
"Mau aku meniduri para wanita itu atau tidak, itu adalah urusanku, yang penting publik tak akan tahu."
"Bangkai busuk yang di simpan tak akan selamanya aman, semua akan tercium pada waktunya." Kata Ben santai membalas anaknya.
"Klontang!" Zac menaruh pisau dan garpunya di atas piring.
"Aku melampiaskan semuanya pada mereka, sedikit bermain-main membuatku bisa bertahan saat semua tekanan yang ayah berikan padaku. Apa pernyataan ini membuat ayah puas."
"Sejauh apa." Tanya Ben masih ingin mengulik anaknya.
Zac mengernyitkan kedua alisnya.
Ben menyandarkan punggungnya di kursi dan mengetuk meja dengan telunjuknya.
"Sejauh apa? Permainan mu pada para wanita? Jika kau meniduri mereka, pastikan jangan pernah menghadirkan anak haram." Kata Ben.
Zac meminum air putih nya dan meremas gelas itu, rahangnya mengeras dan membuat otot-otot di lehernya menonjol.
"Aku punya privasi, jangan pernah ikut campur, aku sudah menjadi apa yang kau inginkan, dan tenang saja tidak akan pernah ada anak haram yang lahir." Kata Zac berdiri.
"Aku selesai." Zac kemudian pergi tanpa berpamitan pada ayahnya.
Pria itu keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil.
"Tuan Muda..." Traver mencegah Zac.
"Aku akan mengendarai mobil sendiri, berikan saja pengawalan jarak jauh dari mobilku."
"Baik Tuan Muda." Kata Traver menundukkan kepala.
Setelah mobil BMW mewah milik Zac meluncur, beberapa mobil di belakang Zac juga melaju mengawal Zac dari belakang.
Saat itu Zac ternyata tidak langsung pergi ke perusahaan melainkan ke rumah sakit milik Gavriel.
Setelah sampai di lobby, Zac keluar dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitam, setelan jasnya yang rapi dan licin berwarna biru laut membuat semua mata memandang pada Zac, betapa tampan dan berwibawa nya sosok Zac.
Zac yang muda, segar, bertubuh tinggi layaknya duplikat ayahnya membuat kedatangannya pun selalu menghebohkan, semua orang seperti ingin menyapa atau menyentuh namun tak bisa.
Gavriel kemudian datang menyambut, dan Zac melepaskan kacamatanya.
"Kyyyyaaaaa....!!!! Zaaccc....!!!" Semua wanita gaduh di dalam rumah sakit tersebut.
Bahkan semua perawat tak bisa berkonsentrasi.
"Sepertinya terlalu ramai, ayo masuk." Kata Gavriel.
Zac mengangguk tenang, setelah masuk ke dalam ruangan Gavriel, Zac pun duduk dan memainkan kacamatanya.
Gavriel menyiapkan beberapa obat dan suntikan.
"Semua nya tidak mempan paman." Kata Zac.
__ADS_1
"Yang ini baru saja ku racik." Kata Gavriel.
"Kau menjadikanku kelinci percobaan?" Zac mundur dari tempat duduknya.
"Tenang saja, ini aman, aku pastikan padamu."
"Aku lelah..." Kata Zac.
"Bersabar sedikit lagi, mungkin ini bisa..."
"Apakah aku manusia cacat Paman?" Tanya Zac.
"Tidak... Tidak mungkin, impotten bisa di sembuhkan."
Zac melenguhkan nafasnya.
"Semua keluargamu mengira kau Play Boy." Kata Gavriel.
"Apa kau mengatakan pada mereka yang sebenarnya?"
"Tentu saja tidak, pasienku adalah privasi." Kata Gavriel.
"Aku sudah mencobanya dengan banyak wanita, tapi tidak berefek apapun, jika pun berdiri, saat aku ingin klimaakks tiba-tiba sensasi itu hilang dan aku tak bersemangat." Kata Zac.
"Apa Traver tahu masalah kau tidak meniduri mereka."
"Tentu saja, jika bukan Traver yang membereskan dan menutup mulut para wanita itu mana mungkin akan ada sebutan Play Boy, bahkan ayahku mengira aku benar-benar meniduri mereka."
"Paman... Apakah, ayahku... Dulu, Dia juga impooten?" Tanya Zac.
"Ayahmu?"
Zac mengangkat kedua alisnya.
"Tidak, Ben tidak Impotten, justru ku pikir jika dia mau, 10 wanita juga tidak akan ada apa-apa nya, hanya saja dia tidak bisa di sentuh wanita manapun, saat itu Ayahmu selalu mual jika wanita menyentuhnya."
