Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 50


__ADS_3

"Apa saya harus menjawabnya?" Tanya Daisy dengan nafas ngos-ngos an.


"Tidak perlu, aku yakin kau menyukai semuanya, di luar sana aku pastikan kau tidak akan mendapatkan kenikmatan seperti yang ku berikan padamu. Mereka tidak dapat bisa menandingi tenagaku." Kata Ben mencium punggung Daisy membuat bekas yang merah di banyak tempat.


Kemudian Ben membaringkan Daisy, mereka kini berada pada posisi miring, Ben ada di belakang Daisy, dan menaikkan salah satu kaki Daisy ke atas kakinya.


Kedua tangan Ben merangkul Daisy dan meremas kedua gundukan kenyal milik Daisy.


"Ooohhhh... Aaahh.... Tuaann...."


Tak sampai di situ, Ben belum juga puas, Ben kemudian membaringkan Daisy, dan memompa diri Ben kembali lebih cepat.


Daisy mulai linglung, ia merasakan dejavu, dengan melirik jendela, saat itu pertama kalinya ia datang ke mansion dan melakukan hubungan badan dengan Ben, permainan yang sangat lama dati siang hari dan berakhir hingga malam.


Dan sekarang hari sudah malam, Ben belum juga memiliki tanda-tanda segera mengakhiri permainannya.


"Tuaannn... Ini sudah malam... Saya... Tidak kuat lagi...."


"Apa kau benar-benar memakan makanan yang di sediakan para pelayan? Stamina mu masih kurang." Kata Ben.


"Tuaann... Tolongg berhenti... Malam ini saya harus..."


Ben teringat jika Daisy harus menemui ayahnya.


"Astaga... Aku benar-benar belum puas." Kata Ben dengan suara berat dan dengan nafas yang memburu, Ben semakin mempercepat gerakannya.


Seketika punggung berotot Ben mengencang, dan menusuk Daisy lebih dalam, cairan pun menyembur di dalam, Ben menekan tubuh Daisy lebih dalam lagi, geraman Ben terdengar dalam, cairan yang ia keluarkan menyembur dengan baik masuk ke dalam dan kemudian meleleh hingga ke selangkanggan Daisy.


Ben kemudian mencabutnya.


"Kali ini kau selamat. Jika bukan karena malam ini, ku pastikan ini bisa berlanjut hingga tengah malam." Kata Ben.


Daisy masih lemas di atas ranjangnya, Ben turun dan menghubungi pelayan.


"Bersihkan kamar." Kata Ben.


Setelah memberikan perintah pada para pelayan, Ben menutup telpon, kemudian Ben menggendong Daisy ke dalam kamar mandi, dan menaruh tubuh Daisy dengan lembut masuk ke dalam bathup.


Dengan telaten dan sabar Ben memandikan Daisy, mengeramasi dan menyabuni seluruh tubuh Daisy.

__ADS_1


Saat itu Daisy lemah dan lemas, ia bisa tahu dan merasakan jika Ben memandikannya namun Daisy tak kuat membuka matanya.


Setelah Ben selesai memandikan Daisy, giliran dirinya membersihkan tubuhnya, Daisy masih tertidur di bathup.


Hingga satu jam berlalu, Ben menggendong kembali Daisy, membaringkannya ke atas ranjang yang sudah bersih dan rapi.


Kemudian Ben mengelus pelan pipi Daisy yang rambutnya masih basah serta memakai handuk kimono.


"Aku penasaran... Kenapa aku terlalu bersemangat jika menyangkut tentang dirimu." Ben kemudian mengecup bibir Daisy dan keluar dari kamar.


Mena dan Traver berdiri di depan kamar Daisy dan menundukkan kepala ketika Ben keluar dari kamar.


"Jangan lupa agar dia tetap meminum obatnya." Kata Ben.


"Baik Tuan." Kata Mena.


"Jadi... Mena, kau harus ingat siapa tuanmu. Apapun yang Daisy lakukan laporkan padaku, atau kau tahu apa konsekuensinya." Kata Ben dingin.


"Maafkan saya Tuan, ini tidak akan terulang lagi." Kata Mena.


"Tuan, saya sudah menjemput pria itu. Sekarang dia ada di ruangan bawah." Kata Traver.


"Daisy masih tidur, bangunkan dia perlahan jika masih lelah biarkan saja." Kata Ben.


"Baik Tuan." Kata Mena.


Kemudian Ben turun dan menemui pria yang di bawa oleh Traver ke mansion.


Pengawal membuka pintu, Ben masuk ke dalam ruangan di temani Traver.


Pria itu duduk di kursi dan Ben duduk di kursi besarnya, berhadapan dengan pria yang mengaku sebagai ayah Daisy.


Tak berapa lama Mena menyusul.


