
Gia masih terdiam sejenak ia memikirkan sesuatu, apalagi otaknya di penuhi dengan wajah cantik Daisy yang bagai malaikat.
Semua orang melihat Gia, kecuali Ben.
Rudolf, Traver, Gavriel serta Dereck, Mena dan Casey, bahkan Mark Waldorf menatap Gia ia ingin tahu apa yang Gia inginkan, apakah harta, wilayah, pulau, rumah besar.
"Sa.. Saya... Saya... " Kata Gia terbata.
"Ya... Katakan apa yang kau inginkan..." Kata Daisy.
"Saya menginginkan Ben." kata Gia.
"Apa?" Kata Daisy senyumannya sedikit meredup.
Namun kemudian Daisy tertawa sampai ia menangis.
"Haa... Hahha...Hahhaa..... Kau memang suka melucu ya..." Kata Daisy tertawa.
"Tidak... Saya tidak melucu, anda menanyakan pada saya keinginan saya apa, dan anda ingin membalas budi pada saya, anda juga mengatakan pada saya akan mengabulkan seluruh permintaan saya. Bagaimana? Apakah anda akan menyetujuinya? Apakah anda akan mengabulkan permintaan saya? Saya memginginkan Ben, saya ingin menjadikan Ben kekasih saya dan suami saya. Apakah anda bisa mengabulkan itu untuk membalas budi pada saya?" Tanya Gia.
Semua orang mendadak tegang dan terkejut dengan kelancangan dan keberanian Gia.
"PLAAKKK!!!" Dengan tangannya sendiri, Daisy menampar Gia.
Pada akhirnya Daisy tak bisa menahan emosinya, ia menampar Gia atas kelancangannya.
Daisy menelan ludahnya, lalu melihat ke arah Ben yang sama sekali tak pernah sedikit pun melirik Gia dari awal hingga akhir.
Kini pandangan Daisy penuh keraguan dan kecurigaan pada Ben. Saat itu Ben melihat Daisy, cara pandang Daisy padanya, lagi-lagi mata itu, mata penuh kebencian dan amarah.
Ben menghela nafasnya pendek, dan berjalan dengan tertatih, sepelan mungkin, lalu merangkul istrinya.
__ADS_1
"Gia... Aku menghargai semua kerja keras dan usaha mu, aku tahu itu juga tak mudah bagimu untuk ke kota sejauh itu dengan menggunakan sepeda agar kau bisa menghubungi orang yang ku maksud, tapi, kau sudah lihat reaksi istriku, dia... Jauh akan lebih mengerikan jika lepas kendali." Kata Ben dan mengajak Daisy pergi dari tempat itu.
Gia hanya diam, kakinya kaku dan dingin, tubuhnya gemetar, ia tak rela melepaskan Ben, ia sudah banyak melakukan semua hal untuk Ben.
Saat itu Ben melangkah kan kakinya hendak keluar dari halaman penginapan bersama Daisy.
"5 menit... Cukup 5 menit... Berikan aku 5 menit untuk bicara pada Ben." Kata Gia kemudian berbalik berteriak pada Daisy dan Ben.
Daisy diam dan mengepalkan kedua tangannya yang ada di samping pahanya.
"Hanya 5 menit saja, pinjamkan suamimu 5 menit padaku, kau kan sudah memilikinya seumur hidupnya, apa salahnya hanya 5 menit, toh aku telah menyelamatkan nyawanya dari kematian, dan akhirnya dia bisa menemanimu sepanjang hidupnya, kau tidak keberatan bukan jika aku meminta 5 menit bersama suamimu, sekedar untuk imbalanku atas menyelamatkan suami mu dari kematiannya."
Daisy diam sejenak.
"Memangnya kau punya hak apa atas diri suamiku."
"Aku hanya menuntut dari pernyataanmu jika kau akan mengabulkan semua permintaanku karena aku sudah menyelamatkan suamimu. Apa semua itu bohong dan hanya kemunafikan belaka?"
Ben melihat ke arah lain ia tahu, jika matanya melihat ke arah Gia, Daisy akan terbakar cemburu, ia pasti akan menyalahkan matanya dan mengingatnya berkali kali sepanjang hidupnya, bahkan yang lebih parah sepanjang hidup Ben, Daisy akan membuat Ben merasa menyesal memiliki mata.