"Lalu dengan ibuku? Kenapa mereka bisa bersama."
"Itulah keajaibannya, ayahmu setiap hari hanya bisa melampiaskan dengan sekss Oraall, jadi dia menyewa beberapa pelaccur untuk mengulum miliknya, tidak lebih, dan pelacurr itu dilarang menyentuh, tapi anehnya dengan Daisy, berbeda, dia bisa melakukannya, bahkan menciumnya, yaa jadilah dirimu dan Zay."
Zac terdiam.
"Lalu kenapa aku bisa begini? Aku tidak bisa terangsaang oleh apapun, milikku tidak bisa berdiri, dan jika pun berdiri dengan rasangan yang di lakukan wanita-wanita itu padaku, pada akhirnya sensasi itu menghilang secara tiba-tiba, umurku sudah 25 tahun, tapi aku bahkan tidak pernah merasakan apa itu yang dinamakan Ejakulassi."
Gavriel mengerti, meskipun Zac memiliki segalanya, wajah tampan, kekuasaan, kekayaan, namun jika ia terlahir sebagai pria yang tidak dapat "berdiri" tetap saja membuat Zac merasa tidak percaya diri, dengan kekurangannya itulah Zac terkadang menutupinya dengan wajah dan sikap arogan yang bahkan menjengkelkan untuk orang lain.
"Jadi, apakah kau benar-benar tidak mau mencoba obat ini?" Tanya Gavriel.
Zac menggaruk pelipis nya pelan.
"Baiklah suntikkan saja." Kata Zac mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Gavriel pun mulai menyuntikkan nya di bagian otot Zac.
"Selesai."
Zac mengangguk dan berdiri membenarkan jasnya.
"Aku harus ke kantor sekarang." Kata Zac sembari berjalan pergi.
"Zac..." Panggil Gavriel.
"Jika kau luang apa kau mau menemaniku makan malam?" Tanya Gavriel.
Zac diam dan berfikir.
"Mmm... Paman, mungkin harus ku tegaskan padamu, walaupun aku impoteen, tapi aku bukan gayy, aku masih normal dan menyukai wanita, tapi, seandainya aku pun seorang gayy, sepertinya aku tetap menolak ajakan makan malam mu, karena sejujurnya kau bukan tipeku." Kata Zac.
"Hahahahah.....! Bukan seperti itu maksudku, temani saja aku makan malam, aku sedang menghindari perjodohan, seharusnya malam ini aku terbang ke London, kau tahu kan ayahku..."
"Apakah masih?"
"Ya... Sampai aku menikah mereka tidak akan berhenti memaksaku ke acara-acara perjodohan." Kata Gavriel.
"Baiklah, gunakan aku sebagai alasanmu paman. Katakan Presdir Benz Group mengajak mu bertemu makan malam, dan acara ini penting untuk melebarkan sayap Rumah Sakit milikmu." Kata Zac santai.
Gavriel tersenyum melihat Zac sudah tumbuh begitu dewasa dan dapat ia jadikan teman.
"Aku pergi dulu." Kata Zac.
"Hati-hati menyetir." Kata Gavriel.
Perjalanan menuju perusahaan tidak terlalu lama, karena Rumah sakit dan Perusahaan Benz Group cukup dekat jaraknya.
Zac keluar dari mobil dan langsung menuju ke ruangannya melalui lift khusus.
Namun, saat ia berjalan menuju koridor, dan ia akan masuk, banyak sekali berbaris para pemuda dan pemudi berpakaian formal.
"Tuan Muda Zac, mereka yang ingin mendaftarkan diri sebagai sekretaris pribadi anda sudah lulus interview tahap pertama dari para staff personalia, sekarang mereka sudah menunggu di depan ruangan anda untuk melakukan interview lanjutan dengan anda." Kata Traver.
Sembari berjalan angkuh dingin dan sombong, Zac melewati mereka semua tanpa melihat ke arah mereka, sembari mengatakan dengan tegas.
"Tolak semua pria, aku membutuhkan sekretaris pribadi wanita yang kompeten." Kata Zac sembari berjalan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku nya. Zac kemudia masuk ke dalam ruangan miliknya.
Semua pria yang melamar mendadak saling gaduh, mereka tak di beritahu sebelumnya jika hanya wanita yang di cari oleh presdir.
"Baik Tuan Muda." Kata Traver menundukkan kepala.
Kemudian Traver melihat pada Clarissa, wajah Clarissa pucat pasi.
"Dia lebih kejam dari pada ayahnya. Seharusnya kan bilang saja sejak awal, dia ingin sekretaris pribadi wanita." Kata Clarissa gelisah.
Bersambung
__ADS_1