
Daisy sudah berada di Rumah Sakit di kawal oleh Traver, dan langsung menuju ruangan dimana Mena di rawat.
Saat Daisy melangkah masuk, pandangan nya tertegun, matanya membulat, dan tubuhnya gemetar.
Seketika Daisy langsung berlari menuju Mena yang tengah duduk dan berbincang dengan Dokter Gavriel. Wajah sumringah, wajah tersenyum, dan tubuh bugar dengan sinar matahari yang terang membuat wajah Mena cantik dan berseri.
"Astaga... Mena-ku... Mena-ku kembali... Terimakasih ya Tuhan..." Daisy memeluk Mena dengan sangat erat.
Traver yang melihat adiknya sudah sadar dan duduk di atas ranjang pasien dengan mengobrol santai sumringah membuat mata Traver berkaca, pria itu memilih pergi agar tidak di ketahui siapapun jika ia menangis.
"Bagaimana keadaanmu Mena? Apakah ada yang sakit?"
Mena hanya diam. Hingga beberapa waktu. Keadaan pun menjadi canggung.
"Tunggu... Apa kau tidak mengingatku?" Tanya Daisy menghapus air matanya.
"Saya mengingat anda." Kata Mena dengan jawaban yang dingin.
"La... Lalu kenapa.... Tunggu..." Daisy mulai tersadar dan berdiri dari sebelumnya ia memeluk Mena berangsur mundur.
Daisy merasa perasaannya menciut, ia mengingat apa yang telah ia lakukan pada Mena, dan kini suasana terasa semakin canggung dan aneh.
"Apa kau marah padaku... Karena... Karena aku memilih pergi, dan menyebabkan kau seperti ini." Mata Daisy mengalir dengan deras.
Dokter Gavriel berdiri dan diam-diam pergi meninggalkan ruangan itu dan menunggu di depan ruangan bersama Traver.
"Maa... Maaf Mena..."
"Nona... Daisy..." Panggil Mena.
Daisy kemudian menatap Mena dengan wajah basah dan juga perasaan yang campur aduk.
"Apa akhirnya anda bahagia?" Tanya Mena.
Tiba-tiba air mata Mena mengalir.
"Apa?" Tanya Daisy.
"Saya benar-benar berharap saat anda memutuskan pergi meninggalkan Tuan Ben, anda dapat bahagia, saya berharap anda akan benar-benar merasakan kebahagian sejati, dan kebebasan sesuai harapan anda, maka dari itu saya sangat berjuang keras dan tidak ingin kalah agar anda dapat mencapai semua keingin anda, tapi... Saat saya sudah berada di alam bawah sadar, samar-samar saya selalu mendengar suara anda memanggil saya, bahkan dalam mimpi itu, anda meminta bantuan saya dengan mengulurkan tangan anda, utu adalah mimpi buruk yang mengerikan." Kata Mena menangis.
"Maa.. Maaf Mena... Aku... Tidak berharap kau menjadi seperti ini, kau berkorban begitu banyak untukku."
Mena menggelengkan kepalanya pelan.
"Nona Daisy, terimakasih anda mau datang mengunjungi saya dan membuat saya kembali tersadar serta terbangun dari tidur panjang saya. Jika pun saya harus mengalami ini atau mengalami kematian berkali-kali demi kebahagiaan anda, saya bersedia."
__ADS_1
"MENA!!! APA YANG KAU UCAPKAN!!!" Teriak Daisy berlari dan memeluk Mena dengan erat.
Mena dan Daisy jatuh dalam pelukan yang saling menghangatkan perasaan sayang mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga di banding orang yang di sayang bahagia.
"Jadi apa anda memutuskan kembali?" Tanya Mena menghapus air matanya.
Daisy kemudian duduk di kursi dan memegang tangan Mena.
Mena yang duduk di atas ranjang tersenyum melihat wajah Daisy yang nampak lebih bahagia di banding dulu.
"Ceritanya panjang, kapan-kapan kita harus mengobrol lama." Kata Daisy.
"Tapi... Yang jelas, aku sudah kembali, aku menyadarinya, bahwa tempat ku memang di sisi Ben." Lanjut Daisy.
"Baik, saya mengerti." Kata Mena.
Kemudian wajah Mena kembali murung.
"Tapi, ngomong-ngomong tentang Tuan Ben, sepertinya setelah saya sadar saya harus menghadap dengan Tuan Ben dan menjelaskan semuanya."
