
Gavriel membuka pintu ruangannya dan terkejut ada Ben di sana sedang duduk di sofa.
Kemudian Daisy pun masuk ke dalam.
"Kau sudah datang?" Tanya Daisy dan duduk di sebelah Ben.
"Mm..." Jawab Ben mencium bibir Daisy di depan Gavriel.
"Kondisi Mena sudah membaik, aku pastikan sebentar lagi dia bisa keluar dari Rumah sakit." Kata Gavriel kemudian duduk di sofa juga.
"Mau minum? Aku akan ambilkan." Kata Gavriel lagi.
"Aku harus segera pergi, perusahaan masih cukup kacau." Kata Ben.
Gavriel mengangguk.
"Apa separah itu? Baru kali ini perusahaan Benz berhasil di terobos." Kata Gavriel.
"Sejujurnya aku sudah menghubungi Lucy, dan tadi pagi dia langsung bergerak untuk meretas balik virus yang telah di masukkan ke dalam sistem kami, sampai hari ini dia masih mencari tahu."
"Kenapa bukan Traver yang menanganinya, dia tak tertandingi." Kata Gavriel.
Ben tersenyum kecut.
"Aku sengaja memancing sesuatu, karena jika Traver langsung menanganinya semua nya akan langsung terungkap, meski membuat perusahaan cukup kacau tapi ini jalan satu-satunya."
"Apa Lucy tahu rencanamu?" Tanya Gavriel.
Ben menggeleng.
"Dia termasuk dalam rencana dan targetku."
"Kau mau kembali ke perusahaan?" Tanya Daisy.
Ben mengangguk pelan.
"Maaf sayang... Apa kau bosan?" Tanya Ben mengelus pipi Daisy dengan pelan.
"Aku cukup bosan, bagaimana jika aku ikut ke perusahaan? Aku janji aku tidak akan membuat masalah, aku akan tinggal di atas." Kata Daisy.
Ben diam sejenak dan berfikir, sepertinya ia sedikit ragu, namun pada akhirnya ia mengangguk pelan.
"Boleh." Kata Ben.
Gavriel tersenyum ketika melihat Daisy bersemangat.
"Baiklah kami pergi dulu, kabari perkembangan Mena lagi, Traver juga sudah menunggu di depan." Kata Ben.
"Tentu." Jawab Gavriel.
******
FLASHBACK ON \= Mansion Kediaman Mark Waldorf Malam hari, Sebelum Terjadi Peretasan Perusahaan Benz Grup
"Tuan Mark saya melaporkan, mata-mata yang kita kirim untuk mengikuti Traver dari kediaman Tuan Derreck, malam itu tertangkap, di pastikan langsung di habisi."
Mark mengangguk pelan.
"Memang tidak mudah jika itu menyangkut Ben dan Traver. Lalu informasi apa yang kau dapat Lewis."
"Benjove berhasil membawa Nona Sunny dari Mansion Tuan Derreck, sepertinya mereka terlibat cinta segitiga."
"Sudah ku duga." Kata Mark.
"Tapi Tuan, anda harus melihat ini." Kata Lewis menyerahkan tabletnya.
Mark melihat dengan teliti setiap informasi dan foto-foto yang ada di sana.
"Aku seperti tidak asing dengan wanita ini." Kata Mark.
"Benar Tuan, dia pernah bekerja di sini sebagai pelayan pribadi Nyonya Beatrice."
__ADS_1
Mark Waldorf memijit pelipisnya.
"Nama asli Nona Sunny adalah Daisy, dia anak dari bekas pelayan pribadi Nyonya Beatrice, tapi dia sudah meninggal dan suaminya juga di kabarkan sudah meninggal 2 tahun lalu akibat kecelakaan tabrak lari."
"Jadi dia bukan Sunny anak pengusaha dari Luar Negeri?"
"Bukan Tuan, semua telah di palsukan oleh Tuan Derreck."
"Braakkk!!!" Mark memukul meja.
