
Namun belum separuh jalan meninggalkan mansion, beberapa helikopter telah terparkir jauh dari mansion, tatapan tajam Ben bak elang yang terkunci pada mangsanya.
Seorang pria tengah berjalan dengan seorang gadis cantik berkulit putih menuju mansion. Pria itu adalah Rei Brandon, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Rei berjalan di samping wanita yang cantik, ia adalah Daisy.
Buru-buru Traver berlari dari arah mansion untuk memberitahukan kabar pada Ben, ia juga terkejut menyadari siapa sosok yang berjalan mendekati mansion.
Pandangan mata Ben tak pernah luput sekalipun dari sosok yang berjalan ke arah mansion, mata membara, hati yang berkobar, dengan ketakutan yang menyebar, Ben menatap lekat-lekat pada Daisy yang bertubuh kecil dan pasti rapuh, satu serangan, satu tembakan, itu sudah pasti membuatnya rubuh.
"Sial!" Umpat Ben kesal.
Traver menelan ludahnya, dan memberikan informasi pada Ben, dengan mata yang tak melepaskan pandangannya dari targetnya, yaitu pada Rei Brandon.
"Tuan... Para petinggi mafia menghubungi, bahwa setelah perintah mundur di umumkan, mereka di kabari oleh para pengawal jika Rei Brandon mengirim para pasukan untuk menyerang mansion markas, untungnya para petinggi tepat waktu dan bisa menyerang balik, kemudian mereka memdapatkan Informasi dari para pengawal Rei Brandon yang menyerang bahwa penyerangan mansion markas adalah pengalihan agar Rei Brandon dapat menculik Nona Daisy. Katanya, itu adalah taktiknya agar semua akan fokus pada penyerangan El Joa, dan penyerangan Mansion Markas." Kata Traver.
"Bagaimana pria itu bisa membawanya." Kata Ben masih menatap nanar ke arah depan.
"Rei Brandon menemukan celah dan mengabarkan pada Nona Daisy jika anda sekarat, katanya anda... Membutuhkan kehadiran nona Daisy untuk datang."
"Menjijikkan, cara licik yang menjijikkan." Umpat Ben mengepalkan kedua tangannya.
Daisy berjalan di rerumputan ilalang yang kering, kakinya gontai ketika ia melihat Ben berdiri di hadapannya, ia sangat ingin memeluk pria itu, meski masih terlalu jauh namun ia dapat memastikan jika itu adalah Ben, pria yang sangat ia khawatirkan.
Daisy tersenyum, dan menangis secara bersamaan dan hendak berlari menuju pada Ben, namun dengan cepat Rei Brandon memeluk Daisy dengan satu tangannya, ia menahan tubuh Daisy dan menguncinya.
Daisy terkejut, dan mendelik, kemudian melihat ke arah wajah Rei Brandon.
"Kau terkejut? Maaf sayang, sebenarnya kau hanya ku jadikan umpan. Tetaplah bersamaku." Kata Rei Brandon.
"Kau... Berbohong!" Kata Daisy.
"Ya... Bisa kau sebut seperti itu." Kata Brandon tersenyum.
Terlihat Ben dan Traver mendekat, dan Rei Brandon menyunggingkan sudut bibirnya.
Tak berapa lama para petinggi mafia pun juga sampai, mereka melihat bagaimana Daisy di tahan oleh Rei Brandon.
"Ini bukan lagi perang merebutkan kekuasaan, tapi juga wanita." Kata Carlos.
"Sialan, Rei Brandon memang cerdik, dia mengelabui kita, dia menyerang mansion markas dan menculik wanita milik Ben." Kata Rudolf.
"Aku ingin segera membunuh El Joa." Kata Yamaguchi.
__ADS_1
Ben melirik ke arah para petinggi mafia yang telah sampai, memberikan kode untuk bersabar.
Tak berapa lama para pengawal membawa El Joa dan Blaze serta Ansella keluar.
"Ck... Ck... Ck... Pantas saja dia tergila-gila dengan wanita itu. Cantik bukan main." Kata El Joa.
Sedangkan Daisy terkejut, bagaimana Ansella juga ada di sana.
"An... Sella..." Kata Daisy ketakutan.
"Ya Sayang, dia Ansella, wanita bodoh si pemberi informasi." Bisik Rei Brandon di telinga Daisy lalu menjilatnya.
"Lepaskan!!!" Teriak Daisy.
El Joa tersenyum melihat Rei Brandon begitu agresif.
"Rei...!!! Berhenti bermain-main dan cepat lakukan penukaran, sia-sia Ben sudah meledakkan semua barangnya!!!" Teriak El Joa.
