Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 135


__ADS_3

Daisy tersenyum kecil, tipis dan tak di sadari oleh Ben. Pada akhirnya siapapun yang telah membunuh Marry Anne, bagi Daisy tak ada masalah, karena menurutnya memang kematian Marry Anne lah tujuannya.


"Aku rindu dengan anak-anak... Ayo kita jemput mereka bersama?" Ajak Ben.


Daisy mengangguk kan kepalanya pelan.


Kemudian, mereka pun pergi ke kamar untuk bersiap, tak ada kecurigaan apapun saat itu pada Daisy, meski saat itu Ben melihat suatu keganjilan di sikap Daisy.


Hingga pada akhirnya ia menemukan satu pesan baru muncul di ponsel Daisy yang tergeletak di atas meja dekat ranjang.


Pesan dari Mena masuk di Ponsel baru Daisy, karena penasaran, Ben mencoba membuka ponsel milik Daisy. Namun, ternyata Daisy memakai password.


Alis Ben naik, ia mengeluarkan chip miliknya, dan menancapkan alat chip itu di bagian ponsel milik Daisy, akhirnya Ben berhasil meretasnya, dan di sambungkan langsung pada ponsel milik Ben.


Kemudian, dengan santai Ben menaruh ponsel milik istrinya kembali ke meja, tepat ketika Daisy selesai mandi dan masih memakai handuk kimono.


Daisy berjalan sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, ke hadapan Ben.


Kemudian Ben menarik tubuh mungil Daisy mendekat dan berhadapan pada Ben yang masih duduk di tepi ranjang.


"Kau punya ponsel baru?" Tanya Ben.


Wajah Daisy yang tersenyum, kemudian mendadak tegang, ia melirik ponselnya yang menyala pertanda ada pesan masuk.


"Ahh ya... Aku lupa memberitahumu, karena kau merusak ponselku, Mena membelikannya untukku, kami harus saling komunikasi."


"Kenapa dia tidak ikut bersamamu?" Tanya Ben.


"Dia... Punya pekerjaan lain di mansion."


Ben mengangguk pelan.


"Ponselmu menyala, sepertinya ada pesan kau buka dulu." Kata Ben.


"Aah... Ya... Aku akan membukannya." Kata Daisy canggung.


Daisy kemudian mengambil ponselnya namun ia ragu untuk membuka pesan dari Mena di hadapan Ben.


"Sayang, kau tidak haus? Ghemmm... Ehmm... Sepertinya leherku kering, aku akan mengambil minum, kau mau?" Kata Daisy mencari alasan.


"Boleh... Aku mau air putih." Kata Ben tersenyum kecil.


Kemudian Daisy pergi ke ruangan sebelah, ia melihat ke belakang apakah Ben mengikutinya atau tidak, setelah memastikannya, Daisy membuka ponselnya apa kah yang Mena kirimkan padanya.


"Nona Daisy, sepertinya Traver mengetahuinya, saya memeriksa ada satelit baru yang di luncurkan, sepertinya aku tertangkap."


Daisy membaca pesan itu, begitu juga dengan Ben yang membuka ponselnya, ia juga membaca pesan dari Mena.


"Traver?" Kata Ben dengan lirih dan pelan.


"Jangan bahas apapun melalui ponsel, kita bicara ketika bertemu." Itulah balasan Daisy untuk Mena.


Ben juga membaca balasan chat, dari istrinya dan menaikkan alisnya kecil.

__ADS_1


"Permainan apa yang sedang istriku buat? Kenapa dia menyembunyikannya dariku? Dan Traver juga mengetahuinya? Apa ada hubungannya dengan kematian Marry Anne? Tunggu... Jangan bilang... Istriku... " Ben terhenti pada pikirannya sendiri.


Tak berapa lama Daisy datang dengan membawa gelas berisikan air putih dan memberikan nya pada Ben.


Ben pun menerima itu dan meminumnya, setelah meminumnya, Daisy menerima gelas itu lagi dan meletakkannya di atas meja bersama ponselnya.


Ben menarik tubuh Daisy lagi mendekat, di antara kakinya.


Kemudian, tangan besar Ben perlahan membelai kedua paha mulus Daisy naik dan turun.


Kedua tangan Daisy merangkul leher Ben dan menyandarkannya di bahu besar Ben.


"Aku ingin... " Kata Ben.


Daisy menahan senyumannya.


"Tapi sayangnya aku tidak menyediakan obat nya di sini, jadi terpaksa kali ini aku harus memakai pengaman." Kata Ben mendesah kecewa.


