
EPISODE INI MENGANDUNG UNSUR KETIDAKNYAMANAN MOHON SKIP JIKA TIDAK MENYUKAINYA. TERIMAKASIH~
Ben mengambil remote AC dan mematikannya.
"Ke... Kenapa di matikan?" Tanya Daisy gugup.
"Agar lebih panas dan bergairaah."
Sedikit demi sedikit Ben menaiki ranjang, dengan menahan tubuhnya menggunakan kedua lututnya yang keras, Ben menarik pelan kaki jenjang dan mungil Daisy dengan lembut, kemudian Ben mencium kaki telanjangg yang putih itu.
Ben mengecup tumit Daisy, bahkan Ben mengulum setiap inc kaki Daisy hingga sedikit demi sedikit ia naik dan sampai di paha Daisy.
"Ben... Ituu... Ko... Kotor... Aku akan mandi dan membersihkan diri dulu." Kata Daisy.
"Apa aku belum mengatakannya padamu Daisy, jika kakimu indah, ini sangat indah, kaki yang jenjang, kulit putih dan mulus." Ben mengecup pangkal paha Daisy, memghisap dengan cukup lama dan menimbulkan bekas merah.
"Sshhhh.... Aaahhh..." Daisy mendesis.
"Apa aku juga belum mengatakannya? Jika aku suka area ini." Kata Ben menyingkap underware milik Daisy dengan jari telunjukknya.
Ben menjulurkan lidahnya dan kedua matanya masih menatap lekat-lekat ke arah Daisy. Ben menyukai wajah Daisy yang sedang menikmati setiap sentuhannya.
Lidah itu menjilat dengan lembut.
"Ngghhhh.... Beeen.... Kedua tangan Daisy meremas sprei dan kepalanya mendongak, kedua matanya menutup rapat, dadanya membusung.
"Aku suka ini, sangat menyukainya...." Kata Ben.
Lidah Ben masuk dengan perlahan menggerayangii di seluruh area, permainan lidah yang luar biasa itu membuat Daisy basah kuyup, apalagi saat itu AC di matikan.
Ben kemudian melepaskan underware milik Daisy, dan mencium puncak sensitif Daisy.
"Kau merawatnya dengan baik. Ini wangi." Ben membenamkan wajahnya dan mulutnya tepat di bagian sensitif milik Daisy.
Kedua tangan dan jemari-jemari Daisy kemudian berpindah di kepala Ben.
"Astaga Ben... Pastikan hanya aku yang bisa mencengkram kepala dan meremas rambut seorang Benjove Haghwer." Kata Daisy mulai meracau menikmatinya.
"Orang lain akan ku potong tangan mereka." Kata Ben.
Ben menyesap kuat wilayah area sensitif Daisy, serbuan lidah dan permainan mulut Ben, menghisap, menyesap, mengulumnya masuk ke dalam, hingga menimbulkan suara-suara seperti percikan dan suara-suara kecap kecup di bagian sensitif milik Daisy dan mulut Ben membuat Daisy bergetar, tubuhnya bergejolak, dadanya membusung, sebuah getaran hebat pun menyentak dan menyetrum tubuhnya, Daisy orgasme lagi, dan membuatnya merasa kenikmatan luar biasa, kakinya terangkatbke atas dan gemetaran.
__ADS_1
Seluruh tubuh Daisy tersentak-sentak, seperti setiap sel syarafnya aktif dan saling meledak.
Ben kemudian mulai memasukkannya dengan sekali dorongan dan hentakan.
"Aaaaahhh...." Daisy langsung mengeratkan kedua kakinya di pinggang Ben, kedua tangannya pun merangkul Ben dengan erat.
"HMMMMM...." Ben pun tak kalah, ia merasa miliknya di remas, di hisap masuk, dan di seolah sedang di manja di dalam sana.
Ben mulai memompa tubuhnya, awalnya pelan, namun akhirnya ia memompa dengan cepat.
"OOHHH... SIALL... Ini sangat dalam dan ketat... HMMM... aku bisa gila Daisy!!!" Kata Ben terengah.
"Ngghhh... Ahhh... Ben... Aku... Ohhh...." Daisy kembali merasakan setruman kenikmatan lagi, tubuhnya bergetar hebat. Kakinya terangkan naik dan merasakan kedutan-kedutan dahsyat di bagian sensitifnya.
Ben berhenti sejenak agar Daisy merasakan kenikmatannya, dan kemudian Ben memutar tubuh Daisy, ia mengganti posisi Daisy dengan posisi miring, Ben mulai memompa lagi dengan cepat.
Kedua tangan Ben merangkul dari belakang, tangan kanannya meremas bagian dada dan tangan kirinya memutar-mutar bagian sensitif milik Daisy.
"Ben... Nghhh... Ahhhh... Bennnn...!!!" Desahaan Daisy semakin keras, dan semakin menjadi.
Ben mengecup dan menyesap seluruh tubuh Daisy, hingga bekas-bekas hisapan berwarna merah ada di seluruh tubuh Daisy. Lagi-lagi Ben sangat menyukai menakhlukkan Daisy dengan segala tatto-tatto yang ia buat.
Ben puas ketika Daisy merasa putus asa karena kenikmatan yang selalu menyerangnya, Ben semakin bersemangat ketika Daisy terus menerus mendesaahh sembari menyebut dan memanggil namanya, Ben semakin terangsaangg ketika Daisy mengatakan jika semuanya terasa sangat enak.