Rei Brandon melihat ke arah gudang yang sudah habis terbakar, kepulan asap hitam membumbung tinggi bergumul di atas langit malam.
"Aku tidak punya urusan dengan itu!" Kata Rei Brandon.
"Apa!" Seketika El Joa terkejut dan membelalakkan matanya.
Blaze pun terkejut dan mulai bergidik.
Ansella bahkan tak bisa berdiri lagi, dan terduduk lemas di rerumputan kering berbatu.
"Aku ingin menghancurkan Benjove Haghwer, mari kita lihat bagaimana wajah dan reaksinya, aku sangat penasaran pria angkuh itu memohon padaku. Ha... Ha... Hah...Hahah....!!!"
Kemudian Rei mengutus para pengawalnya untuk mendekat pada Ben.
"Berlututlah Ben!!" Teriak Rei Brandon.
Di sisi lain Ben hanya diam membatu, pria itu masih memasang wajah datar.
"Kau salah Rei, wanita itu tak berarti apapun bagiku." Kata Ben acuh.
"Ohya... Aku benar-benar penasaran. Jika benar-benar tak berarti bagimu, bagaimana jika ku beri pertunjukkan gratis saja." Kata Rei Brandon tersenyum.
"Terserah kau saja. Aku tak tertarik." Kata Ben acuh.
__ADS_1
Semua terkejut melihat sikap acuh Ben, bahkan Daisy pun seperti terserang kepanikan berlebih, tubuhnya bergetar, ia tak menyangka jika Ben akan mengatakan hal semacam itu.
"Baiklah... Aku selalu penasaran dengan bibir mungil ini..." Kata Rei Brandon.
"Ja... Jangan lakukan... Tolong... Lepaskan aku." Kata Daisy.
Kemudian Rei memutar tubuh Daisy menghadap padanya, dan melihat pada Ben yang masih berdiri.
Rei Brandon mengangkat Dagu Daisy untuk melihatnya, Daisy pun mendongak dengan cucuran air mata di pipinya.
Rei mulai mencium Daisy, memaksa Daisy, tubuh kecilnya pun tak bisa melawan, Daisy memukul-mukul tubuh Rei Brandon yang besar dengan kepalan tangannya yang kecil, hingga otot-otot tangannya mengeras pun itu bukan sesuatu yang bisa menyulitkan Rei Brandon.
Dengan tindakan pemberontakan Daisy yang semakin liar, justru membuat Rei Brandon bersemangat, tanpa sadar Rei Brandon semakin tenggelam dalam ciumannya, pria itu benar-benar mabuk kepayang dengan Daisy.
Awalnya Rei Brandon hanya ingin menguji Ben, namun pada akhirnya ia tenggelam dalam kenikmatan mencium bibir Daisy, baru pertama kali ini Rei merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Daisy, ada sesuatu yang membuat Daisy lebih unggul dari wanita lain.
Rei Brandon kemudian tanpa sadar menyobek pakaian Daisy, membuat bahu putih Daisy terekspose.
"Astaga... Tontonan macam apa ini, dasar sampah." Kata Yamaguchi.
Rudolf dan Carlos secara bergantian melihat ke arah Rei dan Ben, mereka mulai berkeringat dan bertanya-tanya apakah akan terjadi sesuatu. Mereka heran mengapa Ben masih sangat tenang.
"Apa sudah selesai? Traver kita pulang, bawa El Joa dan Blaze."
"Baik Tuan." Kata Traver.
Daisy merosot jatuh ke atas tanah yang di tumbuhi ilalang kering, ia tak menyangka Ben akan bereaksi seperti itu, sikap dingin dan acuh nya serta seolah Ben tak mengenalnya membuat hati Daisy sakit dan terluka dalam.
Tangisan Daisy akhirnya keluar dan membuat Daisy mengerti, jika selama ini sikap Ben yang hangat dan lembut hanyalah palsu belaka, ia adalah pria monster yang tak berperasaan.
"Aku membencimu..." Umpat Daisy pelan dengan di penuhi air mata yang mengalir di pipinya.
Daisy meremas ilalang dan menggenggamnya erat.
"Aku sangat membencimu..." Kata Daisy lagi.
Ben berjalan dan Traver memberikan perintah pada para pengawal jika harus membawa El Joa dan Blaze.
Ben mendekat ke arah Rei dan melihat Daisy duduk menunduk di atas tanah dengan menangis, bahunya yang kecil naik turun.
Udara dingin menembus kulit Daisy, terasa menusuk dan sakit berbarengan dengan hujaman beribu-ribu pisau di hatinya.
__ADS_1
"Aku tak tahu apa mau mu membawa gadis ini." Kata Ben.
bersambung