Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 201


__ADS_3

Pulau Tanpa Nama~


"Tuan Douglas, saya rasa, istri anda membangun kekuatan di atas kekuatan anda."


"Heiden, kau baru saja bergabung menggantikan Jhonder, bagaimana kau bisa mengatakan hal lancang seperti itu, tugas mu sekarang cari putriku sampai dapat."


"Saya memang baru beberapa jam bergabung, tapi Tuan Douglas, ada beberapa kejanggalan di mansion ini, para pengawal terlihat tidak saling bekerja sama, lalu saya baru saja mendapatkan informasi jika Charles membantu Nona Gaby melakukan penerbangan sampai ke AS."


"Apakah info itu akurat." Kata Douglas.


"Saya pastikan ini benar."


"Periksa Charles sekarang." Perintah Douglas.


Kemudian Heiden bersama Douglas dan beberapa pengawal pun pergi mencari Charles.


"BRAAKK!!!" Pintu kamar tidur di buka secara kasar.


Saat itu Gia sedang menelpon seseorang dan terkejut, dengan spontan Gia mematikan ponselnya.


"Siapa yang baru saja kau hubungi." Tanya Douglas.


"Bu... Bukan siapa-siapa..." Kata Gia tergagap.


Douglas langsung maju dan merebut ponsel milik Gia, kemudian memeriksanya.


Beberapa panggilan keluar di tujukan untuk Charles.


Seketika Douglas mengangkat satu alisnya.


"Dimana Charles sekarang." Tanya Douglas.


"Aku... Tidak tahu... Aku juga sedang mencarinya." Kata Gia.


"Kau tidak tahu ya... Mungkin hadiah kecil yang bagus bisa membuat ingatanmu kembali." Kata Douglas.


"Heiden bawa mereka semua yang telah berkhianat!" Perintah Douglas.


"Baik Tuan."


Kemudian Douglas menarik tangan istrinya menuju ke bawah, kini tepatnya mereka sudah berada di taman belakang.


Gia menelan ludahnya ketakutan, semua yang ada di hadapannya adalah para pengawal yang bergabung dengannya. Diam-diam Gia telah memberikan perintah pada Charles untuk membuat pasukan dan sedikit demi sedikit mereka akan mengambil alih kekuasaan Douglas. Charles mengambil pasukan Douglas sedikit demi sedikit lalu akan menggulingkan Douglas.


Hanya sedikit lagi dan rencana mereka pasti akan berhasil.


Namun, semua itu di gagalkan karena kejelian dan kecerdasan pengawal pribadi Douglas yang baru beberapa jam bergabung menggantikan Jhonder, dia adalah Heiden.


"Mungkin mereka semua dapat menjernihkan kepalamu, istriku." Kata Douglas sembari meminta sesuatu dari Heiden.


Ternyata Heiden memberikan senapan laras panjang pada Douglas, dan membuat Gia menahan rasa keterkejutannya.


Para pengawal yang berjumlah ratusan pun sudah berkumpul dengan merasa kan suasana ketegangan, mereka akhirnya sadar bahwa hal buruk bergabung dengan Charles serta Gia, mereka mulai sadar bahwa kini nyawa mereka sudah selesai.

__ADS_1


"Ceklekk!!!" Douglas menarik pompa senapan dan kemudian membidik salah satu pengawal.


"Dimana Charles." Tanya Douglas.


"Aku tidak tahu." Kata Gia


"DOORRR!!!" Satu tembakan tepat di dahi satu pengawal yang berdiri di depan Gia.


"HHHaaahhh....!!!" Gia menutup mulutnya dengan jemari bergemetaran.


Heiden memberikan peluru pada Douglas, dan Douglas menerimanya.


"CEKLEEKK!!!" Kembali lagi Douglas menarik pompa senapan lalu mengisi peluru lagi.


Semua para pengawal berjalan mundur sedikit demi sedikit karena ketakutan.


Douglas memasangkan bidikannya di matanya, dan siap menarik pelatuknya dengan jarinya.


"Dimana Charles berada." Douglas kembali bertanya.


"Aku tidak tahu!" Kata Gia menutup matanya.


"DOOORRR!!!" Tembakan pun mengenai salah satu pengawal lagi, dan pemgawal itu seketika mati.


Gia kemudian menangis dan merasa hatinya kian lemah.


"Nyonya tolong kami Nyonya...." Teriak para pengawal yang meminta belas kasihan.


"Kau benar-benar sangat kejam istriku..." Kata Douglas.


"Istriku... Kau tahu... Aku masih bersabar, jika kau membuat kesabaran ku habis, aku akan perintahkan Heiden mengambil senjata M 42, kau tahu kan MG 42 mampu menembakkan 1.200 peluru 7,92 x 57 milimeter per menit.


Douglas kemudian mengarahkan tembakannya lagi pada salah satu pengawal.


"Tuan Douglas ampuni kami, kami akan patuh dan siap melayani amda dengan segala kesetiaan kami." Ujar salah satu pengawal.