"Anak itu..." Geram Mark masih mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal.
"Lalu informasi yang lain nya adalah, telah di konfirmasi jika Benjove menyembunyikan Gustav."
"Awalnya kita memata-matai Ben hanya untuk mencari tahu keberadaan Gustav. Tapi sedikit demi sedikit kita justru mendapatkan informasi yang mengejutkan. Tapi untuk apa dia lakukan ini semua."
"Menurut saya ini menyangkut persaingan bisnis, kita harus menyerang Tuan Mark, sebelum Ben yang akan menyerang bisnis kita."
Mark Waldorf berfikir sejenak.
"Cari seseorang yang bisa melakukan peretasan dan mencuri data perusahaan Benz Grup."
"Saya mengerti Tuan."
FLASHBACK OFF
*****
Sore itu dan matahari sudah kian tenggelam, Ben dan Daisy sampai di perusahaan, saat itu Daisy masuk secara terpisah karena permintaan Daisy, ia tidak mau menjadi topik pembicaraan yang lebih heboh lagi.
Awalnya Ben marah dan tidak mengijinkannya, namun setelah sedikit rayuan dari Daisy, Ben akhirnya luluh.
Daisy cemas ia sedang tak mau memikirkan sesuatu yang merepotkan tentang orang-orang yang selalu membicarakannya. Apalagi, saat ini wajah Daisy telah cukup banyak di kenal, meski bukan artis terkenal namun debutnya masih saja menjadi trending yang cukup hangat.
Daisy berjalan pelan menggunakan kacamata hitam dan topi bulat yang sedikit lebar.
Di belakangnya seorang pengawal mengawalnya. Daisy menekan tombol lift dan tak berapa lama lift pun terbuka.
Daisy masuk bersama pengawal tersebut.
Namun baru beberapa saat pintu lift terbuka dan beberapa orang masuk ke dalam lift untuk naik.
"Eh... Kau lihat kan tadi pagi, wanita cantik yang bersama Tuan Ben, apa mereka pacaran? Mereka sangat serasi, dan wanita itu juga terampil saat menangani peretasan." Kata salah satu karyawan.
"Iya, aku juga sedikit melirik, saat itu kantor Tuan Ben kacanya tidak di tutup, dan wanita itu sangat dekat dengan Tuan Ben bahkan aku tidak sengaja melihat mereka saling berpegangan tangan ketika fokus melihat komputer."
"Tapi iri sekali, seandainya aku juga pintar seperti wanita itu, pasti aku juga bisa berdekatan dengan wanita itu."
Beberapa karyawan saling mengobrol, dan pintu pun terbuka mereka keluar dan masih saling berbisik. Sedangkan Daisy dan pengawalnya tetap naik ke lantai paling atas.
Saat pintu lift sudah terbuka di lantai paling atas, Daisy membatalkan niatnya dan kembali turun ke lantai kantor ruangan Ben.
Daisy kemudian keluar dari lift.
"Kau istirahat dulu saja. Aku akan ke ruangan Ben."
"Baik Nona."
Daisy berjalan pelan, ia melewati para karyawan yang sibuk bekerja, semua karyawan yang berada di satu lantai dengan Benjove adalah karyawan yang memiliki pangkat tinggi.
Daisy melihat ke arah ruangan Ben yang penuh dengan kaca. Memang saat itu kaca tidak di tutup, dan orang di luar dapat melihat aktifitas Ben, biasanya jika Ben membutuhkan privacy kaca akan ia tutup menjadi putih, dan menjadi kaca Refleksi.
Daisy mengamati kesibukan Ben, saat itu dia sedang bersama seorang wanita yang memiliki rambut sebahu.
"Nona ada yang bisa saya bantu?" Tanya Clarissa.
Daisy kemudian membuka kacamatanya dan tersenyum.
"Oh Nona Sunny." Kata Clarissa.