"Tuan Ben, sepertinya Nona Daisy masih belum bisa bangun." Kata Mena.


Ben memberikan isyarat tangannya jika ia mengerti, Mena kemudian berdiri di samping Traver.


"Jadi... Kau adalah ayah dari Daisy?" Ben masih memakai handuk kimono, dan duduk menyilangkan kaki.

__ADS_1


"Be... Benar Tuan Ben."


Ben memberikan kode dengan tangannya, dan Traver menuangkan segelas whiskey untuk Ben, dan pria itu menyesapnya pelan, lalu menggoyangkan gelasnya.


"Siapa namamu?"


"An... Antonio Pablo."


Ben menatap lekat-lekat wajah pria yang ada di hadapannya, seperti tatapan serigala malam yang siap menerkamnya.


"Wuaahh... Astaga... Anda sangat tampan, saya memiliki calon menantu yang luar biasa, Daisy memang sangat pintar, dia cantik, tapi mohon maklum jika dia sangat sulit di atur, sedari kecil dia sangat suka membuat orang tuanya emosi, mohon jangan marahi dia jika membuat kesalahan." Kata Antonio Pablo.


"Kau butuh berapa?" Kata Ben dingin.


"Ya? Maaf Tuan?" Kata Antonio terkejut.


"Kau butuh berapa agar kau bisa pergi dari kehidupan Daisy."


Antonio memasang wajah pucat dan panik, ia kemudian meremas topi yang ia genggam.


"A... Apa maksud anda tuan... Anda ingin menyuap saya agar saya jauh dari putri saya?" Kata Antonio.


"Sebenarnya itu hal yang mudah bagi mu kan, kau meninggalkan Daisy sejak usianya masih kecil, seharusnya meninggalkannya lagi tidak akan sulit bukan, kau tidak perlu muncul seperti ini, apa kau melihat berita tentang Daisy yang bersamaku?"


Antonio memasang wajah geram.


"Saya akan mengatakan pada Daisy, jika anda mencoba untuk memisahkan saya dengan Daisy!!!" Kata Antonio.


"Silahkan saja. Tapi hal aneh kau tiba-tiba muncul mencari Daisy, setelah sekian lama kau meninggalkannya, seharusnya jika ku lempar uang tidak sulit kan untuk meninggalkannya lagi. Kau pernah melakukannya hingga bertahun-tahun, sekarang apa susahnya? Lagi pula kau salah menilai anakmu, dia memang sedikit nakal, tapi dia menggemaskan. Kau bahkan tidak mengenalinya dengan baik, apa kau tahu makanan favorit nya? Kau pasti tidak tahu. Ayah macam apa kau."


"Jangan sok tahu! Apa karena kau kaya, kau bersikap kurang ajar padaku! Aku adalah ayah Daisy, aku bisa dengan mudah tidak merestui kalian!"


"Jangan sok tahu? Hmmm... Kalimat yang bagus. Lalu, bagaimana dengan mengambil seluruh uang tabungan istrimu, yang tak lain adalah ibu kandung Daisy, kau juga mengambil seluruh uang asuransi milik nenek dan ibu kandung Daisy, membawanya pergi bersama wanita janda yang kau nikahi bernama Samantha. Kau tahu Daisy bertahun-tahu di siksa mental dan fisiknya oleh Samantha tapi kau tidak pernah peduli, lalu bisnismu bangkrut dan kau meninggalkan Daisy. Kehidypan Daisy semakin hancur, kau tahu Daisy akan di jual pada Geraldo, tapi kau juga mendukung ide itu, kau bahkan meminta bagian pada Samantha. Sekarang kau mendengar berita jika Daisy adalah kekasih Benjove Haghwer pria berkuasa dan pemilik perusahaan raksasa yang sukses, kau datang mencarinya. Kau bilang kau tidak akan menjual cincin yang dia berikan padamu? Kau tahu, bahkan lampu jalanan dapat memberitahuku apa yang telah kau lakukan dengan uang hasil cincin yang kau jual itu. Kau mendatangi rumah bordiil dan memesan banyak wanita lalu minum sampai perutmu buncit. Apa aku salah? Ayo katakanlah pada Daisy, bilang padanya seperti itu." Kata Ben menatap Antonio dingin.


Tangan Antonio gemetar, dadanya berdegup kencang, nafasnya berderu tak karuan. Antonio tak menyangka bahwa pria yang ada di hadapannya bak Tuhan yang tahu segalanya, pria itu tidak bodoh, tidak dapat di manipulasi, bahkan kini keadaan jungkir balikkan olehnya.


"Jadi... Diam-diam kau memeriksaku..." Kata Antonio gemetar, suaranya menjadi lemah dan takut.


"Bukanlah hal sulit, apalagi hanya seekor kecoa yang bisa di injak dengan mudah." Kata Ben.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2