Di hadapan Gia terdapat ratusan pengawal yang telah berkhianat pada Douglas.


"Ya, karena kalian lah aku kehilangan putriku." Kata Douglas.


"DOOORRR!!!" Tembakan kembali di arahkan kali ini adalah pengawal yang paling dekat dengan Gia.


Di hadapan Douglas nyawa-nyawa itu seolah tak berarti, Douglas begitu kejam.


Melihat darah menyiprat di rumput dekat kakinya, Gia mundur dan terjatuh, kini kakinya terasa lemah, wajahnya pucat dan sangay ketakutan.


"Charles... Dia... Pergi. Aku menyuruhnya untuk selalu melindungi kemana pun Gaby pergi." Kata Gia akhirnya.


Douglas yang sudah membidik, kemudian terdiam, tak lama dari itu Douglas pun menurunkan senapanya.


"Kemana Gaby pergi? Menemui siapa."


"Aku tidak tahu pasti, tapi Charles mengatakan bahwa Gaby akan kembali pada anak laki-laki itu, anak dari Benjove." Kata Gia.

__ADS_1


Bibir Douglas tersenyum sini. Sangat sinis.


Sedangkan Gia sudah tak mampu berdiri, kakinya lemas, ia terduduk di atas rerumputan dan kepalanya menunduk menangis, ia merasa sangat bersalah pada para pengawal yang mati.


Kemudian Douglas memberikan senapannya pada Heiden.


Douglas pun mengangkat Gia, dan menggendongnya.


"Heide , bunuh semua pengawal yang berkhianat."


"Tuaann.... Tolong jangan...." Teriak para pengawal.


"Tuann.... Maafkan kami... Sekali ini saja." Teriak mereka semua.


"Aku sudah mengatakannya padamu, kenapa kau masih membunuh mereka!!!" Teriak Gia dalam gendongan Douglas.


"Aku tidak pernah berjanji apaa-apa padamu, aku tak berjanji jika aku tak akan membunuh mereka." Kata Douglas.


"Tapi aku sudah mengatakan dimana Charles dan Gaby!!!" Kata Gia menangis.


"Ini akan menjadi contoh dan pelajaran siapapun yang berniat untuk berkhianat maka tak ada ampun, mereka harus menerima hukumannya. Heiden habisi mereka dan buang mayat mereka kelaut." Kata Douglas.


"Tuaaannn....!!!!"


"Nyonyaa Gia selamatkan kami semua.... Anda harus bertanggung jawab pada kami...." Teriak para pengawal.


Gia yang berada dalam gendongan Douglas pun menutup wajahnya dan menangis, Gia merasa sangat bersalah, Gia tak bisa lagi memikuk semuanya sendirian tentang ratusan nyawa yang menghilang karena niatnya yang ingin menggulingkan kekuasaan Douglas.


Sedangkan Douglas yang sedang di liputi amarah karena pengkhianatan istrinya yang ingin menggulingkannya dari kekuasaannya pun membawa Gia masuk ke dalam kamar.


Dengan kasar Douglas melemparkan Gia ke atas ranjang.


"Kau.... Memang harus di berikan hukuman setimpal agar kau tahu bagaimana harus bersikap pada suamimu, berani nya kau ingin membentuk pasukan dari pasukanku untuk melawanku." Douglas kemudian menurunlan risletingnya celananya.


Gia ketakutan ia duduk dan kemudian mundur perlahan, mata Gia menuju karah pintu yang tak di kunci, dengan sigap dan cepat Gia ingin kabur, ia kemudian melompat dafi atas tempat tidur dan berlari menuju pintu.


Namun, Douglas lebih cepat darinya. Douglas menarik tangan Gia yang kecil hingga kemudian membantingnya lagi ke atas tempat tidur.


Gia merasa tubuhnya lemah, pikiran pertama yang harus ia lakukan adalah pergi dari situasi itu, karena Gia tahu bahwa Douglas akan sangat murka padanya.


Dengan satu cengkraman tangan Douglas yang besar, Douglas pun kemudian menarik pergelangan kaki Gia membuat Gia sedikit tertarik ke atas.


Tubuh besar Douglas bukanlah lawan yang sebanding dengan Gia.


Gia menangis dan meronta.


"Kau... Kejaamm....!!!" Teriak Gia meronta namun tak dapat berbuat apa-apa.


Kemudian Douglas menarik pergelangan kaki Gia turun hingga kini Gia terperosot di bawah ranjang, membuat Gia duduk di lantai bersandar pada tepi ranjang.


Douglas yang sudah membuka celananya pun menyodorkan barang miliknya yang sudah membesar dan berdenyut.


Dengan satu tangan besarnya, Douglas menjambak rambut Gia, dan memasukkan benda miliknya ke dalam mulut Gia secara kasar hingga mencapai tenggorokan Gia.

__ADS_1


Gia merasa mual dan ingin muntah, namun Douglas justru menikmatinya, semakin Gia terlihat sengsara, Douglas justru semakin terangsangg.


Bersambung


__ADS_2