawa dingin.
"Kau bertanya kan apa mau ku?"
Gaby melihat ke arah kedua mata Zac dengan mantap.
"Karena kau telah melukai mental dan psikis ku, kau harus bertanggung jawab." Perintah Zac.
"Be... Be... Bertanggung jawab? Tentang apa? Bagaimana?" Gaby tergagap tak mengerti, wajahnya panik.
"Dengan membantuku menyelesaikan pekerjaan yang telah tertunda. Pekerjaan menyenangkan diriku. Selesaikan dan tenangkan "Dia" Kau tahu maksudku." Zac melihat ke arah benda miliknya yang masih tegak berdiri di luar celananya.
"Tu... Tuan Muda... An... Anda memang sangat mesum! Ini sudah menjadi pelecehan! Saya adalah karyawan anda! Saya tidak bisa melakukan hal itu! Sewa saja gadis-gadis yang melayani anda, seperti biasanya!" Pekik Gaby dengan kedua mata yang membulat, kakinya pun mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Kau tidak mau?!" Tatapan Zac berubah menjadi tajam dan menusuk.
Satu sisi, perasaan Zac malu karena ia ketahuan oleh Gaby yang sedang memergokinya memanggil namanya dengan melakukan hal tersebut, satu sisi lagi, ini adalah hal istimewa dan hal luar biasa yang belum pernah ia rasakan, Zac ingin tahu bagaimana rasanya mencapai klimakss, Zac ingin tahu apakah itu memang terasa enak seperti yang mereka semua bicarakan, setiap sel syaraf tubuhnya sudah tidak sabar dan ingin sekali agar Gaby menyentuhnya, belum lagi setiap teriakan haus di dalam otaknya yang sudah di penuhi dengan pikiran-pikiran berwarna tentang rasanya klimakss yang belum pernah ia rasakan sekalipun.
Gaby menjadi gemetar dengan tatapan Zac yang begitu serius dan gelap.
__ADS_1
"An.. Anda yang melakukannya sendiri, maka selesaikanlah sendiri." Kata Gaby.
"Seandainya aku bisa." Kata Zac.
Gaby tak mengerti arti dari kata itu, bukankah dia sendiri yang melakukan itu kenapa dia menjawab seandainya dia bisa?
Gaby bertanya dan tak faham, kenapa pria di hadapannya ini selalu saja membuatnya kesulitan, ingatannya pun kembali melayang ketika Zac membelainya, kedua mata Gaby melihat tangan-tangan kekar berotot dengan jari-jari panjang yang kuat, itu adalah tangan-tangan yang pernah menyentuh payudarraannya, dan meremasnnya hingga membuatnya merasa kan keanehan dalam tubuhnya, ia ingat sekali, bukannya merasa kan sakit, namun justru sesuatu yang menagihkan.
"Maa.. Maaff Tuan muda, dengan meminta seperti itu anda sudah melecehkan saya."
"Melecehkan mu?" Tanya Zac dan sedikit mendekat pada Gaby.
Kedua mata Zac menatap penuh pada Gaby.
"Bukankah justru aku lah yang sedang kau lecehkan. Gaby..." Kata Zac dengan suara dingin yang datar namun menusuk tepat di telinga Gaby.
"Kau masuk ke dalam kamarku tanpa izin, kau mengintip ku yang sedang melakukan aktifitas menyenangkan diri, kau juga melihat benda milikku, lalu kau menuduhku melecehkanmu? Kau memiliki kesalahan berlipat-lipat Gaby, selain melecehkan ku, kau juga menyerang psikisku, mentalku, dan juga kau merendahkanku, kau yang melihat bagian rahasia milikku justru mempermalukanku, jadi kau harus bertanggung jawab padaku sekarang. Maka kau harus menyelesaikan nya." Kata Zac.
