Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 264


__ADS_3

Pasukan Ben terus menggempur dan membantai pasukan Mafia Kelas Rendah, pasukan teri yang hanya tahu berperang tanpa otak itu akhirnya jumlah mereka hampir habis dan bergidik melihat brutal nya pasukan Haghwer yang seperti layaknya iblis kelaparan.


Melihat pasukan kokoh dan kuat, para Pasukan Mafia Kelas Rendah menjadi menciut, pasalnya pasukan milik Haghwer bahkan tak ada sedikit pun yang terluka.


"Kita harus mundur." Kata salah satu ketua Mafia kelas rendah.


"Tapi bagaimana dengan wanita itu, dia yang akan menjanjikan kita bayarannya." Kata yang lain.


"Persetan dengan bayaran, aku lebih senang nyawaku masih hidup." Ketua mafia lainnya pun langsung pergi dan berlari meninggalkan medan perang.


Gia yang tahu para pasukannya pergi, mendadak panik dan bergidik, apalagi ka melihat Aaron sudah terkapar tak berdaya, ia juga tak melihat Heiden, ia pikir Heiden pasti sudah mati.


Namun bukan Gia jika ia langsung menyerah begitu saja.


Dengan cepat Gia mengeluarkan obat-obatannya, ia membuka beberapa botol dan asapnya keluar, setiap kali terkena angin asap akan semakin banyak.


"Aku telah menelitinya dengan sangat baik, semakin terkena angin, asap obat ini akan semakin banyak."


Melihat Gia yang mengeluarkan banyak botol dan membuat asap begitu banyak, Traver mengernyitkan dahinya, tak hanya Traver bahkan Ben tak mengerti.


"Asap apa itu?" Tanya Ben.


Aaron yang masih belum mati, namun kakinya pincang, ia pun tertawa.


"Matilah kalian semua!!!" Teriak Aaron.


"CRAAASSHH!!!" Zac langsung merobek mulut Aaron menggunakan ujung pisaunya.


"UUUGGGGHHBHH..." Aaron mendenguss tak karuan karena rasa sakit yang luar biasa menjalar di tubuhnya.


"Tenang saja aku tak ingin buru-buru membunuhmu, aku ingin menikmati menyiksa dirimu, seperti kau menikmati ciumanmu padanya." Kata Zac santai dan menaruh kakinya di atas perut Aaron.


Melihat asap yang awalnya putih dan berubah menjadi merah, Ben menjadi sedikit khawatir.


"Traver suruh semua pengawal jangan menghirupnya, tapi dalam kondisi seperti ini, kita tak bisa mempertaruhkan hidup siapapun. Kalau begitu keputusannya adalah, perintahkan semuanya untuk mundur." Kata Ben.


"Tapi Tuan, ini adalah saat yang tepat untuk membunuh Gia."


"Aku yang akan menanganinya, tapi perintahkan dulu para pasukan terbaik kita untuk mundur." Kata Ben.


Traver kemudian mengangguk paham dan langsung memberikan perintah pada pasukan untuk mundur.


Begitulah seorang Ben, dia bahkan tak akan rela jika pasukannya ada yang gugur, dia tak bisa kehilangan para pasukan setianya yang sangat tangguh.


Pada akhirnya Ben akan melawan Gia.


Zac menyeret kaki Aaron pergi, dan Rudolf juga pergi bersama Traver.


"Apa yang akan terjadi." Kata Rudolf yang sudah memperhatikan dari kejauhan.


"Gia sangat pintar dan terampil Tuan Rudolf, seandianya dia menjadi sosok yang lain pasti akan berguna bagi kita. Saya rasa, asapnya tidak bisa pergi jauh, saya melihat hanya akan ada beberapa meter dari tempat Gia, saat asap itu terlalu jauh dan menyebar, asap-asap itu menghilang dengan sendirinya, seperti memuai."


"Dia pintar, tapi mari kita lihat apa yang akan terjadi pada Ben.." Kata Rudolf.


"Ya Tuan..."


Zac sendiri penasaran apa yang akan terjadi jika ayahnya menghirupnya, namun ketika ia menyeret Aaron, membuat Zac berfikir yang lain.

__ADS_1


Zac pun berbalik dan kembali menyeret kaki Aaron mendekat pada Ben, Rudolf dan Traver bertanya apa yang akan Zac lakukan.


Kemudian uji coba pun di lakukan, Ben dan Zac meninggalkan Aaron di sana, dengan kepulan asap merah.


Tak terjadi apapun.


"Tak ada reaksi apapun." Kata Zac.


"Mungkin hanya untuk menakuti." Kata Ben.


"Ayah akan tetap pergi ke sana?" Tanya Zac.


"Aku harus menangkapnya, jika tidak maka dia hanya akan terus menerus menjadi parasit dan merong rong hidup kita." Kata Ben.


"Tapi ayah, biarkan aku yang membunuhnya." Kata Zac.


"Tidak, pacarmu akan semakin membencimu. Jadi, biar aku saja." Kata Ben.


Ben pun melangkah kan kakinya masuk ke dalam kepulan asap pekat berwarna merah itu, setengah jalan, Ben sudah masuk.


Ketika itu, Zac melihat Aaron mulai menunjukkan reaksi.


"Astaga...! Ayah! Kembali sekarang!!!" Teriak Zac dan langsung mundur ketika asap mulai mendekat padanya.


Zac pun mundur sejauh beberapa langkah.


