
Meja makan milik Douglas menjadi sedikit gaduh.
"Anakku yang tampan... Katakan pada Ayah siapa yang berani melakukan itu padamu!" Kata ayah Xuan dengan suara keras.
"Aku hanya terjatuh, dan Ayah aku ingin mengatakan sesuatu, bahwa aku tidak mau menikah dengan wanita ini!! Aku sedang menjalin hubungan yang panas dengan Gloria, aku suka wanita nakal, aku tak mau menikahi wanita bodoh yang tidak agresif!!!" Teriak Xuan di hadapan orang tuanya dan orang tua Gaby.
Seketika kedua orang tua Xuan terhenyak dan mematung.
Kedua orang tua Gaby pun juga terdiam.
JHonder yang masih berdiri menjaga juga terkejut.
"Apa yang kau katakan dasar anak bodoh tidak berguna!!!" Teriak ayah Xuan.
"Ahahahhahhaha....!!!" Tiba-tiba Douglas tertawa.
Semua melihat ke arah Douglas kenapa Douglas tertawa.
"Tidak apa-apa Xuan, jika kau sedang menjalin hubungan dengan Gloria, apakah Gloria pemilik perusahaan Giant?"
"Ya... Ya... Tapi perusahaan itu sekarang sudah berpindah nama bukan lagi milik Gloria." Kata Xuan.
"Oh jadi begitu... Tak masalah, kau masih tetap melanjutkan pertunangan dengan Gaby, dengan tetap menjalin hubungan bersama Gloria." Kata Douglas enteng.
"Ayah!!!" Teriak Gaby mendelik.
"Suamiku!!!" Gia pun juga berteriak.
"Apa salahnya jika Xuan memiliki 2 pasangan, dia kaya raya, dia memiliki pengaruh, pasti banyak wanita yang juga menginginkannya, Xuan bisa memiliki semua wanita, tapi dia hanya memilih 2 wanita, itu pun Xuan mau menikahi Gaby, artinya, Xuan memiliki bentuk hubungan serius dengan Gaby, dan Gloria hanyalah tempat untuk bermain-main. Benar begitu Xuan?" Tanya Douglas dengan penekanan.
Xuan ketakutan, dan melirik ke arah Zac yang saat itu bahkan tak melihat ke arah meja milik Douglas. Namun, tentu Zac tetap mendengarkan.
"Ayah... Bisakah kita selesaikan makan malam ini sekarang? Aku harus pulang bersama Carlos." Lanjut Zay.
"Kau akan pulang bersama kami Zay." Sahut Ben dengan tegas.
"Bukankah kau yang sudah mengusirku dari rumah saat usia ku masih remaja? Aku bahkan tak bisa menikmati masa-masa remajaku seperti kebanyakan remaja lain." Kata Zay marah.
"Itu demi kebaikanmu." Kata Ben.
"Itu demi obsesi ayah sendiri! Menyiksa ku dan juga Zac, membombardir kami dengan pelatihan-pelatihan yang sangat ekstrem!!!" Kata Zay sedikit berteriak.
"Zay kecilkan suaramuu... Malu di dengar orang lain, mereka akan mengira keluarga kita terpecah." Kata Daisy.
"Memang kenyataannya begitu! Keluarga apanya? Seorang ayah yang tega menyiksa anak-anaknya yang masih kecil dengan pelatihan militer dan dengan pelatihan di hutan penuh dengan mafia, lalu seorang ibu yang hanya bisa diam saja tak melakukan apapun meski anak-anaknya menderita! Ibu macam apa yang tega membiarkan anaknya menjalani kehidupan yang mengerikan seperti itu, apakah ibu tahu banyak luka di tubuh Zac, banyak luka juga di tubuhku!!!"
"Zay sekarang kalimatmu sudah keterlaluan!" Pangkas Zac yang akhirnya mengancam adiknya.
Daisy menahan derai air matanya yang hendak keluar, ia tak kuasa lagi menahan dan menanggung beban itu, anaknya memaki dirinya di hadapanya banyak orang apalagi ia juga memperhatikan berkali-kali senyuman ejekan datang dari Gia.
__ADS_1
Seolah Gia sedang memperolok keluarga nya yang hancur.
"Cukup ayo kita pulang Zay." Ajak Derreck.
"Pulang? Pulang kemana? Aku sudah di usir." Kata Zay bersiteguh.
"Zay, patuhi orang tuamu... Okey?" Kata Carlos lembut dan memeluk Zay.
"Singkirkan tanganmu dari anakku!" Geram Ben mulai tak bisa menahan diri.
Carlos kemudian menyingkirkan tangannya. Namun, Zay dengan cepat mengambil tangan Carlos lagi untuk memeluknya.
"Jika Ayah tidak setuju dengan hubungan kami, jangan kira aku akan menurut, dan pulang begitu saja, justru aku merasa senang, karena aku bisa keluar dari rumah yang mengerikan itu." Kata Zay melotot pada sang ayah.
"Zay... Apa kau sadar ucapanmu." Kata Ben lagi dengan nada menahan marah.