"Anda ingin bertemu dengan Tuan Ben? Tapi Tuan Ben sedang sangat sibuk..." Lanjut Clarissa.
__ADS_1
Saat itu Traver sedang tidak berada di sana.
"Aku akan masuk." Kata Daisy.
"Tapi..."
"Nanti jika mereka terganggu aku akan keluar." kata Daisy.
"Baik Nona Sunny, tapi saya mohon agar saya bertanya dulu dengan Tuan Ben."
Daisy mengangguk.
Kemudian Clarissa masuk.
"Tuan Ben ada Nona Sunny." Kata Clarissa.
"Suruh masuk." Kata Ben berdiri dari kursinya.
"Lucy sampai di sini dulu." Lanjut Ben.
Kemudian Daisy masuk.
"Ben... Kau tidak bisa seperti ini, kita sedang memiliki urusan yang sangat penting, bisa saja musuhmu datang lagi untuk meretas, kita belum selesai." Kata Lucy menghalangi.
"Bukan hal besar, kau bisa lanjutkan sendiri, aku harus menemani kekasihku dulu."
"Kekasih? Dia kekasihmu?" Kata Lucy terkejut.
Daisy hanya berdiri dan Ben mendatanginya, lalu mencium kening Daisy.
"Kau bosan ya..." Kata Ben.
"Ben...!!! Kau bercanda ya...!!! Jika masalah ini tidak penting untuk apa kau memanggilku!! Buang-buang waktu saja...." Kata Lucy.
"Jika kau tidak bisa mengatasi virus itu, kau bisa pergi." Kata Ben.
"Aku bisa tapi aku juga harus mengatakan sesuatu yang sangat rahasia tentang siapa yang telah membobol keamanan sistem perusahaanmu!!"
"Kekasihku bukan orang yang mampu menyebarkan luaskan informasi ini."
"Ben!!!" Teriak Lucy.
Ben menghela nafasnya pelan.
"Kau tunggu aku di atas dulu, 10 menit lagi aku akan menyusul." Kata Ben pada Daisy.
Saat itu Daisy tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Tubuhnya kaku, mulutnya kelu, karena ia melihat seorang wanita yang cantik, cerdas, dan tegas, tentunya Daisy juga sangat syock, biasanya yang bisa membentak Ben hanya dirinya, biasanya yang bisa merajuk pada Ben hanya dirinya, biasanya yang bisa melakukan apa yang ingin di lakukan Ben juga hanya dirinya namun Daisy melihat wanita lain bisa melakukan apa yang ia lakukan. Daisy menjadi syock dan tertekan.
"Sayang... Kau melamun?"
"Aah... I... Iya... Aku akan naik."
Ben kemudian mencium kening Daisy dan kemudian kembali duduk ke kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dengan Lucy.
"Aduh Ben, ada sesuatu di rambutmu." Lucy memegang kepala Ben dan membersihkan sesuatu yang ada di rambut Ben.
Daisy melihat itu dan menggigit bibirnya, ia mengingat bahwa baru semalam Daisy berharap tidak ada seorang pun wanita yang boleh memegang kepala seorang Benjove, namun di depan matanya kini ada wanita yang sedang memegang kepala dan rambut Ben.
Daisy kemudian keluar dengan membanting pintu ruangan Ben yang terbuat dari kaca.
Saat itu Daisy juga menyenggol vas bunga yang ada di meja koridor.
"PYAARRR!!!" Vas itu jauh dan pecah.
Clarissa buru-buru berdiri.
Ben melihat Daisy marah dan kesal.
"Astaga... Lihat kekasihmu Ben, tempramennya sangat tinggi, ia bahkan tidak bertanggung jawab atas kesalahannya karena menjatuhkan vas yang pecah." Kata Lucy.
Ben memijit pelipisnya berharap rencana yang sedang ia susun ini tidak gagal, jika gagal ia tahu nasibnya akan berakhir dengan di penggal kepalanya oleh Daisy.
__ADS_1
Bersambung