"Eeerrrr... Tentang itu..." Daisy menggaruk pipinya dengan menggunakan telunjuk jarinya meski tidak gatal.
"Tentang Ben... Dia sudah mengetahui semuanya, bahwa kaulah yang membantai para pengawalnya..." Kata Daisy meringis.
Mena melongo.
"Padahal saya sudah sebisa mungkin menghilangkan jejak agar tidak terbaca, dan membuat seolah-olah kami di serang. Tuan Ben memang hebat, dan sebagai hukumannya, Tuan Ben pasti meminta kepala saya untuk di penggal." Kata Mena sedih.
"Untuk masalah itu tenang saja, aku sudah berbicara pada Ben, dia sudah menyetujui jika itu adalah kesalahan yang akan dia ampuni."
"Apa anda yang telah membujuknya."
"Sebenarnya iya..." Kata Daisy.
"Tapi yang jelas sekarang semuanya baik-baik saja." Lanjut Daisy dan memeluk Mena.
Setelah Mena dan Daisy puas mengobrol, Daisy pun keluar dan memberitahu pada Traver jika Mena ingin bertemu.
Daisy kemudian berjalan-jalan pelan mencari angin bersama Gavriel di taman belakang.
"Dokter boleh kah saya bertanya?"
"Tentu. Silahkan Nona Daisy."
"Saya ingin bertanya mengenai vitamin yang selalu Ben berikan." Daisy ragu apakah dia harus melanjutkan pertanyaannya atau tidak.
__ADS_1
Dokter Gavriel mendengar dengan seksama dan mereka menjadi hanya berdiri berhadapan dengan ketegangan.
"Tidak apa-apa Nona Daisy, jangan merasa pertanyaan anda tabu, saya seorang dokter dan akan menjaga privasi pasien saya."
"Sebenarnya, saya sedikit tahu mengenai obat-obatan, setiap saya dan Ben melakukan..." Daisy kebingungan mencari kata-kata.
"Apa Ben memberikan obat cair yang mencegah anda untuk hamil."
"Be... Benar." Kata Daisy malu.
"Sebenarnya itu adalah obat racikan saya sendiri, anda harus meminum satu botol penuh setiap selesai berhubungan. Lalu apa yang akan anda tanyakan?"
"Apakah ada kemungkinan jika saya meminumnya tapi, saya tetap hamil?" Tanya Daisy.
Gavriel tersenyum.
"Tenang saja, sejauh ini belum ada kasus seperti itu."
"Aaahh... " Daisy tersenyum canggung, ia sedikit kecewa dan merasa tidak senang.
Saat itu angin berhembus kencang, dan tubuh Daisy cukup menggigil.
"Anda kedinginan? Mari kita masuk." Kata Gavriel.
"Mungkin sebentar lagi musim dingin akan datang." Kata Daisy.
Namun ketika melangkah kaki Daisy terjerembab di sebuah lubang kecil yang tertutup rerumputan.
"Astagaa!!!" Pekik Daisy dan keseimbangannya pun goyah.
Dengan segera Gavriel menangkap tubuh Daisy dan memeluknya.
Mata mereka saling memandang, tubuh mereka saling menempel, dan wajah Gavriel tiba-tiba menjadi merah.
Dengan sigap Daisy membenarkan tubuhnya dan berdiri, lalu tertawa dengan cukup riang.
"Saya tidak tahu anda sangat pemalu, wajah anda sangat merah." Kata Daisy tertawa.
"Astaga... Benarkah?" Gavriel semakin malu dan menepuk nepuk pipinya yang terasa panas.
Namun, seseorang yang telah mengamati perbincangan Gavriel dan Daisy cukup lama, hingga insiden Daisy hendak terjatuh dan di tangkap Gavriel hingga masuk ke dalam pelukan Gavriel, lalu hubungan hangat mereka yang saling tertawa dan malu-malu. Semua itu menjadi satu serangkaian cerita berbeda yang di tangkap pria yang berdiri dari ujung ruangan, ia memandangi dengan tubuh tegap dan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, mantel besar menggantung di bahunya yang besar dan kekar.
Benjove Haghwer, kembali mengeratkan rahangnya, tonjolan-tonjolan keras terlihat di rahang Ben mengeras dan terlihat otot-otot nya terukir di leher besarnya.
Ben menghela nafas pendek dan memutar tubuhnya kembali, ia pergi ke ruangan Gavriel dan duduk menunggu di sana.
__ADS_1
Bersambung