"Ba... Bagaimana saya mengatakannya Tuan, saya tidak berniat melihat, tapi anda sendiri yang berdiri di hadapan saya dengan seperti itu, anda sengaja memperlihatkannya pada saya!!!" Teriak Gaby dengan panik sembari menunjuk pada bagian benda milik Zac yang berdiri.
Dalam hatinya ia mulai menikmati itu, baru kali ini ia merasa sesuatu yang menggelitiki perasaannya, Gaby yang menurutnya biasa saja, Gaby yang memiliki tampilan biasa saja bahkan terlihat tertutup karena selalu mengenakan setelan kemeja dan jas justru membuat barang miliknya berdiri begitu lama dan menjadi semakin penasaran bagaimana rasanya di sentuh oleh Gaby.
Selama ini bahkan Zac tak pernah merasakan miliknya berdiri, kali ini Zac yakin, miliknya bisa bangkit bukan karena suntikan milik dokter Gavriel, melainkan memang murni karena Gaby.
Entah bagaimana namun, Zac harus memastikan lagi apa yang sebenarnya Gaby miliki sehingga dapat membangkitkan miliknya, dan membangkitkan gairahnya.
"Baiklah, lihatlah lagi, tidak masalah." Kata Zac datar menanggapi penolakan Gaby yang sembari menunjuk bagian bawahnya.
"Tidak mau! Menjijikkan!!!" Teriak Gaby kelepasan.
__ADS_1
Namun saat itu juga Gaby langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melihat ekspresi Zac apakah dia akan marah karena Gaby mengatakan menjijikkan.
Namun, di luar dugaan, Zac justru tersenyum ketika Gaby mengatakan kalimat menjijikkan, Zac ingat setiap wanita yang ia pesan bahkan berusaha untuk menjilat dan mengulum benda miliknya agar dapat berdiri, mereka semua berlomba-lomba membuang dan merendahkan harga diri mereka dan terlihat seolah sedang bersaing satu sama lain sembari memasang tampang yang menggoda, namun bagi Zac justru mereka semua terlihat menjijikkan, membosankan dan tidak membuatnya berselera.
Kali ini justru Zac berada di posisi yang di anggap menjijikkan oleh seorang gadis yang membuatnya bergairah.
"Astaga... Apakah ini karma..." Kata Zac tersenyum klise.
"Kau bisa mencoba dengan meletakkan tanganmu lebih dulu di sini." Lanjut Zac.
"Astaga saya bisa gila... Tidak terimakasih, anda bisa meletakkan tangan anda kembali di sana, kenapa saya yang harus bertanggung jawab pada anda." Kata Gaby menggigit bibirnya sendiri.
"Secara gampangnya, kau melihatku seperti itu, kau melukai psikisku, dan kau tidak memperbaikinya, jadi jika kau bergabung dan membantuku, maka kita berdua melakukannya bersama, kau akan tutup mulut."
"Sejak awal saya tidak berniat menyebarkan aktifitas tak senonoh anda." Kata Gaby membela diri.
"Aku tidak percaya, kecuali kau ikut bergabung denganku, jadi, kita berdua sama-sama terlibat."
"Anda bisa membuat perjanjian hitam di atas putih." Sahut Gaby.
"Itu kekanakan sekali, aku adalah orang dewasa, tak suka membuat perjanjian seperti seorang balita. Aku tidak memaksa orang untuk menandatangani sesuatu."
"Saya tidak merasa di paksa, lagipula perjanjian lebih baik daripada saya harus ikut bergabung dengan anda, saya juga tidak memiliki niat untuk menyebarkan apa yang sudah saya lihat. Anda tak perlu takut pada saya Tuan Muda." Gaby tetap pada pendiriannya.
Zac membuang tawa dengan wajah yang tampan, kemudian ia mendekat lagi pada Gaby.
"Kau...?? Membuatku takut? Wajah mu terlalu imut Gaby, tidak ada yang ku takutkan darimu, hanya saja, aku tidak percaya padamu." Kata Zac menatap kedua bola mata Gaby dengan dekat.
Bersambung
__ADS_1