
Tak terasa, Ben yang sedang mandi ternyata matahari pun menyusul terbit, sinar hangat masuk ke dalam kamar Ben.
Setelah Ben berpakaian, ponselnya pun bergetar, itu adalah telfon dari dokter Gavriel.
"Aku sudah mengirimkan hasil Tes DNA ke surel mu." Kata Dokter Gavriel.
"Hmm... Aku mengerti." Kata Ben.
Kemudian Ben membuka surelnya dan melihat hasil Tes DNA tersebut. Setelah memastikannya, Ben keluar dari kamarnya.
Saat itu Traver sudah menunggu di depan kamar Ben.
"Kita kembali ke Negara K." Kata Ben.
"Tapi Tuan... Anda belum istirahat, dan melakukan penerbangan hampir 10 jam, jika anda kembali ke Negara K sekarang, di khawatirkan..."
"Tidak apa-apa, Gavriel sudah memberikan hasil Tes DNA nya. Kita harus pulang ke Negara K."
Ben melangkah cepat, dengan kaki panjangnya.
"Pukul berapa kita akan sampai ke Negara K." Kata Ben.
"Sekitar pukul 6 sore Tuan." Kata Traver.
"Ck..." Ben mendecakkan lidahnya kesal.
Kemudian Ben pun melakukan penerbangan lagi untuk segera kembali ke Negara K, tepatnya ke Kota Z.
Sedangkan di Negara K, Derreck mulai mengemasi seluruh pakaiannya.
"Bagaimana Daisy." Tanya Derreck pada Casey.
"Nona Daisy masih mengunci diri di dalam kamarnya dan tidak mau makan Tuan." Kata Casey.
Derreck masih diam dan memasukkan beberapa buku ke kopernya.
"Tuan, saya rasa ini bukan ide yang baik, Nona Daisy pasti tidak akan setuju." Kata Casey.
"Setuju ataupun tidak dia tidak memilikinpilihan, dia harus pergi bersamaku, dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan apapun di sini, apalagi jika dia berniat bersama Ben, dia hanya akan mendapatkan luka dan sakit hati. Ben bukan pria baik, masa lalu nya sangat kelam, bahkan dia adalah pria yang selalu ingin memaksakan kehendak. Daisy harus ikut untuk pergi ke Luar Negeri bersamaku, dia akan lebih bahagia dan lepas, dia lebih menjadi dirinya sendiri di sana, tidak ada yang akan menyakiti perasaannya. Aku akan membuatnya bahagia." Kata Derreck sambil masukkan semua buku-bukunya ke dalam koper.
"Tuan..." Casey menelan ludahnya.
Derreck melihat Casey, dan ia tahu ada sesuatu yang sedang Casey lihat. Derreck pun memutar tubuhnya dan melihat siapa yang sedang berada di belakangnya.
"Daisy..." Kata Derreck.
"Apa katamu? Apa kau akan memaksaku pergi ke Luar Negeri bersamamu?" Tanya Daisy.
__ADS_1
"Dengarkan aku Daisy, ini yang terbaik untukmu, kau akan bahagia..." Kata Derreck.
"Aku atau kau yang akan bahagia." Kata Daisy dingin.
"Tidak ada waktu untuk berdebat." Kata Derreck merapikan buku-bukunya lagi.
Karena kesal, Daisy mengeluarkan buku-buku milik Derreck dan membuangnya ke lantai.
"BRRUUKKK!!!" Buku-buku milik Derreck yang tebal jatuh dan menimbulkan suara.
Dengan menatap sedih pada Derreck, air mata Daisy akhirnya tak bisa lagi di tahan.
"Aku tidak mau pergi." Kata Daisy.
Derreck menekan leher belakangnya.
"Casey tinggalkan kami." Kata Derreck.
Kemudian Casey meninggalkan Derreck dan Daisy untuk berbicara.
"Hubungan mu dan juga Ben tidak akan pernah berhasil Daisy." Kata Derreck.
"Berhasil atau tidak aku sudah tidak peduli." Kata Daisy.
"Apa kau bodoh!!! Dia nantinya hanya akan menyakitimu!!! Nantinya dia hanya akan membuangmu seperti sampah!!!" Teriak Derreck menekan kedua lengan Daisy.
"Hari ini aku tidak ingin berdebat denganmu Daisy, bereskan barangmu sekarang juga, atau kalau pun tidak, kau tak perlu membawa barang, sesampainya di sana kau bisa berbelanja sesuka hatimu." Kata Derreck.
"Aku tidak mau!!!!" Teriak Daisy sembari menangis.
"Daisy!!!" Derreck tak mau kalah.
"Kau berutang nyawa padaku dan turuti perintahku!!!!" Teriak Derreck dengan menekan dan mengancam.