Keringat Ben mengucur deras, semua seperti hujan yang membasahi tubuh mereka, tubuh telanjjang yang saling mengalirkan keringat yang banyak, belum lagi Ben selalu ingin mengganti posisi membuat Daisy semakin putus asa karena serangan kenikmatan yang bertubi-tubi tak terhenti.
Beberapa kali Ben juga telah mengeluarkan benihnya, namun miliknya masih saja tetap berdiri, terakhir kali Ben bahkan sampai menggeram cukup keras dan menekan tubuhnya, menyentakkan berkali-kali tubuhnya pada tubuh Daisy agar miliknya masuk lebih dalam ketika mengeluarkan cairan spermnya.
Meski nafas Ben semakin memburu dan semakin terlihat ngos-ngosan namun tenaganya masih sangat kuat. Itu semua karema gairah yang telah memenuhi kepala dan hasratnya.
Kali ini Ben dalam posisi di atas, dan Daisy ada di bawah, Ben memompa maju dan mundur dengan memegangi pinggul kecil Daisy, begitu cepat dan sangat cepat.
"Aaarrgghh... Ggrrmmm... Aaarghhh....!!!!" Ben menggeram kembali, cairan menyembur masuk ke dalam Daisy, keringat mengalir deras di punggung Ben, bahkan keringat nya begitu banyak menetes dari kedua lengannya yang kekar, dari kaki-kakinya, dan dari kepalanya dimana keringat turun hingga ke rahang dan menetes di atas perut Daisy.
Daisy merasakan sentakan hebat Ben berkali-kali pada tubuhnya, membuatnya semakin merasa kan kenikmatan apalagi ketika mereka mencapai ******* secara bersamaan, Ben yang menusukkan masuk miliknya berkali-kali karena sentakan-sentakan *******, dan Daisy yang meremas dan menjepit barang besar milik ben yang ada di dalam seolah menariknya dan menghisapnya untuk lebih dalam masuk.
"Ngghhh... Oohhhh... Beee..nnn... Aaahhhh !!!" Daisy mencakar punggur Ben karena ini adalah kenikmatan yang luar biasa.
Pada saat itu juga ia merasakan kedua kakinya telah mati rasa, kaku, dan sangat kebas, ia bahkan seperti kehilangan punggung dan pinggulnya.
Daisy melirik pukul berapa, dan ia tersentak ketika jam telah menunjukkan pukul 5 pagi.
__ADS_1
Ben tersenyum kecil melihat gelagat Daisy.
"Sedikit lagi akhirnya kau bisa mengimbangi kekuatanku...."
Daisy tersenyum pasrah karena kelelahan.
"Tapi ini belum berakhir."
Mendengar itu seketika senyuman Daisy menghilang, memudar menjadi wajah putus asa.
Ben mencium bibir Daisy dengan lembut.
"Kita melakukannya semalam penuh Ben..." Kata Daisy lemah.
Namun Ben kemudian mengangkat tubuhnya, memperlihatkan miliknya masih saja berdiri.
Daisy meremas kepalanya.
"Kau... Apa kau... Memiliki libidoo tinggi?" Kata Daisy.
Ben kemudian menciumi perut Daisy.
"Tepatnya aku selalu terangsangg denganmu, hanya kau, jika di umpamakan kau adalah ekstasi, kau juga seperti heroine kwalitas tinggi yang membuatku terus kecanduan." Kata Ben mencium Daisy dan mulai merembet lagi di area sensitif Daisy.
"Bee...Benn... Ta... Tapi..." Nafas Daisy mulai terengah karena sentuhan dan pancingan gairahh Ben, pria itu terus menerus menciuminya dengan lembut.
"Aa... Aku sudah tidak bisa..." Kata Daisy.
"Satu kali lagi, dan aku akan melakukannya dengan cepat." Kata Ben.
Pada akhirnya Daisy mengangguk, ia kalah, ia tidak dapat melawan ketekatan Ben.
Namun, Ben pembohong, ia memang pantas di sebut mafia kejam. Sebentar dan di lakukan dengan cepat, itu hanyalah mimpi indah bagi Daisy dan itu adalah rayuan belaka, pada akhirnya Daisy tidak dapat bertahan, dia lemah dan bagian sensitifnya terasa mati rasa.
Meski begitu, rupanya Daisy mengutuki dirinya bagaimana di sisa-sisa tenaga nya ia masih saja bisa merasakan sengatan dan setruman kenikmatan meski hanya lemah tak sekuat sebelum-sebelumnya karena tenaganya juga telah habis ia berada dalam setengah kesadaran, namun itu adalah orgasmenya yang entah kesekian berapa kali, bahkan Daisy tak dapat menghitungnya.
Kenikmatan terakhir yang terasa sedikit lemah itu membuat Daisy menutup matanya dan ia tak lagi sadar apa yang sedang Ben lakukan.
Namun yang pasti ada di benak Daisy, setelah ia bangun nanti, ia akan memaki dan memukul Ben dengan sangat keras, ia akan memarahi Ben karena Ben telah menindasnya dengan kekuatan nya tanpa batas dan tanpa ampun.
Bersambung
__ADS_1