"5 menit dan tidak lebih aku akan menghitungnya." Kata Daisy kemudian mengambil keputusannya.
"Kau tak perlu melakukan itu sayang..." Bujuk Ben.
"Aku sudah mengatakan akan mengabulkan semua permintaannya, karena telah menyelamatkan nyawamu, lagi pula hanya dengan 5 menit apa yang akan dia lakukan padamu? Aku penasaran juga dan aku sedang berpikir, mungkin dia mau berbicara atau membujukmu untuk tinggal bersamanya, aku ingin tahu apa jawabanmu." Kata Daisy.
Ben memejamkan matanya, ia tak percaya Daisy meragukannya, meragukan kesetiaannya.
"Kenapa kau jadi meragukanku sayang... Tentu saja aku harus pulang denganmu, kau istriku. Untuk apa aku tinggal di sini dan harus memikirkan hal tak penting seperti itu."
"Tentu saja, aku meragukanmu, sejak tadi kau mengalihkan pandangan matamu, kau tak melihat wanita itu sama sekali, aku curiga apa kau sedang bersedih karena akan berpisah dengannya sampai tak kuat melihat dan memandang wajahnya. Aku bertanya-tanya apakah kau begitu berat meninggalkannya seorang diri di daerah ini." Kata Daisy menatap dengan mata liar.
__ADS_1
Tatapan yang tak asing bagi ben, ia paling takut jika Daisy menatapnya seperti itu. Ben seperti merasa sedang di telanjangii.
"Apa!?" Kali ini Ben benar-benar tak mengerti apakah dia harus senang istrinya cemburu atau kah harus sedih ternyata dugaan dan prediksinya salah dengan tidak melihat dan tidak menatap Gia sedikitpun.
"Inilah devinisi laki-laki selalu salah di mata wanita." Bisik Rudolf pada Gavriel sembari menahan tawannya hingga perutnya terasa kram dan sakit.
"Dan karena itulah aku tak ingin menikah, tapi jika itu Daisy, aku tak masalah di perlakukan seperti itu, aku iri pada Ben." Pada Gavriel.
"Kau mau mati." Kata Rudolf menggoda Gavriel.
Gavriel kemudian tersenyum sinis, dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan santai.
"Aku akan menunggu kalian di sini, aku beri waktu 5 menit sesuai permintaan." Kata Daisy.
"Astaga... Aku tidak perlu kau uji seperti itu." Kata Ben.
"Berikan dia kebahagiaan meski hanya 5 menit, itu juga karena dia sudah menyelamatkan nyawamu. Berterimakasihlah padanya dengan benar, karena aku tak bisa melakukannya lagi, dia membuat jarak sebesar jurang dengan ku. Jika saja dia tak menyelamatkanmu, aku sudah menggunakan tangan Mena untuk membunuhnya." Kata Daisy datar dan dingin.
Seketika Bulu kudu Gia bergidik mendengar ucapan Daisy, Gia yang mengira bahwa Daisy polos dan lugu karena penampilan dan wajahnya ternyata ia salah, Daisy jauh lebih menakutkan dari dugaannya.
Namun, Gia tak mundur sama sekali, karena Gia berfikir pasti wanita itu hanya menggertak saja.
Ben pun akhirnya pasrah, agar Daisy puas dan tenang, ia menuruti Daisy, Ben kemudian berjalan di papah oleh Traver masuk, dan Gia juga mengikutinya dari belakangnya, mereka masuk ke dalam kamar di mana Ben tinggal selama ini.
Traver kemudian pergi keluar dan menunggu di luar bersama yang lainnya.
Saat itu Gia hanya diam dan ******* - ***** tangannya di hadapan Ben karena tangannya cukup gemetar. Gia merasa Ben begktu besar posisi dan kedudukannya, apakah Gia dapat mempengaruhi Ben, ia menjadi tak percaya diri lagi. Padahal sebelumnya Gia sangat percaya diri ingin merawat dirinya dan membeli baju yang lebih layak ia pakai agar terlihat cantik di depan Ben.
Namun, entah mengapa kali ini justru perasaan malu dan tertekan yang Gia rasakan di hadapan Ben.
Ben tak melihat Gia ia melihat ke arah lain.
__ADS_1
Bersambung