Perkataan Derreck yang mengungkit masa lalu kembali menghantam hati Daisy.
Daisy tak habis pikir, bagaimana Derreck yang mempunyai kepribadian hangat dan lembut bisa-bisanya memperlakukannya seperti itu, dan membuat Daisy terduduk lemas di sofa. Mata Daisy kosong dan ia tak bisa lagi berbuat apapun.
Derreck kemudian memanggil para pengawal dan pelayan untuk menyiapkan mobil dan menaruh semua barang-barang nya ke dalam mobil.
Namun, Derreck terkejut ketika seorang pengawal mengabarkan sesuatu.
"Tuan... Mansion di kepung dan kita tidak dapat keluar, landasan bandara pribadi milik anda juga di nonaktifkan, semua pilot pesawat anda juga di ultimatum." Kata pengawal Derreck
"Apa!!!"
Daisy melihat pada Derreck dengan wajah terkejut.
__ADS_1
Casey berlari pada Derreck dengan tergesa-gesa dan wajah pucat pasi.
"Tuan Derreck, Tuan Ben membajak bandara kita, dia juga mengepung mansion, kita tidak dapat keluar."
"Helikopter." Kata Derreck.
Casey menelan ludahnya.
"Helikopter di sabotase Tuan." Kata Casey.
"Bersengsek!!! Badjingan!!!" Teriak Derreck memaki dan amarahnya meluap-luap. Derreck panik, ia tidak bisa dan tidak akan mau melepaskan Daisy. Derreck harus tetap membuat Daisy bersamanya.
Derreck membuang nafasnya pelan, ia mengontrol lagi amarah dan emosinya, sedangkan Daisy hanya duduk diam tak percaya bahwa Ben lebih dulu bisa memprediksinya.
Sedangkan Casey semakin merasa ngeri, saat ini Derreck memutuskan untuk pergi ke Luar Negara, karena ia mendengar informasi jika Ben sedang berada di Luar Negeri, dan Derreck berfikir hal ini membuatnya memiliki kesempatan untuk membawa lari Daisy dari Kota Z bahkan Negara K.
Namun nyatanya, ketika Ben masih di Luar Negeri pun, Derreck tetap tidak dapat membawa Daisy.
Di sisi lain, pikiran Derreck kalang kabut, itu artinya Derreck menyimpulkan sekarang sama saja ia sedang di sekap dan di sandra di mansionnya sendiri.
"Bagaimana jika kita melawan." Kata Derreck.
"Tidak mungkin Tuan, kita telah kehilangan para pengawal terbaik kita saat menyelamatkan Nona Daisy di laut, pengawal kita habis di bantai oleh pengawal milik Tuan Ben dan selama 2 tahun ini para pengawal baru yang kita rekrut belum mencapai keahlian mereka untuk bisa melawan semua pengawal milik Tuan Ben."
Derreck membuang nafasnya panjang dan hanya bisa duduk di sofa dengan lemas dan putus asa.
"Dia selalu saja bisa selangkah lebih maju. Sial." Geram Derreck pelan, dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari memijit pelipis nya.
Jam demi jam berlalu, Derreck masih duduk di sofa bersama Daisy, mereka hanya bisa menunggu dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hingga pada akhirnya, matahari yang bersinar keorangenan, mulai meredup dan sedikit demi sedikit, pun tenggelam lalu menghilang di gantikan dengan malam yang akan datang.
Lampu-lampu mansion milik Derreck mulai menyala bersinar terang, menerangi seluruh kediaman mansion, serta taman mansion.
Tepat pukul 6 sore, mobil-mobil mewah berwarna hitam beriringan memecah belah jalanan kota dan kemudian mereka menuju mansion milik Derreck.
Gerbang besar pun terbuka atas perintah Traver, setelah para pengawal Ben melakukan dorongan dan tekanan pada para pengawal Derreck.
Mobil-mobil mewah itu beriringan masuk ke dalam gerbang, dan menuju mansion.
Tepat di depan mansion, mobil hitam mewah yang besar berhenti dan seorang pria keluar dari mobil itu, di belakangnya mobil-mobil mewah berderet dan berbaris, semua pengawal keluar dari mobil untuk pengamanan.
Pria tampan yang memiliki postur tubuh sempurna itu berdiri tegak memandangi mansion milik Dereeck dengan mantel yang menggantung di bahunya berkibar karena terkena angin.
Langkah demi langkah kakinya yang mantap untuk terus maju ke dalam mansion dan memakai sepatu hitam mengkilap seolah sedang menginjak-injak harga diri sang pemilik Mansion.
Ben telah sampai di Mansion mewah milik Derreck Waldorf untuk menjemput Daisy.
__ADS_1
Bersambung