"Aku bahkan sangat sadar jika aku hanya mencintai Carlos, kalian semua hanya ingin memisahkanku dengannya!!" Kata Zay.
"Carlos ayo kita pergi dari semua orang yang tidak menerima kehadiran kita." Ajak Zay.
Kemudian Zay ingin berdiri.
"Duduk atau ayah akan benar-benar menyeretmu pulang." Kata Ben.
"AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI YANG BISA DI SURUH-SURUH SEPERTI DULUUUU!!!" Teriak Zay sembari berdiri, membuat kursi nya mental dan jatuh ke belakang.
Zay memulai pembangkangannya, ia merasa sangat kecewa pada sang ayah, ia marah, dan kini ia membenci ayah serta semua keluarganya.
"Jangan macam-macam dengan anakku Carlos!!!" Geram Ben kemudian berdiri.
"SREETTT!!!"
"SREETTT!!!"
"KLAAKKK!!!"
Dengan gerakan cepat, semua orang mengeluarkan pistolnya, suasana menjadi tak terkendali, beberapa tamu pun memilih pergi dengan tergesa-gesa karena takut.
Para pelayan restoran mulai mengevakuasi tamu yang tersisa.
Saat itu, Ben menodongkan pistolnya pada Carlos, Derreck pun juga menodongka pistolnya pada Carlos. Namun, Carlos menodongkan pistolnya pada kepala Zay.
Dengan cepat pula, Tanpa di sadari Carlos, tiba-tiba sebuah pistol telah berada di kepala belakang Carlos, itu adalah Zac yang lebih cepat masuk dan berdiri di belakang Carlos. Zac menodongkan pistolnya menggunakan tangan kanan hingga menekan kepala Carlos.
"Berani kau tembak adikku, ku pastikan kepalamu juga hancur." Kata Zac mengancam.
Seketika Daisy terperanjak, ia berdiri dan ketakutan, dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya ia menangis sesenggukan.
Zay sendiri membulatkan matanya, ia tak mengerti kenapa Carlos menodongkan pistolnya padanya.
__ADS_1
"Car... Carlos... Apa... Apa yang kau lakukan..." Kata Zay gugup dan gagap.
"Menurutmu?" Ucap Carlos.
"Bukankah kau mencintaiku..."Kata Zay.
"Mencintaimu?" Tanya Carlos.
"Tepatnya mencintai ibumu..." Kata Carlos dengan senyuman licik dan melihat ke arah Daisy.
Zay semakin terkejut dan tiba-tiba air matanya mengalir.
Daisy menggelengkan kepalanya dan menangis.
"Jangan mempercayai kalimat apapun dari mulutnya Zay..." Pinta Daisy agar Zay tak mempercayai Carlos.
Saat itu Traver sudah maju melindungi Daisy dan berada di depan Daisy sembari menodongkan senapannya.
Traver juga berusaha menghubungi Mena untuk menjaga keadaan bersama para pengawal.
Keluarga Douglas keluarga Xuan berdiri.
"Mari kita pulang suasana di sini audah tak terkendali, kita bicarakan acara perjodohan lebih lanjut di rumah kami." Ajak Douglas.
"Baik... Mari..." Kata ayah Xuan.
Keluarga Douglas dan Keluarga Xuan bersiap akan pergi, Gaby merasa sangat marah dan kesal, rasanya ia ingin sekali melarikan diri, namun ia juga melihat dengan prihatin apa yang terjadi di keluarga Zac, kenapa mereka semua saling menodongkan pistol, apakah terjadi permasalahan yang berat. Dengan bwrat hati, Gaby membawa jas milik Zac dan hendak pergi.
Saat itu Xuan Yuan juga akan pergi, meski Zac terlihat sangat tenang dan sabar, namun dalam dirinya kini sedang merasakan amarah dan kebencian yang bergumul hingga ingin segera di luapkan.
Pada akhirnya Zac menarik pistol satunya lagi dari dalam pakaiannya, ia menggunakan tangan kirinya, dan menarik pelatuknya.
"KREEEK...."
Ben melirik ke arah Zac yang matanya sedang fokus di tempat lain.
Tanpa hitungan detik, semua terjadi begitu cepat, bahkan Ben belum mengerti apa yang akan Zac lakukan.
"DOOORRRR!!!"
"DOOORRRR!!!"
"DOOORRRR!!!"
Zac menembakkan pistol satunya menggunakan tangan kiri ke arah Xuan Yuan.
Kepala Xuan bocor pecah terkena tembakan, kemudian tembakan kedua mengenai perut Xuan, darah pun muncrat dan tembakan ketika mengenai kaki Xuan, seketika Xuan terjerembab jatuh ke lantai dengan penuh darah segar yang mengalir deras.
Ben terkejut dengan tembakan yang di lakukan Zac, dengan sasaran yang bahkan di luar prediksinya, rahangnya mengeras, matanya waspada dan membulat, apa yang sedang terjadi dengan anak laki-lakinya.
__ADS_1
Bersambung