Daisy tertawa.


"Kenapa tertawa?"


"Tidak aku... Hanya membayangkan, akan habis berapa, apakah seluruh toko akan kau pakai semua?" Kata Daisy.


"Sepertinya harus menyetock nya." Kata Ben.


"Tapi... Apakah benar? Aku tidak boleh hamil lagi?"


Ben diam.


"Ya, sebelumnya dokter mengatakan kau tidak boleh hamil lagi, dan karena aku juga melihatmu mempertaruhkan nyawa demi nyawa baru yang akan lahir." Kata Ben.


"Jika saja aku masih boleh hamil, tentu aku juga ingin." Kata Daisy.


Ben kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak boleh." Kata Ben mantap.


Daisy diam dan nampak sedih.


"Kita sudah membicarakan ini Daisy, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu."


"Baiklah, aku akan menurut." Kata Daisy lemah.


"Kau cantik jika mau menurut."


"Jadi, selama ini aku tidak cantik, karena selalu melawanmu?" Kata Daisy.


"Tidak... Kau lebih cantik lagi saat melawanku." Kata Ben.


"Benarkah?" Kata Daisy memeluk Ben dengan erat.


Ben kemudian mengangkat tubuh Daisy ke pelukannya.

__ADS_1


"Aaaakh...!!!" Teriak Daisy terkejut.


Ben menggendong Daisy di perutnya, dengan kedua kaki Daisy melingkar di pinggul Ben, dan tangannya memeluk erat leher Ben.


"Aku akan melahapmu sampai habis sayang, jangan pernah berfikir bahwa aku akan mengampunimu." Kata Ben dengan mata yang berbinar.


"Kau tahu... Untuk sementara aku sedang tidak ingin... " Kata Daisy menggoda.


Wajah Ben menegang.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah tahu bahwa kau memiliki kekasih gelap, jadi, aku membayangkan kau di sentuh olehnya dan sekarang menyentuhku." Kata Daisy.


Ben menaruh Daisy duduk di atas meja.


"Itu adalah kesalahan terbodoh, saat itu dia memasukkan obat mabuk." Kata Ben.


"Obat mabuk?"


"Ya, seperti kataku, dia berusaha tetap ingin menjadikanku pasangannya, dia bilang bisa menyembuhkan trauma ku tapi justru memperparahnya. Aku tidak menyangka dia memasukkan obat mabuk, tentu saja dia juga yang memotret, tapi dengan cepat Traver dapat membaca situasi, dia menyelamatkanku tepat waktu, dia beralasan hal yang tepat, jika ada penyerangan dari musuh mafia lain." Kata Ben menjelaskan.


Daisy kemudian membelai mata Ben dengan telunjuknya, lalu turun dan menekan hidung milik Ben.


Tak berapa lama Daisy pun tersenyum.


"Ada apa?" Ben menahan senyumannya.


"Tidak... Hanya saja, anak-anak kita, mereka memiliki semua wajahmu, padahal aku yang mengandung dan melahirkan mereka, kenapa tidak ada satupun dari bentuk wajahku ada di wajah mereka." Kata Daisy tersenyum dengan memainkan telunjuknya lagi di sekitar wajah Ben.


"Itu karena kau selalu pingsan." Kata Ben.


"Apa?"


"Kau kalah bertarung denganku, jika kau menang, maka wajah anak-anak kita akan mirip denganmu." Kata Ben.


Daisy diam.


"Apa kau sedih?" Tanya Ben.


Daisy menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku senang, mereka memiliki wajah ayahnya, karena dengan melihat wajah anak-anak itu, aku langsung bisa mengingatmu."


Senyuman Ben seketika pudar, karena melihat kedua mata Daisy berkaca-kaca.


"Kenapa? Katanya kau tidak sedih, tapi kenapa? Kau menangis."


"Aku bahagia Ben, aku sangat bahagia karena mereka memiliki wajahmu, karena aku selalu memiliki pikiran menakutkan." Daisy justru semakin menangis.


Ben memeluk tubuh Daisy yang berguncang.


"Apa yang ada di pikiranmu?"

__ADS_1


"Sebenarnya bukan hanya pikiranku, tapi juga aku memiliki mimpi-mimpi tentangmu, dan semuanya selalu membuatku sedih dan menangis." Daisy memandangi wajah tampan Ben yang mempesona dengan semburat wajah tegang dan cemas.


Bersambung


__ADS_2