"Sialan itu asap perangsang... Dasar wanita gila!" Kata Zac.


Terlihat para pasukan Mafia Kelas Rendah pun yang tak sengaja menghirup asap itu mulai menjadi gila, mereka membuka pakaian dan mulai mencari sesuatu yang bisa memuaskan dirinya.


Sedangkan pasukan mafia kelas rendah yang lain yang masih selamat, memilih pergi dan tak akan lagi ikut dalam perang gila itu.


"Sialan, harusnya obat perangsang tak mempan padaku, butuh berdosis-dosis bisa membuatku terangsang, ada apa dengan asap ini." Kata Ben.


Tiba-tiba Ben berhenti dan terjatuh ke atas tanah, namun lutut kakinya masih menyangga tubuhnya, dengan menggunakan samurainya ia juga menyangga tubuhnya.


"Sialan..."


Di tempat lain, Traver dan Rudolf terkejut, bagaimana bisa asap perangsang itu mampu memberikan efek pada Ben.


"Tuan... Bagaimana ini." Kata Traver.


"Kita tunggu dulu. Jika terjadi sesuatu yang berat, aku akan memakai pakaianku dan menerobos masuk.


"Tuan Bahaya... Jika anda terkena asap perangsang dan tidak bisa di salurkan dengan berhubungan, maka akan membuat otak anda gila permanen. Asap perangsang jauh lebih berbahaya."


Saat itu Ben mulai melemah, ia menahan semaksimal mungkin, otot-ototnya sudah mulai kaku dan menegang.


"AAARRGGG....!!!" Ben mendesahh.


Tiba-tiba sebuah tangan lembut pun menyentuh bahunya.


"Beeenn..."


Asap masih mengepul tebal berwarna merah.


"Daisy?" Tanya Ben sedikit serak.

__ADS_1


Zac memperhatikan, ayahnya yang sudah masuk ke dalam asap tak terlihat karena asap terlalu pekat.


"Aayahhh!!! Sadarlah!!! Apa kau baik-baik saja? Jika ada seseorang kau harus membunuhnya!!" Teriak Zac.


Namun, pandangan Ben mulai kabur.


"Ikutlah dengan ku..." Bisik Gia.


"Daisy?" Tanya Ben lagi, ia mulai halusinasi.


"Yaaa... Aku Daisy... Aku adalah Daisymuu..." Bisik Gia.


"Ayooo ikutlah denganku... Kau harus di puaskaan... Atau kau akan gila selamanya dalam pengaruh rangsangan." Bisik Gia lagi.


Kemudian Ben di papah perlahan oleh Gia, mereka berjalan menuju jalan bawah tanah menuju Mansion milik Gia.


Sedangkan Zac mulai tak sabar, kapan asap akan hilang.


Aaron sendiri datang mengesot memeluk kaki Zac.


"Gavy.... Khau dayang(datang)? Gavy.... Akhu wutuh(butuh) khau..." Kata Aaron dengan kalimat tidak jelas karena mulutnya telah di robek dan di iris oleh Zac.


"Sialan!" Kata Zac.


"BUUGGG!!!"


"BUUUGGG!!!"


"Sialan!!! Aku bukan Gaby!!! Sialan!!! Apalah asap ini juga menyebabkan halusinasi! Jika iya, akan gawat, jika ayah pikir Gia adalah ibu." Kata Zac khawatir.


Kemudian Zac hendak maju dan menerobos ke dalam asap.


"Zac!!!" Teriak Rudolf.


Zac pun menoleh.


"Jangan lakukan itu!!! Di sini tidak ada wanita!!!! Kau bisa gila jika tak di puaskan!!" Teriak Rudolf.


Teriakan Rudolf membuat semua pasukan yang mendengar menjadi berfikir ada baiknya mereka menjauh dari asap itu, mereka memikirkan anak dan istri mereka jika mereka akhirnya gila.


"Tidak ada waktu lagi!!! Ayah pasti sudah terkena halusinasi!!" Teriak Zac.


Namun, baru beberapa langkah saja, Zac masuk. Tubuh Zac mendadak lemah dan terduduk di tanah.


"Apa-apa an ini!!! Obat macam apa ini!!!" Geram Zac tak bisa berkutik.


"Sialaann..." Geram Zac lagi.


"Haaaiisshh!!! Zac langsung tumbang hanya beberapa langkah saja. Panggil pacarnya kemari!!" Teriak Rudolf pada Traver.


"Baik Tuan." Traver berfikir, bukankah Zac impoten, bagaimana asap perangsang itu bisa berpengaruh padanya?


Namun, jika di pikir lagi, Ben yang memakai terapi dengan obat perangsang dosis besar, agar ia bisa tidur karena imsomnianya akibat trauma masa kecil pun, mengejutkan Ben tetap mendapatkan efeknya dari asap perangsang itu.


Ben sudah kerap memakai obat perangsang dengan dosis tinggi agar dia bisa menikmati kenyamanan tubuh dan bisa tidur setelah mendapatkan kenikmatan dengan cara memakai mulut para pelacur di bagian benda miliknya. Itu adalah terapinya ketika Ben sedang berjuang dari traumanya, karena ia selalu insomnia dan bermimpi buruk.


Untuk pria yang bisa berkali-kali ******* dan bisa merasakan kenikmatan, itu akan membuat otaknya lebih segar, dan tubuhnya lebih berenergi.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2